
"Cuma ini?" tanya Reyhan
"Belakangnya ada," jawab Adit
Reyhan membuka lembaran selanjutnya dan tertegun sejenak saat melihat foto Sarah.
"Ini kan..." kaget Reyhan
"Iya, mirip kan sama gambaran si Vino?" tanya Adit
Reyhan mengambil gambar sketsa buatan Vino kemarin dan mencocokkannya dengan foto Sarah.
"Sama Dit," ujar Reyhan
"Trus sekarang gimana?" tanya Adit
"Ya cari dimana dia sekarang lah!" ucap Reyhan
"Ya nggak usah ngegas lah," ucap Adit
"Buruan cari!" ucap Reyhan
///***///
Di Salon
"Ck, ini semua gara-gara Reyhan ambil lagi kartu kredit aku. Jadi nggak bisa beli barang-barang mahal lagi kan!" kesal Laras
"Udahlah sayang, aku masih mau kasih jatah buat kamu aja udah bagus. Banyak di luar sana yang jadi wanitaku tanpa meminta apapun," ucap Dio santai
Laras masih terus mengoceh tentang kartu kreditnya yang diambil oleh Reyhan. Sementara Dio melihat sekilas bayangan yang sangat ia kenal. Dio langsung berlari keluar dan mencari-cari ke sekitar salon.
Kenapa tadi rasanya aku melihat Julia ya? Atau hanya perasaanku saja? - Batin Dio
///***///
Di Rumah Sarah
Setelah pemakaman ibu Sarah kemarin, Sarah seperti tidak memiliki semangat untuk hidup. Sarah tidak menyentuh makanan sama sekali, hanya duduk termenung di kamarnya siang dan malam.
"Kak... Kakak makan dong, dari kemarin kakak nggak makan sama sekali," ucap Wildan sambil membawakan sepiring makanan
"......"
"Kakak apa nggak kasihan sama aku? Aku juga butuh kakak!" ucap Wildan
"....."
"Kak... Aku juga sedih, kita sama-sama sedih. Jadi tolong jangan siksa diri kakak, masih ada aku dan nenek disini," ucap Wildan
Sarah perlahan meneteskan air mata, Wildan memeluk Sarah. Mereka saling menumpahkan rasa masing-masing, saling mendukung agar tidak terjebak dalam keterpurukan.
"Maaf... Hiks... Kakak tidak memikirkanmu hiks...." tangis Sarah
"Kakak jangan sedih, kita hadapi semua sama-sama ya!" ucap Wildan
"Iya... Hiks..." ucap Sarah
Sarah mulai bangkit dan makan dari suapan Wildan sampai habis. Sarah bertekad harus kuat, adik dan neneknya masih membutuhkannya.
"Kak... Kakak berhenti bekerja saja, cukup bekerja di salah satu tempat saja. Jangan banyak-banyak, dari pagi sampai larut malam," ucap Wildan
"Hmmm.... Aku akan mempertimbangkannya," ucap Sarah
"Jangan terlalu lelah, nanti kakak bisa sakit. Maaf kak, aku sebagai laki-laki di keluarga ini tidak berguna," ucap Wildan sambil menunduk
"Hei jangan bicara begitu. Kau cukup perlu sekolah yang benar! Kalau sudah sukses nanti baru bantu kakak ok!" ucap Sarah
"Iya kak. Tapi... Apa kakak tidak ingin lanjut kuliah lagi?" tanya Wildan
Sarah diam sejenak, ia berpikir lalu baru menjawab pertanyaan Wildan sambil tersenyum.
"Tidak, kakak tidak mau. Kakak tidak suka belajar, kakak lebih suka cari uang. Belajar itu membosankan!" ucap Sarah
"Kakak... Jangan bohong, kita nanti berpikir bersama. Pokoknya kakak harus lanjut kuliah!" ucap Wildan
"Sudahlah jangan bahas itu lagi," ucap Sarah
Kenapa kakak berbohong? Aku tau kakak suka belajar, padahal tabungan kami juga cukup untuk kuliah kakak - Batin Wildan
Maaf Wildan aku berbohong. Jika aku yang kuliah, mungkin kedepannya kamu tidak akan bisa kuliah. Cukup kakak yang putus sekolah, kamu jangan. - Batin Sarah
///***///
1 Minggu Kemudian
Kabar duka kembali terdengar dari rumah Sarah. Baru 4 hari sejak kepergian ibunya, sang nenek juga ikut menyusul pergi selamanya. Perasaan Sarah sedih, pikirannya kacau, hampir tidak ada semangat hidup jika Wildan tidak ada.
"Kak... Kakak yang kuat ya, jangan tinggalkan aku!" ucap Wildan
"Nggak akan," jawab Sarah
"Tapi bagaimana jika suatu saat kakak menikah? Nenek, ayah dan ibu sudah tidak ada," ucap Wildan
"Selama kamu belum menikah, maka kamu akan ikut kakak kemanapun ok! Jika kamu menikah, baru kamu bangun keluarga bersama istrimu kelak," ucap Sarah
"Apa kakak tidak punya kekasih?" tanya Wildan
"Entahlah, aku belum memikirkan hal itu," ucap Sarah
"Aku berharap jika suatu saat kakak menikah, suami kakak adalah orang yang baik dan bisa menerima kakak apa adanya," ucap Wildan
"Aku juga berharap begitu," jawab Sarah sendu
///***///
Di Perusahaan Devan
"Gimana Dit? Udah ketemu?" tanya Reyhan
"Sabar lah! Kamu pikir gampang nyelidiki apapun tanpa sepengetahuan bokap lo?" tanya Adit
"Iya udah jangan protes!" ucap Reyhan
Prakkk....
Adit melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja Reyhan. Reyhan langsung membuka amplop itu.
"Itu alamatnya!" ucap Adit
"Ok thanks," ucap Reyhan
"Nggak ke sana nih?" tanya Adit
"Kalo ke sana sekarang, ini yang kerjain dokumen segini banyak siapa?" tanya Reyhan sambil menunjuk setumpuk dokumen di atas mejanya
"Ya lo lah, anak CEO perusahaan ini siapa?" tanya Adit
"Sialan lo! Liat aja, lulus kuliah gue jadiin lo sekretaris gue biar bisa gue suruh-suruh," ucap Reyhan
"Sorry gue nggak kerja di sini hehe," gurau Adit
"Gue buat lo nggak diterima di perusahaan manapun," jawab Reyhan santai
"Jahad loe!" kesal Adit
///***///
Sore Hari
Di Rumah Sarah
Nampak Sarah sedang menyapu halaman rumahnya dengan baju sederhana dan rambut di kuncir kuda tanpa make up. Reyhan dan Adit melihatnya dari jauh.
"Wah asli cantik tu si Sarah!" ucap Adit
Reyhan menurunkan kacamatanya dan memandang Adit dengan tatapan sadis.
"Hehehe iya udah-udah jangan melotot, nanti matanya nggelinding aku nggak bisa pasang," ucap Adit
"Yuk!" ajak Reyhan
Reyhan dan Adit berjalan menghampiri Sarah yang sedang menyapu.
"Sarah..." panggil Adit
"Iya? Um siapa ya?" tanya Sarah
"Aku Adit ini... Reyhan," ucap Adit
Reyhan melepaskan kacamata hitamnya dan menata Sarah.
"Kamu?" kaget Sarah
"Jadi gini, kita kesini mau...." sela Adit
Brakkk....
Sarah secepatnya masuk ke dalam rumah dan membanting pintu rumahnya.
"Ow tidak cukup ramah ya," ucap Reyhan
"Ya b*go apa ramah sama orang kaya lo," ucap Adit
"Huh benar juga... Eh," bingung Reyhan
Wildan yang baru pulang dari sekolah karena ada full day school dan pelajaran tambahan terlihat bingung saat melihat ada dua orang yang tampan gagah berdiri di depan pintu rumahnya.
"Siapa? Kok nggak pernah lihat?" bingung Wildan
Wildan berjalan mendekati Adit dan Reyhan lalu menyapanya.
"Sore... Kakak ini siapa? Ada perlu apa?" tanya Wildan
"Oh sore juga, kami kesini ada urusan sama Sarah. Saya Adit, dan ini Reyhan," ucap Adit
"Oh saya Wildan, adiknya kak Sarah. Mari masuk," ucap Wildan
Wildan membuka pintunya lalu mempersilahkan Adit dan Reyhan duduk di sofa ruang tamu.
"Kalian tunggu sini sebentar ya, saya panggilkan kak Sarah nya," ujar Wildan
"Iya," jawab Adit sambil mengangguk
Wildan berjalan ke dalam mencari Sarah. Wildan menemukan Sarah di dapur, lalu Wildan mencium tangan Sarah sambil berkata.
"Kak ada tamu," ucap Wildan
"Apa? Siapa lagi sih!" kesal Sarah
"Nggak tau," ucap Wildan
Sarah berjalan bersama Wildan menuju ruang tamu mereka dan langkah Sarah terhenti saat melihat wajah Reyhan.
"Wildan! Kenapa kamu biarkan mereka masuk!" bentak Sarah
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
He As Reyhan