My Sexy Wife

My Sexy Wife
Terpaku



Perlahan buliran bening mengalir keluar dari mata Devina. Sarah terkejut dengan kelakuan wanita di hadapannya ini.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Sarah


Sreettt....


Katlyn menjambak rambut Sarah ke belakang hingga Sarah meringis menahan sakit.


"Jaga sikapmu! Untungnya kau bukan sasaran ku! Dio! Urus orang mu ini!" teriak Katlyn


"Apa sih tante? Teriak-teriak aja," jawab Dio yang baru datang


"Urus wanita ini!" kesal Katlyn


"Siap tan," jawab Dio


"Dio?" kaget Sarah


"Hai..." sapa Dio


"Dio... Tolong lepaskan aku Dio!" pinta Sarah


"Lepaskan? Susah-susah aku menangkapmu dan kau dengan mudahnya meminta aku melepaskan mu?" tanya Dio


"Apa salahku padamu Dio? Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun padamu bahkan saat aku masih bekerja padamu," jawab Sarah


"Dan sayangnya kau tidak bersalah, tapi calon suamimu itu yang bersalah!" jawab Dio


"Reyhan?" tanya Sarah


"Jangan sebut namanya!" bentak Dio


"Apa yang terjadi? Dia itu temanmu!" jawab Sarah


"Teman? Seorang pria b*jat sepertinya tidak pantas untuk menjadi temanku!" ujar Dio


"Apa yang terjadi? Apa maksudnya semua ini?" tanya Sarah


"Reyhan itu pembunuh! Dia pembunuh! Dia membunuh orang yang paling aku cintai," jawab Dio


"Dio!" bentak Katlyn


"Baiklah, orang yang segera mati tidak perlu tau terlalu banyak," ujar Dio


"Lepaskan kami Dio!" pinta Sarah


"Jangan mimpi!" bentak Dio


Katlyn pun menarik rambut Devina kebelakang sampai Devina meringis kesakitan.


"Kalian baik-baik di sini! Tunggu ajal kalian dengan baik ya," ujar Katlyn


"Akhh...." keluh Devina


"Dev!" panggil Sarah


"Aku pergi dulu! Kalian, jaga mereka berdua!" tegas Katlyn


"Baik bos,"


"Ayo Dio!" ajak Katlyn


"Ok Tante," jawab Dio


Katlyn dan Dio pun pergi meninggalkan Sarah dan Devina. Tak lama, ganti Laras yang datang menghampiri mereka berdua.


"Hai..." sapa Laras


"Laras! Tolong lepaskan kami Laras!" pinta Sarah


"Dan kau pikir aku akan menurutinya? Jangan bodoh Sarah," jawab Laras


"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Devina


"Kalian tak perlu tau, tapi kalian berdua harus merasakan bagaimana rasanya di siksa oleh Reyhan dan ayahnya. Kalian harus merasakan bagaimana sakitnya diriku saat disakiti oleh Reyhan, Devan dan Dio!" jelas Laras


"Kau jahat Laras!" sentak Devina


Plaakkk....


Tamparan kembali mendarat di pipi mulus Devina, jika tadi adalah pipi yang kanan, kini ganti pipi yang kiri.


"Laras! Jaga sikapmu!" bentak Sarah


Plakkk....


Laras juga menampar Sarah karena merasa kesal dengan perkataan Sarah.


"Kau yang seharusnya menjaga sikapmu! Kau harusnya tunduk denganku!" tegas Laras


"Jangan mimpi Laras!" tegas Sarah


"Entahlah aku sedang malas meladeni kalian, saat aku sudah punya ide bagaimana menyiksa kalian, aku akan kembali. Daahhh...." ujar Laras


"Dasar wanita iblis!" kesal Sarah


"Aww..." keluh Devina


"Dev apa kau baik-baik saja? Bertahanlah, Reyhan pasti akan segera menyelamatkan kita," jawab Sarah


"Semoga saja," jawab Devina


Flashback Off...


"Mereka benar-benar kejam," ujar Wildan


"Aku sebenarnya baik-baik saja saat di sana, yang parah itu Devina. Wanita paruh baya yang menculik kami, sering sekali menyiksa Devina. Bahkan ia tak segan main tangan untuk memukul kami, kami juga tidak di beri makanan ataupun minuman sama sekali. Sampai aku dan Devina sempat pingsan karena kelaparan di sana," jelas Sarah


"Apa? Itu keterlaluan!" kesal Wildan


"Di sana aku lebih sering pingsan karena kepalaku yang masih pusing dan kami tidak di beri makanan. Kami di beri makanan roti bungkusan kecil sebelum kita bertemu di taman," jelas Sarah


"Astaga! Baiklah, sekarang kakak makan yang banyak ya! Mau ku suapin?" tanya Wildan


"Tidak perlu, aku bisa makan sendiri," jawab Sarah


Wildan mengambil jatah makan Sarah dan memberikannya pada Sarah. Namun saat hendak menerimanya, Sarah meringis menahan sakit di tangannya yang tadi diinjak oleh Laras.


"Aww..." keluh Sarah


"Kenapa kak? Ada yang sakit? Sini biar aku suapi saja," pinta Wildan


"Tidak perlu, aku baik-baik saja," jawab Sarah


"Jangan berbohong," ujar Wildan


"Biar aku saja yang menyuapinya," pinta Reyhan


"Reyhan?"


"Kak Rey?"


"Biar aku saja yang menyuapinya," pinta Reyhan


Reyhan berjalan masuk, ia lebih dulu mengusap kepala Devina lembut. Ia mencium lembut kening Devina.


"Jangan pergi..." pinta Devina


"Aku tidak akan pergi," jawab Reyhan


"Jangan pergi... Jangan pukul!" ujar Devina


"Dia kenapa Dit?" tanya Reyhan


"Karena kejadian tadi, ia mengalami syok dan masih trauma atas penyiksaan yang dilakukan Dio dan komplotannya," jelas Adit


"Dasar! Tak akan ku ampuni mereka!" kesal Reyhan


"Jangan pergi!" pinta Devina


"Kakak tidak akan pergi lagi," jawab Reyhan sambil mengusap kepala Devina


Entah kenapa ada perasaan cemburu di hati Sarah. Ia tau kalau Devina hanyalah adik Reyhan, tapi rasa tak dapat di bohongi. Sarah hanya berusaha meyakinkan hatinya bahwa saat ini Devina lebih membutuhkan Reyhan daripada dirinya.


"Rey... Kamu dampingi saja Sarah, aku akan menemani Devina," pinta Adit


"Baiklah, terima kasih kau tetap setia sampai di sini," ujar Reyhan


"Hmm..."


Reyhan mendekati Sarah, Wildan pun berdiri dan memberikan kursinya pada Reyhan. Reyhan duduk dan mulai menyuapi Sarah. Wildan hanya terduduk lemas di atas sofa, kejadian hari ini benar-benar menguras tenaga Wildan.


"Maaf..." ucap Reyhan


"Hah?" kaget Sarah


"Maaf karena aku telat menyelamatkan kalian berdua," sambung Reyhan


"Kau tidak terlambat," jawab Sarah


"Tidak Sarah! Aku terlambat! Jika memang aku tepat waktu, mungkin kalian tidak akan merasakan hal seperti ini apalagi sampai ada luka seperti ini," jelas Reyhan


"Tapi kau sudah berusaha," jawab Sarah


"Maafkan aku, aku yang membawa kalian semua ke dalam masalah ini," ucap Reyhan


"Jangan merasa bersalah, ini semua sudah jalannya," jawab Sarah


"Terima kasih karena masih mau berdiri di sampingku bahkan sampai hari ini," ucap Reyhan


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu di sampingmu!" jawab Sarah


Wildan benar-benar butuh udara segar saat ini, bukan adegan romantis yang menyiksa jiwa jomblo nya.


"Huahhh..."


Wildan merenggangkan tubuhnya, ia menghirup nafas panjang lalu menghembuskannya.


"Wildan..."


Seett...


Tiba-tiba Evelyn datang dengan berlari dan memeluk Wildan seketika tanpa pikir panjang. Sedangkan Wildan masih diam terpaku tak tau apa yang harus di lakukan.


"Wildan! Bagaimana keadaanmu? Aku benar-benar mengkhawatirkan mu! Bagaimana bisa kau terlibat dalam kejadian seperti ini? Kenapa kau membuatku khawatir?" tanya Evelyn beruntun


"Aku..." gugup Wildan


"Bagaimana jika terjadi sesuatu pada mu? Apa yang harus aku lakukan nantinya?" tanya Evelyn dengan mata berkaca-kaca


Wildan masih bingung harus apa, badannya terpaku seolah tak bisa bergerak. Sedangkan Evelyn masih tak sadar kalau dirinya masih memeluk Wildan.


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏