
"udah kamu istirahat sana" hindar Prima
"eh? Salah ngomong ya?" bingung Devan
Prima kesana kemari mengurusi admistrasi Devan dan menata barang-barang Devan sampai larut malam, tanpa sadar Prima tertidur diatas sofa. Tio yang merupakan asisten Devan datang malam hari.
"tuan, maaf saya baru tahu kalau anda masuk rumah sakit" ucap Tio terengah-engah
"shhhh..." ucap Devan sambil menempelkan telunjuknya dimulut
"oh maaf" bisik Tio
"angkat dia kesini, taruh dia dikasur" ucap Devan
"kasur?" tanya Tio
"taruh dia disampingku" ucap Devan
"baik tuan" ucap Tio
Tio mengangkat tubuh mungil Prima dan menaruhnya di samping Devan.
"sudah jangan lama-lama megangnya" kesal Devan
"maaf tuan" ucap Tio
Apa aku menceritakan saja kejadian beberapa hari lalu? Sepertinya tuan perduli padanya - Batin Tio
"maaf tuan, tapi.." bingung Tio
"langsung to the points" tegas Devan
"beberapa hari yang lalu, saya melihat nyonya sedang berduaan dengan seorang pria. Ini fotonya" ucap Tio sambil menunjukan sebuah foto
"namanya Joo, awasi dia. Cari tau latar belakangnya. Laporkan padaku tiap ada apa-apa" ucap Devan
"baik tuan, saya undur diri" ucap Tio
Beraninya dia menyentuh wanitaku - Batin Devan kesal
///***///
Besok Pagi
Prima mulai mengerjapkan mata dan perlahan membuka matanya, Prima melihat wajah Devan dengan sangat dekat. Hanya berjarak beberapa sentimeter.
"udah bangun?" tanya Devan dengan suara serak khas orang bangun tidur
Prima terduduk dan sedikit menjauh dari Devan.
"a aku mau cuci muka dulu" ucap Prima gugup
"apa aku menakutkan saat bangun tidur?" bingung Devan
Prima seperti biasa mengambil jatah makan Devan dan menyuapinya.
"kecapekan ya sampe diem banget tidurnya" ucap Devan
"jangan bahas itu" ucap Prima malu
"aku terlalu ganteng kah, sampe kamu langsung pergi waktu baru bangun" goda Devan
"jangan bahas itu lah" kesal Prima
"kenapa? Merasa puas nggak punya suami kayak aku?" tanya Devan
"heiii... " kesal Prima
Prima yang kesal menaruh piring Devan dan menatap Devan geram.
"salah ngomong kah aku?" bingung Devan
Prima pergi untuk keluar, tapi saat didepan pintu...
Duakk... Brugg...
Ada yang mendorong pintu dengan keras hingga membuat Prima yang dibelakang pintu mental dan terjatuh.
"ups sorry" ucap wanita yang datang
"aduh.. Malah pergi dan gak bantu aku? Tunggu itu kan wanita yang ada difoto bareng Devan" kesal Prima
"baby.. Kok nggak bilang kalo masuk rumah sakit sih? Kamu tau nggak kalo aku khawatir" ucap Katlyn manja
"ba baby, kok kamu disini?" tanya Devan
"woi cewek" panggil Prima
Katlyn tidak menanggapi dan tetap berbicara dengan Devan, Devan panik saat melihat Prima. Ekspresinya seperti orang yang tertangkap selingkuh, eh emang selingkuh kan? Prima memanggil kembali tapi Katlyn tak menanggapi. Akhirnya Prima menepuk pundak Katlyn.
"woi dipanggilin juga" kesal Prima
"apaan sih, kamu itu siapa?" tanya Katlyn
"justru aku yang harusnya tanya, kamu siapa dan ngapain disini. Eh kamu nggk niat minta maaf? Kamu udah buat aku jatuh dan langsung pergi gitu aja?" kesal Prima
"kenapa harus minta maaf, emangnya kamu siapa hah?" sombong Katlyn
"menurut mu aku siapa?" tanya Prima santai
"cewek nggak jelas yang sok-sok an" sombong Katlyn
"hei, jangan pancing amarah ku" ucap Prima
"kenapa? mau mukul aku?" tanya Katlyn
"berharap aja jangan terjadi" ucap Prima
"whoa whoa whoa, stop jangan kayak gini" ucap Devan
"baby, liat dia kayak gitu ke aku.." ucap manja Katlyn
"manja amat" ledek Prima
"dasar cewek gak guna" kesal Katlyn
Katlyn melayangkan tangannya hendak menampar Prima. Tentu saja Prima tidak diam saja, ia langsung menahan tangan Katlyn.
"jangan macam-macam denganku" ucap Prima dengan menekankan kata-katanya
"aww.. Aww.. Aww.." keluh Katlyn
"Prim.. Jangan gitu" ucap Devan
"apa mau bela dia?" tanya Prima yang semakin mengencangkan genggaman tangannya
"Prima.. Kamu punya batasan untuk melakukan sesuatu" bentak Devan "lepasin Katlyn"
Prima melepaskan genggaman tangannya dan menatap Devan tajam.
"dan kau juga memiliki batasan untuk membela yang salah" ucap Prima tegas
Prima langsung berbalik dan pergi tanpa melihat lagi, Devan merasa sedikit bersalah pada Prima.
"Prim.. Prima.. Prim.." panggil Devan yang tak digubris Prima
Apa dia semarah itu? - Batin Devan