My Sexy Wife

My Sexy Wife
Drop



Tanpa pikir panjang, Zalfa langsung menyetop sebuah taksi dan bergegas cepat ke rumah sakit.


Apa ini yang membuatnya terlambat? - Batin Zalfa


///***///


Di Rumah Sakit


Zalfa berlari ke meja admistrasi bertanya dimana Joo. Tepat sebelum si resepsionis memberikan dimana Joo, Devan sudah datang menghampiri Zalfa.


"Fa!" panggil Devan


"Kak, Joo dimana?" tanya Zalfa


"Ayo ikut," ajak Devan


"Dia kenapa?" tanya Zalfa


"Nggak papa, dia baik-baik aja kok. Cuma ada kecelakaan kecil tadi di jalan," bohong Devan


"Ya Tuhan, itu orang kok ceroboh banget sih!" kesal Zalfa


Lebih baik untuk memberi taunya perlahan-lahan - Batin Devan


"Lalu sekarang dia dimana? Aku ingin menemuinya," ucap Zalfa


"Anu itu..." bingung Devan


Ceklek....


Seorang perawat dari ruang operasi keluar menghampiri Devan.


"Bapak Devan?" tanya suster


"Iya saya?" bingung Devan


"Dokter Prima menyuruh saya menyampaikan ini. Apakah ada yang bergolongan darah A-. Korban mengalami kehilangan banyak darah, dan darah golongan A- cukup susah didapat karena tergolong sedikit langka. Stok darah A- di rumah sakit ini kosong. Mungkin diantara keluarga ada yang mau mendonorkan darahnya?" tanya suster


"Kak apa yang terjadi? Siapa yang butuh darah? Kenapa?" tanya Zalfa bingung


"Gini deh, aku tanya dulu golongan darah kamu apa?" tanya Devan


"Kalau tidak salah A-," ucap Zalfa


"Sus biar adik saya yang mendonorkan darahnya," ucap Devan


"Baik, nona mari ikut saya.." ajak suster


"Tunggu kak, kenapa aku? Aku kan takut jarum suntik," ucap Zalfa ketakutan


"Aku mohon kali ini kamu turutin aku, nanti aku jelaskan semuanya. Ayo aku temani," ajak Devan


Devan dan Zalfa berjalan bersama ke ruang pendonoran darah. Zalfa sempat tegang karena ia takut pada jarum suntik, namun Devan menenangkan nya.


///***///


Setelah Selesai


Zalfa dan Devan berjalan kembali ke depan ruang operasi.


"Kak jelasin sekarang!" ucap Zalfa sambil menekankan kata-katanya


"Aku jelasin, aku mohon sama kamu. Kamu tenang jangan panik ok!" ucap Devan


"Iya-iya ada apa?" tanya Zalfa


"Joo kecelakaan..." ucap Devan


Jawaban Devan bagai petir yang menyambar di hati Zalfa, Zalfa langsung diam seketika mendengar kabar tersebut. Belum lama, ayah dan ibu Joo datang.


"Nak Devan... Gimana kabar Joo, Joo dimana nak?" panik ibu Joo


"Joo masih operasi bu, ia kehilangan banyak darah. Sekarang masih ditangan, berdoa saja tidak ada apa-apa." ucap Devan


Bruukk....


Zalfa jatuh pingsan mendengar kata-kata Devan, sedangkan ibu Joo langsung terduduk lemas.


"Zalfa... Fa... Zalfa... Suster.. Suster..." panggil Devan


"Ibu..Bu... Ibu.. Ya Tuhan, ibu jangan berpikiran kemana-mana, harus selalu berdoa ya!" ucap ayah Joo


Devan langsung membopong Zalfa dan membawanya ke dalam ruangan VVIP yang ia pesan.


"Bagaimana keadaan Zalfa sus?" tanya Devan


"Nona ini hanya terlalu syok, apalagi ia baru saja mendonorkan darahnya. Pasti tubuhnya lemas, saya akan bawakan beberapa suplemen penambah darah dan multivitamin agar daya tahannya kembali normal," ucap suster


"Ok makasih sus," ucap Devan


Devan menggenggam tangan Zalfa yang masih pingsan di atas ranjang.


"Sebegitu mencintainya kamu sampai diri kamu ikut tersakiti saat dia sakit. Aku berharap semua berjalan lancar untukmu setelah ini," gumam Devan


Setelah berjam-jam di ruang operasi, akhirnya Prima keluar, sementara Devan masih menunggu Zalfa yang pingsan sampai ketiduran. Ibu dan ayah Joo melihat Prima langsung datang.


"Ibu jangan panik ya, sementara ini Joo sudah mulai stabil. Namun karena benturan keras di kepalanya, menyebabkan ia mengalami gegar otak. Ia akan dipindahkan ke ruang intensif terlebih dahulu untuk dilihat perkembangannya. Kalau ada apa-apa saya pasti akan segera kabari bapak dan ibu," jelas Prima


"Terima kasih nak, Joo beruntung memiliki teman sepertimu." ucap ibu Joo sambil memeluk Prima


Prima membalas pelukannya karena dadanya juga sesak saat melihat sahabatnya bersimbah darah di hadapannya sendiri.


"Baiklah bu saya pergi dulu ya," ucap Prima


"Iya nak, sekali lagi terima kasih!" ucap ayah Joo


"Iya pak, sama-sama. Sudah kewajiban saya sebagai dokter," ucap Prima


Prima pergi ke meja resepsionis, ia bertanya pada perawat yang berjaga tentang semua data Joo. Bagaimana ia bisa kecelakaan, dimana tempatnya bahkan jam berapa. Setelah bertanya, dia bersandar di tembok sambil melihat ruang tunggu yang kosong.


Hmm... Melihat kematian adalah hal yang biasa bagiku, tapi siap tidak siap harus menghadapinya. Selalu tenang, siap dan sigap dalam situasi apapun - Batin Prima


"Ahh.. Aww... Aw... Aww.... Tolong sus.. Aww...." ucap Prima sambil memegangi perutnya


"Dok.. Dokter kenapa?" tanya suster


"Awww.. Entahlah.. Mungkin kram perut.. Aww..." keluh Prima


Suster membawa Prima ke sebuah ruangan, ia memeriksa Prima lalu...


"Kenapa dengan perutku ini..." ucap Prima sambil menahan sakit


"Ini dok.. Anda..." ucap suster


///***///


Besoknya


Karena kelelahan, Prima ketiduran di ruang kerjanya di rumah sakit. Ia bangun dan menelfon Devan.


Prima: Mas dimana?


Devan: Aku di Ruang VVIP nomor 3


Prima: Loh ngapain di sana?


Devan: Semalam Zalfa pingsan, trus aku ketiduran


Prima: Ya udah kamu tunggu sebentar ok! Aku kesana!


Prima pergi ke ruangan tempat Zalfa di rawat. Sampai saat ini Zalfa masih drop, orang tuanya yang sedang di Paris karena urusan bisnis langsung memesan tiket pesawat dan pulang untuk menjemput Zalfa.


"Mas kok masih di sini?" tanya Prima


"Kenapa?" tanya Devan


"Katanya kamu ada pertemuan dengan klien kamu hari ini?" tanya Prima


"Astaga aku lupa! Aku pergi dulu, kalau ada apa-apa kabari aku!" ucap Devan


"Iya mas, hati-hati. Maaf belum bisa menemanimu," ucap Prima


"Tak apa kau jaga saja Zalfa dan Joo," ucap Devan


"Iya mas," jawab Prima


Setelah Devan pergi, Prima juga keluar untuk mengecek keadaan Joo.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Prima


"Belum sadar dok," ujar suster


"Terus pantau keadaannya, saya takut kalau dia tidak sadar secara terus-menerus dia akan koma. Benturan di kepalanya juga tidak sepele," ucap Prima


"Baik dok," ucap suster


Siang hari Prima baru ingat kalau sejak pagi dia belum sarapan ataupun mandi, setelah Dokter Mia datang ia menyerahkan semua padanya dan Prima pulang untuk mandi.


Bagaimana caranya memberi tau Mas Devan? Kalau dia terkejut bagaimana? Tapi ini belum pasti, hanya diagnosa atau perkiraan - Batin Prima


Prima pulang ke rumah, ia meminta Rina membuat makanan untuknya. Sampai rumah ia mandi baru sarapan sekaligus makan siang.


Apa Mas Devan masih di kantor? Aku kesana atau tidak ya - Batin Prima


Prima memutuskan untuk pergi kekantor Devan. Ia juga menenteng jas dokternya, karena setelah dari kantor Devan ia hendak ke rumah sakit lagi.


///***///


Di Kantor Devan


Semua menunduk hormat saat Prima masuk ke kantor, ia naik lift khusus CEO dan pergi ke ruangan Devan.


Ceklek...


Prima membuka pintu ruangan Devan dengan bertujuan mengagetkan Devan. Tapi dia malah melihat Aurel yang sedang menyuapi Devan.


"Mas..." panggil Prima