
Devan dan Prima masuk meninggalkan Aurel yang masih marah-marah nggak jelas di bawah.
///***///
Di Kamar
"Bwahahahahahahaha....." tawa Prima
"Kenapa ketawa?" tanya Devan
"Nggak papa, ngakak aja liat muka si Aurel. Untung dia anak dekan, kalo nggak udah aku racunin tadi waktu makan." ucap Prima
"Jangan dong, kalo mau bunuh dia bilang. Jangan di sini, nanti buat laporannya di kantor polisi susah. Gimana kalo buang di laut?" tanya Devan
"Eh tapi organnya juga lumayan, bisa di jual di pasar gelap." ucap Prima
"Lumayan jual 2 ginjal," ucap Devan
"2 mata, jantung, paru-paru, kulit dan lainnya hahahahaha," tawa Prima
"Hahahahahaha," tawa Devan
"Kalo ada yang nyari bilang aja main di laut, jatuh trus ke makan hiu." ucap Prima
"Oke ide bagus," ucap Devan
Tanpa sadar pintu kamar masih terbuka, Aurel yang tadinya hendak masuk mendengar perkataan Prima menjadi sedikit takut dan mengira kalau Prima adalah seorang psikopat. Mendengar ia akan di bunuh, Aurel langsung lari masuk ke kamar lalu mengunci pintunya.
"Ok udah bercandanya. Gini besok aku mau ke Bandung, ikut?" tanya Devan
"Bandung? Ngapain?" tanya Prima
"Kan kakek nenekku ada yang di sana. Mamaku kan asli sana, kakek sama nenekku katanya kangen makanya aku mau kesana." ucap Devan
"Tumben ajak?" tanya Prima
"Daripada kamu berpikir buruk kalo aku ngapa-ngapain di sana." ucap Devan
"Loh aku kan jarang cemburu. Tapi kalo kamu berani macem-macem, jangan lupa aku dokter bedah. Malam hari aku ambil ginjal kamu trus aku jual lalu aku pindah ke luar negeri dan tamat." ucap Prima
"Emang serial TV bisa tamat," ucap Devan
"Hidup ku kan emang penuh lika-liku seperti film kisah nyata gitu." ucap Prima
"Heleh," ucap Devan
"Iya tau," ucap Prima
"Ya udah besok ikut?" tanya Devan
"Ikut, tapi kalo gitu aku minta tolong kamu ijinin aku ke Andre ya. Gimanapun aku ini juga dokter asisten Andre," ucap Prima
"Kenapa kamu nggak ijin sendiri?" tanya Devan
Prima memasang cute eye dan bertingkah se imut mungkin, Devan terperdaya. Ia salting dan langsung menelpon Andre.
Devan : Halo Ndre, besok istriku nggak bisa masuk sekitar 2 hari lah. Jangan banyak tanya, aku sibuk dah!
Andre : Iy.....
Haih ngomong belum selesai kok di matiin, untung temen - Batin Andre
"Jadi apa bayarannya sayang?" tanya Devan sambil tersenyum seringai
"Gak usah banyak tanya, aku belum gajian lagi! Gajiku kemarin habis waktu buat beli dasi kamu. Padahal bayangan aku, gaji pertama aku beli ini beli itu dan lainnya. Kenyataannya malah habis buat dasi kamu," ucap Prima
"Beli ya tinggal beli lah. Kartu aku kasih, uang cash tiap bulan ada. Kenapa bingung?" tanya Devan
"Hmmm sayang uangnya," ucap Prima
"Pengen beli tapi sayang sama uang. Gak usah beli!" ucap Devan
"Tapi pengen," ucap Prima
"Ya udah besok aku beliin." ucap Devan
"Yes," ucap Prima
"Eh besok Zalfa ikut loh ya," ucap Devan
"Kenapa nggak ajak Joo biar jadi temen Zalfa." ucap Prima
"Kenapa masih mau ikutan hubungan mereka sih!" ucap Devan
"Mas gini, masalah nggak akan selesai kalo mereka cuma saling diam. Apalagi Zalfa nggak kasih tau titik permasalahannya, itu nanti malah makin parah. Kalo di biarin bisa putus dan akan jadi musuh!" ucap Prima
"Kamu benar juga," ucap Devan
"Makanya," ucap Prima
"Ya udah kamu telfon Joo sana," ucap Devan
"Ok," jawab Prima
Prima menelfon Joo dan memberi taunya tentang besok. Ia berharap Joo dan Zalfa akan berbaikan karena jika tidak, Prima yang akan risih. Di satu sisi ada sahabatnya, di satu sisi ada adik iparnya.
///***///
Besoknya
Pagi-pagi Prima sudah menyiapkan beberapa makanan untuk bekal perjalanan dan untuk diberikan pada keluarga Devan. Mulai subuh Prima sudah bangun, lalu ke dapur membuat bermacam-macam kue untuk kakek nenek Devan.
"Loh kamu kok udah di dapur? Dari tadi?" tanya Devan yang baru turun
"Ngapain sih?" tanya Devan
"Bikin kue, kamu cobain sana. 1 ya jangan lebih, ntar habis lagi!" ucap Prima
"Kenapa nggak boleh?" tanya Devan
"Waktunya mepet, jadi aku bikin seperlunya." ucap Prima
"Daripada makan kue, aku lebih tertarik untuk makan kamu." bisik Devan
"Jangan macem-macem, kita mau berangkat. Kamu mandi sana, aku mau beresin ini bentar." ucap Prima
"Ya udah buruan ya," ucap Devan
"Iya mas," jawab Prima
Diam-diam Aurel mendengar percakapan mereka, ia langsung bergegas mandi lalu menyiapkan beberapa baju ganti.
///***///
Berangkat
Sebelum berangkat, Prima memasukkan makanan yang ia buat sejak subuh tadi. Setelah selesai ia membuka pintu mobil depan dan..
Bruukk....
Aurel mendorongnya sampai jatuh dan ia memasuki mobil lebih dulu.
Dasar wanita licik - Batin Prima
Karena kesal, Prima hendak membalasnya. Kaki kiri Aurel belum masuk ke dalam mobil namun Prima sudah menutup pintu itu dengan tangannya. Semakin keras dan semakin keras hingga membuat Aurel menjerit kesakitan. Setelah Devan datang baru ia melepaskannya
"Aaawwww........" teriak Aurel
"Kamu kenapa?" tanya Devan datar
"kak, Prima jahat kak. Dia mau celakain aku, kakiku dijepit di pintu. Lihat sampai merah kakiku," ucap Aurel
"Kalo sakit nggak usah ikut!" jawab Devan datar
"Kak jangan gitu dong kak," ucap Aurel
"Rel, kalo kamu manja bukan di sini tempatnya. Jangan bilang kalo aku nggak peringati kamu sebelumnya!" kesal Devan
"Hai Mak... Hai Van..." sapa Joo yang baru datang
"Hai Joo," sapa Prima
"Hai," sapa Devan
"Ini siapa?" tanya Joo
"Aurel, calon istrinya kak Devan." ucap Aurel
"Rel!" bentak Devan
"Calon istri? Bukannya awww...." keluh Joo
Prima menginjak kaki Joo agar diam. Lalu mengajak semuanya masuk, Aurel mengira kalau Devan akan menyetir padahal mobil di setir oleh sopir. Joo duduk di belakang, Prima dan Devan di tengah, lalu Aurel di samping sopir.
Gila itu siapa sih? Ganteng banget! Kalo nyari yang formal Kak Devan jagonya, kalo yang badboy dia pemenangnya - Batin Aurel
Mereka menghampiri Zalfa terlebih dahulu sebelum berangkat.
"Hai Fa.." ucap Prima
"Hai kakak ipar," ucap Zalfa
Zalfa terkejut melihat penampakan Aurel di kursi depan.
"Hah! Astaga kaget aku, ini makhluk kenapa disini?" tanya Zalfa kesal
"Apaan sih kamu!" kesal Aurel
"Fa duduk belakang," ucap Devan
"Ok, kakak kemarin dimana sih? Aku datang ke kantor malah gak ada," jawab Zalfa kesal
"Sorry, lupa kalo punya janji. Kemarin aku pulang duluan!" ucap Devan
"Haih, aku bela-belain datang malah gak ada!" kesal Zalfa
Saat hendak masuk, baru dia melihat Joo yang ad di belakang.
"Dia ngapain di sini?" tanya Zalfa ketus
"Dia ikut, buat temenin kamu!" ucap Devan
"Kenapa harus dia sih Kak!" kesal Zalfa
"Udah diem duduk di belakang!" ucap Devan
"Gak mau!" ucap Zalfa
"Duduk belakang!" tegas Devan
"Aku nggak mau kalo ada dia!" kesal Zalfa
"Trus mau kamu gimana? Gak jadi ikut?" tanya Devan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏