My Sexy Wife

My Sexy Wife
Jangan Ikut Campur



Adit diam sejenak dan mengusir semua pikiran buruk yang ada dalam pikiran dan benaknya.


"Mereka berdua sama-sama ada di Gramed, apa mungkin kalau mereka.... Ah tidak-tidak, jangan berpikir aneh-aneh Dit! Lebih baik aku ke sana memastikan," gumam Adit


Adit langsung mengambil kunci mobilnya dan pergi secepat mungkin menuju Gr*media untuk melihat kebenarannya.


///***///


Di Gramedia


Adit berputar-putar sambil berdoa semoga mereka berdua masih ada di sini. Sampai Adit melihat Devina yang sedang memilih buku. Adit bersembunyi dan hanya mengawasi dari jauh.


"Udah?" tanya Galang


"Udah kak," jawab Devina


"Yuk ke kasir," ajak Galang


"Ok,"


Adit diam-diam mengikuti mereka berdua sampai ke kasir, Galang membayar semua bukunya dan buku Devina. Lalu mereka pergi ke sebuah toko mainan.


"Ini bagaimana?" tanya Galang sambil menunjukkan boneka panda


"Ih lucunya..." gemas Devina


"Kaya kamu..." goda Galang


Galang memainkan boneka itu ke wajah Devina, membuat Devina geli dan tertawa senang.


"Hahahaha... Kak geli kak!" ucap Devina


"Biarin..."


"Hahahaha...."


Mereka berdua membeli beberapa mainan lalu keluar, lalu mereka berdua pergi ke toko baju. Adit masih mengikuti, terkejutnya Adit saat melihat Devina tampak sedang mengukur baju dengan badan Galang.


"Ini bagus?" tanya Devina


"Bagus nih,"


"Ya udah ini aja,"


Adit mengepalkan tangannya, ia menahan emosinya dan pergi mengikuti mereka berdua sampai pulang.


///***///


Di Depan Rumah Devan


Devina dan Galang turun dari dalam mobil, mereka berbicara sebentar lalu tertawa bersama, tampak Devina meminta Galang mendekat. Galang pun mendekat, Devina membisikkan sesuatu.


Adit benar-benar tidak bisa menahan emosinya lagi, ia keluar dari dalam mobilnya dengan langkah kasar dan langsung menghampiri Galang.


"Kak Galang!" bentak Adit


"Adit?"


Buaagg...


Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Galang, saking kerasnya, pukulan itu membuat Galang sedikit terpelanting.


"Kak Adit..." cegah Devina


Galang diam memegangi pipi yang dipukul Adit, sedangkan Devina menahan badan Adit agar tidak melukai Galang.


"Lepasin!" kesal Adit


"Gak akan!" jawab Devina


"Devina lepasin!" bentak Adit


"Nggak bakal!"


"Devina! Lepasin!" bentak Adit


"Aww... Dit kamu salah paham, ini nggak seperti yang kamu lihat," jelas Galang


"Nggak seperti yang aku lihat hah?" tanya Adit dengan emosi yang naik turun


"Kak Adit... Udah kak," cegah Devina


"Dev lepasin! Kalian mau nusuk aku dari belakang? B*ngs*t!" bentak Adit


Galang mencoba berdiri dengan tegak menghadap Adit untuk menjelaskan semuanya.


"Dev lepasin!" bentak Adit sambil sedikit mendorong Devina


Buagg...


Lagi-lagi sebuah pukulan mengenai pipi Galang hingga sudut bibir Galang berdarah.


"Aww..." keluh Devina


Karena dorongan Adit, Devina kehilangan keseimbangan dan terjatuh dengan sedikit keras.


"DEVINA!!!"


Adit berusaha untuk menolong Devina, namun tangannya langsung ditepis oleh Devina.


"Jangan sentuh aku!" bentak Devina


"Dev aku minta maaf Dev... Aku nggak sengaja," ucap Adit


Dengan susah payah, Devina berdiri sambil menahan rasa perih di tangannya.


"Kamu pikir aku selingkuh hah?" tanya Devina


Buaakk...


"Aku keluar sama Kak Galang itu buat beli buku! Apa aku bohong? Aku beliin mainan buat Lily, dan aku beliin kado kelulusan buat kamu! Apa salah!" jelas Devina dengan air mata yang mengalir


"Apa?" kaget Adit


"Kalian semua.... Pergi!!!" ucap Devina


"Dev aku minta maaf... Aku kira... Aku..." bingung Adit


"Pergi!!!" bentak Devina


"Devina... Kamu nggak papa?" tanya Galang yang menahan sakit di pipinya


"Aku nyesel beliin kado buat kamu! Persetan dengan kalian semua!" ucap Devina dengan nada kecewa


Devina berbalik tanpa menghiraukan panggilan Adit maupun Galang, ia masuk ke dalam rumah dengan air mata yang terus mengalir.


"Puas kamu?" tanya Galang


"....."


"Kamu udah bikin dia kecewa Dit! Devina nggak suka cowok kasar, dan hari ini kamu berhasil bikin dia kecewa!" ujar Galang


"Diem lo kak!" bentak Adit


"Dia diam-diam menyiapkan pesta untuk kelulusan kamu! Beliin kamu kado, dia bahkan diam-diam bujuk ayahnya biar menyetujui hubungan kalian. Dan kamu tau apa? Dia juga tau kalau papa nggak setuju sama hubungan kalian!" jelas Galang


"Apa?" kaget Adit


"Tapi apa? Apa dia pernah kecewa? Mengeluh? Atau dia pernah mengkhianati kamu? Dalam diam dia memendam semua beban itu Dit! Kakak kecewa sama kamu!" ujar Galang


"Kenapa kakak nggak ngomong semuanya!" bentak Adit sambil menarik kerah baju Galang


"Karena dia yang melarang!" bentak Galang


"Apa?" kaget Adit yang semakin mengendurkan cengkeramannya


"Dia melarang aku memberi tahukan semua ke kamu! Selama ini dia cuma bisa curhat ke aku Dit! Asal kamu tau, Devina itu lemah... Dia sering nangis di depanku kalau cerita tentang hubungan kalian! Kenapa selalu backstreet, kenapa nikah harus nunggu kamu lulus S2, kenapa masih nggak di kasih restu papa, diam-diam dia memendamnya! Aku mohon, jangan buat dia kecewa!" tegas Galang


Galang masuk mobilnya dan pergi ke apartemennya dengan wajah lebam dan berdarah. Adit nasib terpaku dengan semua pengakuan Galang.


"A apa yang aku lakukan.... Apa yang aku lakukan..." linglung Adit


Adit membawa semua paper bag yang dibanting oleh Devina ke dalam mobilnya. Ia duduk termenung di dalam mobil.


"Apa yang baru saja aku lakukan.... Devina pasti kecewa denganku!" gumam Adit lemas


.


.


.


.


Devina langsung berlari masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan siapapun, ia langsung mengunci pintunya kamarnya dan langsung berbaring di kasur tanpa menyalakan lampu kamarnya.


"Hiks... Kenapa... Kenapa Kak Adit jadi seperti itu hiks... Akankah kita putus setelah ini hiks..." tangis Devina


Devina menangis dengan posisi tengkurap dan memeluk guling. Ia sudah lelah dengan hubungan ini. Apalagi saat tau bahwa papa Adit tidak merestui hubungan mereka.


"Kenapa hubunganku harus sesulit ini hiks... Kenapa semua tidak berjalan seperti rencana hiks..."


///***///


Di Apartemen Galang


Galang masuk ke dalam apartemennya, namun semua lampu mati. Dengan memegangi pipinya, Galang mendekati saklar lampu.


Ctakk...


"Surprise...."


"Silvy?" kaget Galang


"Loh... Muka kamu kenapa?" tanya Silvy


"Nggak papa kok," jawab Galang


"Jangan bohong baby!" kesal Silvy


"Baiklah... Tadi aku sedikit bertengkar dengan Adit," jawab Galang


"Apa? Apa masalah karena Devina?" tanya Silvy


"Ya begitulah," jawab Galang


"Kau duduk dulu, aku ambilkan obat!" pinta Silvy


"Hmm...."


Silvy pergi untuk mengambil kotak P3K, meski orangnya menjauh dari Galang, tapi tidak omelannya.


"Kamu ini... Sudah ku bilang jangan ikut-ikutan hubungan mereka!" kesal Silvy


"Bagaimana lagi? Ini semua permintaan papa," jawab Galang


"Tapi kan aku sudah bilang jangan di lanjutkan! Kalau sudah seperti ini bagaimana? Bagaimana kalau mereka benar-benar putus?" tanya Silvy


"Aku sudah tidak ikut campur dalam hubungan mereka sejak lama, tapi ada kesalahan pahaman yang terjadi diantara kami," jelas Galang


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Baca karya baru saya!!!


'My CEO: CEO Licikku'