
"Um itu.. Dia menggunakan tongkat datang padaku!" gugup Sherly
"Sudahlah, aku ini dokter bedah! Aku yang menangani Joo dari awal sampai sembuh. Tidak ada gunanya lagi kau berbohong!" ucap Prima sambil menyilangkan tangan
Sherly langsung duduk dan memeluk kaki Prima untuk memohon.
"Prim.. Aku mohon jangan beri Taukan hal ini pada Joo, aku sangat mencintai dia. Aku hanya ingin dia yang menjadi suamiku bukan orang lain!" mohon Sherly
"Sherly... Sherly... Kalau kau mencintai dia, kenapa malah merusak dirimu sendiri hingga hamil dengan pria lain?" tanya Prima
"A aku tidak berdaya, aku tidak punya pilihan lain. Aku hanya ingin dia menjadi milikku!" ucap Sherly
"Sher.. Dengar! Terkadang keserakahan menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam jurang. Aku percaya kau cantik dan baik, pasti ada yang akan menerimamu apa adanya, bangunlah!" ucap Prima sambil mengangkat pundak Sherly agar berdiri
Prima dan Sherly duduk di kursi agar lebih nyaman.
"Tapi aku sudah kotor Prim hiks.." tangis Sherly
"Sher... Tidak perduli kau suci ataupun kotor, cantik atau jelek, kaya atau miskin. Jika seorang pria benar-benar mencintai dirimu, ia akan menerimamu apa adanya tanpa alasan!" ucap Prima
"Tapi aku hanya mencintai Joo, aku ingin dia menjadi milikku Prim hiks..." tangis Sherly
"Sher.. Kau tidak mencintai Joo, kau hanya terobsesi padanya. Percayalah kau bisa mendapatkan yang lebih baik!" ucap Prima
"Aku tidak rela Prim, jika Joo menjadi milik orang lain hiks..." tangis Sherly
"Sherly dengarkan aku! Terkadang butuh bertahun-tahun untuk benar-benar mengenal seseorang, butuh berbulan-bulan untuk benar-benar mencintai dan terkadang butuh 10 detik untuk melupakan. Cukup lanjutkan hidupmu, fokuskan tujuanmu maka kau bisa melewati semuanya!" ucap Prima
"Aku tidak bisa Prim," ucap Sherly
"Bisa! Lihatlah kedepan, kau sedang diperjalanan! Sudah 80% kau melewati terjalnya perjalanan, paksa dirimu, langkahkan kakimu walau lelah. Dan tanpa sadar semua akan selesai, setelah selesai kau akan berdirinya di garis akhir dengan senyuman sambil berkata 'Ternyata aku bisa, aku sanggup melewati semuanya!'. Tanamkan pada dirimu bahwa kau bisa dan kau tidak lemah!" ucap Prima
Sherly menangis dan semakin menjadi, ia mendengarkan semua motivasi Prima dan berusaha menata hatinya. Diam-diam Joo dan Devan mendatangi Prima dan Sherly.
"Sher..." panggil Joo
Mendengar ada yang memanggil, Sherly mendongak dan melihat Joo.
"Joo... Maafkan aku!" ucap Sherly
"Hei, kau ini gadis baik. Kau bisa mendapatkan yang lebih baik daripada aku! Jangan cengeng, Sherly itu manja dan cerewet bukan gadis cengeng!" ucap Joo sambil berjongkok didepan Sherly
"Maafkan aku Joo, aku berbohong dan... Dan berusaha merebutmu dari istrimu," ucap Sherly
"Hei, tidak apa. Jadikan semua ini pelajaran, jangan pernah kau ulangi lagi ya!" ucap Joo
"Iya," ucap Sherly
"Dan juga maaf kalau aku pernah menyakiti hatimu," ucap Joo
"Tapi sekarang aku bukan gadis yang baik, tidak ada yang mau menjalin hubungan dengan wanita sepertiku!" ucap Sherly
"Hei... Pria sejati akan selalu menerima wanita yang dicintainya, dengan kondisi apapun. Dan sebenarnya, jika pria itu benar-benar mencintaimu dia tidak akan merusak masa depanmu!" ucap Joo
Dengan itu, masalah Joo dan Sherly selesai. Sherly mengaku salah dan berjanji tidak akan menggangu kehidupan Joo lagi.
///***///
1 Bulan Kemudian
Usia kandungan Prima memasuki bulan ke-8. Hari ini ia mengajak Devan untuk berbelanja alat-alat bayi.
"Mas ayo keluar!" ajak Prima
"Kemana?" tanya Devan
"Belanja alat bayi," ucap Prima
"Jangan, bahaya! Kamu dirumah aja, nanti aku suruh Tio beli. Trus nanti kamu tinggal pilih ok!" ucap Devan
"Aaaa nggak mau, mau pilih sendiri!" ucap Prima
"Tapi kan lihat, perut kamu mulai besar. Bahaya kalo kesenggol orang!" ucap Devan
"Mas jangan kurung aku dirumah terus dong. Gini bahaya, gitu bahaya! Masak gak boleh, kerja gak boleh, keluar gak boleh, mau ke kantor kamu gak boleh. Bosen aku mas!" kesal Prima
"Ya udah, tapi harus hati-hati ok!" ucap Devan
"Ok!" jawab Prima senang
Prima langsungnya mengambil kertas catatan dan menulis apa saja yang akan dibeli. Setelah selesai mereka pergi, baru saja Prima merasa senang karena Devan memperbolehkan dia keluar. Tapi baru keluar pintu...
"Ayo sayang!" ajak Devan
"Lapor, kami siap mengawal anda!"
"Ini apa mas?" tanya Prima
"Ini? Penjagaan biar kamu nggak kena bahaya!" ucap Devan
"Mas kita cuma ke mall loh, bukan pergi perang!" ucap Prima
Terdapat 10 orang bodyguard yang berbaris didepan rumah menunggu Devan dan Prima, baru saja senang eh malah seperti ini jadinya.
"Ya nanti kan banyak orang, kalau ada yang membahayakan gimana?" tanya Devan
"Hai Kak Devan... Hai Kak Prima..." sapa Aurel yang baru datang
"Hai..." ucap Prima
Semenjak kehamilan Prima, Aurel tak pernah mengganggu Devan dan Prima lagi. Kini ia bertingkah lebih baik, beberapa hari sekali ia datang hanya sekedar menjenguk Prima dan mengajak Prima ngobrol. Dari kelakuannya terlihat Aurel sangat menyayangi anak Prima. Prima dan Devan bukanlah orang yang tidak toleran, siapapun bisa menjadi lebih baik kan.
"Mau kemana kak?" tanya Aurel
"Ini mau ke mall belanja keperluan bayi, tapi lihat masa bawa bodyguard sebanyak ini? Disangka baru keluar dari RSJ nanti aku!" kesal Prima
"Cuma ke mall kan kak? Kenapa sih pake bodyguard segala?" tanya Aurel
"Disana banyak potensi bahaya, nanti kalo membahayakan gimana?" tanya Devan
"Mas kita cuma belanja bukan merakit bom!" kesal Prima
"Cukup, jika ingin keluar ya seperti ini jika tidak ya tidak usah jadi pergi!" ucap Devan
"Oh ok ok ok, baik ayo jalan!" ucap Prima
"Aku ikut dong, masa ditinggal?" tanya Aurel
"Ya udah ayo," ajak Prima
///***///
Di Mall
Mereka bertiga berbelanja dengan berbagai bodyguard yang tersebar di segala arah. Meski dipandang aneh, mereka tak mau menghiraukannya karena tidak mau stress memikirkan hal itu.
"Kak lihat deh, mangkuk nya lucu banget!" ucap Aurel
"Eh iya, mas lucu nggak?" tanya Prima
"Kamu suka?" tanya Devan
"Suka," ucap Prima
"Ya udah taruh keranjang!" ucap Devan
Mereka berbelanja sampai banyak sekali barang-barang bayi, untuk baju bayi mereka hanya beli untuk keperluan new born baby. Karena sampai sekarang Devan dan Prima belum mau mengecheck jenis kelamin bayi mereka, rencananya mereka akan mengecheck saat memasuki bulan ke-9. Biar kejutan katanya.
///***///
Bulan Ke-9
Bulan ke-9 ini Devan dan Prima hendak pergi ke dokter kandungan untuk mengecek jenis kelamin bayi mereka. Awalnya Devan meminta agar dokternya datang, tapi Prima lebih suka keluar agar banyak bergerak dan mempermudah proses kelahiran.
"Gimana dok?" tanya Prima
"Cewek kan? Iya saya tau," ucap Devan sotoy
"Apaan sih! Sotoy banget, cowok aja biar keren!" ucap Prima
"No no, cewek. Jadi kalo jalan bareng nanti pas gitu, ada raja ratu sama putri!" ucap Devan
"Ih nggak terlalu pas, bagusan kalo ada pangerannya!" ucap Prima
"Diam! Ini dokternya siapa sih!" kesal dokter
"Oke dok maaf," ucap Prima
"Silahkan lanjut," ucap Devan
"Jadi, jenis kelaminnya....." ucap Dokter
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏