
"Hmm... Kemana ya enaknya?" tanya Sarah
"Ya kamu sukanya ke mana?" tanya Reyhan
"Terserah lah, asal sama kamu!" jawab Sarah singkat jelas padat
"Ke... Paris gimana?" tanya Reyhan
"Ngikut aja," jawab Sarah
"Uhm... Aku boleh tanya sesuatu nggak? Tapi kamu jangan marah ataupun tersinggung ya please!" pinta Reyhan
"Iya tanya aja," ujar Sarah
"Setelah... Setelah pertemuan kita malam itu... K ka kamu nggak hamil?" tanya Reyhan gugup karena takut menyakiti ataupun menyinggung Sarah
"Itu..."
"Kalau nggak mau jawab nggak papa, aku nggak maksa," ujar Reyhan
"Huh..." Sarah menghela nafas sejenak, "Setelah itu aku meminum obat agar tidak hamil. Otakku masih bekerja, aku tidak mau hamil tanpa suami. Memang di jaman seperti ini dan pergaulan seperti sekarang, tidur sebelum menikah itu biasa. Tapi itu tidak berlaku untukku, walaupun awalnya aku sangat membencimu dan diriku sendiri, setelah merenung aku sadar. Sebanyak apapun aku mengeluh, itu tidak akan merubah keadaan," jelas Sarah.
Reyhan tersenyum manis memandang Sarah, ia merasa semakin bangga, semakin cinta dan semakin yakin untuk memilih Sarah sebagai pendamping hidupnya.
"Terima kasih kamu masih mau menerimaku, dan maaf atas kejadian saat itu. Aku benar-benar tidak berniat, namun keadaan sebaliknya," ucap Reyhan dengan rasa bersalah sampai terpancar ekspresi penuh penyesalan diwajahnya.
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Yang kita perlukan saat ini adalah belajar dari masa lalu, menjalani masa kini dan menata masa depan," ucap Sarah
Reyhan menggenggam tangan Sarah hangat, menatapnya dengan penuh cinta.
"I Love You..."
"I Love You Too..."
///***///
Hari Pernikahan
Hari berlalu, kini tibalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semuanya. Pernikahan Sarah dan Reyhan. Sarah masih di make up oleh MUA, sedangkan Reyhan masih sibuk mengagumi dirinya di depan kaca.
"Hmm... Kalau dipikir-pikir... Aku ini tampan juga, sangat cocok dengan Sarah ku tersayang..." ucap Reyhan sambil menatap dirinya di pantulan cermin
"Semangat Reyhan! Kau tidak boleh membuat kesalahan hari ini!" ucap Reyhan menyemangati diri sendiri
.
.
.
Di Sisi Lain...
Sarah tampak sesekali merasa gugup karena hari ini adalah hari pernikahannya. Harusnya ia bahagia, Sarah bahagia, tapi rasa gugup masih terasa.
"Duh... Gugupnya!" gumam Sarah
"Udah selesai... Wah... Baru cuma dirias wajahnya doang sudah sangat cantik. Apalagi nanti di tata rambutnya!" ucap MUA yang mendandani Sarah
Reyhan sengaja mengadakan pernikahannya di dekat pantai, selain agar terhindar dari paparazi, juga agar suasana lebih indah. Ia pernah mendengar dari Wildan kalau Sarah itu menyukai pantai.
Sarah mulai memasuki ruangan. Semua mata tertuju pada kedatangan Sarah. Saat acara dimulai, semua mata memandang dan memperhatikan dengan seksama.
“Reyhan Elvano Kalandra, apakah anda bersedia mengambil Sarah Agusta menjadi istrimu, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kalian,"
"Ya, saya bersedia!" jawab Reyhan tegas
“Sarah Agusta, apakah anda bersedia mengambil Reyhan Elvano Kalandra menjadi suamimu, untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kalian,"
"Ya saya bersedia," jawab Sarah
"Selamat, kalian sudah sah menjadi suami istri mulai sekarang,"
Semua mata memandang dengan penuh rasa bahagia, senang dan terharu. Mereka ikut bahagia hari ini. Reyhan mendekatkan wajahnya pada Sarah, lalu mencium lembut bibir Sarah dengan penuh cinta. Ada yang malu, ada yang senang dan ada juga yang ikutan tidak bernafas karena melihat Sarah dan Reyhan.
Prokk... Prok.... Prokk....
Tepuk tangan menggelegar di ruangan itu, tiba saatnya waktu pelemparan bunga. Semua orang yang berharap mendapatkan bunga itu langsung berkumpulnya untuk bersiap-siap menangkap buket bunganya.
2....
3....
Sreettt...
Bunga pun terlempar, semua orang melompat untuk berusaha mendapatkannya termasuk Adit. Namun nasib tak berpihak, buket bunga tersebut justru jatuh ke tangan Wildan.
"Hah? Kok malah jatuh ke tanganku?" bingung Wildan
Prokk... Prookk... Prokk...
Semua orang bertepuk tangan untuk Wildan, sedangkan Wildan bingung. Katanya yang dapat buket pengantin itu akan segera menyusul, namun bagaimana caranya Wildan menyusul? Pacar pun tidak punya. Tapi entahlah, Tuhan punya banyak cara untuk mempertemukan seseorang dengan pendamping hidupnya.
"Ciee... Selamat ya Dan..." ucap Devina
"Kok malah kena kamu sih Dan! Yang ngarep itu aku loh! Lah nanti aku mau minta Reyhan sama Sarah beli buket lagi trus di kasih ke aku!" ucap Adit tak terima
"Hehe... Tapi aku nyusulnya sama siapa? Pacar aja nggak punya," tanya Wildan
"Hai semuanya... Siapa tadi yang dapat buket bunganya?" tanya Evelyn yang tiba-tiba muncul entah dari mana
"Makhluk halusnya muncul," cibir Adit
"Apaan sih!" kesal Evelyn
"Wildan yang dapet," jawab Devina
"Wah selamat ya Dan... Buruan tuh nyusul," ujar Evelyn
"Nunggu calon dulu," jawab Wildan
"Dan... Dan... Calon itu bukan cuma di tunggu, tapi ya di jemput," ujar Evelyn
"Makan semangka, makan kedondong. Kalau suka nyatain dong," ledek Devina
"Hehe..."
Wildan hanya cengar-cengir tanpa rasa bersalah. Ia sendiri juga sedang bingung dengan perasaannya. Hatinya masih abu-abu, dan tidak tau nama siapa yang terukir di hatinya.
Setelah acara hampir selesai, tamu mulai berkurang, baru saja Reyhan dan Sarah pergi menghampiri yang lain.
"Ciee... Pengantin baru..." ledek Adit
"Yuhu... Ada yang bakal nempel terus nih," ledek Devina
"Enaknya punya istri, tidur ada yang nemenin, laper ada yang masakin, capek ada yang mijitin," ujar Wildan
"Makanya buruan nyusul Dan!" ucap Reyhan sambil menepuk pundak Wildan
"Nyari calon dulu," jawab Wildan
"Hahahaha...."
Semua keluarga memberikan ucapan selamat pada Sarah dan Reyhan. Setelah acara selesai, Reyhan membawa Sarah ke sebuah villa dekat pantai yang ia sewa khusus untuk dirinya dan Sarah.
///***///
Di Villa
"Huh capeknya...." ucap Sarah sambil menghempaskan dirinya ke ranjang
"Capek banget ya? Mau aku pijitin?" tanya Reyhan
"Nggak usah, harusnya kan aku yang nawarin gitu," ucap Sarah yang merasa tidak enak
"Udah menikah... 1 untuk semua... Capek, susah, senang, masalah atau apapun harus di bagi berdua. Karena mulai hari ini, kita akan hidup bersama sampai maut memisahkan. Jadi jangan pernah merasa sendiri lagi ya," ucap Reyhan sambil memeluk Sarah dari belakang
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku," lirih Sarah
"Terima kasih juga karena telah menjadikan hidupku lebih indah dan lebih berwarna," bisik Reyhan
Reyhan membalikkan badan Sarah, ia menatap Sarah hangat. Mereka berciuman diselingi hembusan angin pantai yang tenang.
TAMAT...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏