
"Dev.. Kak Galang! Ini anak siapa? Ini anak kalian? Kalian diam-diam menikah di belakang ku? Dan sejak kapan kalian kenal? Kalian berdua menikam ku? Dan kapan kalian menikah? Kalian berdua mengkhianati aku dari belakang?" panik Adit
"Dit Dit Dit... Tenang dulu, jangan nerocos aja!" jawab Galang
"Ngawur aja kalo ngomong! Kenal sama Kak Galang aja baru kok, hamil dari mana?" tanya Devina
"Itu anak siapa?" tanya Adit
"Ini Lily, anaknya ibu yang itu! Enak aja ngomong aku udah punya anak!" kesal Devina
"Oh... Abis kalian tiba-tiba main sama anak-anak, ya panik lah aku!" jawab Adit
"Udah siniin Es Krimnya," pinta Devina sambil mengulurkan tangannya
"Nih...,"
"Semua!"
"Makan 2 es krim? Nggak sakit nanti perut kamu?" tanya Adit
"Udah siniin!" pinta Devina
Devina langsung menyahut es krim yang ada di tangan Adit, Adit hanya geleng-geleng kepala. Padahal ia membeli 2 karena yang 1 untuk dirinya sendiri.
"Lily mau es krim?" tanya Devina
Gadis imut bernama Lily itu mengangguk, Devina pun memberikan salah satu es krimnya pada Lily. Adit pun ikut mendekat.
"Aku mana es krimnya?" tanya Adit
"Nih... 1 untuk berdua ya," jawab Devina
"Wah... Kalo gini caranya jadi semangat kan aku! Kak Galang kalo pengen es krim beli sendiri ya! Kan udah kaya," sindir Adit
"Kaya dari mana? Gaji aku nggak seberapa kok Dit," ucap Galang merendahkan diri
"Emangnya beli apartemen itu cukup 100 ribu? Nggak kan," jawab Adit
"Iya-iya deh," jawab Galang
Mereka berempat bermain bersama di taman, hingga matahari mulai terbenam pun tidak terasa. Ibu Lily pun menjemput putri kecilnya yang masih sibuk bermain.
"Lily... Ayo pulang, udah mau malam loh,"
"Aahhhh.... Nggak mau! Mau main sama kakak..." tolak Lily
"Eh ini udah malam, besok main lagi ya!"
"Nggak mau!"
"Lily... Dengerin Kak Dev ya! Kamu tau kenapa Cinderella bisa jadi gadis cantik?" tanya Devina yang dibalas gelengan Lily tidak tau.
"Cinderella jadi cantik karena dia nurut sama mamanya! Jadi kalo Lily nurut sama Mama, nanti Lily bisa jadi putri cantik," bujuk Devina
"Beneran kak?" tanya Lily
"Iya, masa kakak bohong?" tanya Devina
"Tapi masih pengen main!" jawab Lily
"Eh dengerin Kakak ya! Lain kali nanti kita main lagi ok!" bujuk Devina
"Beneran?"
"Bener!"
"Janji?"
"Janji deh!"
"Ya udah mama... Ayo pulang," ajak Lily
"Ok, mbak mas... Makasih ya buat hari ini, saya doakan hubungannya langgeng dan cepat-cepat di beri momongan setelah menikah," ucap ibu Lily yang ditujukan kepada Devina dan Galang
"Ehem... Dia pacar saya bu," sela Adit sambil merangkul pundak Devina
"Oh maaf-maaf! Semoga kalian selalu bahagia, saya dan Lily pergi dulu... Permisi,"
"Iya bu,"
"Hati-hati di jalan,"
"Dev ayo aku antar, sepeda kamu dilipat aja masukin bagasi. Kak Galang.... Mau bareng?" tanya Adit
"Nggak deh Dit, aku mau mampir apotek dulu," jawab Galang
"Kenapa di apotek? Kakak sakit?" tanya Adit dengan nada penuh kekhawatiran
"Nggak... Mau beli suplemen sama beberapa vitamin aja kok," jawab Galang dengan senyum manisnya
"Oh... Kalau ada apa-apa segera kabari aku Kak!" pinta Adit
"Iya-iya... Udah sana pulang anterin Devina sebelum terlalu malam," ujar Galang
"Ya udah, kita pergi dulu kak..." ujar Devina
"Duluan ya Kak..." ujar Adit
"Iya hati-hati!" jawab Galang
Adit dan Devina pun pulang dengan mobil Adit, di dalam mobil seperti biasanya mereka berbincang dan bercanda.
///***///
Di Dalam Mobil
"Dev... Kamu suka anak kecil?" tanya Adit
"Suka... Suka banget! Mereka kecil, imut-imut dan masih bersih tanpa memiliki beban berat. Hah... Ingin rasanya kembali kecil lagi," jelas Devina sambil mengingat Lily
"Memang... Menjadi anak kecil itu seolah tidak pernah salah dan tidak punya beban. Yang mereka tau hanyalah meminta, menangis, menerima dan bermain," ucap Adit sambil mengingat-ingat masa kecilnya yang jarang ditemani papanya
"Aku suka jadi anak kecil... Dulu mommy daddy selalu menemaniku bermain kesana kemari, bahkan saat aku yang salah dan menangis... Mereka malah mencurigai Kak Rey hahahaha..." tawa Devina saat mengingat masa kecilnya
"Benarkah?"
"Hmm... Masa kecilku sangat indah untuk di kenang, tapi sekarang... Terkadang aku merasa kalau daddy terlalu membatasi ku untuk segala hal. Kadang aku merasa daddy terlalu Over Protective padaku," ujar Devina
"Bersyukurlah.... Itu tandanya dia sayang padamu, anak laki-laki dan perempuan itu berbeda. Untuk laki-laki... Sekali rusak, itu masih bisa di perbaiki dan tidak akan terlihat. Tapi jika seorang wanita yang rusak, sampai kapanpun tidak akan bisa di perbaiki," jelas Adit
Devina menengok, ia melihat Adit yang terlihat semakin tampan dimatanya saat menunjukkan sikap dewasanya.
"Kenapa? Aku hanya bicara, lagipula... Masa kecilmu sangat indah, masa kecilku hanya bermain dengan mama, Kak Galang dan beberapa pengasuh serta asisten rumah tangga keluargaku," jelas Adit dengan nada sendu
"Kenapa? Papa kamu kemana?" tanya Devina
"Papa sering ke luar kota dan luar negeri untuk mengurus bisnis restorannya. Belum lagi kalau ia dipesan khusus ke luar negeri untuk memasakkan seseorang. Aku dan papa tidak terlalu akrab, papa lebih akrab dengan Kak Galang... Mungkin karena Kak Galang jauh lebih cerdas dariku," jelas Adit
"Lalu mamamu?"
"Karena papa yang sering ke luar negeri, mama berhenti dari pekerjaannya dan fokus mengurusku. Terkadang... Aku iri dengan orang lain yang memiliki papa yang teramat sayang pada mereka, tapi aku juga bersyukur... Papaku tidak seketat daddy Devan kan? Aku jadi bebas... Hahahahaha..." tawa Adit
Devina hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, ia bisa merasakan kalau Adit sebenarnya merindukan sosok ayah. Devina pun tidak menyangka, pria se-konyol Adit memiliki perasaan terpendam di dalam hatinya.
"Oh iya... Aku mau ngomong juga," ujar Adit
"Apa?" tanya Devina
"Aku udah mikir... Lebih baik kita publish dulu deh hubungan kita. Kita udah lama pacaran dan selama ini kita Backstreet, lagian mama papa aku kan udah kenal sama kamu," jelas Adit
"Hah?"
"Kenapa? Biar orang-orang nggak kaget aja gitu kalo kita tiba-tiba nikah. Lagipula... Aku takut para cowok-cowok itu deketin kamu!" ucap Adit sambil sedikit menyembunyikan wajahnya
"Hah kenapa? Oh... Kamu cemburu yaaa...." ledek Devina
"Nggak tuh,"
"Halah... Ngaku hayo... Kamu cemburu kan?" tanya Devina
"Kata siapa?"
"Kalo nggak, kenapa mukanya merah?" tanya Devina sambil meledek Adit yang masih fokus menyetir
"Nggak cemburu!"
"Masaa.....????"
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏