
Devan yang kecewa dan marah karena melihat Prima diperlakukan seperti itu langsung masuk mobil dengan keadaan marah.
"lain kali jangan pernah pulang kesini kalau aku nggak ada!" tegas Devan
Prima hanya diam menunduk, Devan mengangkat wajahnya. Prima sudah menangis.
"hei... Jangan sedih, masih ada aku" ucap Devan sambil mengusap air mata Prima
"hmm... Aku nggak nangis kok, cuma tadi kelilipan" ucap Prima
"jangan bohong kalo nangis, nangis aja" ucap Devan sambil menjalankan mobilnya
"huaaaa.... Hiks hiks..." tangis Prima
"tenanglah... Semua pasti selesai, aku yakin mamamu pasti akan baik padamu suatu hari" ucap Devan
"bukan itu yang kutangisi, aku sudah biasa diperlakukan seperti itu" ucap Prima sesenggukan
"lalu apa yang kau tangisi?" tanya Devan
"uangkuu.. Huaaaa... 3 juta kuuu..." tangis Prima
Oke aku bodoh sudah menghiburnya saat ini - Batin Devan
"uangkuu... Huaaa... Bagaimana aku bisa hidup tanpa 3 jutakuu..." tangis Prima
"Primaa.... Suamimu ini tidak semiskin itu, hanya uang tiga juta tidak ada apa-apanya" kesal Devan
"tapi uangmu ada didalam kartu, uangku ada Cash didompet huaa..." tangis Prima
"haih, nanti aku cairkan uangnya" kesal Devan
"beneran?" tanya Prima yang langsung berhenti menangis
"eh, ni cewek langsung seneng aja kalo ada uang" bingung Devan
"iya dong, ada uang hidupku tenang" ucap Prima sambil mengusap air matanya
"apa bedanya uang Cash sama kartu atm atau kartu kredit? Malah lebih banyak uang di atm kan" bingung Devan
"ya uang cash is the best. Kalo tiba-tiba ada tukang es oyen lewat kan tinggal langsung beli, kalo lagi laper langsung pesen aja soto atau mi ayam. Nggak mungkin kan aku bayar mi ayam atau es oyen pake atm?" tanya Prima
"iya kamu ada benernya juga. Nanti dikantor gandeng tangan aku biar kita kelihatan akur kalo nggak mau aku diambil orang" ucap Devan
"nggak papa, kalo berani selingkuh terang-terangan berarti kamu pemuda kuat kayak aku. Kalo berani selingkuh diam-diam berarti kamu saudaranya si ketek hahahaha" tawa Prima
"berarti kamu berani selingkuh terang-terangan?" tanya Devan
"ya nggak gitu, kamu pikir selingkuh itu gampang?" tanya Prima
"apanya yang susah?" bingung Devan
"selingkuh bisa dilakukan kalau ada pacar atau pasangan. Aku jalan sama Joo aja kamu ngikut, gimana mau selingkuh" ucap Prima
"oke kamu ada benarnya juga" ucap Devan
///***///
Di Kantor
Semua karyawan wanita melihat kedatangan Devan dan Prima, ada yang kagum ada yang iri. Prima melingkarkan tangannya dilengan Devan, saat berjalan Devan melepaskan tangan Prima dari lengannya lalu menggandeng tangan Prima. Para karyawan pria juga terpukau melihat paras dan tubuh Prima, mereka hampir tak bisa berkedip. Menyadarinya, Devan mempercepat langkahnya.
///***///
Di Ruangan Devan
"kalo kamu capek, tidur aja diruang istirahat ku. Disana ada kasur, TV, lemari ganti dan kamar mandi" ucap Devan
"ok" ucap Prima senang
Pertama kali Prima datang kesini kan buru-buru, jadi tidak menyadari kalau memang ruangan Devan sangat mewah.
Devan menelfon Tio..
Tio : "halo tuan ada ada apa?"
Devan : "huh.. Huh.. Huh... Kamu.. Huh.. Cairkan uang 15 juta.. Huh dari rekeningku" ucap Devan ngos-ngosan
Tio : "baik tuan"
"aduhh... Ahh..." suara Prima
"pelan-pelan dong" suara Devan
"sakit tau" suara Prima
"salah kamu sendiri kebanyakan gaya, jangan buru-buru napa. Kalo nanti luka gimana?" suara Devan
"kok nyalahin aku sih.. Huhh.." suara Prima
"emang salah siapa lagi? Aku?" suara Devan
"sinii... Huh.. Huh..." suara Devan
Mereka ini, tidak tau apa kalau jiwa jombloku meronta-ronta. Tidak malu apa? - Batin Tio
Tio berpikir kemana-mana setelah ditelfon Devan. Kenyataannya....
Prima menelfon Joo..
Prima : "Joo..."
Joo : "apa mak?"
Prima : "pinjemin gue 500 ribu aja dong"
Joo : "buat apa?"
Prima : "buat bertahan hidup"
Joo : "lo kabur dari rumah suami lo?"
Prima : "haih nggak, buat pegangan aja. Minggu depan gue ganti"
Joo : "okee..."
Tiit.. Tiitt.. Tiitt..
Telfon Prima diambil dan dimatikan oleh Devan.
"apaan sih, siniin ponsel aku" ucap Prima kesal
"aku kan udah bilang nanti uangnya aku kasih, ngapain pinjem si kutu kumpret itu" kesal Devan
"kamu dari tadi kerja, pasti lama cairnya" kesal Prima
Prima berusaha mengambil ponselnya, tapi Devan mengangkatnya keatas. Pastinya Prima tidak sampai karena Devan memiliki tinggi 180cm. Prima sampai loncat-loncat pun tetap tidak sampai. Devan berlari dan Prima mengejarnya. Mereka berlari-lari seperti anak kecil rebutan mainan didalam ruangan Devan yang luas itu.
"balikin..." ucap Prima
"nggak, nanti kamu bakal pinjem lagi ke si kutu kumpret itu" ucap Devan
"balikiiinnnn!!" ucap Prima
Devan mengambil ponselnya dan mengangkat lengannya agar Prima tak mengambil ponsel Prima. Devan menelfon Tio.
"halo tuan ada ada apa?" Tanya Tio
"huh.. Huh.. Huh... Kamu.. Huh.. Cairkan uang 15 juta.. Huh dari rekeningku" ucap Devan ngos-ngosan karena habis lari-larian
"baik tuan" jawab Tio
"aduhh... Ahh..." keluh Prima karena lututnya kejedot meja kerja Devan
"pelan-pelan dong" ucap Devan kesal
"sakit tau" keluh Prima
"salah kamu sendiri kebanyakan gaya, jangan buru-buru napa. Kalo nanti luka gimana?" ucap Devan menyalahkan Prima
"kok nyalahin aku sih.. Huhh.." ucap Prima kesal yang masih juga ngos-ngosan
"emang salah siapa lagi? Aku?" tanya Devan
"sinii... Huh.. Huh..." ucap Prima sambil loncat-loncat
"tu tuan, saya tutup telfonnya" gugup Tio
Tio mematikan telfonnya. Sementara Devan mengamcam Prima.
"tuh telfon si kutu kumpret, bilang nggak jadi pinjem. 15 juta sebulan kurang nggak? Kalo kurang bilang, jangan pernah pinjem si kutu kumpret itu. Aku nggak suka!" tegas Devan
"haih iya-iya" kesal Prima
Prima menelfon Joo untuk mengatakan bahwa dia tidak jadi pinjam.
"udah.. Puas?" tanya Prima kesal
"puas dong" ucap Devan santai
"dasar makhluk kutub" kesal Prima
"sebentar lagi aku ada meeting, kamu diem aja disini jangan kemana-mana. Aku udah pesen makanan, kalo mau santai itu diruang istrirahatku ada beberapa kaset film. Kamu bisa lihat atau bisa streaming, TV nya udah kesambung wifi disini" ucap Devan
"oke" jawab Prima
Devan keluar untuk mempersiapkan meetingnya dan tak lama jatah makan siang mereka sampai, banyak makanan mewah disana. Prima makan sampai kenyang sambil menonton film. Ia mengambil beberapa kaset yang dimaksud Devan. Hanya kumpulan film aksi yang pernah ditonton Prima semua. Ada satu kaset yang membuat Prima penasaran, ia mengambilnya dan memutarnya.
"uhukk.. Uhukk..." kaget Prima sampai tersedak
Ia langsung mencari remote dan mematikan TV nya. Ternyata adalah film aksi yang sangat banyak adegan dewasanya, bagaimana Prima tak terkejut. Prima mengeluarkan kasetnya dan memilih streaming saja. Prima memilih film Descendent Of The Sun untuk ditonton.
"Sekali-sekali nonton film romantis biar baper hehe..." ucap Prima
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏