
"Tunggu!" bentak nenek
"Ada apa ma?" tanya ayah Devan
"Suami Prima itu siapa? Biar Devan yang memutuskan!" ucap nenek
"Mama ada benarnya juga mas," ucap mama Devan
"Tapi sekarang Devan dimana?" tanya ayah Devan
"Telfon dia sekarang!" tegas nenek
Ayah Devan sesegera mungkin menelfon Devan, tak tunggu lama Devan langsung mengangkatnya.
Ayah: Halo Van...
Devan: Halo yah! Gimana keadaan Prima?
Ayah: Tidak baik nak, sekarang kamu jawab cepat! Jika kita hanya bisa menyelamatkan salah satu, siapa yang kamu pilih?
Devan: Yah jangan bercanda, jangan ngomong gitu yah!
Ayah: Van ayah gak bercanda, istrimu kritis! Anakmu juga dalam bahaya! Kita akan berusaha menyelamatkan keduanya, namun kita bukan Tuhan nak! Siapa yang kamu pilih?
Devan yang baru masuk pesawat langsung jatuh terduduk meneteskan air mata, tidak menyangka istrinya dalam keadaan seperti itu padahal baru saja belum ada 1 jam mereka telfonan. Suara Devan yang melemas dan mulai menangis terdengar ayahnya di telfon.
Ayah: Nak, ayah tidak menyuruhmu menangis! Yang ayah butuhkan sekarang jawaban! Jika kamu tidak segera menjawab, kamu bisa kehilangan keduanya! Pilih sekarang
Dengan berat hati dan suara tersedu-sedu Devan menjawab.
Devan: Selamatkan Prima yah, selamatkan istriku! Tapi aku mohon, selamatkan juga anakku!
Ayah: Baik, ayah akan berusaha! Sekarang cepatlah pulang!
Devan: Iya yah!
"Bagaimana mas?" tanya mama Devan
"Dok selamatkan menantu saya! Tapi saya mohon juga selamatkan cucu saya!" ucap ayah Devan
"Baiklah, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan keduanya. Tapi bukan hanya usaha, mohon berikan doa sebanyak-banyaknya agar keduanya bisa selamat. Kita manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, untuk yang lain kita hanya bisa pasrah pada Tuhan!" ucap Dokter
"Baik dok, terima kasih!" ucap ayah Devan
Semua keluarga berdoa agar tidak terjadi apa-apa pada keduanya. Setelah 1 jam, Devan datang secara tergesa-gesa dari bandara. Ia tak beristirahat, saat Devan sampai, ia meminta bantuan pada teman polisinya untuk menutup jalan sehingga lebih cepat sampai rumah sakit.
Tak butuh waktu lama, Devan memarkirkan mobilnya sembarangan dan memberikan kuncinya pada tukang parkir agar diparkirkan, Devan berlari mencari ruang operasi. Saat sampai ia melihat semua keluarganya yang terlihat khawatir. Baru kali ini Devan menyadari kehendak Tuhan, karena selama ini tak ada yang berjalan tidak sesuai keinginan Devan.
"Yah... Prima mana yah.. Dia baik-baik aja kan?" tanya Devan tergesa-gesa
"......"
"Ma Prima mana ma..." tanya Devan
"....."
"Nek Prima mana? Aku mohon jawab aku!" ucap Devan dengan air mata yang menetes
"Dia masih di dalam ruang operasi!" ucap nenek
"Dre gimana Prima? Gimana keadaannya? Dia dan anakku akan selamat kan?" tanya Devan melemas
"Van..." panggil Andre
"Dre aku mohon sama kamu! Cari dokter terbaik, selamatkan anak dan istriku!" ucap Devan sambil berlutut
Ini pertama kalinya Devan mau berlutut dihadapan seseorang, biasanya Devan hanya akan tunduk dan berlutut pada nenek, ayah dan ibunya.
"Dree... Gimana Prima... Dia gimana? Kenapa ini semua terjadi? Belum ada 2 jam kami selesai video call! Kenapa malah seperti ini!" ucap Devan
"Van.... Sadar Van.." ucap Andre
"Kenapa, dia baik-baik aja kan? Iya kan, kalian cuma bercanda! Dia sebenarnya baik-baik saja, ini kan akhir bulan! Dia pasti sedang melahirkan anakku! Iya dia sedang melahirkan anakku!" ucap Devan untuk menghibur dirinya sendiri
Plakk....
Andre menampar Devan agar Devan sadar dan tidak menjadi seperti orang gila.
Devan terduduk lemas, ia menangis. Pertama kali keluarganya melihat Devan selemah ini, bahkan sampai berlutut pada orang lain.
"Yah aku gagal yah... Aku gagal! Aku gagal jadi suami yang baik.." sela Devan dalam tangisnya
Ayah dan mama Devan mendekat, mereka memeluk hangat putranya. Ini pertama kali mereka melihat Devan seperti ini.
"Kenapa aku pergi hanya untuk bisnis sialan itu! Berapa uang yang akan ku hasilkan? Apa bisa menyelamatkan anak dan istriku!" sela Devan dalam tangisnya
"Nak bersabarlah... Berdoa pada Yang Maha Kuasa! Ini semua ujian untukmu, kamu yang sabar," ucap mama Devan
"Ma aku gagal jadi suami ma... Aku bodoh, aku pria tidak berguna! Aku gagal ma gagal!" sela Devan dalam tangisnya
"Nggak nak kamu nggak gagal, tapi ini semua sudah jalan dari Yang Di Atas!" ucap ayah Devan
"Yah apa penyebab Prima seperti ini? Kenapa bisa seperti ini?" tanya Devan
"Rina dan Tio yang tau! Tapi kata mereka tadi, Prima jatuh dari tangga!" ucap ayah Devan
Devan terdiam, ia memenangkan hatinya dan mulai berpikir.
Rumahku ada liftnya, kenapa Prima turun lewat tangga? Lagipula perutnya sudah besar, pasti susah kalau lewat tangga. Atau... - Batin Devan
"Yah dimana Rina dan Tio?" tanya Devan
"Mereka baru saja pergi, mereka mengambil keperluan Prima dirumah!" ucap ayah
"Itu mereka," ucap mama Devan
Devan langsung berdiri, berlari menghampiri Tio. Devan mencengkram kerah Tio erat-erat. Ia memandang Tio dengan tatapan tajam dan mata yang merah karena baru saja menangis.
"A ada apa Tuan?" tanya Tio ketakutan
"Siapa yang melakukannya?" tanya Devan
"A apanya?" bingung Tio
"Siapa yang membuat Prima celaka!" bentak Devan dengan sedikit berteriak
"Tuan tenangkan diri anda dulu, baru saya akan cerita!" ucap Tio
"Bawa dia kemari!" ucap Devan
"Apa?" tanya Tio
"Bawa dia kemari!" bentak Devan dengan sedikit berteriak
"Tapi tuan..." ucap Tio
"5 menit! Dalam 5 menit dia tidak sampai ke sini, akan ku hancurkan keluarganya dan akan kub unuh seluruh anggota keluarganya! Dan pelakunya, akan ku cincang dagingnya!" ancam Devan
"Ba baik tuan, anda tunggu disini!" ucap Tio ketakutan
Mendengar ancaman Devan, Tio langsung berlari turun, mencari mobil dan langsung mengebut pulang menjemput Aurel. Bukan karena hanya takut, tapi Tio benar-benar mengenal Devan. Devan akan melakukan apapun saat marah, ia juga tak segan-segan untuk melakukan apapun yang dia mau saat marah. Apalagi kali ini, Devan pasti tidak akan main-main dengan ucapannya.
Ayah Devan dan Andri terkejut melihat Devan yang semarah ini, mereka hanya bisa diam dan berharap kemarahan Devan akan mereda.
10 Menit Kemudian
Tak tunggu Lama, Tio menyeret Aurel masuk ke rumah sakit dengan tangan diborgol dan 4 bodyguard pengawalnya. Tio menyeret Aurel menuju Devan, entah apa yang akan dilakukan Devan pada wanita ini. Devan sedikit menjauh dari keluarganya menunggu Tio.
"Ini tuan.." ucap Tio
"Ka Kak Devan..." gugup Aurel
"Kenapa? Kaget? " tanya Devan dengan tatapan membunuh
"Kak aku nggak salah, aku difitnah kak!" ucap Aurel
Plakk...
Devan menampar Aurel hingga Aurel jatuh tersungkur, para bodyguard hanya melihat dan memilih tidak ikut campur daripada mereka sendiri yang kena.
"Aw... Sakit kak!" keluh Aurel