My Sexy Wife

My Sexy Wife
Diterima



"A aku benar-benar lapar, aku mau pesan makanan dulu," gugup Sarah


"Sudahlah... Aku akan menyuruh seseorang untuk mengantar makanan," jawab Reyhan dengan nada yang sedikit kecewa


Sarah pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, di kamar mandi ia diam termenung. Meski dirinya pernah melakukan hal itu dengan Reyhan, masih ada rasa gugup di hatinya.


"Hah... Memikirkannya saja membuatku gila!" ucap Sarah sambil geleng-geleng kepala di depan cermin


Sarah keluar untuk sarapan, di luar sudah ada Reyhan yang sedang memakan sarapannya.


"Nanti mau ke mana?" tanya Sarah


"Kamu nggak capek?" tanya Reyhan


"Enggak, kenapa?" tanya Sarah


"Ya kalo kami capek, kita istirahat aja hari ini. Kalo kamu nggak capek, kita keluar," jawab Reyhan


"Hmm... Kamu suami terbaik!" ucap Sarah sambil memeluk Reyhan


"Kasih hadiah lah," ujar Reyhan


Cup...


Sarah mencium pipi Reyhan singkat sambil senyam-senyum.


"Udah kan? Suamiku emang terbaik," jawab Sarah


Cup...


Reyhan mengecup sekilas bibir Sarah, Sarah terkejut namun tidak menolak.


"Kau sangat imut saat terkejut," ujar Reyhan


"Hmm.... Ayo makan," elak Sarah


"Eh apa kau malu?" tanya Reyhan


"Tidak!"


"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Reyhan


"Tidak!"


"Kau berbohong?" tanya Reyhan


"Tidak!"


"Hahahaha... Sudahlah, kau semakin lucu saat terpojok. Ayo makan," ajak Reyhan


"Iya..."


Reyhan gemas sekali melihat Sarah yang memerah dan terpojok. Ingin sekali segera melakukan sesuatu padanya.


Mereka makan bersama lalu pergi untuk melihat-lihat kota yang terkenal sebagai kota paling Romantis di dunia.


"Mau ke mana?" tanya Reyhan


"Hmm... Tadi aku searching, ada Museum Louvre. Itu museum seni, kita bisa bersantai sambil melihat-lihat koleksi seni di sana," jelas Sarah


"Oke baiklah ayo ke sana," ajak Reyhan


///***///


Di Indonesia


Malam Hari


Devina dijemput oleh Adit, mereka pergi bersama ke sebuah restoran terbuka yang ada di sebuah bukit. Pemandangannya benar-benar romantis dan indah, dari sana bisa melihat berbagai pemandangan dari atas.


"Wow... Ini indah sekali honey," ujar Devina terkagum-kagum


"Kau suka?" tanya Adit


"Tentu saja aku suka, ini sangat indah!" ujar Devina


"Aku senang kalau kau menyukainya," jawab Adit


Adit mempersilahkan Devina agar duduk, baru saja mereka duduk, sudah ada seorang pemain biola yang memainkan nada-nada indah yang membuat suasana semakin romantis.


"Wow apa ini?" kaget Devina


"Hanya kejutan kecil saja, apa kau menyukainya?" tanya Adit


"Aku sangat suka," jawab Devina


Prok... Prok...


Adit menepuk tangannya, beberapa pramusaji datang dengan nampan yang penuh makanan enak di atasnya. Makanan enak itu langsung disajikan di depan Devina.


Hanya dengan melihat makanannya saja sudah bisa membuat Devina meneteskan air liurnya. Begitu banyak makanan berkelas di meja, membuatnya tidak rela untuk memakannya.


"Oww... Kelihatannya sangat enak," ucap Devina


"Baik, ayo kita makan!" ajak Adit


Adit dan Devina mulai menyendok kan makanan ke mulutnya, yang benar saja. Makanan ini benar-benar enak, walau tidak bisa menyaingi masakan Prima, tapi tetap saja membuat lidah tidak ingin berhenti merasakannya.


"Oh my... Ini benar-benar enak!" ujar Devina


"Kau boleh memakannya sampai puas," jawab Adit


"Nanti saja aku bicarakan setelah selesai makan," jawab Adit


"Oh baiklah, aku benar-benar penasaran," ujar Devina


"Hmm..."


.


.


.


.


.


Setelah selesai makan...


"Jadi mau ngomong apa?" tanya Devina


"Minum dulu kali... Santai aja," pinta Adit


"Iya..."


Devina mengambil segelas orange juice di depannya dan mulai meminumnya. Namun belum sempat habis semua...


"Ugh... Ugh.... Uhuk... Uhuk-uhuk...."


Devina batuk-batuk karena merasa ada yang menyangkut di tenggorokannya. Ia kebingungan, sedangkan Adit hanya diam menunggu reaksi Devina.


Lama banget deh nyadarnya... - Batin Adit


"Uhuk... Uhuk..."


"Dev... Dev kamu kenapa Dev?" kaget Adit


"Uhukk... Uhuk...."


Adit yang panik melihat keadaan Devina, langsung menepuk-nepuk punggung Devina agar tidak tersedak.


"Uhuk.... Uhuk...."


"Kamu kenapa Dev? Batuk aja terus biar nggak sakit," pinta Adit


"Uhukk...."


Akhirnya Devina berhenti batuk saat sesuatu keluar dari mulutnya. Devina mengambilnya lalu menaruhnya di telapak tangannya.


"Cincin?" kaget Devina


"Iya... Awalnya aku mau lamar kamu, tapi malah jadinya seperti ini," ujar Adit


"Kamu siapin semua ini cuma buat ngelamar aku?" tanya Devina


"Iya,"


Seett....


Devina langsung memeluk erat Adit, ia tidak menyangka Adit bisa seromantis ini.


"Maaf karena hampir membuatmu celaka," ujar Adit


"Nggak kok, aku yang kagum sama kamu sekarang!" jawab Devina


"Jadi.... Gimana nih?" tanya Adit


"Gimana apanya? Aku udah makan kok, ayo pulang!" ajak Devina


Ni orang kok tingkat kepekaannya rendah banget ya? - Batin Adit


"Lamarannya gimana?" tanya Adit


"Gimana apanya?" tanya Devina


Huh.... Beri aku kesabaran ekstra Tuhan! - Batin Adit


"Lamarannya diterima apa enggak?" tanya Adit


"Terima nggak yaa...." gurau Devina


Badan Adit sudah panas dingin menunggu jawaban dari Devina. Hanya sebuah lamaran saja sudah bisa membuat Adit gemetaran dan panas dingin.


"Di terima kok..." jawab Devina


"Hah?" kaget Adit tak percaya


"Lamarannya di terima, honey..." ucap Devina


"Ini beneran nggak bercanda nih?" tanya Adit


"Ih enggak ya! Aku serius!" jawab Devina


Adit langsung mengangkat tubuh Devina lalu berputar-putar bersama di sana, ia benar-benar bahagia saat mengetahui bahwa lamarannya diterima.


"Yuhu... Lamaran gue di terima!" tanya Adit


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE ๐Ÿ™


Segini dulu ya, author lagi gak enak badan๐Ÿ™