
"tuan... apa kita akan kembali ke Jakarta sekarang?" tanya Tio
"hmm...." bingung Devan
di Sisi Lain...
"wuuuhuu.. Mbak Prima the Best...." sorak teman-teman Prima
"Hehe biasa aja tau..." ucap Prima malu
Prima fokus latihan terus karena harus mengikuti 2 kategori. Jadi latihannya double.
///***///
Besoknya
Besoknya ada upacara pembukaan ditempat pertandingan, pertandingan dimulai pukul 08.00 Pagi.
"wekya wekya wek joss.. Tek tek sett... Yuhu mbak Primaaa...." sorak anak-anak
Saat Prima mulai pertandingan, semua teman latihannya menyoraki agar semangat, alhasil Prima mencapai juara 1 Seni Tunggal Dewasa. untuk kategori Tanding dewasa akan dimulai hari ke 4.
///***////
Hari Ke-4
Karena ada 6 gelanggang maka pertandingan cepat selesai walaupun diikuti oleh hampir 1000 peserta.
"sudut biruuu.... kami datang... Menunggumu.... Selamanya... Lalalala.... Ooooo... Lalalaaa... Ooooo...." sorak teman-teman Prima
Prima mulai pertandingannya, Prima menempati sudut biru. Babak pertama, begitu mulai Prima langsung mendendang T musuhnya hingga terjatuh kebelakang.
Jatuhan sah sudut Biru...
"wuhuu... Terus mbakkk...." sorak teman-teman Prima
Namun babak kedua, Prima kakinya kegunting hingga terjatuh.
Jatuhan sah sudut merah...
"semangat mbak Primm...." sorak teman-teman Prima
"eh eh eh, itu istri orang main banting-banting. sialan!" kesal Devan dari jauh
"tunggu tuan, jangan kesana. Nyonya tidak tau kalau kita disini!" cegah Tio
"ah kau benar juga" ucap Devan
Babak ketiga, babak penentuan. Prima menangkap kaki lawan dan menyahut kaki sebelahnya hingga lawannya terjatuh.
Jatuhan sah sudut biru
"wuuu... Mbaakkk Primaaaa...." sorak teman-teman Prima
"yess... Itu baru istriku!" senang Devan
Pertandingan kali ini dimenangkan oleh sudut... Biru...
"yeee... Yuhuuu...." sorak teman-teman Prima
Prima memeluk lawannya dan meminta maaf, lalu berlari dan menyalami tangan official lawan yang ada disudut gelanggang. Prima masuk babak semi final, babak itu juga menang. Akhirnya, Prima masuk babak final dan perebutan juara 1.
Jika bukan kau yang menyukainya, aku tak akan membiarkan orang lain membangtingmu. Hanya boleh aku yang membantingmu, dikasur tapi - Batin Devan senyam-senyum
Babak final dimulai, kini Prima mendapat lawan dari Malang.
Kelihatannya cukup berat, aku tak boleh lengah - Batin Prima
Prima menunggu serangan lawan, begitu lawan menendang Prima langsung menangkap tendangannya dan menyahut kaki satunya hingga terjatuh.
Jatuhan sah sudut Biru...
"yee yuhhuuu mbak Prima semangat!!" sorak teman-teman Prima
Baru mulai beberapa detik babak kedua, Prima sudah ketendang hingga terjatuh dan sedikit terlempar.
Kratak...
"ahh...." teriak Prima
Prima terduduk memegangi kakinya, lawannya langsung mendatangi Prima.
"ah aduh maaf mbak, aku nggak sengaja" ucap lawan
"nggak papa, ini salahku. Aku salah posisi Jatuhan" ucap Prima
Prima berusaha berdiri lagi dan melanjutkan pertandingan meski kakinya keseleo. Tim medis juga hendak mengobati Prima, namun Prima menolak.
Bukan Prima jika mudah menyerah, aku harus berhati-hati karena tenaganya cukup besar dan lincah - Batin Prima
"sialan.. Tio ayo hampiri dia.. Istriku kesakitan..." panik Devan
"jangan tuan, itu akan semakin mempengaruhi nyonya" cegah Tio sambil menahan tangan Devan
"aku tak perduli.. Ayo kesana!" kesal Devan
"ingat apa yang nyonya katakan pada anda!" ucap Tio
Jangan kesini, nanti aku bisa kalah
Kata itu langsung muncul dikepala Devan. Devan kembali duduk ditribun dan melihat Prima dari jauh.
Prima berdiri dan kembali kesrekel hingga jatuh lagi.
"ahhh...." tahan Prima
Prima kembali berdiri namun...
Dongg...
Babak kedua selesai..
Prima berjalan dengan kaki keseleo nya menuju sudut dan menghampiri Om Pram officialnya.
"menyerah saja, itu sangat sakit. Lihat baru beberapa saat sudah bengkak" ucap Om Pram
"nggak mas... Aku nggak bakal nyerah, lebih baik aku kalah daripada menyerah" tegas Prima
"haih... Kamu ini susah banget sih dibilangin!" kesal Om Pram
"Hehe..." tawa Prima sambil menahan agar tak menangis
Om Pram mengompres kaki bengkak Prima dengan es. Setelah beberapa saat, babak ketiga dimulai. Lawan menyerang, Prima menangkap kakinya namun gagal membantingnya.
Ayo Prim, buat 1 poin lagi dan kamu menang - Batin Om Pram
Semangat sayang - Batin Devan
Prima hanya pasang diam, melihat semua tingkah lawan dan menahan tangisannya. Lawan menyerang, Prima menangkap tendangannya dan hendak menyahut kakinya, tak sampai Prima langsung mengangkat badan lawan keatas lalu menurunkannya.
Krataakk....
Lawan Prima salah posisi jatuhan, tangannya patah hingga tulangnya menyobek dagingnya. Prima terkejut melihatnya.
Astaga, a apa ini benar-benar terjadi - Batin Devan kaget
"ah..." keluh lawan
"ahh... prima terduduk lemas melihat lawannya. Ma maafkan aku, maaf aku tak sengaja hiks..." tangis Prima
Prima benar-benar tak bisa membendung tangisannya lagi, Prima menangis sangat keras sambil meminta maaf.
"ma maafkan aku..." ucap Prima
Tim medis bergegas menolong lawan Prima dan melakukan pertolongan pertama lalu langsung membawanya kerumah sakit.
Cidera dikarenakan kesalahan personal, maka pertandingan ini dimenangkan oleh sudut biru...
Tak ada yang bersorak mendengar Prima menang, Prima hendak mengikuti lawannya itu tapi Aldo menariknya dan memeluknya. Devan yang melihatnya langsung bergegas menuju Prima.
"mas... Lawanku mas... Aku salah.. Hiks.. Aku salah hiks.." tangis Prima
Devan yang sampai langsung menarik tangan Prima dan mendekap badan mungil Prima.
"mas Lawanku... Aku salah..." tangis Prima
"hei.. Kau tak salah, nanti kita lihat ya" ucap Devan mengelus kepala Prima
Prima yang lemas langsung pingsan dipelukan Devan.
"Prim.. Prima... Primm..." panggil Devan sambil menepuk-nepuk pipi Prima
"Van.. Dia pingsan" Ucap Aldo
"Tio... Siapkan mobil!" bentak Devan
"baik tuan.." ucap Tio
Banyak yang kasihan pada lawan Prima, prihatin pada Prima dan ada juga yang salfok gara-gara ketampanan Devan.
///***///
Di Villa Devan
Devan membawa Prima ke villa tempat tinggalnya, ia mendekap tubuh Prima diatas kasur dan ikut tertidur.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏