
"Tunggu Rina, aku mohon dengarkan aku untuk sekali ini saja!" pinta Tio
Rina berhenti namun tak berbalik, ia masih berusaha menahan air matanya.
"Besok pukul 8 malam di Restoran lama," ucap Rina
"Terima kasih kesempatannya. Aku akan ke sana besok." ucap Tio senang
Rina pergi meninggalkan Tio tanpa berbalik. Sedangkan Prima diam-diam mengintip dari dapur.
"Lagi apa?" bisik Devan
"Astaga, bikin kaget aja." kaget Prima
"Ngapain sih? Sampe nggak sadar aku datang," ucap Devan
Prima menarik tangan Devan lalu masuk kedalam kamarnya.
///***///
Di Kamar
"Ada apa sih?" tanya Devan
"Ada apa antara Tio dan mbak Rina?" tanya Prima
"Mana kutau," jawab Devan
"Kamu itu, kerja sama dia bertahun-tahun malah nggak tau." ucap Prima
"Ya kan aku juga nggak berhak urus masalah pribadi dia. Yang aku tau dia itu yatim piatu yang dikuliahkan oleh ayahku lalu bekerja denganku," ucap Devan
"Pasti ada sesuatu sebelumnya," ucap Prima
"Udah biarin kenapa sih," ucap Devan
"Besok ikutin mereka yuk," ajak Prima
"Lah nggak nggak nggak," ucap Devan
"Ayoooo...." rengek Prima
"Haih iya-iya, tapi jangan ikut campur cuma liat aja." ucap Devan
"Oke makasih mas," ucap Prima sambil bergelayut di lengan Devan
///***///
Besoknya
Restoran
Tampak Tio sudah menunggu di meja nomor 3, karena meja tersebut memiliki kenangan tersendiri bagi Rina dan Tio. Tak lama, Rina mulai terlihat di pintu masuk. Sedangkan Prima dan Devan duduk di meja belakang meja Tio diam-diam.
"Rina..." panggil Tio
Rina hanya melihatnya dan duduk di depan Tio.
"Ada apa?" tanya Rina
"Maafkan aku, aku ingin menjelaskan masalah 9 tahun yang lalu." ucap Tio
"Apa lagi yang mau dijelaskan? Kau hanya pergi tanpa memberikan alasan dan meninggalkan luka untukku," ucap Rina dengan semburat kesedihan di wajahnya
"Tunggu dengarkan aku dulu," ucap Tio
"Apa lagi?" tanya Rina sambil menahan air matanya
"Saat itu aku sedang tinggal seorang diri, lalu ayah tuan Devan datang ke rumahku sambil berkata kalau ia mengenal almarhum ayahku, ia berhutang pada ayahku. Lalu ayah tuan Devan memberikan sebuah tiket pesawat untukku, aku akan dikuliahkan di luar negeri. Tak ada kesempatan menolak, besoknya aku berencana memberi tahu mu namun tiba-tiba jemputan yang disiapkan oleh ayah tuan Devan sudah sampai. Makanya aku tak sempat berpamitan padamu Rin," jelas Tio
Rina sempat terdiam mendengar penjelasan dari Tio.
Memang benar kalau dia pergi, karena belajar ke luar negeri memang impiannya. Tapi tidak bisakah memberi tahuku? - Batin Rina
"Kumohon jangan marah, aku juga menyesal. Setelah kembali dari luar negeri, dalam 9 tahun aku selalu mencari-carimu tapi tidak menemukanmu." ucap Tio
"Tapi apa menurutmu kau benar? Baru 1 minggu, 1 minggu setelah ibuku meninggal kau malah pergi tanpa kabar selama 9 tahun. Tanpa kata putus kau pergi begitu saja, jika kau memberiku kabar mungkin kita bisa LDR an. Tapi apa? Saat aku berduka malah kau pergi begitu saja," jelas Rina sambil meneteskan air mata
"Oh jadi mbak Rina itu dulu pacarnya Tio," bisik Prima
"Dia toh mantan pacarnya," bisik Devan
"Kamu udah tau?" bisik Prima
"Tau tapi nggak tau siapa orangnya," bisik Devan
"Kenapa kau tidak memberiku kabar? Setidaknya lewat ponselmu atau surat," ucap Rina
Jawaban Rina membuat Tio mematung seketika. Ia tak bisa berkata-kata lagi, Tio bingung harus jawab apa.
"Apa? Kenapa? Merasa bersalah? Kau berjanji kalau kita akan menghadapi apapun bersama dan akhirnya akan menikah. Tapi apa nyatanya? Kau pergi meninggalkan aku begitu saja?" tanya Rina
"Rin aku tau aku salah tapi aku mohon, kita ulang semua dari awal ya!" pinta Tio
"Tidak, aku masih takut akan kau tinggal lagi. Apa kau tau, setelah 40 hari kematian ibuku, aku diusir dari kontrakan. Aku kesana-kemari mencari kerja hanya dengan ijasah SMA hingga aku bertemu keluarga Kalandra." jelas Rina
"Apa? Kau di usir?" kaget Tio
"Iya kenapa? Nggak ngira?" tanya Rina
"Maaf Rin aku nggak tau, aku mohon kita ulang semua dari awal lalu aku akan membuatmu bahagia," ucap Tio
Rina menunduk bingung, di satu sisi ia masih sangat mencintai mantan pacarnya saat SMA ini. Tapi satu sisi dia masih takut akan ditinggalkan lagi.
"Apa kau tau? Selama 9 tahun setelah kepergianku aku tau pernah mengenal wanita lagi, setiap hari aku bekerja sambil berusaha menemukan dimana dirimu. Rasa cintaku padamu masih sama seperti 9 tahun yang lalu Rin, tak ada yang berubah," jelas Tio
"Aku tak bisa menjawabnya sekarang," ucap Rina
Rina berdiri lalu pergi meninggalkan Tio sendiri di restoran. Tio selalu mengingat restoran ini karena ini tempat makannya dengan Rina dulu. Bahkan di meja yang ini juga ia menembak Rina.
"Udah selesai kan? Yuk pulang," ucap Devan
"Ayuk," jawab Prima
Prima dan Devan juga pulang sambil membahas masalah Rina dan Tio.
"Mereka so sweet ya, walau udah 9 tahun kepisah tapi masih saling suka," ucap Prima
"Hmm...," ucap Devan
"Eh kamu tanyakan ke Zalfa coba," ucap Prima
"Tanya apaan sih sayang?" tanya Devan
"Kenapa dia marah sama Joo," ucap Prima
"Ngapain ikut-ikutan sama hubungan mereka sih," ucap Devan
"Bukannya gitu, tapi tiba-tiba Zalfa marah terus diemin Joo. Kan kalo marah bisa kasih penjelasan gitu, tapi Zalfa enggak malah ngindarin Joo," ucap Prima
"Biar mereka urus sendiri," ucap Devan
"Jangan gitu, kasihan tau." ucap Prima
"Apa untungnya bantuin si kutu kumpret itu," ucap Devan
"Dapet pahala hehe," jawab Prima
"Alah biarin," ucap Devan
"Tolong dong bantuin ya, bantuinn..." rengek Prima
"Haih iya-iya," ucap Devan terpaksa
Devan mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Zalfa.
Devan
Kamu ada masalah apa sama Joo?
Zalfa
Kenapa tanya itu?
Devan
Cuma tanya, aku denger kamu diemin dia
Zalfa
Biarin, itu pantes buat dia!
Devan
Maksudnya?
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏