
"Tenang saja, kan ada aku. Mereka tidak akan menyakitimu," ucap Adit
"Baiklah," jawab Devina
"Jadi kapan kau mau menemui mereka?" tanya Adit
"Hmm... Kapan ya? Kamu aja deh yang nentuin," jawab Devina
"Malam ini gimana?" tanya Adit
"Hah malam ini?" kaget Devina
"Kenapa? Kamu ada acara?" tanya Adit
"Nggak sih, cuma rasanya cepet banget," jawab Devina
"Tenang aja, semua pasti berjalan lancar," ucap Adit menenangkan Devina
"Hmm... Tapi, apakah mereka tidak keberatan dengan usiaku yang lebih muda?" tanya Devina
"Lebih tua ataupun lebih muda, asal aku suka dan bahagia, mereka pasti merestui," jawab Adit
Devina hanya menanggapinya dengan tersenyum, otaknya sedang berpikir bagaimana caranya menyapa calon mertua yang baik.
///***///
Malam Hari
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Devina sudah searching sejak siang tentang bagaimana caranya memberi kesan baik kepada camer. Setelah membaca dan berlatih keras, akhirnya dia siap.
"Yap semangat Dev! Masuk sekolah kedokteran aja bisa, masa ketemu camer nggak berani?" ucap Devina semangat 45
Devina keluar dari kamarnya, ia menutup pintu kamarnya lalu berpikir sejenak.
"Ah tidak tidak tidak... Aku tidak berani! Aku takut... Aku gugup! Nanti bagaimana kalau seperti di sinetron? Aku di lempari uang lalu di suruh menjauh dari Kak Adit? Aahh... Aku tidak jadi berani!" ucap Devina lemas
Prima yang kebetulan lewat, melihat putrinya sedang ngomong sendiri didepan pintu kamar.
"Dev... Kamu ngapain? Katanya mau ke rumah temen? Nggak jadi?" tanya Prima
"Mom boleh tanya nggak?" tanya Devina
"Tanya apa?" tanya Prima
"Jadi gini, temenku ada yang mau ketemu sama calon mertuanya. Tapi dia gugup dan takut banget, trus dia nelfon deh ke aku. Tanya ini itu, kan aku nggak pengalaman. Jadi aku tanya mommy aja deh," jelas Devina
"Jadi..."
"Mommy dulu gimana sikapnya waktu pertama kali bertemu kakek dan nenek?" tanya Devina
"Hmmm... Pertama kali kami bertemu itu... Oh waktu lamaran! Mereka tiba-tiba datang untuk lamar mommy, jadi nggak terlalu banyak kesan sih di pertemuan pertama," jawab Prima sambil mengingat-ingat
"Ah mommy sama aja nggak ngasih solusi! Udah ah aku mau berangkat, daahh...." ucap Devina sambil pergi ke bawah
"Eh itu anak... Tanya, di jawab malah di tinggal pergi," ujar Prima
Devina turun untuk menunggu Adit, tak lama Adit tiba untuk menjemput Devina. Ia sengaja menunggu di luar kawasan rumah Devina agar tidak ketahuan kalau Devina keluar malam dengan seorang pria. Kalau Devan tau, bisa ngamuk mendasar dia.
"Ayo..." ajak Adit
"Iya bentar!" jawab Devina
Devina masuk ke dalam mobil dengan beberapa paper bag di tangannya, Adit hanya melihatnya dengan penuh tanda tanya.
"Itu apa isinya?" tanya Adit
"Ih kepo deh," jawab Devina
"Apa sih isinya? Kok Baunya enak banget," ujar Adit
"Ntar kan juga tau. Udah ah jalan dulu, ayo berangkat!" ajak Devina
"Iya-in,"
///***///
Di Rumah Adit
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan karena macet, mereka sampai ke rumah yang cukup mewah.
Ayah Adit adalah seorang Chef yang memiliki restoran berkelas, restoran ayah Adit sudah terkenal ke berbagai penjuru, bahkan sudah memiliki hampir ratusan cabang di luar negeri pula. Sedangkan ibunya adalah mantan seorang Wanita Angkatan Udara (WARA), Adit sendiri adalah anak tunggal.
"Mama... Papa..." panggil Adit
Mata Devina menelusuri seluruh penjuru rumah Adit, benar-benar mewah. Pantas saja terkadang Adit itu seperti bank berjalan untuk Devina. Devina juga heran, ibunya seorang mantan WARA yang pastinya sangat disiplin, lalu kenapa anaknya letoy dan tidak pernah disiplin seperti Adit?
"Eh Adit... Udah datang, ini pasti Devina kan? Ayo masuk," ajak Mama Adit
"Ayo masuk," ajak Adit
Devina melangkahkan kakinya masuk ke rumah Adit, ia tersenyum canggung dan berusaha agar tidak membuat kesalahan.
"Om... Tante... Ini tadi Dev buat makanan sedikit," ucap Devina sambil menyerahkan paper bag di tangannya
"Ya ampun, repot-repot aja deh," ucap Mama Adit
"Nggak kok tante," jawab Devina
"Kok tante sih? Panggil mama dong," pinta Mama Adit
"Iya mama..."
Kukira ibunya sangat tegas dan disiplin karena mantan WARA - Batin Devina
"Dev... Sini duduk," ucap Papa Adit
"Iya om,"
"Iya pa,"
Devina dan Adit pun duduk di sofa ruang tamu, mereka bercengkrama bersama. Mengobrol tentang beberapa hal untuk saling mengenal. Semuanya tidak seburuk bayangan Devina.
Huh.. Untungnya tidak seburuk yang aku bayangkan - Batin Adit
"Dev... Kamu usianya berapa?" tanya Papa Adit
"19 tahun ini Pa," jawab Devina
"Oh... Berarti beda 2 tahun ya sama Adit?" tanya Mama Adit
"Iya ma," jawab Devina
"Ya sudah kalian ngobrol dulu ya, Papa mau ke atas sebentar," ujar Papa Adit sambil memberikan kode ke Mama Adit
"Iya Pa,"
Setelah papa Adit pergi, mereka bertiga sempat mengobrol sebentar, lalu Mama Adit pergi untuk menyusul Papa Adit.
"Kalian ngobrol dulu, mama mau ke kamar mandi sebentar," alasan Mama Adit
"Iya ma,"
Mama Adit pun pergi, tinggal Adit dan Devina yang ada di ruang tamu. Devina menghela nafas lega karena ternyata calon mertuanya orang yang baik.
"Hoamm...."
"Kamu kenapa? Ngantuk ya?" tanya Adit
"Ya lumayan lah," jawab Devina
"Ya udah ayo aku anter pulang," ucap Adit
"Eh tapi papa mama kamu gimana?" tanya Devina
"Udah gampang, aku ambil kunci mobil dulu," ucap Adit
"Nggak pamit dulu sama mereka?" tanya Devina
"Ya aku lihat dulu mereka," ucap Adit
Adit berdiri untuk mengambil kunci mobilnya di kamar, namun ia mendengar sesuatu saat lewat di depan kamar orang tuanya. Karena pintunya sedikit terbuka, ia dapat mendengar dengan jelas.
"Kenapa sih pa? Dev anak baik kok,"
"Bukan gitu ma, tapi..."
"Tapi apa sih pa? Pokoknya mama mau Dev jadi menantu kita!"
"Tapi ma... Papa juga punya alasan tersendiri buat ngomong gitu!"
"Terserah papa!"
Tok... Tok... Tok....
Adit mengetuk pintu dan bersikap seolah tidak tau apa-apa, walau sebenarnya ia masih bertanya-tanya tentang apa yang barusan ia dengar.
"Pa... Ma..." sapa Adit
"Adit?"
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Papa Adit
"Barusan kok, itu Dev mau pamit. Udah malem soalnya," ucap Adit
"Oh iya, ayo turun," ajak Mama Adit
Mereka bertiga pun turun untuk menemui Devina, Devina berpamitan dan pulang dengan diantar Adit.
///***///
Di Mobil
"Hah.... Aku lega karena tidak membuat kesalahan. Ternyata tidak seburuk apa yang aku bayangkan," ucap Devina menghela nafas panjang
"Kan aku sudah bilang, semua akan baik-baik saja," jawab Adit
"Hah... Tidak sia-sia aku masak tadi," ucap Devina
"Oh jadi tadi bawa masakan kamu ya? Kok aku nggak di suruh nyicip dulu?" tanya Adit
"Kan di rumah kamu udah ada," jawab Devina
"Tapi pengen di rumah kamu aja," jawab Adit
"Ih jangan! Udah malem! Besok-besok aku masakin ok!" jawab Devina
"Sabar akutu..." ujar Adit
"Ih... Jadi gemes deh," ucap Devina sambil mencubit pipi Adit yang fokus menyetir
"Eh jangan pecah konsentrasi ku dong! Aku lagi nyetir loh ini, di samping kamu aja udah sulit konsentrasi. Sekarang malah kamu sentuh," ujar Adit
"Ih gombal! Aku berharap setelah ini, semua akan lancar dan berjalan dengan semestinya!" ucap Devina
"Ya aku juga," jawab Adit dengan sedikit nada kekhawatiran yang tidak disadari oleh Devina
Apa maksudnya dengan percakapan mama papa tadi? Semoga tidak ada halangan setelah ini - Batin Adit
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Sambil menunggu update lagi, baca karya lain saya yuk!!!
'My Ketos My Husband'