
"Hah? Itu.... Anu... Dan aku mau ngomong sesuatu!" ujar Evelyn
"Oh iya? Ada apa?" tanya Wildan
"Aku..."
Triinggg... Triingg...
Ponsel Wildan berbunyi, hal itu membuat rusak suasana. Evelyn pun kehilangan keberanian lagi.
Ah sialan! - Batin Evelyn
"Kamu angkat dulu aja, kali aja penting," ujar Evelyn
"Oh iya," jawab Wildan
Wildan mengangkat telfonnya dan sedikit menjauh dari keramaian agar suaranya bisa terdengar jelas.
"Halo... Ada apa kak?"
"Kamu baik-baik di rumah! Kakak hari ini mau berangkat ke Paris!"
"Hah? Secepat itu?"
"Maaf... Kamu di rumah ya! Kalau ada apa-apa segera telfon kakak!"
"Iya kak,"
"Jangan dengerin dia Dan! Kalau ada apa-apa langsung aja ke rumah mommy daddy! Mereka juga orang tua kamu!"
"Eh Kak Rey? Iya kak,"
"Ya udah, kamu hati-hati di rumah! Jangan sering-sering keluar malem! Fokus kuliah yang baik!"
"Baik kak,"
"Aku tutup dulu telfonnya, daahhh..."
"Daahh...."
Selesai telfon dengan Sarah dan Reyhan, Wildan kembali menemui Evelyn.
"Udah teleponnya?" tanya Evelyn
"Udah,"
"Siapa yang telfon?" tanya Evelyn
"Kak Sarah, bilang kalo hari ini dia mau berangkat ke Paris," jawab Wildan
"Oh gitu," ujar Evelyn
"Oh iya, tadi mau ngomong apa?" tanya Wildan
"Itu... Bahannya ada yang kurang nggak? Kalau kurang, nambah lagi!" jawab Evelyn
"Oh... Kayaknya kita belum beli sosis deh," ujar Wildan
"Ya udah ayo beli sosis!" ajak Evelyn
Haih... Sepertinya aku tidak memiliki kesempatan mengatakannya! - Batin Evelyn
///***///
Di Star Caffe
Di meja pojokan dekat jendela, ada Devina dan Adit yang sedang duduk sambil sesekali meminum smoothies juga memakan camilan yang ada di depannya.
"Dev..." panggil Adit
"Ya? Kenapa honey?" tanya Devina
"Kamu kedepannya mau nikah sama aku nggak?" tanya Adit
"Lamaran nih?" tanya Devina
"Bisa dianggap begitu, lamaran tidak resmi," jawab Adit
"Mau dong..." jawab Devina dengan senang hati
"Setelah aku kerja, kamu siap nggak nikah sama aku?" tanya Adit
"Hah? Nggak terlalu muda ya? Lagi pula... Mommy daddy belum tau hubungan kita, jadi kita belum dapat restu mereka," jelas Devina
"Tenang saja, aku pasti akan berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan restu dari mereka berdua!" tegas Adit
"Oww.... So cute..." ucap Devina sambil mencubit pipi Adit
"Kalo cute... Boleh dong cium dikit," pinta Adit
"Nggak boleh..." jawab Devina lembut
"Lah... Kita udah lama pacaran loh," ujar Adit
"Cukup pacaran yang sehat! Nanti kalo udah nikah terserah kamu," ujar Devina sambil meminum smoothies nya
"Ayo daftar pernikahan sekarang aja yuk!" ajak Adit
"Jangan aneh-aneh!" tegas Devina
"Haih.... Lama-lama, rasanya seperti anak SMP pacaran. Benar-benar lurus tanpa belokan. Bahkan mungkin lebih banyak kontak fisik anak SMP," protes Adit
"Pacaran yang lurus-lurus saja! Belak-belok nggak takut nyasar?" tanya Devina
"Bukan itu maksudku... Ah sudah lupakan," ucap Adit sambil mengibaskan tangannya
Devina mencium telapak tangannya, lalu menempelkan telapak tangannya ke pipi Adit. Adit terkejut.
"Yang gini udah bisa dibilang ciuman kan?" tanya Devina
"Wuah... Aku terkejut," ujar Adit
"Biasa aja kalee..." cibir Devina
"Ah aku punya cara lain," ujar Adit
"Apa lagi?" tanya Devina
Adit mengambil sedotan yang ada di gelas smoothies Devina, lalu kembali menyodorkan gelasnya pada Devina.
"Nih minum," pinta Adit
"Buat apa? Kan ada sedotan," ujar Devina
"Haih... Aneh-aneh aja," ucap Devina
Devina pun meminum kembali smoothies nya langsung tanpa sedotan.
"Udah nih, terus?" tanya Devina
"Sekarang giliran aku!" ujar Adit
Adit mengambil gelas Devina, ia meminum smoothies Devina di tempat yang sama saat Devina meminumnya dengan bibirnya.
"Hmm... Enak," ujar Adit
"Maksud?" tanya Devina yang tidak ngeh
"Nggak mau ciuman langsung bukan berarti nggak mau ciuman tidak langsung kan?" tanya Adit
"Wahh... Otak imagine kamu tinggi sekali," ujar Devina
"Entahlah, ini alami dari sananya," ujar Adit
"Nge-fly," cibir Devina
Adit sengaja meminum smoothies nya di tempat yang sama agar sama seperti ciuman tapi tak langsung.
"Nanti malam temenin aku ya..." pinta Devina
"Kemana? Pesta Barbeque?" tanya Adit
"Hmm hmm..." jawab Devina sambil mengangguk
"Asal makan gratis plus enak mah... Aku gowes aja," ujar Adit
"Oke, temenin!" pinta Devina
"Di mana tempatnya? Nanti aku jemput," tanya Adit
"Taman rumah Evelyn, santai aja. Ke sana jalan kaki," ujar Devina
"Hah? Bukannya rumahnya jauh?" tanya Adit
"Jauh apanya? Kan rumahnya Evelyn itu sebelah rumahku," jawab Devina datar
"Oh iya lupa, hehe... Sorry-sorry... Btw, ntar Evelyn jadi berangkat balik ke Paris?" tanya Adit
"Jadi lah... Dia masih ada kontrak kok di sana," jawab Devina
"Wah... Sayang banget ya... Nggak ada dia nanti nggak ada temen baku hantam," ucap Adit
"Jangan gitu... Sebenarnya dia itu lemah lembut kok," ujar Devina
"Ya kali honey, manusia kayak dia itu lemah lembut? Pecicilan nggak karu-karuan gitu," ujar Adit
"Kan karena kalian selalu beda pendapat," jawab Devina
"Apa iya ya?" tanya Adit
"Au ah gelap!" kesal Devina
///***///
Malam Hari
Taman Rumah Evelyn
Semua sudah di siapkan, pesta di adakan di taman belakang rumah Evelyn. Hanya ada Wildan, Evelyn, Adit, Devina, Joo, Zalfa, Devan dan Prima.
"Aku minta sosisnya dong!" pinta Devina
"Nih," ujar Evelyn sambil memberikan sosis pada Devina
"Gue minta dagingnya," pinta Adit
"Ambil sendiri," jawab Evelyn
"Haih... Kenapa bukan tangan kamu aja yang tadi jadi daging bakar!" kesal Adit
"Nih kak," ujar Wildan sambil mengambilkan daging panggang untuk Adit
"Nah... Ini contoh manusia yang baik!" ujar Adit
"Heleh... Kan udah di bantuin," ledek Evelyn
"Makan nih makan..." ucap Adit sambil menyumpalkan selada segar pada mulut Evelyn
"Woy... Ini mulut orang!" kesal Evelyn
"Siapa yang ngomong mulut panci?" tanya Adit
"Udah-udah berantemnya, nggak capek apa?" tanya Zalfa sambil mengambil beberapa jagung bakar
"Dia nih ma..." adu Evelyn
"Lah kok gua? Di dulu tante," ujar Adit membela diri
"Semua salah, cuma aku yang benar!" sela Joo
"Idie apaan sih," cibir Zalfa
Adit melihat Prima dan Devan yang sedang makan bersama dengan tenang. Lalu Devan pergi masuk ke dalam.
Wah kesempatan! - Batin Adit
Adit berjalan mendekati Prima lalu mengajaknya mengobrol.
"Mommy cantik..." sapa Adit
"Apa?" tanya Prima
"Kemarin aku lihat Devina lagi ngobrol sama cowok, nah.. Dia itu ganteng banget mom! Kayaknya juga kaya, dia kayaknya lagi deketin Devina! Mommy cantik itu punya tipe menantu idaman nggak?" tanya Adit
"Punya lah! Kalo deket doang mah terserah, paling juga nggak berani lamar," jawab Prima sambil memakan jagung bakar
"Tipikal menantu idaman mommy emang yang kayak gimana?" tanya Adit
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Ada yang mau pungut Evelyn sama Wildan?