
Reyhan pun turun mengambil mobilnya dan bergegas pulang. Sementara Devan mengikuti mobil yang membawa Laras hingga sampai ke rumahnya.
///***///
Di Rumahnya
"Kenapa ada semua orang?" bingung Prima
Prima pun membuat beberapa minuman dan hendak mengantarkannya ke ruang kerja Devan.
.
.
.
.
Buakk...
Para bodyguard itu mendorong Laras dengan kuat sampai Laras jatuh ke lantai, tetap dengan tangan dan kaki diikat.
"Aww..." keluh Laras
"Semua keluar!" bentak Devan
"Baik pak!"
Di ruangan itu tinggal Devan, Reyhan dan Laras yang saling bersitegang. Aura ketegangan memancar dari ruangan itu.
Devan mencengkram kuat dagu Laras dan menatapnya dengan tatapan membunuh. Ada sedikit rasa takut di hati Laras, namun ia berusaha tidak memperlihatkannya karena Laras tau itu akan jadi kelemahannya.
"Katakan! Apa alasanmu berusaha melukai kami semua!" tegas Devan
"Kau pikir semudah itu mendapat jawaban dariku?" tanya Laras
"Kau! Jangan menguji batas kesabaran yang aku punya nona!" tegas Devan
"Hahahaha.... Memang kalian bisa memberiku apa sampai berani mengancamku agar aku mau bicara?" tanya Laras
Devan merasa kesal, ia melepas cengkeramannya dan berbalik. Devan menghela nafas panjang agar tidak tersulut emosi.
"Apa maksudmu kalau Reyhan meniduri Sarah?" tanya Devan tanpa menghadap wajah Laras
"Kenapa tidak tanyakan putramu sendiri tuan?" pancing Laras
Ctarrr....
Suara gelas pecah berasal dari ujung pintu, semua mata memandang Prima yang bengong dan menjatuhkan semua minuman panas di tangannya itu. Air panas yang mengenai kakinya tak lagi di hiraukan, Prima masih terkejut dengan kata-kata Devan dan Laras. Prima pun menghela nafas panjang dan mendekat pada Laras.
"Mas... Siapa wanita ini?" tanya Prima halus dan tersenyum
"Sayang... Kau keluar dulu, ini urusan bisnis," elak Devan
Devan tidak mau Prima ikut campur tangan, karena jika Prima mulai campur tangan semua akan lebih rumit, alasannya? Pelakunya perempuan, dan Prima juga perempuan.
"Aku tanya siapa wanita ini!" bentak Prima
"Dia adalah orang yang menjual dokumen perusahaan kita," jawab Devan terpaksa
"Oh, jadi nona cantik ini yang berusaha menghancurkan perusahaan kita?" tanya Prima halus
"Iya," jawab Devan
Prima berjalan dengan anggun mendekati Laras, lalu...
Plakk...
Tamparan yang keras mendarat di pipi kanan Laras.
"Ini karena kau berani berusaha menghancurkan bisnis kami," ujar Prima halus
Plakk....
Tamparan keras kembali mengenai pipi kiri Laras.
"Ini karena kau berani mengusik keluargaku!" tegas Prima
"Sayang... Cukup!" cegah Devan
"Mungkin suami dan putraku akan pikir dua kali untuk memukulmu karena mereka seorang pria, namun tidak untukku. Aku wanita dan kau wanita, jika tidak terima maju saja! Kita selesaikan semua di gelanggang!" tantang Prima
Prima sudah mulai berulah, ia kembali ingin memukuli Laras. Devan langsung memeluk Prima dari belakang dan menariknya menjauh agar Prima tidak memukuli Laras.
"Jangan kau pikir kau masih bocah, aku takut padamu anj*ng!" teriak Prima pecicilan
"Tio masuklah!" teriak Devan
Reyhan hanya melongo melihat kelakuan mommy nya yang jauh dari biasanya, mommy nya yang kalem dan baik kini berubah menjadi seorang wanita pecicilan yang siap tarung.
"Maju kau bangs*t!" teriak Prima
"Ya tuan ada apa?" tanya Tio yang baru masuk "Lagi?" kaget Tio
"Tunggu apa? Kurung gadis itu di ruangan lain!" kesal Devan
"Baik tuan!" jawab Tio
Tio dan para bodyguard pun membawa Laras ke ruang yang lain. Takut jika Prima bertindak lebih jauh, sama seperti kejadian Aurel. Ada yang masih inget spesies sejenis Aurel?
"Sudahlah sayang!" pinta Devan
"Lepaskan aku!" kesal Prima
"Tenanglah sedikit, tarik nafas dalam!" pinta Devan
"Mom..." panggil Reyhan sambil menyentuh tangan Prima
Prima langsung menghempaskan tangan Reyhan. Reyhan terkejut dengan sikap Prima yang mendadak berubah.
"Apa maksud perkataan wanita tadi?" tanya Prima
"Iya Rey! Jawab, apa maksud perkataan Laras?" tanya Devan
"....."
"Apa benar kau meniduri Sarah?" tanya Devan dengan suara berat
"Katakan tidak nak, mommy mohon!" pinta Prima
"Maaf dad," ucap Reyhan sambil menunduk
Plakk...
Tamparan keras melayang ke pipi Reyhan hingga Reyhan jatuh, sedangkan Prima meneteskan air matanya.
"Siapa yang mengajarimu seperti itu?" tanya Devan
"Maaf dad," ucap Reyhan
"Siapa yang mengajarimu berkelakuan b*jat seperti itu Rey! Siapa!" bentak Devan
Reyhan hanya menunduk dan merasa bersalah, selama ini Reyhan memang berusaha untuk memberi tau masalah ini pada kedua orang tuanya namun Reyhan selalu bingung antara iya atau tidak.
"Kenapa... Kenapa kau melakukan itu nak?" tanya Prima yang sudah meneteskan air matanya
"Daddy merasa gagal mendidikmu!" kesal Devan
Devan duduk perlahan di sofa, ia memegangi kepalanya. Sedangkan Prima sudah terduduk lemas dia atas lantai.
"Maafkan aku dad," ucap Reyhan
"Maaf? Apa kau pikir semua akan selesai dengan kata maaf? Daddy tau, di jaman sekarang ini memang banyak yang sudah melakukan hal itu tanpa adanya ikatan pernikahan. Tapi itu tidak untukmu Rey! Kau benar-benar mengecewakan daddy dan mommy!" tegas Devan
"Maafkan aku dad, aku mau bertanggung jawab!" ucap Reyhan
"Keluar!" bentak Devan
"Dad..." panggil Reyhan
"Keluar!" bentak Devan dengan nada semakin meninggi
Reyhan berdiri, ia berniat untuk menghampiri Prima. Namun saat menghampiri Prima, Reyhan justru di tepis tangannya oleh Prima.
"Mom..." panggil Reyhan
"Pergi!" bentak Prima
"...."
"Mommy bilang pergi! Mommy tidak mau melihat wajah mu hiks..." tangis Prima
Reyhan pun keluar dengan rasa bersalah, kepalanya benar-benar berat. Dalam sehari ia langsung mendapatkan masalah yang bertubi-tubi.
"Ya Tuhan... Kuatkan aku!" gumam Reyhan
Reyhan masuk ke kamarnya, ia benar-benar tak ingin di ganggu hari ini.
///***///
Di Kamar Reyhan
Reyhan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, ia berusaha mengambil ponselnya dan menelfon Sarah.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau di luar jangkauan servis area.. Cobalah beberapa saat lagi..."
Reyhan berkali-kali mencoba menghubungi Sarah namun tetap tidak ada jawaban. Marah, ia membanting ponselnya ke segala arah.
Cklek...
Pintu terbuka, Devina yang baru pulang setelah jalan-jalan bersama Adit pun masuk ke kamar Reyhan karena ingin meminjam novel.
"Kak Rey... Pinjem novel dong," pinta Devina
"Keluar Dev," pinta Reyhan
"Kenapa? Loh kok pipi kakak merah? Kenapa kak?" tanya Devina
"Dev keluar! Kami tuli ya!" bentak Reyhan
Devina terkejut dengan bentakan Reyhan, karena sebenarnya Devina anak yang mudah kaget dan cengeng sejak kecil.
"Kenapa kakak membentakku?" tanya Devina dengan mata berkaca-kaca
Devina langsung berbalik dan lari masuk ke dalam kamarnya tanpa menghiraukan Reyhan.
"Dev.. Bukan gitu Dev... Dev... Arrghh" panggil Reyhan
Reyhan mengacak-acak rambutnya kesal, ia benar-benar stress sampai ingin pergi sejauh-jauhnya. Masalah datang bersamaan, mulai dari salah paham dengan Sarah, masalah Laras, terungkapnya masa lalu Reyhan dan Sarah bahkan kini juga berselisih dengan adik kesayangannya.
"Arrghh... Aku ingin pergi saja rasanya!" kesal Reyhan
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏