My Sexy Wife

My Sexy Wife
Sultan



"Ya mana ada rentenir setampan aku," ujar Reyhan


"Nggak usah tanya dia, dia g*bloknya natural," sahut Adit dengan santai


Reyhan menatap tajam ke arah Adit yang membuat Adit jadi salah tingkah.


"Jadi, kakakmu suka belajar atau tidak?" tanya Reyhan


"Kakak sih suka, ia sangat suka belajar. Sangat di sayangkan kakak putus kuliah hanya karena biaya. Aku merasa semakin bersalah padanya," ucap Wildan


"Jangan begitu... Uhm begini, kau kenal adikku?" tanya Reyhan


"Siapa kak?" tanya Wildan


"Katanya adikku kenal kamu," bingung Reyhan


"Siapa namanya?" tanya Wildan


"Devina," jawab Reyhan


"Oh iya kak kenal. Aku tidak menyangka Devina adalah adikmu," ucap Wildan


"Ya aku juga tidak menyangka punya adik sepertinya," jawab Reyhan datar


"Jadi kenapa kak?" tanya Wildan


"Kamu mau bekerja di rumahku? Akan ku beri 2 juta perbulan," jawab Reyhan


"Du dua juta?" kaget Wildan


"Kenapa kurang ya?" tanya Reyhan


"Ti tidak kak, aku hanya terkejut. Aku kan hanya pelajar, bagaimana bisa dapat uang 2 juta per bulan?" tanya Wildan


"Bisa saja. Kau kerja di rumahku," jawab Reyhan


"Ke kerja apaan kak? Nggak aneh-aneh kan?" tanya Reyhan


"Udah deh terima aja, yang pasti kamu nggak di suruh ngedarin narkoba kok," sahut Adit


"Lo pikir gue bandar narkoba?" kesal Reyhan


"Apa kak kerjanya?" tanya Wildan


"Pulang sekolah atau hari libur kamu main ke rumahku, ajak Devina belajar. Buat dia nggak keluar rumah terus," jelas Reyhan


"Hah?" bingung Wildan


"Apa?" kaget Adit


"Nggak susah kan? Kalian udah kelas 12, bentar lagi ujian. Dev suka banget keluyuran gak jelas, buat dia tetap di rumah dan betah sama buku," ucap Reyhan


"Gitu doang?" tanya Wildan


"Iya cuma gitu, penting tiap kamu ada waktu luang atau mau belajar ajak Devina. Kalo nggak ada kendaraan, aku akan suruh jemput sopirku, atau ku belikan motor, atau ku belikan mobil?" tanya Reyhan


Adit memegang dahinya sendiri melihat kelakuan sahabatnya yang menjadi aneh itu. Sedangkan Wildan masih berusaha memahami kemana arah percakapan ini.


"Nggak usah repot-repot kak, aku naik angkot aja!" ucap Wildan


"Jangan, nanti kamu kecapekan," cegah Reyhan


"Gini aja deh, mending si Wildan kamu beliin sepeda atau motor kek biar nggak naik angkot kesana kesini," saran Adit


"Encer juga otak lu tumben," ujar Reyhan


"Entahlah kenapa aku bisa se pintar ini," ucap Adit percaya diri


"Nge-fly! Gimana? Kamu sekarang ada waktu?" tanya Reyhan


"Ada sih kak," jawab Wildan


"Ayo ikut kita kalau gitu!" ajak Adit


"Ke mana kak?" tanya Wildan


"Udah ikut aja, kita nggak bakal jual kamu kok!" ucap Adit


"Jauh bener pikirannya," sela Reyhan


"Tapi..." bingung Wildan


"Katanya ada waktu, ya udah ayo!" ajak Reyhan


"I iya," jawab Wildan ragu


///***///


Di Mobil


"Kamu suka motor, mobil atau sepeda?" tanya Reyhan


"Nggak usah repot-repot kak," tolak Wildan


"Anggep aja ini biaya akomodasi kamu selama bekerja di rumahku," ucap Reyhan


"Uhmm.... Kalo begitu, se sepeda saja," jawab Reyhan


"Baiklah ayo kita ke toko sepeda," sahut Adit


///***///


Di Toko Sepeda


Sesampainya di toko sepeda, Wildan hanya diam mematung. Ia bingung harus memilih yang mana, sepeda di toko itu di atas 1 juta semua.


"Masih bingung kak," jawab Wildan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Jangan pikirkan harga, asal kau suka bilang saja," ucap Reyhan


"Iya mumpung ada boss nya beli yang mahal sekalian," bujuk Adit


"Dilarang menyebarkan bujukan sesat!" ucap Reyhan


"Ehee... Iya," canggung Wildan


Sejak tadi Wildan hanya mondar-mandir tak jelas seperti masih bingung harus beli yang mana. Reyhan memahami situasi Wildan dan langsung memanggil pelayan tokonya.


"Mas yang ini satu!" ucap Reyhan


"Ini harganya...."


"Saya nggak tanya harga, langsung bungkus!" tegas Reyhan


"Ba baik mas,"


Ini orang apa sultan. Mau langsung beli, mau langsung beli. Andai dia jadi kakak ipar ku, pasti Kak Sarah bahagia dan tidak merasakan hidup susah lagi - Batin Wildan


"Rp. 10.800.000,00"


"Ini kartunya," ucap Reyhan sambil mengulurkan kartunya


"Terima kasih, silahkan berkunjung kembali,"


"Ayo, Wildan... Kau mau ku ajak ke rumahku sebentar? Biar tau alamatnya, nanti aku antar pulang," ucap Reyhan


"Nggak usah kak, ngerepotin," tolak Wildan


"Mumpung ada boss nya, habisin bensin mobil nya!" bujuk Adit


"Ini orang emang nggak ada akhlak ya," kesal Reyhan


"Nggak usah, nanti kirim alamatnya lewat WA aja kak," tolak Wildan


"Sayangnya aku tidak menerima penolakan. Mas kirim sepeda ini ke alamatnya dia, ini uang buat beli kopi!" ucap Reyhan sambil memberikan selembar uang Rp. 100.000 pada pegawai toko itu


"I iya mas terima kasih,"


"Wildan, kamu tunjukkan dan tulis di mana alamat rumahmu," ucap Reyhan


"Di rumah tidak ada orang, nanti yang terima siapa kak?" tanya Wildan


"Ya sudah, di lipat dan masukkan ke mobil. Uangnya ambil aja mas," ucap Reyhan


"Mari sultan..." ledek Adit


"Sultan kepalamu!" protes Reyhan


Mereka bertiga masuk ke dalam mobil sementara ada orang yang diam-diam memperhatikan sejak tadi.


"Memberi aku uang saja tidak pernah lebih, giliran untuk anak itu langsung saja tanpa pikir panjang. Aku harus menyelidiki siapa anak itu," gumam Laras


///***///


Di Rumah Devan


"Mom... Dad... Rey pulang," teriak Reyhan


"Udah pulang? Ini... Siapa?" tanya Prima


"Saya Wildan tante, temennya Devina," ucap Wildan sambil menempelkan punggung tangan Prima ke dahinya


"Wildan ya.. Ayo masuk, loh Adit mana?" tanya Prima


"Hai mommy cantik..." sapa Adit yang baru menyusul masuk


"Baru juga di cariin, ayo masuk semua..." ucap Prima


"Udah pulang Rey?" tanya Devan


"Iya dad," jawab Reyhan


"Sini daddy mau ngomong sesuatu sama kamu," panggil Devan


"Iya dad," ucap Reyhan


Reyhan beranjak berdiri dan mengikuti Devan sedikit menjauh.


"Kamu beli apa sampai habis segini?" tanya Devan sambil menunjukkan laporan pengeluaran kartu kredit Reyhan


Daddy.. Aku ini sudah besar, kenapa rasanya seperti anak SMP yang baru pegang kartu kredit - Batin Reyhan


"Aku beliin hadiah buat temen Devina," jawab Reyhan


"Berapa orang?" tanya Devan


"Itu yang duduk di depan itu," jawab Reyhan


"Cuma 1? Kok habis segini banyak?" tanya Devan


Namanya juga Devan, walau kaya ya harus tetap hemat. Tidak boleh terlalu boros dan suka berfoya-foya, efek kena ajaran Prima yang super irit.


"Anggap aja ini pertukaran biar Devina nggak kelayapan lagi. Rey ada cara biar Dev nggak keluar terus, ini kan udah deket ujian kelulusan," ucap Reyhan


"Caranya?" tanya Devan


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏


Baca karya lain saya: Penjara Cinta Tuan Muda