
"Memang Kak Rey mau ke mana?" tanya Evelyn
"Aku ada perlu di perusahaan," ucap Reyhan
"Tidak ada masalah kan kak?" tanya Wildan
"Tidak ada, hanya ada dokumen yang belum ku tanda tangani," jawab Reyhan berbohong
"Oh begitu," ujar Evelyn
"Ya sudah aku pergi dulu!" ucap Reyhan
"Ya kak," jawab Wildan
Reyhan segera pergi ke perusahaan, mungkin untuk orang luar, masalah ini hanya masalah sepele. Tapi untuk perusahaan, ini sangat berpengaruh. Bahkan saat CEO sedang flu saja bisa mempengaruhi harga saham, maka dari itu Devan dan Reyhan selalu menghindari berita-berita miring mengenai mereka.
///***///
Di Perusahaan
Saat Reyhan masuk, tampak semua orang menunduk hormat pada Reyhan. Ia tak menghiraukannya, Reyhan langsung berjalan pergi di temani sekretaris Ryan yang sudah menunggu dari tadi di lobi.
"Bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Reyhan
"Awalnya cukup baik pak, tapi saya khawatir kalau ini di biarkan bisa mempengaruhi semuanya. Presdir sudah menghapus beberapa blog dan berita mengenai anda, namun kita tetap tidak bisa mencegah orang membaca dan mempercayainya!" jelas Sekretaris Ryan
"Apa Presdir di ruangannya?" tanya Reyhan
"Iya pak, beliau sedang menunggu anda," ucap Sekretaris Ryan
"Baiklah, segera cek jadwalku hari ini. Aku akan menemui dia sendiri!" ucap Reyhan
"Baik pak," jawab Sekretaris Reyhan
Setelah sampai di depan ruangan Devan, Reyhan bergegas masuk sementara Sekretaris Ryan berjalan lurus untuk melihat jadwal dan menata semua acara Reyhan hari ini.
"Dad..." panggil Reyhan
"Kau sudah datang, duduk!" pinta Devan
"Baik," jawab Reyhan
"Kenapa kau ada di rumah sakit? Menemui mommy?" tanya Devan
"Tidak, aku merawat Sarah. Ia sedang sakit," ujar Reyhan
"Apa? Sakit apa?" tanya Devan
"Hanya demam," jawab Reyhan
"Lalu bagaimana kau bisa tertangkap kamera paparazi saat di sana? Kau tau kan, jaman sekarang para paparazi akan lebih sering menulis berita yang tidak benar ketimbang faktanya," jelas Devan
"Aku juga tidak tau, aku juga tidak mengiranya!" ucap Reyhan
"Baru sekitar 1 jam berita itu tersebar, namun sudah banyak orang yang memberikan komentar. Daddy bisa menghapus berita-berita itu, namun sudah terlanjur banyak yang membacanya," jelas Devan
"Lalu bagaimana dad?" tanya Reyhan
"Kau jangan ke rumah sakit dulu selama keadaan belum membaik, biar mommy mu yang mengurus Sarah. Kau harus berhati-hati agar tidak tertangkap kamera paparazi lagi!" peringat Devan
"Baik dad, bagaimana keadaan perusahaan?" tanya Reyhan
"Untuk sekarang masih belum terpengaruh, tapi kita tetap harus waspada!" ucap Devan
"Baik dad, kalau begitu aku ke ruangan ku dulu dad!" ucap Reyhan
"Oke pergilah," ujar Devan
Reyhan pun berjalan pergi ke ruangannya sambil berpikir, siapa yang melakukan semua ini? Tidak mungkin hanya kebetulan, ini semua terlalu rapi untuk sekedar kebetulan.
Aku yakin ada seseorang yang melakukan ini semua! Tidak mungkin bisa se rapi ini, bahkan aku sama sekali tidak menyadari saat tertangkap kamera. Jika memang paparazi itu mengikutiku, kenapa hanya foto saat aku keluar rumah sakit saja yang terpampang? Dan apakah dia benar-benar menunggu selama itu hanya untuk menunggu ku? - Batin Reyhan
"Ah entahlah, lebih baik aku menyelidikinya terlebih dahulu!" gumam Reyhan
Reyhan pun duduk di kursi kebesarannya dengan kepala menopang di atas tangannya. Ia menatap pintu ruangannya dengan tatapan kosong, ia berpikir sejenak.
Aku kan sudah lama tidak jadi sorotan, lantas kenapa ada yang mencari-cari berita ku! Apa benar-benar hanya kebetulan? - Batin Reyhan
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Reyhan. Ia tersadar dari lamunannya dan kembali fokus dengan apa yang ada di depannya.
Tak ada jawaban, Reyhan bingung. Ia berdiri dari kursi kebesarannya dan membuka pintu.
"Tak ada siapa-siapa?" bingung Reyhan
Reyhan kebingungan, tak ada siapa-siapa di depan pintu. Ia juga melihat kalau Sekertaris Ryan juga sedang tidak ada di kursinya, sedang di toilet pikir Reyhan. Hingga akhirnya pandangan Reyhan terpaku dengan sebuah amplop coklat di lantai.
"Hah? Siapa yang mengirimnya? Mana mungkin Sekretaris Ryan seceroboh ini? Apa penggemar rahasiaku?" gumam Reyhan
Reyhan pun mengambil amplop itu dan membawanya masuk, ia keheranan. Reyhan kembali duduk dan hendak membuka amplop cokelat itu.
"Aahh...." kaget Reyhan sambil melempar membuang amplop cokelat itu
Terdapat fotonya dan Sarah yang berlumuran darah, juga ada sebuah catatan bertuliskan,
You die of she die baby...
Reyhan benar-benar terkejut, awalnya ia tidak tau apa itu, lalu tercium bau darah yang sedikit amis dari fotonya dan foto Sarah. Pasalnya Reyhan itu paling benci dengan bau darah.
"Ryan!" teriak Reyhan panik
Sekretaris Ryan pun gelagapan segera masuk saat mendengar Reyhan berteriak dari dalam ruangannya.
"Ya pak, ada apa? Astaga!" kaget Asisten Ryan
Ia terkejut melihat foto Reyhan yang berlumuran darah di lantai. Sekretaris Ryan segera mengambil foto itu, meremasnya dan memasukkannya ke kantong jasnya. Sementara Reyhan masih berusaha mengatur nafasnya.
"Si siapa yang mengirim itu?" tanya Reyhan
"Apa? Dari mana ini berasal?" tanya Sekretaris Ryan
"Siapa yang mengirim itu!" bentak Reyhan
"Saya tidak tau pak," jawab Sekretaris Ryan
"Ke mana kau barusan?" tanya Reyhan dengan nafas tersengal-sengal
"Sa saya pergi untuk fotocopy dokumen pak," jawab Sekretaris Ryan
"Segera cek CCTV, lihat siapa yang menaruh amplop cokelat di depan ruangan ku!" perintah Reyhan
"Baik pak," jawab Sekretaris Ryan
Sekretaris Ryan keluar untuk mengecek CCTV, sementara Reyhan masih terkejut dengan tadi. Apa maksudnya? Kenapa juga ada foto Sarah di dalamnya?
Siapa yang melakukannya? Apa dia juga mengincar Sarah? Laras? - Batin Reyhan
Reyhan berdiri dan langsung bergegas ke ruangan Devan lagi, ia masuk tanpa mengetuk pintu.
"Dad..." panggil Reyhan dengan wajah muram
"Ada apa Rey? Wajahmu kenapa?" tanya Devan yang khawatir saat melihat ekspresi wajah Reyhan
"Apakah Laras masih ada di genggaman kita?" tanya Reyhan
"Iya, ada apa memangnya?" tanya Devan
"Tambah keamanan untuknya dan segera gali informasi dari nya!" pinta Reyhan
"Ada apa? Kenapa Rey? Apa terjadi sesuatu?" tanya Devan
"Tidak ada, aku hanya merasa kalau ini adalah cuaca yang tenang sebelum badai besar datang. Sebelum-sebelumnya feeling ku tidak pernah salad Dad, itu salah satu alasanku bisa mencapai posisi ini!" jelas Reyhan
"Baiklah, aku akan mencari informasi dari Laras dan menambah keamanannya," ucap Devan
"Aku pergi dulu dad!" ucap Reyhan
"Baiklah," jawab Devan
Ada yang tidak beres dengan anak ini - Batin Devan
Reyhan kembali ke ruangannya, ia juga meminta air putih pada sekretarisnya.
"Ini pak air putihnya," ucap Sekretaris Ryan sambil memberikan segelas air putih
Reyhan segera meminum air itu agar merasa lebih tenang. Lalu ia mulai berpikir kembali tentang apa yang barusan terjadi.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏