My Sexy Wife

My Sexy Wife
Kapan



"Kau menikmatinya?" tanya Reyhan


Sarah teramat sangat terkejut, ia tidak mendengar siapapun masuk. Lalu kapan Reyhan masuk kamar mandi?


"Kamu kapan masuk?" kaget Sarah


"Biasa aja kali, aku masuk barusan," jawab Reyhan


"Lewat mana?" bingung Sarah


"Lewat pintu," jawab Reyhan


"Oh iya itu jawaban yang masuk akal. Tapi apa yang kau lakukan di sini?" ucap Sarah


"Hanya melihat indahnya pemandangan," jawab Reyhan sambil senyam-senyum gak jelas


"WHAT!!! Keluar sekarang... Ngapain di sini sih!" ucap Sarah sambil mendorong Reyhan agar keluar


"Kenapa harus keluar? Aku sedang 'Mager'," ucap Reyhan yang menirukan cara bicara Sarah


"Aaaaaa.... Keluar sana, keluar..." pinta Sarah


"Kenapa sih? Aku kan nggak ngapa-ngapain, aku cuma nonton," jawab Reyhan


"Apa? Sana keluar! Nonton apaan? Sana keluar! Dasar mesum!" kesal Sarah


"Kenapa sih memangnya? Apa salah melihat istri sendiri sedang mandi?" tanya Reyhan sambil menaik-turunkan alisnya


"Hah? Ih sana keluar! Mending siapkan aku sarapan!" jengkel Sarah


"Hahahaha.... Iya-iya, jangan lama-lama mandinya. Kalau lama, aku mending ikutan mandi. Jadi mandi bareng kita," goda Reyhan


"GILA!!!"


Cklek...


Reyhan keluar lalu tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian di kamar mandi tadi. Idenya untuk mengerjai Sarah berhasil, meski itu juga membuatnya tersiksa karena harus menahan hasratnya saat melihat keadaan Sarah yang telanjang di dalam bath tub.


Aihh.... Dia benar-benar menakjubkan - Batin Reyhan


///***///


Di Indonesia


Wildan masih terbaring lemas di atas kasurnya, ia benar-benar lapar tapi tidak punya makanan. Temannya tidak bisa datang mengantar makanan, dan bahkan sekarang Wildan juga lupa menaruh di mana dompetnya.


"Kenapa aku sial sekali? Sakit maag tapi telat makan lagi, jika begini terus... Kapan sembuhnya?" tanya Wildan


Wildan mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Devina.


Wildan


Dev... Dimana?


Devina


Lagi keluar sama Kak Adit, Dan. Kenapa?


Wildan


Bisa minta tolong beliin makanan nggak buat aku? Tolong anterin ke rumah


Devina


Oke siap! Tunggu dulu ya!


Wildan


Ok makasih


Sekitar 20 menit kemudian, Devina dan Adit datang ke rumah Wildan. Wildan benar-benar sudah kelaparan saat ini.


Tok.... Tok... Tok...


"Masuk aja Dev! Nggak di kunci!" teriak Wildan dari dalam


"Aku masuk Dan," ujar Devina


Cklek...


Devina masuk ke dalam bersama Adit, matanya mulai menelusuri seluruh ruang tamu rumah Wildan. Tapi tetap saja Wildan tidak nampak.


"Dan..." panggil Devina


"Aku di kamar," teriak Wildan


"Kamu ngapain di kamar?" tanya Adit


"Bisa minta tolong bawakan makanannya ke sini nggak?" tanya Wildan


"Ok," jawab Devina


Devina dan Adit pun masuk ke dalam kamar Wildan, mereka terkejut saat melihat Wildan yang tergeletak lemas di atas kasur.


"Loh Dan... Kamu kenapa?" tanya Adit


"Iya, kamu sakit ya?" tanya Devina


"Nggak papa kok.... Cuma agak kecapekan," jawab Wildan lemas


"Ini makanannya, kamu kok nggak bilang sih kalo sakit?" tanya Devina


"Habis ini kita ke dokter ya," ajak Adit


"Nggak usah kak, aku baik-baik aja kok. Tenang aja," ujar Wildan


"Tapi Dan..." ucap Adit terpotong


"Aku nggak papa, beneran!" jawab Wildan


"Habis ini ke rumah aku aja ya, jadi kalo sakit ada yang jagain," ucap Devina


"Nggak usah Dev, ngerepotin," ucap Wildan


"Eh enggak papa kok, santai aja. Kita kan Keluarga, pokoknya habis ini kita harus ke rumahku titik!" tegas Devina


"Haih... Maaf merepotkan kalian," ucap Wildan


"Nggak kok, kata siapa merepotkan?" tanya Adit


Devina dan Adit menyiapkan alat-alat makan untuk Wildan, mereka membantu Wildan untuk makan dan menyiapkan barang-barang Wildan. Setelah selesai mengemasi beberapa barang, mereka berangkat ke rumah Devan.


///***///


Di Rumah Devan


Adit memapah Wildan masuk ke dalam rumah, mereka membawa Wildan masuk ke dalam kamar tamu.


"Nah... Kamu tidur di sini dulu ya Dan, aku panggilin mommy dulu," ucap Devina


"Nggak usah Dev, ngerepotin," tolak Wildan


"Enggak tau! Udah, di sini itu yang sakit nurut sama yang sehat! Pokoknya kamu diem aja!" tegas Devina


"Mending nggak usah kamu lawan Dan, dia kalo udah punya kemauan, kerasnya ngalah-ngalahin batu!" cibir Adit


"Ghibah kok keras banget, yang di ghibahin denger loh ini," cibir Devina


"Kita pemuda kuat, jadi ghibah ya keras-keras nggak diam-diam," jawab Adit


"Idih, aku mau keluar dulu ya," ucap Devina


"Iya,"


Devina keluar untuk mencari Prima, Devina berharap semoga Prima belum berangkat ke rumah sakit.


"Evelyn tau nggak kamu sakit gini?" tanya Adit


"Velyn? Anu... Apa.. Apa hubungannya sama Velyn?" gugup Wildan


"Udah nggak usah di tutup-tutupi lagi, aku tau kok kalo kalian pacaran," jawab Adit dengan entengnya


"Kakak tau dari mana?" kaget Wildan


"Ehm... Sebenarnya, aku liat waktu kamu nembak dia di bandara," jawab Adit


"Hah?" kaget Wildan


"Biasa aja kali," ujar Adit


"Pasti aku kelihatan payah banget ya? Nembak tanpa persiapan, tanpa bunga, boneka coklat atau hadiah lainnya," ujar Wildan


"Sepayah-payahnya cowok nembak, lebih payah cowok yang suka tapi nggak berani nembak Dan! Kamu beruntung tau nggak, sekali nembak langsung di terima. Aku sama Dev, entah udah berapa kali aku di tolak dia, sampe bosen. Dan akhirnya dia nyerah sendiri, dia nerima aku dan seperti ini kita sekarang," jelas Adit


"Hah? Di tolak?" kaget Wildan


"Iya, dulu Dev selalu mengira kalau aku bercanda dan tidak serius karena aku orangnya humoris. Berulang-ulang kaliii... Eh salah, maksudnya ratusan kali aku yakinin dia baru bisa dia percaya sama perasaan aku," jelas Adit


"Shhh... Udah-udah ghibahnya, Wildan biar di periksa dulu," ujar Devina yang baru datang


"Wildan... Kamu sakit kok nggak ngomong mommy sih? Kita itu juga keluarga kamu, jadi kamu jangan merasa seperti orang lain. Mommy ini juga mommy kamu, kamu juga anak mommy. Lain kali kalau ada apa-apa bilang ya," pinta Prima


"Iya mom," jawab Wildan


Prima memeriksa keadaan Wildan, ia juga memberikan beberapa resep obat. Prima menyuruh Adit dan Devina pergi ke apotek untuk membeli obatnya.


///***///


Di Mobil


"Dev boleh tanya?" tanya Adit


"Iya tanya aja," jawab Devina


"Kamu kapan siap ketemu orang tuaku?" tanya Adit


"Kenapa buru-buru?" tanya Devina


"Bukannya buru-buru, mereka cuma pengen kenal kamu aja. Mereka pengen tau, apa kamu beneran serius," jawab Adit


"Aku masih takut..." ucap Devina


"Tenang saja, kan ada aku. Mereka tidak akan menyakitimu," ucap Adit


"Baiklah," jawab Devina


"Jadi kapan kau mau menemui mereka?" tanya Adit


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏