My Sexy Wife

My Sexy Wife
Breakfast



Prima sangat terkejut ketika Devan menciumnya, sontak Prima memberontak dan memukul-mukul dada bidang Devan. Prima mulai kehabisan nafas dan wajahnya menjadi sangat merah karena kekurangan oksigen. Devan akhirnya melepasnya.


"hah... " keluh Prima "kau ini bodoh, manusia tak berguna, sinting, gila, pria menyebalkan.. bla bla bla.. " umpat Prima kesal


"hmmm.. Manis" ucap Devan


"manis palamu, apa kau bodoh. Kalau kau mau bilang, jangan main minum dari mulut orang woy" bentak Prima


"lebih enak kan kalo berbagi" goda Devan


"enak dengkulmu kui, modelamu. Mbok pikir enak, kowe sing menak kene sing soro (Enak lututmu itu. Kamu pikir enak, kamu yang enak sini yang sengsara)" umpat Prima


"ngomong apa sih?" tanya Devan


Oh iya, om-om ini kan gak paham bahasa jawa. Lah jadi lebih enak kalo mau ngata-ngatain. Kan dia gak tau hehe - Batin Prima


"om-om kepo" geram Prima "oh my gosh, my first kiss" gumam Prima yang memalingkan wajah sambil memegang bibir mungilnya


"oh first kiss ya, beruntung sekali diriku ini" gumam Devan


Prima marah dan langsung pergi namun tangan Devan mencegahnya.


"lepasin aku, jangan sentuh-sentuh" bentak Prima


"apa sih, kan udah suami istri masa gak boleh?" tanya Devan


"berisik!!!" kesal Prima


"jangan marah, ntar cantiknya ilang loh" goda Devan


"biar, cantik apa nggak aku nggak rugi. Karena bagi ku fisik lebih penting daripada wajah" kesal Prima "lepasin nggak!!!" bentak Prima


"jawab dulu, lo ngapain semalem sampe ketiduran diatas meja?" tanya Devan


"apaan sih, lepasin gak" kesal Prima


"jawab dulu baru gue lepasin" ucap Devan


Ni om-om kuat banget sih tenaganya, baru kali ini gue susah banget ngalahin tenaga orang - Batin Prima


"gue suruh jawab bukan diem" ujar Devan


"kerjain tugas! Puas!" kesal Prima


"kenapa sampe malem banget?" tanya Devan


"ngurus banget sih kamu" kesal Prima


"aku kan suami kamu" goda Devan


"udah lah, gak usah banyak omong. Cowok jelek, bweeee..." ejek Prima


Saat tangan Devan melemah, Prima langsung lari masuk kamar.


*****


Di Kamar


"hiiihh... Sial bener sih hari ini" umpat Prima


Kruyukk..


Perut Prima berbunyi. Ia ingat kalau dia belum makan karena makanannya tadi dimakan Devan


"hihh.. Cowok nyebelin," umpat Prima


Ceklek...


Devan masuk kedalam kamar. Prima masih marah tentang makanan dan ciuman tadi. Ia memalingkan wajah dan bermain ponsel.


"masih marah?" tanya Devan


Prima hanya diam dan bermain ponselnya.


"nih.. " ucap Devan sambil melemparkan sebuah kartu disamping Prima "Black Card unlimited"ucap Devan


Prima langsung mengambil Kartu itu dan bersemangat.


"huh seperti cewek lainnya, suka uang" gumam Devan namun Prima mendengarnya


"gini ya, bukannya aku matre atau gimana tapi kenyataanya emang aku butuh duit. Aku mending rendah diri daripada gengsi. Karena aku gak bakal kenyang makan gengsi" jelas Devan


"cih.. " remeh Devan


"terserah kamu mau mikir aku itu kayak gimana, karena baik apa jelek pandangan kamu ke aku itu gak bakal ngebuat aku mati ataupun sekarat" remeh Prima


"serah" jawab Devan cuek


Prima langsung semangat bergegas mandi dan berganti baju untuk mencari makan dan jalan-jalan. Prima cukup bosan jika setiap harinya harus berada dirumah mewah yang sunyi itu. Setelah mandi Prima memakai kaos oblong santai dengan celana levis panjang dan membawa 1 sling bag.


Yah itulah Prima, baginya pakaian, make up, style itu tak penting. Ia terlalu cuek untuk menanggapi komentar orang.


Devan hanya geleng-geleng, baru kali ini ia lihat wanita yang begitu sederhana. Padahal jika dilihat sekilas Prima adalah mahasiswa kedokteran yang cantik harusnya suka make up, fashion dan lainnya. Tapi tidak dengan Prima. Prima menyukai hal-hal sederhana namun bisa membuatnya nyaman dan senang.


Prima selesai bersiap-siap. Ia hanya memakai bedak tipis, lip balm dan meyisir alisnya.


"udah selesai?" tanya Devan


"apa"


"mau berangkat sekarang?" tanya Devan


"ya iyalah" ucap Prima sambil berjalan menuju pintu


"gak mau kasih hadiah?" tanya Devan


"apaan, gak usah macem-macem. Udah aku berangkat" ucap Prima "gak usah khawatirin aku, aku tau jalan pulang"


"gak mau dianter?" tanya Devan


"sorry, menurut aku, kamu terlalu cuek dan dingin buat anterin aku" ujar Prima


"yaudah kalo gitu aku mau perhatian, aku anter ya" tawar Devan


"ntar kangen loh" goda Devan


"sorry, aku masih waras kalo buat ngangenin kamu" ucap Prima "dahla, aku mau pergi"


Prima bergegas turun dan bersemangat. Ia bertemu dengan Rina yang baru masuk pintu utama.


"eh mbak, baru dateng?" tanya Prima


"iya dek" jawab Rina


"mbak bisa minta tolong gak?" tanya Prima


"iya apa?" tanya Rina


"ada nggak satu ruangan yang paling besar dirumah ini yang kosong?" tanya Prima


"ada sih, tapi belum mbak bersihin" ucap Rina


"tolong bisa bersihin gak, trus kosongin ya. Ntar Prima ada rencana sendiri" ucap Prima


"ok dek" jawab Rina


Prima bergegas keluar, dan menelfon Joo


Joo : "halo apa mak?"


Prima : "jemput gue sekarang, bawa mobil ya. Ntar bensin gue ganti deh"


Joo : "tumben suruh jemput, kangen ya?"


Prima : "apaan sih lo, udah jemput aja"


Joo : "ok, posisi?"


Prima : "gue shareloc"


Joo : "ok tunggu ya"


Prima : "hmm...."


Beberapa menit kemudian, Joo datang memasuki halaman rumah Devan.


"hoi mak.. " panggil Joo


"bisa nggak sih lo nggak panggil gue mak? Kesannya gue kayak mak lo" protes Prima


"emang lo kan mak gue" ucap Joo dari jendela mobil


"haih.. serah lo deh" kesal Prima


Prima masuk kedalam mobil Joo. Mereka pergi menggunakan mobil sport berwarna merah.


"ternyata mewah juga rumah suami lo" ucap Joo


"emang" jawab Prima


"tapi tetep rumah gue nggak kalah kok, rumah gue juga sama mewahnya" protes Joo


"ya ya ya, anak menteri bebas" ucap Prima


"emang" jawab Joo


*Joo adalah Putra dari seorang menteri dalam negeri. Ibunya juga seorang DPR.


"kenapa nggak suruh anter dia?" tanya Joo


"haih, dia terlalu cuek buat perhatian sama gue" ujar Prima


"santai mak, kalo lo gak bahagia sama dia cerai aja. Kutunggu jandamu" ucap Joo sambil mengedipkan sebelah mata


"gila" kesal Prima


"gila tapi kan ganteng" ucap Joo "mau kemana nih?"


"terserah penting tempat makan dulu, gue laper" ucap Prima


"lah, rumah segede itu kok lo bisa kelaparan sih? Emang suami lu banyak utang sampe gak kuat beli makanan" tanya Joo


"haih... nggak gitu tapiii.. " ucap Prima menggantung


Prima tak mungkin menceritakan semua yang terjadi pada Joo, bisa-bisa diledek habis-habisan nanti.


"udahlah, intinya gue laper buruan makan" gerutu Prima


"gini ya mak. Kalo lo nikah sama gue, gue jamin lo dan anak-anak kita gak bakal kelaperan dan kekurangan harta. Gue jamin deh" ucap Joo


"dih, sekolah sono yang bener baru nyari bini" ledek Prima


"lah Prim Prim, nilai gue kan nggak jauh beda dari lo" ucap Joo


"ya ya ya, anak DPR bebas" ucap Prima


"nah itu tau" gurau Joo


Kapan lo anggep perasaan ini serius Prim? - Batin Joo


*****


Di Restoran Mahal


Prima dan Joo makan bersama dalam 1 meja. Jika orang tidak tau, maka mereka akan mengira kalau Prima dan Joo adalah sepasang kekasih. Tak diduga, Tio juga masuk dalam restoran itu.


*Tio adalah asisten Pribadi Devan


"loh bukannya itu istri tuan Devan?" bingung Tio


Cekrek...


Tio memotret mereka berdua yang sedang asik makan bersama. Tio tidak tau jika Joo adalah sahabat Prima.


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN 🙏