
Belum selesai berbincang-bincang, Prima sudah pergi meninggalkan mereka. Devan menyusulnya.
"Hei hei hei..." panggil Devan sambil menarik tangan Prima
"Apa sih," jawab Prima
"Mau kemana?" tanya Devan
"Ke kamar mandi, ngapain? Mau ikut?" tanya Prima
"Ayo," jawab Devan menantang
"Gila, sana ke kamar mandi sama si Aurel sana," kesal Prima
"Cemburu?" tanya Devan
"Nggak," jawab Prima
"Masa?" tanya Devan sambil melihat wajah Prima
"Nggak," kesal Prima
"Hei, walau rencananya aku mau dinikahin sama Aurel tapi sekarang yang jadi istriku kan kamu. Masih mau iri? Aku itu udah jadi milik kamu sepenuhnya," jelas Devan
"Apaan sih," jawab Prima sambil menahan senyumnya
"Senyum ya senyum aja nggak usah ditahan, nggak baik." ucap Devan
"Apaan sih, udah sana balik aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Prima
"Ikut boleh?" tanya Devan
Tak..
Prima menjitak dahi Devan.
"Sana balik, ajak bicara sama calon mertua gagal kamu," ucap Prima
"Idih, gimana kalo Aurel jadi istri kedua aku?" gurau Devan
"Boleh," jawab Prima
"Boleh?" kaget Devan
"Iya boleh," jawab Prima santai
"Beneran?" kaget Devan
"Bener tapi ada syaratnya," ucap Prima
"Apa?" tanya Devan
"Kamu datang ya ke rumah sakit tempat aku kerja," ucap Prima
"Oke terus?" tanya Devan
"Nanti aku mau operasi kamu," ucap Prima
"Loh apanya yang di operasi?" bingung Devan
"Nanti aku ambil jantung, paru-paru, ginjal, hati dan beberapa cm kulit kamu buat aku donorin ke orang-orang secara gratis," jawab Prima sambil tersenyum manis
"Lah aku mati dong ntar," ucap Devan
"Ya kan kalo udah mati nanti kamu bisa nikah sama si Aurel," ucap Prima
"Aku mati kamu janda dong haha," tawa Devan
"Aku janda ya santai. Aku kan cantik, cerdas, punya gaji besar, apalagi aku seksi parah gini. Siapa yang nolak," ucap Prima sambil menunjukkan pose seksinya
Devan langsung memeluk Prima dan tidak melepaskan Prima.
"Gak boleh, yang boleh milikin kamu itu cuma aku. Dan hanya akulah pria satu-satunya penikmat badan seksimu," ucap Devan
"Ih apaan sih, ambigu ya?" tanya Prima
"Mikir begitu juga boleh," ucap Devan
"Apaan sih," kesal Prima
Selesai acara, Devan langsung mengajak Prima ke kantornya. Prima hanya mengganti pakaian tanpa menghapus make up dulu karena sudah diteriaki Devan disuruh cepat. Prima harus membersihkan wajahnya di kantor Devan.
///***///
Di Kantor
Banyak orang berbisik melihat penampilan Prima yang mengagumkan.
"Wah sangat cantik ya istrinya Pak Devan," ujar salah karyawati
"Iya aku sampai merasa jelek mendadak," ujar salah karyawati
"Kita mah nggak ada apa-apanya," ujar karyawati
"Pak Devan benar-benar membuat kita iri ya," ujar salah karyawan
"Istrinya benar-benar Primadona," ujar karyawan
///***///
Di Ruangan Devan
Karena ada laporan yang harus disampaikan, Andri masuk keruangan Devan. Ternyata dia masuk saat Devan dan Prima bercanda.
"Siang pak..," ucap Andri
"Oh iya Andri masuklah," ucap Devan
"Kamu tau nggak kenapa setrika bisa panas?" tanya Devan
"Nggak, kenapa?" tanya Prima
"Gara-gara liat kita mesra hahahahaha, mana Dri laporannya?" tanya Devan
"Ini pak..." ucap Andri sambil memberikan laporannya
"Aku coba, kamu tau kenapa petasan bisa meledak?" tanya Prima
"Nggak tau?" jawab Devan
"Gara-gara habis berantem sama aku hahahaha," tawa Prima
"Pak ini bagaimana laporannya?" tanya Andri
"Baik pak, saya undur diri" ucap Andri
Haih jadi pengen cepet-cepet punya pacar - Batin Andri
Saat sore, Devan hendak mengajak Prima pulang. Devan dan Prima turun bersama Tio.
///***///
Di Lift
"Ini tangan kamu kok jadi kasar?" tanya Devan
"Nggak kok biasa aja perasaan," ucap Prima
"Jangan banyak kerja, kerja itu urusan aku. Nanti Rina biar 24 jam dirumah," ucap Devan
"Haih terserah deh," ucap Prima
"Ehem ehem..." Tio berdehem
Tio sejak tadi berdiri dibelakang Devan dan Prima didalam lift. Dia hanya melihat tingkah mesra kedua manusia itu didalam lift.
"Loh kamu juga ikutan toh?" ucap Devan
"Iya tuan," jawab Tio
"Kamu kok tambah imut sih," ucap Devan sambil mencubit kedua pipi Prima
"Apaan sih jangan gitu, nggak enak ada Tio," bisik Prima
"Biarin, ya rejeki dia," bisik Devan
"Dibilangin kok," ucap Prima
"Nanti kalo kamu kerja aku gimana?" tanya Devan manja sambil merangkul pinggang Prima
"Kan kamu juga kerja disini," ucap Prima
"Kamu nggak usah kerja aja kenapa sih, biar aku aja yang kerja," ucap Devan
"Kan ini impianku sejak dulu mas, lagian kalo nggak kerja apa gunanya aku kuliah selama ini?" tanya Prima
"Ehem..." Tio kembali berdehem
"tapi nanti kamu nanganin banyak orang, kalo ada yang naksir kamu gimana?" tanya Devan tak memperdulikan Tio
Apa ini rasanya jadi obat nyamuk? Ada namun tak dianggap - Batin Tio
"Naksir yaudah penting kan aku nggak," ucap Prima
"Kamu jadi dokter di perusahaan aku aja gimana?" tanya Devan
"Kan aku dokter bedah mas. Masa nanti tangannya kena cutter aku operasi?" bingung Prima
"Haih.." kesal Devan
"Yuk turun, udah nyampe bawah tuh," ucap Prima
Mereka keluar dengan bergandengan tangan mesra seperti pengantin baru. Devan sudah menelfon Rina sejak tadi agar bekerja dirumahnya dan memasak makanan untuk makan malam.
///***///
Di Rumah Devan
Saat Devan dan Prima sampai, Rina sudah menyapa didepan rumah.
"Malam tuan nyonya.." sapa Rina
"Malam juga mbak," sapa Prima
"Udah matang?" tanya Devan
"Sudah tuan," jawab Rina
"Rina!" kaget Tio
"Mas Tio," kaget Rina
"Loh kalian saling kenal?" tanya Prima
"I iya, kita dulu...." gugup Tio
"Teman," sahut Rina
"Iya, kita dulu teman sekolah," jawab Rina
"Oh ya sudah, kau juga boleh ikut makan malam disini Tio," ucap Devan
"Tidak terima kasih tuan," jawab Tio
Devan dan Prima masuk kedalam, diluar hanya tinggal Tio dan Rina.
"Ka kamu kerja disini? Sejak kapan?" tanya Tio
"Ba baru mas, mas sendiri?" tanya Rina
"Cu cukup lama lah jadi asisten Tuan Devan," ucap Tio
"Kok aku baru tau," kaget Rina
"Iya karena aku jarang kesini jika tidak ada hal yang sangat penting," ucap Tio
"Oh... Aku masuk dulu mas" Jawab Rina
Rina berbalik dan hendak masuk kedalam rumah.
"Kamu apa kabar?" ucap Tio dengan sedikit keras
"Ba baik mas," gugup Rina
"Maaf buat..." ucap Tio
"Nggak papa mas, lupakan saja," potong Rina
Rina masuk kedalam, sedangkan Tio hendak menarik tangan Rina namun kembali menarik tangannya sendiri.
Setelah bertahun-tahun kau tetap sama Rin, sama sepertiku - Batin Tio
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏