
"Kenapa tidak panggil saja mereka semua?" tanya Adit
"Ya kalau ada pasti ku panggil!" kesal Reyhan
"Dio! Panggil semua karyawan mu yang dapat ukuran baju M!" ucap Adit
"Ya bisanya nanti malam lah," ujar Dio
Reyhan langsung mencengkram kerah baju Dio kuat-kuat.
"Jika kau berbohong, nyawamu taruhannya!" ucap Reyhan
"I iya Rey," gugup Dio
///***///
Di Rumah Sakit
"Nak... Kamu dapat uang dari mana untuk biaya operasi ibu?" tanya Ibu Sarah
"Jangan pikirin bu, yang penting sekarang ibu udah bisa operasi dan cepet sembuh ya!" ucap Sarah
"Ibu tidak bisa tenang jika tidak tau dari mana asal uang itu nak," ucap Ibu Sarah
"Ada deh, Sarah kerja. Sarah pinjem sama temen, trus nanti balikin nya Sarah bayar perbulan," ucap Sarah
"Maaf ya nak, ibu selalu merepotkan kamu," ucap Ibu Sarah
"Memang, kamu sangat merepotkan!" sahut nenek Sarah
"Nek!" tegur Sarah
"Entah bagaimana dulu putraku bisa menikahi seseorang sepertimu," ujar nenek
"Nek udah," tegur Sarah
"Ibu, gimana keadaannya?" tanya Wildan yang baru tiba
"Ini juga, anak pembawa sial," sahut nenek
"Nenek, aku mohon jangan cari masalah untuk hari ini," pinta Sarah
"Sarah... Jangan bekerja terlalu keras ya, jaga kesehatan kamu juga," ucap nenek
"Iya nek," jawab Sarah
"Kak, Wildan pulang dulu ya. Wildan ingat tadi ada PR," ucap Wildan
"Ya sana, lebih baik kamu pergi!" ujar nenek
"Nek! Apaan sih, ayo kakak juga mau keluar," ujar Sarah
Sarah dan Wildan keluar, Sarah menggandeng pundak adiknya yang masih berusia 18 tahun itu.
"Kamu jangan dengerin apa kata nenek ya, nenek emang gitu orangnya," ucap Sarah
"Iya kak," jawab Wildan
"Senyum dong ganteng," goda Sarah
"Iya-iya cantik," gurau Wildan
///***///
Malam Hari
Di Club
Reyhan dan Adit diam menunggu setiap karyawan yang datang. Setelah datang, mereka dikumpulkan di depan sebuah ruangan dan ditanyai oleh Adit, sementara Reyhan menunggu di dalam.
"Siapa yang kemarin mengantar pelanggan ke kamar hotel?" tanya Adit
5 orang karyawan mengaku mengantar pelanggan sampai kamar hotel. Lalu Adit kembali bertanya.
"Siapa yang kemarin masih bekerja sampai pukul 11 malam?" tanya Adit
2 orang tidak bekerja sampai pukul 11 malam, lalu Adit kembali bertanya. Ia menunjukkan photo Reyhan kepada 2 karyawan yang tersisa.
"Di antara kalian berdua, siapa yang pernah melihat pria ini kemarin malam?" tanya Adit
Keduanya menggeleng, Adit kebingungan. Lalu Adit bertanya lagi.
"Apa ada karyawan yang tidak datang? Yang dapat baju M," ujar Adit
"Ada 2 orang. Laras dan Sarah, kalau Sarah ia mengundurkan diri karena katanya ibunya sakit dan tidak ada yang mengurus, kalau Laras katanya tidak enak badan,"
"Baiklah kalian bisa pergi," ucap Adit
Adit masuk ke dalam ruangan, ia menemui Reyhan dengan wajah kecewa.
"Bagaimana?" tanya Reyhan
"Tidak ada, hanya ada 2 kemungkinan. Yang satu namanya Sarah, yang satu namanya Laras," ucap Adit
"Ck, dimana mereka?" Reyhan berdecak
"Tidak ada, tidak masuk semua. Kalau yang Sarah aku dengar tadi ia mengundurkan diri karena keluarga sakit dan tidak ada yang mengurus, kalau yang Laras katanya tidak enak badan," jelas Adit
"Sialan," kesal Reyhan
"Lalu apa? Apa kau benar-benar tidak ada petunjuk lain? Mungkin wajah atau nama?" tanya Adit
"Ya kalau aku tau, aku tidak akan minta bantuanmu. Aku benar-benar lupa dengan wajahnya," ucap Reyhan
"Baiklah," jawab Reyhan
///***///
Besoknya
"Bagaimana? Mereka ada?" tanya Reyhan
"Yang satu bisa, yang satunya belum bisa dihubungi," ucap Adit
"Baiklah kita lihat siapa yang datang," ucap Reyhan
Reyhan dan Adit masuk ke dalam ruangan, tak lama Laras masuk ke dalam ruangan itu juga. Laras tampak sedikit kikuk dan ketakutan melihat wajah Reyhan.
"Hei, angkat wajahmu!" ucap Adit
Laras mengangkat wajahnya dan menghadap ke arah Reyhan.
"Wow, bagaimana kau bisa secantik ini?" tanya Adit
Laras memiliki paras yang sangat cantik, mendekati sempurna. Bibir tipis merah merona, alis tebal yang tertata alami, hidung mancung, bentuk wajah baby face, dan kulit yang putih bersih. Namun tetap saja biasa bagi Reyhan.
"Kenapa kau takut padaku?" tanya Reyhan
"....."
"Hei aku bertanya!" bentak Reyhan
Laras sedikit takut dan terkejut saat Reyhan membentaknya.
"Huh! Dit, kau keluar dulu," ucap Reyhan
"Tapi Rey," ucap Adit
"Keluar!" tegas Reyhan
Adit keluar meninggalkan Reyhan dan Laras di dalam.
"Jadi kau mengenalku?" tanya Reyhan
Laras diam tak menjawab dan hanya menundukkan kepalanya.
"Kau ingat kejadian malam itu?" tanya Reyhan
Reyhan melangkah mendekati Laras, Laras semakin mundur hingga bersandar di tembok.
"Jangan mendekat," ucap Laras
"Aku tidak akan memakan mu, lihat aku!" ucap Reyhan
Laras mengangkat wajahnya perlahan dan Reyhan melihat mata Laras yang berkaca-kaca.
"Baiklah, kau gadis malam itu pastinya. Aku akan bertanggung jawab, mulai sekarang kau adalah pacarku tak lebih. Untuk bertunangan, aku perlu restu dari orang tuaku. Dan menikah? Aku terlalu mudah untuk menikah sekarang," ucap Reyhan
"....."
"Baiklah, ini kartu namaku. Kalau ada apa-apa, telfon aku!" ucap Reyhan
"Iya," jawab Laras singkat
"Kau bisa pergi," ucap Reyhan
Laras langsung pergi berlari keluar meninggalkan Reyhan. Ada perasaan aneh pada diri Reyhan, ia tidak senang ataupun sedih. Hanya merasa aneh.
///***///
Di Rumah Sakit
"Sarah datang," ujar Sarah
"Oh cucuku sayang, kau sudah datang. Kau selalu bekerja keras untuk ibumu yang tidak berguna ini," ucap Nenek
"Nek!" bentak Sarah
"Setidaknya aku bisa membesarkan anak-anak ku seorang diri," ujar Ibu Sarah
"Oh, jadi kau pikir aku dulu tidak ikut membiayai kehidupan cucuku tersayang ini hah?" tanya nenek
"Nenek! Ibu! Cukup! Aku baru pulang kerja, bukannya di sambut malah bertengkar sendiri. Nenek, jika kau terus bertengkar maka kau akan cepat tua dan masuk kuburan. Ibu, jika ibu marah-marah saja, ibu hanya akan mendekati ajal bukan kesembuhan. Kalian ini apa tidak bisa menghargai kerja kerasku? Jangan bertengkar, sehari saja kumohon!" ucap Sarah sambil menangkupkan kedua tangannya
"Maaf nak," ucap Ibu Sarah
"Aku pergi dulu, jika kalian masih bertengkar seperti ini lagi. Aku tidak akan menjenguk kalian lagi, terserah mau hidup sama siapa!" kesal Sarah
Sarah menutup pintu kasar dan pergi ke bawah, ia pergi ke taman rumah sakit yang cukup sepi. Sarah duduk dibawah pohon besar lalu menangis.
"Kenapa hidup bisa sekejam ini?" tangis Sarah
Aku hanya butuh hiburan, hiburan, bukan suara pertengkaran. Setiap hari mereka bertengkar seolah mereka bisa hidup sendiri-sendiri - Batin Sarah
Nenek Sarah adalah ibu dari ayah Sarah. Saat ayah dan ibu Sarah menikah, nenek tidak terlalu setuju dengan alasan ibu Sarah tidak memiliki latar belakang yang bagus. Saat Sarah kuliah semester 2, ayahnya meninggal karena kecelakaan. Sarah putus kuliah dan keluarganya bangkrut. Semenjak itu nenek semakin menyia-nyiakan Ibu Sarah.
Untuk Wildan, Wildan bukan putra kandung ibu Sarah. Wildan di adopsi saat berusia 6 bulan, hal itu yang membuat nenek tidak bisa sama sekali menyayangi Wildan seperti menyayangi Sarah. Sarah bekerja banting tulang untuk operasi ibunya. Sarah menjadikan 2 hari menjadi 1 hari.
Subuh Sarah membuka warung nasi, pagi hari Sarah mengantar sayur ke beberapa rumah orang kaya, siang hari Sarah menjadi pelayan di restoran ternama, sore hari menjadi pegawai paruh waktu di sebuah minimarket, dan malam hari menjadi pelayan di Club Malam ternama.
"Kenapa ayah meninggalkan aku lebih dahulu? Apa ayah tidak melihat kalau aku sekarang sedang bekerja keras?" tanya Sarah dalam sela tangisnya
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏