
Untungnya Prima sudah mandi, ia langsung ganti baju dan memakai celana jeans biru dongker dan hem putih dengan kain jatuh. Rambutnya dibiarkan tergerai bergelombang dan sling bag dipundaknya tak lupa sepatu hitam dengan hak 5 cm menghiasi kakinya. Prima memakai sedikit bedak dan lipstik lalu secepatnya pergi keperusahaan Devan. Untungnya perusahaan Devan perusahaan besar jadi banyak yang tau alamatnya. Walau terburu-buru Prima tetap tidak mau merusak citra Devan dengan penampilan nya.
///***///
Di Perusahaan
25 menit perjalanan akhirnya prima sampai. Prima berlari sejauh 700 meter karena takut terjebak macet. Prima secepatnya berlari dan menghampiri meja resepsionis.
"dimana Tuan Devan berada sekarang?" tanya Prima dengan nafas terengah-engah
"anda siapa? Apa anda memiliki janji? Tanpa janji anda tidak bisa sembarang menemui tuan Devan nona" ucap lembut resepsionis
"aih Tio dimana ah maksudku Asisten Tio" ucap Prima
"apa anda memiliki temu janji, sebutkan nama anda nona" ucap resepsionis
Prima benar-benar kehabisan kesabaran. Prima menggebrak meja resepsionis dengan sangat keras sampai semua orang memandangnya.
Bruuaakkk....
"lihat wajahku baik-baik dan ingat dengan baik, namaku Prima Chalondra istri sah dari tuan Devan Kalandra!" ucap Prima dengan nada penuh penekanan
"oh maaf nyonya, saya tidak tau. Silakan masuk ruangan tuan Devan ada di lantai...." ucap resepsionis
"aku tidak butuh itu, dimana suamiku sekarang!" bentak Prima
"ada diruang rapat dilantai 23" ucap resepsionis
"apa akses tercepat kesana!" tanya Prima
"lift Presdir nyonya" ucap resepsionis
"beri aku aksesnya" ucap Prima dengan nada membentak
Secepatnya Prima pergi keruang rapat seperti petunjuk resepsionis tadi. Didepan pintu ia merapikan diri dan rambutnya yang acak-acakan. Ia menghela nafas berusaha tenang.
Astaga dimana proposalnya, ap mungkin ketinggalan? - Batin Devan panik
Tokk..Tokk.... Tokk..
"masuk" ucap Devan
Ceklek...
Prima membuka pintu dengan perlahan dan melihat klien Devan, tampak seperti orang barat.
Ngapain dia disini? - Batin Devan tambah panik
"excuse me mr and ms, i want to give some important document to Mr. Devan. Mr. Devan it is your document. Thank you for time mr and ms (permisi tuan dan nona, saya ingin memberi beberapa dokumen penting pada Tuan Devan. Tuan Devan ini dokumen anda. Terima kasih untuk waktunya tuan dan nona)" ucap Prima sambil mengedipkan sebelah mata pada Devan
"tunggu aku di ruanganku" bisik Devan
Syukurlah dia tanggap, untung proposal ini segera sampai - Batin Devan
Prima keluar dan bertanya pada karyawan dimana ruangan Devan. Prima menunggunya didalam ruangan dan tertidur di sofa.
///***///
Setelah Selesai Rapat
"thank you Mr. Devan. But i feel there are different from this meeting. The document and powerpoint very different from before. I think this is not same person that work it (terima kasih tuan Devan. tapi saya rasa ada yang berbeda dari pertemuan kali ini. dokumen dan powerpoint nya sangat berbeda dari sebelumnya. saya pikir bukan orang yang sama yang mengerjakan ini)" ucap klien
"really?" tanya Devan
"yes, this power point more interesting and i more easier for understanding. Who help you for make everything (ya, powerpoint ini lebih menarik dan saya lebih mudah untuk memahaminya. siapa yang membantu anda untuk membuat semuanya?)" tanya klien
"actually, my wife help me for preparing everything. And she is too make the powerpoint (sebenarnya, istri saya membantu saya menyiapkan semuanya. Dan dia juga yang membuat powerpoint)" ucap Devan
"who your wife? I want to meet her one day" ucap klien
"girls that give me document before" ucap Devan
"oh my god, anda benar-benar beruntung tuan Devan" ucap klien terbata-bata
"anda bisa berbahasa indonesia?" kaget Devan
"haha, anda bisa saja. Dia memang gadis yang cerdas" gurau Devan
"dia kuliah dimana? Gelar nya apa?" tanya klien terbata-bata
"dia mahasiswi tingkat akhir fakultas kedokteran" ucap Devan
"oh wow, amazing. Padahal kuliahnya kedokteran tapi bisa membuat saya ini terpukau di bidang bisnis" ucap klien terbata-bata
"haha anda bisa saja" ucap Devan
"jika saya jadi anda, maka saya akan melupakan semu pacar saya dan hanya fokus pada istri anda" gurau klien
"maksudnya?" tanya Devan
"saya tau kalau anda punya pacar, saya pernah menyelidiki latar belakang anda sebelum bekerja sama. Dari yang saya lihat, pacar anda saat ini lebih buruk dari semua wanita. Tak ada apa-apanya dibanding istri anda. Istri anda benar-benar sempurna. Dia cantik, baik, sopan, berpendidikan dan sangat cerdas" ucap klien
"haha anda bisa saja" ucap Devan
"tapi saya bersungguh-sungguh tuan Devan, syukuri apa yang anda miliki. Jangan tunggu istri anda direbut orang lain baru anda menyadari perasaan anda" ucap klien terbata-bata sambil menepuk-nepuk pundak Devan
"sure" jawab Devan
"baiklah senang bekerja sama dengan anda tuan" ucap klien
"tentu, saya harap ini berlangsung lama" ucap Devan sambil menjabat tangan klien
Devan kembali keruangannya dan memikirkan perkataan klien besarnya tadi.
Memang satu sisi Prima benar-benar gadis yang sempurna. Bahkan dia menjalani kehidupan seorang istri dengan baik. Dia melayaniku dengan sempurna, tapi aku belum bisa putus dengan Katlyn dan perasaanku pada gadis itu masih belum berubah - Batin Devan
///***///
Di Ruangan Devan
Devan melihat Prima yang tertidur pulas di atas sofanya dengan sepatu yang masih terpakai. Devan melepasnya, terlihat pergelangan kaki Prima terluka pasti karena berlari saat mengantar dokumen tadi dan telapak kakinya lecet juga karena lari semalam.
Gadis ini cerdas tapi bodoh kalau masalah menjaga diri sendiri. Padahal dia bisa suruh Tio saja mengambil dokumen itu - Batin Devan
Devan menyuruh orang mengambilkan obat. Devan mengoleskan salep perlahan pada kaki Prima yang lecet, terlihat Prima mengerutkan dahi saat diolesi salep walaupun Prima tertidur.
Entah bagaimana sakitnya ini, aku tidak tau? Kenapa kau sekeras ini? Bagaimana jika aku jatuh cinta padamu? - Batin Devan
Devan juga mengantuk, perlahan ia tertidur. Tak sadar Devan naik keatas sofa dan tidur di samping Prima sambil memeluk Prima.
///***///
Di Lantai Bawah
"mana cucu kurang ajar itu? Dimana Devan!" bentak nenek pada resepsionis dan mencengkram kerah baju nya
"tu tu tuan De devan ada di ru ruangannya nyonya besar" gugup resepsionis
"mah inget umur mah!" ucap mama Devan
"mana bisa? Bagaimana Devan membiarkan menantu kesayangan ku itu berlari sejauh 1 km. Bagaimana jika terjadi apa-apa? Untung Tio memberitahuku. Kenapa cucu sialan itu tidak memberitahu ku? Dia pikir aku siapanya?" kesal nenek Devan
Nenek Devan yang kesal karena mendengar kejadian semalam yang terjadi pada Prima langsung marah dan menghampiri Devan di perusahaan. Nenek naik lift dan menuju ruangan Devan.
"man cucu sialan itu Tio?" ucap nenek marah sambil mencengkram kerah baju Tio
"tu Tuan muda ada di ruangannya, nyonya besar" ucap Tio
Ceklek...
Nenek membuka pintu, seketika kemarahannya mereda melihat Devan dan Prima yang tidur di sofa.
*******
Maaf kalo bahasa Inggris nya salah, boleh dikoreksi. Author nak indo soalnya bukan nak inggris atau USA:). Mau translate juga nggak ada sinyal:(
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN AND VOTE 🙏