
Adit dan Wildan memandang Prima khawatir, mereka berdua berterima kasih karena Prima sudah berkorban untuk Sarah dan Devina hingga sampai di titik ini.
"Dit... Kamu sama Wildan pergi saja ke ruangan Sarah dan Dev. Kalian jaga mereka berdua, aku akan tetap di sini dulu menunggu mommy sadar," ujar Reyhan
"Tapi Rey..." ragu Adit
"Pergilah," pinta Reyhan
"Baiklah, ayo Dan!" ajak Adit
"Ayo kak," ajak Wildan
Adit dan Wildan pun pergi ke ruang perawatan Sarah dan Devina. Reyhan dan Devan masih tetap menunggu sadarnya Prima.
///***///
Di Ruang Perawatan Sarah dan Devina
Reyhan sengaja menempatkan Sarah dan Devina dalam satu kamar agar lebih mudah untuk diawasi. Adit masih setia duduk di samping Devina, sedangkan Wildan hanya melihat Sarah yang masih belum sadar.
"Dev... Cepatlah bangun, mommy mu menunggumu!" gumam Adit
Tangan Devina bergerak, kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Pandangan yang semula buram perlahan tampak semakin jelas.
"Dev...." panggil Adit
"Ehmm...." gumam Devina
"Dan... Kamu di sini dulu, aku mau panggil dokter!" ujar Adit
Tangan Devina bergerak dan menarik tangan Adit, Adit pun berbalik menghadap Devina.
"Kenapa Dev? Kau merasa sakit?" tanya Adit
"Jangan tinggalkan aku! Tolong!" pinta Devina yang sedikit menggigil ketakutan
"Dan... Apa yang terjadi pada Dev?" tanya Adit
"Mungkin Dev mengalami syok atas kejadian tadi kak, turuti saja kemauannya agar ia merasa lebih tenang," jelas Wildan
"Oh begitukah?" tanya Adit
"Ya,"
"Jangan pergi!" pinta Devina dengan air mata yang mengalir
"Shhh... Tidak-tidak, jangan menangis! Aku akan tetap di sini," jawab Adit
Devina masih diam dengan air mata yang terus mengalir, sikapnya masih seperti orang yang ketakutan.
"Kau mau makan?" tanya Adit
Devina hanya menggeleng, badannya masih penuh luka. Adit sungguh tidak tega melihat keadaan Devina yang seperti ini.
"Makan ya... Pasti kamu lapar, aku suapin," tawar Adit
"...."
"Tunggu sebentar ya," pinta Adit
"Jangan pergi!" pinta Devina sambil menggenggam tangan Adit
"Lalu bagaimana? Oh iya, Dan tolong ambilkan makanan Devina di meja itu," pinta Adit
"Baik kak," jawab Wildan
Wildan pun mengambil kan makanan Devina yang ada di atas meja.
"Makasih Dan," ujar Adit
"Iya kak," jawab Wildan
"Makan ya... Aahh..." ucap Adit yang berusaha menyuapi Devina
"....."
"Makan Dev... Nanti kamu sakit," pinta Adit
"Jangan pergi... Takut.... Takut..." takut Devina
"Shhh... Tenanglah, aku di sini!" jawab Adit
"Jangan tinggalkan aku!" takut Devina
"Hei... Hei... Aku Adit.. Ingat? Aku Adit, jangan takut lagi. Aku tidak akan meninggalkan mu," jelas Adit
Adit memeluk Devina yang ketakutan, sedangkan Devina memeluk Adit semakin erat. Rasa trauma saat di siksa oleh Katlyn masih melekat pada dirinya.
"Jangan takut lagi ya.. Aku menemanimu, sekarang kamu makan dulu ya!" pinta Adit
Devina hanya mengangguk pada Adit. Ia menurut pada Adit dan mau makan dengan di suapi oleh Adit. Wildan masih berharap kalau Sarah segera sadar.
"Kak... Sadarlah, kapan kau sadar?" gumam Wildan
Sarah mulai membuka matanya, Wildan tersenyum senang melihatnya. Ia sedikit bersemangat.
"Kak... Kau tidak apa-apa?" tanya Wildan
"Ugh... Kepalaku sakit, dan tanganku rasanya sakit sekali..." keluh Sarah
"Jangan banyak bergerak dulu Kak, banyak-banyaklah istirahat lebih dulu," pinta Wildan
"Kita di mana dan?" tanya Sarah
"Kita di rumah sakit Kak," jawab Wildan
"Di rumah sakit? Di mana Reyhan dan lainnya? Apa yang terjadi?" tanya Sarah
"Kak Rey masih menunggu Mommy Prima sadar," jawab Wildan
"Memangnya Mommy Prima kenapa?" tanya Sarah
"Dia..." gugup Wildan
"Kenapa Dan?" tanya Sarah
"Mommy Prima baru selesai operasi," jawab Wildan
"Apa? Bagaimana bisa? Memangnya dia kenapa?" tanya Sarah
"Mommy terkena tusukan di perutnya saat hendak menyelamatkan Devina, untungnya mommy berhasil selamat. Namun kini tetap harus di pantau perkembangan nya," jelas Wildan
"Astaga... Tapi mommy sudah lebih baik kan? Dev di mana?" tanya Sarah
"Mommy sudah lebih baik, itu Dev..." jawab Wildan sambil menunjukkan ranjang Devina
Sarah terkejut melihat Devina yang badannya sudah penuh dengan luka dan lebam.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua Kak?" tanya Wildan
"Saat itu...."
Flashback On...
Devina sedang perjalanan menuju mall tempat ia janjian bertemu dengan teman-temannya. Namun di perjalanan ia bertemu dengan seorang pria dengan jaket hitam, bertopi dan memakai masker.
"Permisi nona..."
"Ya? Anda siapa ya?" tanya Devina
"Apakah anda Nona Devina?"
"Iya saya, kenapa? Apakah saya mengenal anda?" tanya Devina
"Lebih baik anda ikut saya!"
"Tidak! Anda siapa? Saya tidak mengenal anda," jawab Devina cuek
Devina tak menghiraukannya, ia berjalan meninggalkan pria misterius itu. Namun pria itu nekat, ia menarik tangan Devina dan sedikit menyeretnya pergi.
"Ayo ikut saya!"
"Tidak! Lepaskan! Lepaskan!" berontak Devina
Devina sangat memberontak, namun karena kalah tenaga dan tiba-tiba ada yang memukul tengkuknya dari belakang hingga ia jatuh pingsan.
Setelah pingsan para pria itu membawa Devina ke sebuah tempat misterius.
.
.
.
.
Di Rumah Sarah
Sarah masih terbaring lemas dan pusing di atas ranjang, namun tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Siapa?" gumam Sarah
Tok... Tok... Tok...
"Wildan kan sudah berangkat kuliah, apa mungkin Reyhan?" gumam Sarah
Sarah pun bangun dan hendak membuka pintu rumahnya.
Tok... Tok... Tok...
"Iya sebentar," teriak Sarah
Sarah membuka pintu, nampak dua orang berjaket hitam memakai masker yang sedang menunggu Sarah.
"Ehm... Siapa ya?" tanya Sarah
"Nona Sarah?"
"Iya saya sendiri," jawab Sarah
Kedua orang itu saling melempar pandang seperti sedang saling memberi kode.
"Ehm... Emmm... Mmmm....."
Sarah di bekap dengan kain sampai kehabisan nafas dan jatuh pingsan karena obat yang ada di kain tersebut. Kedua orang itu pun memasukkan Sarah ke dalam mobil dan membawanya ke sebuah tempat.
///***///
Di Tempat Lain
"Ugh... Kepalaku sakit sekali," keluh Devina
Devina melihat ia yang sedang terikat di kursi di sebuah gudang kosong yang pengap dan kotor. Ia melihat sekelilingnya dan terdapat Sarah di sampingnya.
"Kak Sarah? Kak... Kak Sarah! Bangun kak!" panggil Devina
"Ughh.... Kepalaku!" keluh Sarah
Sarah mulai sadar, ia merasakan pusing di kepalanya dan sekujur tubuhnya sakit. Tangan dan kakinya terikat kencang.
"Di mana ini?" gumam Sarah
"Kak Sarah..." panggil Devina
"Dev? Kamu ngapain di sini?" tanya Sarah
"Aku nggak tau, tiba-tiba bangun sudah ada di sini," jawab Devina
"Bagaimana bisa?" tanya Sarah
"Wah... Wah... Wah... Kalian sudah sadar ternyata?" sahut seseorang
"Siapa kau?" tanya Sarah
"Lepaskan kami!" pinta Devina
"Lepaskan? Tidak semudah itu,"
"Siapa kau? Apa urusanmu dengan kami?" tanya Sarah
"Bukan kalian yang punya masalah, tapi kakak dan ibumu Devina..." jawab Katlyn
"Lepaskan kami!" pinta Devina
"Diam!" bentak Katlyn
"Lepaskan kami! Kenapa kau membawa kami ke sini!" kesal Devina
"Kenapa kalian membuang-buang tenaga? Lebih baik kalian diam menunggu ajal kalian! Ada pesan terakhir?" tanya Katlyn
"Dasar wanita gila!" sentak Devina
Plaakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Devina. Hal itu membuat wajah Devina sedikit terhempas. Devina hanya diam menahan sakit dengan pipi yang memerah.
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏