My Sexy Wife

My Sexy Wife
Celaka



"Nanti waktu aku lahiran gimana? Masa aku sendirian?" tanya Prima sedih


"Jangan ngomong gitu! Aku bakal selalu ada saat kamu lahiran! Aku bakal temenin kamu, aku pasti pulang sebelum kamu lahiran!" ucap Devan


"Janji!" ucap Prima


"Janji!" ucap Devan


*****


Akhir Bulan


Selama Devan tugas di luar negeri, Aurel selalu datang untuk menemani Prima dirumah. Hari ini hari ke-5 Devan pergi.


Devan: Halo sayang...


Prima: Halo Daddy... Sapa daddy nak.. (mengelus perut)


Devan: Hari ini aku udah selesai, aku pulang hari ini!


Prima: Beneran dad?


Devan: Iya mom...


Prima: Eh anak kamu nendang-nendang loh!


Devan: Iya dong, putra Devan Kalandra harus aktif


Prima: Pulang jam berapa dad?


Devan: Ini beres-beres, nanti siang pulang!


Prima: Cepetan ya dad, ditunggu mom sama si baby!


Devan: Ok mom! Dah mommy.... Dah baby....


"Habis telfonan sama Kak Devan ya?" tanya Aurel


"Iya Rel, eh si Rey nendang..." ucap Prima


"Rencana namanya Rey ya kak?" tanya Aurel


Prima berdiri dan hendak menuju ke dapur. Ia berjalan perlahan keluar.


"Iya Rel.. Rencananya Mas Devan sama aku mau kasih nama Reyhan Elvano Kalandra." ucap Prima


"Tapi kayaknya nggak cocok deh kak!" ucap Aurel


"Hah nggak cocok?" bingung Prima


"Yang lebih cocok itu Almarhum Reyhan Kalandra!" ucap Aurel


"Rel... Jaga omongan kamu!" ucap Prima


"Kenapa? Itu lebih cocok, kalo nggak terima, kamu ikut aja nyusul anak kamu!" ucap Aurel


"Rel apa sih maksud kamu?" tanya Prima


"Prima... Prima... Lo **** banget sih jadi orang! Lo pikir gue bakal lepasin lo dan Kak Devan begitu aja? Setelah lo dan Kak Devan tampar gue, permaluin gue dan buang gue begitu aja! Lo pikir gue gak bakal bales perbuatan lo?" tanya Aurel


"Rel jangan macem-macem Rel..." ucap Prima yang mulai melangkah mundur


"Kenapa takut? Aku pikir sepertinya anak kamu lebih cocok buat membalas semua kelakuan kamu deh!" ucap Aurel yang perlahan melangkah maju


"Rel.. Aku mohon jangan celakai anakku!" ucap Prima


"Kenapa? Salah kamu sendiri yang bodoh dan nggak nyadari kalo gue pura-pura selama ini!" ucap Aurel


"Rel... Rel... Aku minta maaf Rel, tapi aku mohon jangan sakiti anakku!" ucap Prima


Aurel melangkahkan kakinya hingga membuat Prima semakin mundur. Tak ada jalan lain, Prima perlahan menuruni tangga sambil memegangi perutnya berharap Rina segera datang dan menolongnya. Prima hampir sampai di bawah.


"Rinaaa.....!!!" teriak Prima


"Teriak terus, dia nggak bakal denger! Karena gue udah suruh Rina pergi!" ucap Aurel


"Lo pikir gue cewek apaan hah? Lo seenaknya sendiri menghina gue dan mempermalukan gue hah!" bentak Aurel


"Rel aku mohon.. Aku minta maaf, kita akhiri semua dengan damai, kita selesaikan semua baik-baik ya!" ucap Prima


"Terlambat buat lo ngomong gitu!" ucap Aurel


Aurel mengayunkan pisaunya namun tangannya ditahan oleh Prima.


"Rel sadar Rel... Aku mohon, aku suka kamu yang baik bukan yang kayak gini!" ucap Prima


"Hahahahaha... Lo yang ngebuat gue jadi semakin jahat gini!" ucap Aurel


Prima menahan tangan Aurel dan menangkis pisau itu hingga pisaunya jatuh, Aurel kesal ia mencekik Prima hingga Prima mulai kehabisan nafas.


"Rel... To.. Long..." ucap Prima


"Minta tolong kepada siapapun gak bakal membantu!" ucap Aurel


Tak sengaja, Aurel mendorong Prima hingga terjatuh dari tangga.


"Aahhh....." teriak Prima


Prima tergeletak lemas dengan darah yang menggenang di lantai. Sementara Aurel hanya terdiam melihat Prima melemas minta tolong.


"To... Long..." ucap Prima


"Ti tidak.. Aku bukan pembunuh.. Aku bukan pembunuh..." panik Aurel


Aurel turun, berjongkok dan menggoyangkan badan Prima.


"Prima.. Prima... Bangun!" ucap Aurel


Tak ada jawaban dari Prima.


"Tidak aku bukan pembunuh! Aku bukan pembunuh!" panik Aurel


Rina yang baru datang dari supermarket setelah belanja bersama Tio menjerit ketakutan saat melihat Prima. Rina berlari menghampiri Prima.


"Dek... Dek.. Dek Prima.." panggil Rina


Tio yang baru masuk terkejut melihat Nyonya Mudanya bersimbah darah, memang Tio tidak ikut ke Singapura karena disuruh menjaga Prima dirumah.


"Nyonya...!!" teriak Tio


Melihat Rina dan Tio datang, Aurel berlari keluar dan panik.


"Mas Tio.. Tangkap Aurel!" teriak Rina


Belum sempat melarikan diri, Aurel sudah tertangkap oleh Tio. Sementara Rina menelfon ambulan, untung rumahnya dekat rumah sakit. Butuh 7 menit, ambulan sudah datang.


Prima dibawa segera ke rumah sakit, Tio mengurung Aurel di kamar tamu dan memborgol tangan Aurel ke kasur agar tak bisa lari. Tio menaruh 2 bodyguard didalam kamar, 2 diluar kamar dan 10 bodyguard yang berjaga diberbagai penjuru rumah. Setelah selesai berurusan dengan Aurel, Tio segera menelfon Devan dan keluarga Devan.


///***///


Di Rumah Sakit


Tak butuh waktu lama, keluarga Devan segera datang. Devan juga langsung pulang menggunakan jet pribadi keluarganya.


"Dimana suami pasien?" tanya dokter


Keluarga Devan celingukan melihat dimana Devan.


"Kenapa dok?" tanya ayah Devan


"Perut si ibu mengalami benturan keras, itu menyebabkan kita harus segera operasi sesar agar si bayi dan si ibu selamat! Namun kemungkinan keselamatan keduanya tipis, mungkin kita hanya bisa menyelamatkan salah satu. Untuk mengantisipasi jika terjadi hal seperti itu, siapa yang lebih utama akan diselamatkan?" tanya dokter


"Dok selamat keduanya dok!" ucap nenek


"Itu tergantung pada kehendak Tuhan, namun untuk mengantisipasi jika ada komplikasi kita hanya bisa menyelamatkan salah satu. Jadi siapa yang akan diselamatkan?" tanya dokter


Seluruh anggota keluarga menangis mendengar keadaan Prima. Di satu sisi Prima kritis karena benturan keras di kepalanya, satu sisi bayinya juga bahaya karena ada benturan di perut Prima.


"Kita akan menyelamatkan...." jawab ayah Devan