
Dulunya alasan Evelyn mau meniti karier di negeri orang karena Zalfa dan Joo yang selalu di luar negeri untuk tugas, merasa kesepian, akhirnya Evelyn mencoba keberuntungan di Prancis. Namun sekarang beda, sudah banyak hal yang benar-benar bisa membuatnya tidak mau kembali ke Prancis.
Haruskah aku kembali ke Prancis? Hatiku benar-benar berat untuk pergi! - Batin Evelyn
Ting...
Wildan
Pergi saja, selesaikan apa yang kau mulai. Aku akan menunggumu π€
Evelyn
Thxπππ
Wildan menahan diri agar tidak tersenyum manis karena pesan dari Evelyn. Meski tampaknya Wildan selalu meyakinkan Evelyn harus pergi, di dalam benaknya ia juga tidak rela kalau Evelyn harus pergi.
Hah... Demi karirnya ia harus pergi, aku tidak boleh menghalanginya! Walau berat, tapi biar aku saja yang merasakannya. Tapi 1 tahun tidak bertemu? Itu cukup lama - Batin Wildan
"Aku pergi dulu ya," ujar Evelyn sambil melambaikan tangannya
"Daahh..."
"See you 1 years anymore,"
"Bye-bye,"
"Baik-baik di sana ya Velyn,"
"Hati-hati! Sering-sering kabarin kita!"
"Jangan sampai telat makan!"
"Oh iya halo, iya-iya...." drama Joo
"Papa... Mama ikut," drama Zalfa
Joo berpura-pura menerima telfon dan pergi diikuti Zalfa, Devan dan Prima pamit, sedangkan Adit dan Devina berpura-pura bermesraan. Wildan pun mengantarkan Evelyn.
"Aku nggak mau ke Prancis," tolak Evelyn
"Jangan gitu, cepet-cepet kesana biar cepet selesai," ujar Wildan
"Tapi..."
"Jangan tapi-tapian, jalanin aja dulu," ujar Wildan
Wildan melepaskan jaketnya, memakaikannya ke badan Evelyn dengan lembut.
"Hati-hati, jangan sampai sakit," ucap Wildan
Evelyn semakin salah tingkah, ia tidak mengira Wildan yang polos dan pendiam ini bisa sweet.
"Udah sana berangkat," ujar Wildan
Evelyn menggeleng, wajahnya memelas, matanya berkaca-kaca dan hampir meneteskan air mata.
"Eh kenapa nangis? Jangan nangis dong," pinta Wildan
"Aku nggak mau pergi," ujar Evelyn
Wildan mengusap air mata Evelyn yang mulai keluar dari pelupuk matanya.
"Jangan nangis, aku ada di sini kok. Sabar dulu ya, anggep aja ini semua ujian buat kita berdua," jelas Wildan
"Aku nggak mau pergi, aku mau bayar denda aja asala nggak balik ke Prancis," ujar Evelyn
"Hei dengarkan aku... Posisimu yang sekarang itu sulit untuk di gapai, banyak orang di luar sana yang benar-benar ingin menggantikan posisimu, jadi jangan menyerah. Dan untuk denda... Siapa saja bisa membayar denda seperti itu, karena semuanya punya uang, tapi orang yang melakukannya karena cinta pada pekerjaannya dan rasa tanggung jawab di hatinya, itu yang jarang. Sekarang aku mau kamu jadi orang yang bertanggung jawab atas pekerjaan kamu ya," jelas Wildan
"Tapi aku lama di sana, bisa 1 tahun bahkan lebih," ujar Evelyn
"Hei... Kalau memang kita benar-benar berjodoh, kita pasti tetap di persatukan pada akhirnya. Percayalah, Tuhan punya ribuan cara untuk mempertemukan seseorang," jelas Wildan
"...."
Evelyn masih diam dengan mata berkaca-kaca, hatinya benar-benar tidak rela untuk pergi.
"Sekarang pergi, raih impian kamu selama ini! Pulang saat sudah membawa kebanggaan, kalau kamu kangen aku kan bisa video call. Jaket ini kamu bawa aja sana," ujar Wildan
"...."
"Udah jangan banyak mikir, buruan nanti ketinggalan loh," pinta Wildan
"Kalau aku pulang, nanti kamu jemput aku di sini ya!" pinta Evelyn
"Iya, aku jemput," jawab Wildan
"Janji?"
"Janji!"
Sett...
Wildan sekali lagi memeluk Evelyn, hatinya juga tidak rela di tinggal seperti ini. Baru saja menjalin kisah asmara, justru harus terpisah jarak selama 1 tahun.
"Hiks.... Hiks...."
"Jangan nangis, cuma 1 tahun kalo di jalani sepenuh hati, itu cepet kok," ucap Wildan
"Waktu aku pulang pastiin jemput ya!" pinta Evelyn
"Iya," jawab Wildan
Mereka melepaskan pelukannya, Evelyn mulai melangkahkan kakinya menuju pesawat. Wildan melihatnya sambil melambaikan tangannya.
"Daahh...."
"Daahh...."
"Sampai jumpa 1 tahun lagi,"
"Sampai jumpa 1 tahun lagi,"
Wildan melihat Evelyn pergi sampai Evelyn benar-benar hilang dari pandangannya. Setelah Evelyn tidak nampak, ia duduk di kursi tunggu dengan lemas.
Hah... Ada-ada saja cobaanmu Tuhan! Baru saja aku berpacaran dengannya, justru kini harus LDR selama 1 tahun - Batin Wildan
///***///
Di Mobil
Wildan pulang bersama Adit dan Devina. Wildan di antar pulang sampai rumahnya.
"Perasaan tadi kamu pake jaket deh Dan," bingung Devina
"Eh iya ya, tadi kan make jaket," ujar Adit
"Oh, aku taruh tas soalnya agak gerah," jawab Wildan
"Gerah? Ini lagi musim hujan loh Dan, nggak dingin?" tanya Devina
"Nggak tau, ngerasa gerah aja," hindar Wildan
"Oh,"
///***///
Di Rumah Wildan
"Makasih Kak... Dev... Nggak mau mampir dulu?" tanya Wildan
"Nggak Dan makasih, kami langsung pulang ya," ujar Adit
"Iya Kak, hati-hati!" ucap Wildan
"Ok,"
"Kita balik dulu Dan," ujar Devina
"Oh iya Dev, daahh..." ucap Wildan
"Dahh..."
Setelah Adit dan Devina pergi, Wildan masuk ke dalam rumah. Ia melihat rumah yang kosong tanpa ada siapa-siapa. Wildan langsung masuk kamarnya dan tertidur dengan perut kosong.
///***///
Malam Hari
Wildan terbangun saat matahari telah tenggelam, seluruh rumahnya gelap karena lampu belum dinyalakan.
"Haih... Aku belum menyalakan lampu," gumam Wildan
Wildan hendak berdiri menyalakan lampu, namun tiba-tiba perutnya terasa perih.
"Aww.... Perih sekali, apa karena telat makan tadi? Semoga obat maag ku masih," gumam Wildan
Wildan pergi menyalakan lampu dan mulai mencari obat maagnya, namun tidak ada.
"Haih... Memang aku lupa menaruhnya atau habis sih!" kesal Wildan
Wildan mengambil sebungkus roti kecil di dapurnya, ia memakan roti itu sementara untuk mengganjal perutnya. Setelah itu ia pergi mengambil jaket dan menaiki sepedanya menuju apotik yang dekat rumahnya.
Ia membeli obat maag lalu kembali pulang, ia memesan makanan online karena tidak kuat keluar jauh. Setelah menunggu, akhirnya makanannya sampai. Ia memakannya sambil sesekali melirik ponselnya.
///***///
Di Kamar Adit
Adit sedang berbaring sambil memandangi langit-langit kamarnya, ia berpikir tentang bagaimana caranya melamar Devina.
"Bagaimana caranya melamar gadis ya?" gumam Adit "Ah nanya Rey coba, oh iya belum sampe pasti!"
Adit berpikir keras sampai akhirnya ia mendapatkan sebuah ide cemerlang di otaknya.
"Nah gini... Akhirnya gue dapet ide!" ujar Adit
Adit menghubungi seseorang untuk memesan sebuah tempat makan khusus, lalu ia mengirim pesan pada Devina.
Adit
Honey... Besok malam ada acara?
Devina
Nggak honey, kenapa?
Adit
Jalan yuk
Devina
Kemana?
Adit
Rahasia π
Devina
Asal nggak aneh-aneh bisa kok π€
Adit
Ok besok aku jemput! π€
Devina
Kenapa coba?
Adit
Ada deh...
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE π