
"Aku sudah tidak ikut campur dalam hubungan mereka sejak lama, tapi ada kesalahan pahaman yang terjadi diantara kami," jelas Galang
"Salah paham? Salah paham bagaimana?" tanya Silvy meminta penjelasan
"Adit mengira kalau Devina berselingkuh denganku," jawab Galang
"Hah?"
"Ya begitulah, lalu Devina marah dan mereka bertengkar. Aku menjelaskan semuanya pada Adit, tapi tidak dengan rencana papa. Akhirnya Adit tau apa yang dipendam Devina selama ini," jelas Galang
"Ya ampun... Aku kan udah bilang, jangan ikut campur lagi. Kalau sudah seperti ini bagaimana? Bagaimana kalau mereka benar-benar putus?" tanya Silvy kesal
"Tenang saja, kalau mereka benar-benar saling mencintai, maka semua masalah akan terlewati," jawab Galang
"Dengan mudahnya kamu bilang gitu? Cinta nggak bisa di hitung dengan rumus matematika baby! Semua mungkin dalam cinta, mereka masih muda. Bisa saja memiliki pikiran yang berbeda dengan kita," jelas Silvy kesal
"Lalu sekarang harus apa? Adit pasti sedang stress, Devina tidak mau di ganggu, dan aku sendiri terluka. Apakah aku harus bilang 'Dit... Dev... Maaf ini semua rencana papa' gitu?" tanya Galang
"Ya setidaknya pikirkan sesuatu baby! Aku tidak mau kamu menjadi perusak hubungan antara Devina dan Adit," pinta Silvy
"Baik-baik, aku akan pikirkan sesuatu," jawab Galang
"Tapi bukankah kau bilang, kau sudah lama tidak ikut-ikutan hubungan mereka?" tanya Silvy
"Ya... Aku memutuskan untuk angkat tangan tentang hubungan mereka, tapi tiba-tiba Devina curhat padaku tentang semua yang dia rasakan. Tidak bisa membantu, bukan berarti tidak bisa mendengarkan kan?" tanya Galang
"Kenapa dia memilihmu sebagai tempat cerita?" tanya Silvy
"Jika cerita ke ibunya, ia takut tidak direstui. Kakaknya? Ia takut merusak hubungan pertemanan Adit dan kakaknya, dan... Siapa lagi? Dia tidak punya tempat cerita lagi," jawab Galang
"Bukankah dia punya siapa itu... Sepupunya, kakak ipar dan adik kakak iparnya?" tanya Silvy
"Devina tidak ingin membebani mereka semua. Lagipula Devina tidak terbiasa berbagi cerita pribadi pada mereka," jawab Galang
"Kasihan juga sih... Tapi Devina juga salah, siapapun prianya... Kalau melihat pacarnya sering jalan dengan pria lain, meski pria itu adalah kakaknya, dia pasti marah," jawab Silvy
"Entahlah... Dalam keadaan ini, tidak ada yang bisa disalahkan," ujar Galang
"Kamu yang salah! Kenapa harus ikut-ikutan sih!" kesal Silvy sambil memukul-mukul ringan pundak Galang
"Aw... Aw... Aw... Baby, ini muka udah pada bonyok masa mau di tambah sih?" tanya Galang
"Oh sorry... Sini aku obati," pinta Silvy sambil mengobati wajah Galang yang lebam
"Hmm.... Tapi apakah kau tidak cemburu melihatku lebih sering bersama Devina dari pada denganmu?" tanya Galang
"Apa kau bodoh? Jelas aku cemburu, untungnya aku ini pacar yang baik hati, sabar, tidak cemburuan, pengertian, perhatian, dan tidak banyak menuntut," jawab Silvy panjang lebar
"Ish... Apa orang tuamu tidak keberatan kau tinggal di sini bersamaku?" tanya Galang
Silvy mengalungkan kedua tangannya di leher Galang manja.
"Tidak... Mereka malah menyarankan agar kita segera memiliki bayi," goda Silvy usil
"Dasar gadis nakal! Kerja dulu yang benar! Nikah belum, mau punya bayi!" jawab Galang
"Kapan kita menikah? Besok pun aku siap," jawab Silvy
"Kenapa harus buru-buru? Usia kita saja belum ada 25," jawab Galang
Cup...
Silvy mengecup sekilas bibir Galang. Galang hanya menahan sakit di sudut bibirnya.
"Aw..." keluh Galang
"Oww... Sorry, aku lupa!" ujar Silvy
"Sudahlah obati saja aku," jawab Galang
"Ish, mataku ini apa buta? Bagaimana gadis secantik aku menyukai kutu buku sepertimu. Bahkan aku selalu di anggurkan," protes Silvy
"Sudahlah... Aku ini pasien, bagaimana bisa kau marahi?" tanya Galang
"Ah kau selalu membosankan!" cibir Silvy sambil mengobati luka Galang
Silvya O'Conner, seorang putri pengusaha sukses sekaligus DJ di New York yang terkenal akan kecantikan, keseksian tubuhnya dan keindahan musiknya untuk didengar. Silvy menjalin hubungan dengan Galang sejak 3 tahun yang lalu. Pertemuan rumit dengan Galang berujung kisah asmara.
Kehidupan dunia malam dan budaya barat melekat erat pada diri Silvy. Meskipun begitu, Galang tetap menerimanya sepenuh hati dan menahan nafsunya tiap kali Silvy menggodanya. Seringkali Silvy geram karena Galang yang lebih perhatian pada bukunya daripada kepada dirinya, tapi hal tersebut tidak membuat Silvy berniat meninggalkan Galang.
///***///
Beberapa Hari Kemudian
Dalam beberapa hari ini Devina menenangkan diri dan tidak ingin menambah masalahnya lagi. Ia menjauhi Galang dan menghindari Adit. Sesekali Devina keluar jalan-jalan untuk melepas penat.
Devina berjalan di sekitar taman kota untuk mencari hiburan, sesekali ia melihat-lihat bunga yang sedang mekar.
"Ada saatnya bunga mekar dan layu, lalu jika aku ini bunga... Aku di saat apa? Mekar, layu atau bahkan kering?" gumam Devina
"Kak Dev....!!!!"
Devina menengok, mencari siapa yang baru saja memanggilnya dengan keras. Matanya tertuju pada Lily yang ada di seberang jalan. Lily sedang berdiri di trotoar.
"Hai Lily..." sapa Devina sambil melambaikan tangannya
"Kak Dev!" panggil Lily
"Tunggu di situ! Jangan kemana-mana!" teriak Devina
Devina menunggu lampu lalu lintas berganti merah agar ia bisa menyebrang, namun lampu hijau masih menyala, Lily lebih dahulu berlari ke tengah jalan.
"LILY!"
Tiinnnn......
Bruuakk...
Ckitt....
"LILY!!!!"
Devina langsung berlari ke tengah jalan tanpa melihat kendaraan yang masih melintas. Lily tidak papa, ia hanya terjatuh dan sedikit tergores. Namun ada seorang pria yang tertabrak mobil untuk menyelamatkan Lily.
Devina langsung berlari menuju Lily, ia melihat pria yang tertabrak itu lalu membalikkan tubuhnya.
"Kak Galang!!!" teriak Devina histeris
Devina langsung berteriak meminta tolong, sementara beberapa orang langsung mengerumuni mereka untuk memindahkan Galang ke pinggir jalan. Pengemudi yang menabrak Galang pun ikut turun membantu.
"Mbak... Ayo di masukkan ke mobil saya saja! Ayo segera ke rumah sakit!"
"Hiks iya..."
Devina langsung menggendong Lily masuk ke mobil, beberapa orang juga memasukkan Galang ke dalam mobil.
///***///
Di Rumah Sakit
Devina panik sendiri, Lily menangis ketakutan. Devina menyalakan ponsel Galang, untungnya ponsel Galang tidak di sandi. Ia langsung melihat nomor siapa yang paling sering di hubungi, lalu mengirimkan pesan.
Galang
Halo... Siapapun ini, apa kau dekat dengan Kak Galang?
My Loveđź’–
Iya, ini siapa?
Galang
Tolong segera datang ke rumah sakit kota sekarang! Aku tunggu di IGD
My Loveđź’–
Apa yang terjadi
Hei...!!!
Jawab!
Hei!
Devina juga menelfon Adit, Adit pun langsung bergegas menuju rumah sakit. Devina duduk sambil berusaha menenangkan Lily. Kebetulan Prima sedang lewat, Prima pun menghampiri putrinya yang sedang duduk lemas di ruang tunggu.
"Loh Dev... Kamu ngapain di sini?" bingung Prima
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Baca karya baru saya yuk 🤗
'My Ketos My Husband'
'My CEO: CEO Licikku'