
"Oh iya Aurel kemana? Tadi siang kan nangis terus lari keluar!" ucap Joo
"Apa dia bunuh diri?" tanya Prima
"Jangan-jangan dia mati?" tanya Devan
"Kalo nggak gimana?" tanya Prima
"Bunuh aja, sekalian mumpung disini." ucap Devan
"Hmm bagus juga idenya," ucap Prima
"Fa minggir Fa... Jangan deket-deket sama psikolog," ucap Joo sambil merangkul Zalfa dari samping
"Psikopat woy!" ucap Prima
"Oh salah?" tanya Joo
"Parah," ucap Zalfa
"Coba kamu telfon mas," ucap Prima
Devan bolak-balik menelfon Aurel namun tetap tanpa jawaban.
"Gak di bales," ucap Devan
"Ayo kita cari, setidaknya temukan jasadnya." ucap Prima
"Ayo," jawab Joo
"Aku nggak ikut aku ngantuk plus males," ucap Zalfa
"Ya udah ayo tidur, aku temenin." ucap Joo senang hati
"Jangan nakal, sana bantuin cari." ucap Zalfa sambil menjewer telinga Joo
"Aaahhh aduh aduh aduh iya aku cari," keluh Joo
Mereka bertiga pergi mencari Aurel disekitar rumah, namun tak kunjung bertemu.
///***///
Di Sisi Lain
Di sebuah kursi di taman Aurel menangis sejak siang. Di menangis, diam, ingat pernikahan Devan lalu menangis lagi. Gitu terus sampek sukses.
"Huuu.... Ini udah malem.. hikss aku dimana hiks..." tangis Aurel
Tak ada orang lain yang lewat jalan itu.
"Huaa..... Sudah ditinggal nikah, nggak tau jalan pulang.. Hikss mendingan aku mati saja... Hiks.." tangis Aurel yang semakin keras
Seorang pria yang mendengar Aurel ingin mati langsung mendekat dan menghampiri Aurel.
"Neng.. Neng ngapain disini?" tanya Abi
"Hua...." tangisan Aurel semakin keras
"Loh neng kenapa? Nama saya teh Abi, neng siapa?" tanya Abi
"Hua... Bacot mulu sih dari tadi, nggak tau apa gue lagi sedih.. Hiks.." tangis Aurel
"Euluh-euluh.. Geulis-geulis kok sengit pisan, (Cantik-cantik kok galak banget)" ucap Abi
"Hua... Lo ngomong apa sih gue gak paham! Hiks.." ucap Aurel
Kayaknya bukan orang sini - Batin Abi
"Neng, eneng teh jangan nangis lagi. Mari ikut saya ke rumah pak lurah.." ajak Abi
Yah lebih baik daripada aku mati kelaparan di sini - Batin Aurel
Aurel menurut dan ikut pergi ke rumah lurah desa setempat.
///***///
Rumah Pak Lurah
"Masyaallah, ini teh naon? Naon anjeun lakukeun, naha ceurik siga kieu? ( Masyaallah, ini kenapa? Apa yang kamu lakukan, kenapa menangis seperti ini?)" tanya Pak Lurah
"Jangan salah paham dulu pak, Abi teh ketemu sama neng geulis ini duduk di taman nangis sendiri an. Daripada kenapa-kenapa mending Abi ajak kesini," jelas Abi
"Oh gitu, neng... Neng namanya siapa?" tanya Pak Lurah
"Aurel.." ucap Aurel
"Dari mana?" tanya Pak Lurah
"Jakarta," ucap Aurel
"Trus ini kenapa? Ada apa?" tanya Pak Lurah
"Nggak tau jalan pulang, aku nggak tau kak Devan dimana?" tanya Aurel
Devan? Jangan-jangan teh Devannya kek Agung. Ah mana mungkin dia kesini - Batin Abi
"Kamu tau nama keluarganya yang disini?" tanya Pak Lurah
"Nggak," jawab Aurel
"Apa Devannya kek Agung? Yang dari Jakarta. Neneknya duduk di kursi roda?" tanya Abi
"Iya itu," jawab Aurel
"Ya sudah, kamu antar ya Bi sama titip salam buat Devan." ucap Pak Lurah
"Iya pak," ucap Abi
"Kang... Ini teh saha? Teras angkat kamana?" ( Kak.... Ini siapa? Trus mau kemana?" tanya Putri
"Ini teh keluarga Devan, akang mau anter balik." ucap Abi
"Iya," jawab Abi
"Putri teh ikut," ucap Putri
"Ya udah ayo, Aurel... Ini teh adik saya namanya Putri," ucap Abi
Aurel hanya memandang Putri dari atas sampai bawah.
"Oh," jawab Aurel
"Mari," ucap Abi
Abi mengantarkan Aurel sampai rumah kakek dan nenek Devan. Terlihat Devan dan Prima sedang menunggu Aurel didepan rumah.
"Kak Devan..." panggil Aurel
"Aurel, kamu kemana aja sih? Kalo tau kamu ngerepotin kayak gini, aku bakal tinggalin kamu disini!" ancam Devan
"Ja jangan kak, tadi cuma jalan terus ketemu Abi." ucap Aurel
"Abi?" tanya Devan
"Devan?" tanya Abi
"Euluh-euluh, sudah tambah ganteng sekarang!" ucap Abi
"Kamu gimana kabar?" tanya Devan
"Baik," ucap Abi
Abi dan Devan berpelukan dihadapan semua orang.
"Kang Devan..." panggil Putri yang berlari lalu memeluk Devan
Aurel dan Prima terbelalak melihat tingkah Putri.
"Putri teh kangeenn pisan sama akang," ucap Putri
"Put apa-apaan sih kamu." ucap Devan melepaskan pelukan Putri
"Abi, ini Prima istriku dan ini Aurel adik sepupu ku," ucap Devan
"Wuah, geulis pisan pamajikan anjeun (Wuah, cantik sekali istri kamu)" ucap Abi
"Prima," ucap Prima sambil berkenalan
"Saya teh Abi, temen Devan waktu kecil." ucap Abi
"Oh," jawab Prima
Mereka berbincang sampai tak terasa kalau sudah larut malam. Maklum teman lama bertemu kembali, apalagi cowok. Karena terlalu malam, Abi dan Putri pamit dulu.
///***///
Pagi Hari
"Pagi hari Prima sudah mandi dan membantu pembantu kakek nenek untuk memasak. Mereka sarapan bersama lalu berbincang karena nanti siang akan pulang. Sedangkan Prima duduk di taman belakang rumah sambil melihat pepohonan yang rimbun. Datang pembantu kakek membawakan secangkir kopi untuk Prima, karena entah kenapa tiba-tiba Prima ingin minum kopi.
"Ieu kopinya teh.." ucap pembantu
"Kopi apa teh mbak?" tanya Prima
"Ini kopi teh," ucap pembantu
"Iya kan saya tanya, ini kopi apa teh?" bingung Prima
"Kopi teh.." jawab pembantu
"Iya, kan saya minta kopi bukan teh." ucap Prima
"Iya ini kopi teh.." ucap pembantu
"Iya saya tanya, ini kopi apa teh? Yang jelas dong," ucap Prima
"Kan tadi teteh nyuhukeun kopi, ya abdi ngajantenkeun kopi teh.. (Kan tadi mbaknya minta kopi, ya saya buatkan kopi mbak)" jelas pembantu
"Loh saya tanya, ini kopi apa teh?" tanya Prima
"Kopi teh.." ucap pembantu
Untungnya Devan datang dan memberikan penjelasan pada Prima yang benar-benar bingung.
"Ini ada apa?" tanya Devan
Pembantu tadi menjelaskan semua pada Devan dengan bahasa sunda. Devan yang paham langsung menyuruh pembantu tadi kembali masuk.
"Mas aku nggak paham bahasa sini, aneh ngomongnya!" ucap Prima
"Pembantu tadi bilang karena kamu minta kopi ya dia buat kopi. Apanya yang bingung?" tanya Devan
"La bilangnya kopi teh.. Ya aku bingung lah," ucap Prima
"Hahahaha, teh di sini sama seperti mbak atau saudara perempuan di Jakarta." jelas Devan
"Oh gitu," ucap Prima
"Trus kenapa pagi-pagi pengen kopi? Tumben?" tanya Devan
"Nggak tau, cuma lagi pengen aja." ucap Prima
Aurel yang melihat kedekatan Devan dan Prima semakin menggertakkan giginya.
Tak perduli punya istri atau tidak, kak Devan harus jadi milikku - Batin Aurel
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏
Maap kalo ada yang salah, itu semua bahasa Sundanya author googling🙏 Maap ya😂