My Sexy Wife

My Sexy Wife
Duel Memasak



"Terus?"


"Pa! Adit serius!" sentak Adit


"Papa tau,"


"Terus jawaban papa gimana?" tanya Adit


"Papa setuju..."


"Hah? Beneran pa? Ini serius? Bukan mimpi kan?" tanya Adit beruntun


"Kalo kamu mau lanjut S2 di Amerika," sambung Papa Adit


Adit diam sejenak, S2 di Amerika? Adit yakin itu memakan waktu yang lama, LDR selama 2 tahun? Seperti apa nanti nasibnya Adit tanpa Devina.


"Ok! Aku siap, asal papa restuin hubungan aku sama Devina, S2 di Antartika pun aku siap!" jawab Adit


"Di Antartika nggak ada universitas Dit!" jawab Papa Adit


"Oh iya lupa!"


"Jadi kamu siap?" tanya Papa Adit


"Adit siap!" jawab Adit tegas


"Ok.... Kamu tinggal tunggu hari keberangkatan kamu. Papa udah daftarkan kamu ke salah satu universitas di sana," jawab Papa Adit


Secepat itu? Bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Devina? Hubungan kami saja baru membaik - Batin Adit bingung


Papa Adit masuk ke dalam rumah, sementara Adit masih duduk di teras. Menatap satu obyek tanpa berkedip.


Kenapa papa ngotot sekali dengan hubungan kami? Memangnya aku kurang apa? Memang dulu aku sering main cewek, tapi selama ini kan aku nggak pernah pacaran. Dengan Devina itu yang pertama! - Batin Adit


///***///


Beberapa Hari Kemudian


Adit mengajak Devina bertemu di sebuah caffe. Ia menatap Devina tak rela, 2 tahun? 1 minggu saja tidak bertemu sudah kehilangan semangat.


"Mau ngomong apa honey?" tanya Devina


"Aku...."


"Nggak usah sok malu, soalnya kamu lebih sering malu-maluin," sela Devina


Adit menyipitkan matanya, Devina tidak perduli dan hanya sibuk meminum Smoothies Strawberry di depannya.


"Aku harus lanjut S2 ke Amerika," ujar Adit tiba-tiba


Devina berhenti meminum Smoothies nya. Ia menatap Adit dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


"Maaf... Tapi tiap kali liburan aku akan cepat-cepat pulang ke sini!" jawab Adit


"Ini permintaan papa kamu kan?" tanya Devina


"Maaf....."


Devina diam sejenak, wajahnya tanpa ekspresi. Hanya menatap Adit dengan tatapan kosong.


"Tidak apa-apa! Hanya 2 tahun kan? Kamu lulus S2 dan aku lulus S1. Pas sekali kan? Lagian kita bisa VC tiap hari kan?" tanya Devina dengan senyuman manis di wajahnya


"Kau tidak sedih?" tanya Adit yang tidak paham dengan pola pikir Devina


"Semua akan menyedihkan saat kita berpikir bahwa itu menyedihkan, di bawa santai saja. Semua pasti lebih mudah rasanya," jawab Devina enteng


"Terima kasih sudah mengerti posisiku," ujar Adit sambil menggenggam kedua tangan Devina


"Hmm...."


Biarkan ini jadi pengorbananku. Kau sudah banyak berjuang untuk hubungan kita. Cinta tanpa restu? Sebesar apapun cinta itu, hanya lebih mudah untuk mencapai kehancuran - Batin Devina


Devina menguatkan hatinya, ia berusaha membohongi hatinya kalau dirinya baik-baik saja.


///***///


Besoknya


Hari ini Devina menemani Adit keluar untuk mencari beberapa peralatan yang sekiranya ia butuhkan untuk keberangkatannya.


"Kamu beneran nggak papa?" tanya Adit


"I'm okay," jawab Devina


Adit menggenggam tangan Devina sambil berjalan, Devina hanya menikmati setiap momennya.


.


.


.


.


.


Di Sisi Lain


Wildan dan Evelyn saling memandang sinis dan tajam, mereka berdua berdiri di meja yang berbeda posisi berhadapan.


"Baiklah... Karena tadi sudah saya beri tau beberapa resep dan contoh-contohnya, kalian bisa memulainya... Sekarang!"


Evelyn dan Wildan pergi untuk mengikuti kelas memasak, mereka bertanding untuk membuat masakan. Ini inisiatif Evelyn, karena Evelyn dan Wildan sama-sama tidak mengerti sama sekali tentang dapur.


"Nggak bisa! Pasti masakan ku yang paling enak," jawab Wildan


"Kan aku cewek, pasti lebih enak punyaku!" bantah Evelyn


"Cewek? Nggak menjamin!" jawab Wildan


"Lihat aja!"


"Ok!"


Mereka berlatih memasak, padahal mereka sendiri masih bingung mau masak lauk, sayur ataupun dessert.


"Aku masak apaan yah? Resep yang di kasih tau tadi lupa semua," gumam Evelyn


"Aku masak apa? Terus apa gunanya sendok melengkung ini? Dan... Capit, bukankah itu capit untuk mengambil gorengan? Kenapa di sini? Buat apa?" bingung Wildan


Wildan mengambil mixer dan mengamatinya dengan seksama.


"Apakah ini alat pijat? Kenapa ada di dapur?" bingung Wildan sambil mengerutkan keningnya


Evelyn tidak pernah mengerti dapur karena kerjaannya selama ini hanya berpose di depan kamera, sedangkan Wildan kebingungan. Ia lebih paham kegunaan alat-alat medis daripada alat-alat dapur.


"Tuhan... Bantu aku agar masakan ku enak!" gumam Evelyn


"Tuhan... Berikan aku perlindungan agar aku tidak meledakkan dapur ini!" gumam Wildan


.


.


.


60 Menit Kemudian


Entah apa yang dilakukan kedua makhluk itu sampai berkutat dengan alat dapur selama 1 jam.


"Bagaimana... Kalian bisa melakukannya kan?"


"Ya begini adanya..." jawab Wildan


"Milikku pasti enak!" jawab Evelyn percaya diri


"Baik... Waktunya habis! Ayo bawa makanan kalian, biar saya cicipi,"


Wildan membawa sebuah pie susu dan segelas puding buah, sedangkan Evelyn membawa roti goreng dan choco lava.


"Siapa dulu yang dinilai?"


"Dia dulu!" tunjuk Wildan kepada Evelyn


"Baik Velyn... Kemarikan masakan mu,"


Evelyn memberikan choco lava dan roti goreng buatannya. Mentor hanya mencicipi choco lava milik Evelyn dan tidak menyentuh roti goreng nya.


"Hmmm... Ini enak, hanya saja sepertinya terlalu banyak gula hingga terlalu manis. Lain kali kurangi gulanya ok!"


"Siap!"


Evelyn menunjukkan senyum kemenangannya. Mentor ganti mencicipi pudding buah milik Wildan.


"Hmm... Ini sangat enak! Kau benar-benar pintar mengombinasikan buahnya Wildan! Ada rasa manis dari pudding dan asam dari kiwinya,"


"Terima kasih,"


"Jadi enak yang mana?" tanya Evelyn


"Sebenarnya enak semua, tapi kalau suruh milih... Enak punyanya Wildan. Jangan salah paham dulu, punya kamu enak, tapi terlalu banyak gula saja,"


"Hmm... Tidak apa," jawab Evelyn cuek


"Kalian bisa membawa makanan buatan kalian pulang,"


"Makasih mentor..."


"Iya!"


Evelyn dan Wildan pergi dengan paper bag yang berisi makanan buatan mereka. Mereka pergi ke taman untuk menikmati segarnya udara sambil memakan hasil kerja kerasnya. Alias piknik tipis-tipis.


///***///


Di Taman


Wildan dan Evelyn membeli tikar kecil lalu duduk di bawah pohon besar sambil membuka paper bag yang mereka bawa.


"Mana.. Mana..." ucap Evelyn tidak sabar


"Kamu coba buatan aku, aku coba buatan kamu!" ujar Wildan


"Ok!"


Evelyn mulai memakan pie susu buatan Wildan, namun makanannya tertahan di mulut.


"Apa kau memberinya garam?" tanya Evelyn


"Sepertinya,"


"Apa kau tidak memberinya gula?" tanya Evelyn


"Aku kasih! Malah banyak gula halusnya daripada garam," jawab Wildan


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏