
"aku mohon..." pinta Prima memelas
"haih.. baiklah" ucap Devan
"bajuku gimana?" tanya Prima
"biar Tio nanti yang urus" ucap Devan
Devan duduk kembali tegak karena kasihan pada istri kecilnya itu.
"astaga aku baru menyadari kalau kakimu bengkak. Aku kompres ya" ucap Devan
"nggak usah, nggak papa nanti juga kempes sendiri" tolak Prima
Devan sudah keluar untuk mencari es batu meninggalkan Prima didalam kamar.
"haih baiklah, di benar-benar keras kepala" ucap Prima
Tak lama Devan kembali dengan membawa sebuah handuk kecil dan mangkuk berisi es batu. Ia mengambil sebagian es dan membungkusnya dengan handuk dan mengompres kaki Prima.
"aw..." keluh Prima
"oh maaf, sakit ya?" tanya Devan
"nggak papa kok" jawab Prima
Devan kembali mengompres kaki Prima pelan-pelan.
///***///
Malam Hari
Prima tidur di villa Devan. Devan tidur disampingnya tanpa pikir panjang.
Jika dilihat-lihat dia memang tampan, juga tak lagi menyebalkan seperti dulu saat baru mengenalnya - Batin Prima
"hidupmu berkecukupan, keluargamu utuh, semua cinta kau dapatkan. Beruntung sekali dirimu, andai kau setenang ini sejak awal mungkin aku sudah jatuh cinta padamu sejak lama" gumam Prima
Prima tidur disampingnya Devan, mereka tidur saling berhadapan. Setelah Prima cukup pulas, Devan membuka matanya.
"aku akan selalu berusaha memperjuangkan dirimu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, lalu kita akan menjalani kehidupan seperti yang kau inginkan" gumam Devan
///***///
Besok Pagi
Prima membuka mata dan bergegas mandi, sementara Devan masih sibuk menjelajahi dunia mimpinya. Setelah selesai mandi, baru Prima membangunkan Devan.
"mas.. Mas.. Bangun ayo, udah pagi loh" ucap Prima sambil menggoyangkan badan Devan
"hmm...." jawab Devan mengantuk
"ayo bangun, nanti kesiangan. Hari ini itu jadwal penyerahan hadiah, nanti medali aku gimana?" tanya Prima
"hmmm... iya 5 menit lagi" ucap Devan
"nggak bisa, udah sana mandi buruan" kesal Prima
Devan duduk sambil membuka matanya, ia kesal karena dibangunkan Prima secara paksa.
///***///
Di Pertandingan
"mas.." panggil Prima
"hei, gimana kakimu?" tanya Aldo
"udah baikan kok" ucap Prima
Devan menarik badan Prima sedikit mundur dari Aldo.
"om Pram mana?" tanya Prima
"itu apa" ucap Aldo sambil menunjuk Om Pram
"om.." panggil Prima
"hei, gimana kakimu? Baikan kan, pastilah ada suaminya kok" ucap Om Pram
"kok Om Pram tau masalah mas Devan?" kaget Prima
"dia sendiri yang kasih tau kok" ucap Om Pram
Prima melirik datar Devan, tapi Devan bertindak seperti orang tanpa dosa.
"gimana? Puas dua-duanya juara 1 semua" ucap Om Pram
"hehe, tapi aku masih kasihan Om sama si Emy lawan aku kemarin. Tangan kirinya patah, untung bukan tangan kanan" ucap Prima
"terus ini gimana acaranya?" tanya Prima
"ya ini nunggu pembagian medali" ucap Om Pram
"cieee... Mbak Prima bajunya couple an niyee..." ledek teman Prima
"apaan sih kalian, udah sana" malu Prima
Memang Devan dan Prima memakai jaket couple yang dibeli Tio, tapi pastinya Devan yang memintanya. Awalnya Prima menolak, tapi daripada datang tidak pakai baju. Jadi ya Prima pakai saja, toh dia couple sama suaminya bukan suami orang lain. Setelah menunggu akhirnya tiba, Prima dikalungi dengan 2 medali.
Tiba akhirnya pengumuman pesilat terbaik, setiap pemenang pasti naik ke podium bersama keluarga nya.
Inilah pesilat terbaik dari kategori Dewasa putri adalah.... Annisa Prima Chalondra dari Jakarta..
Tepuk tangan meriah menyambut naiknya Prima keatas podium. Prima menyampaikan rasa terima kasih dan beberapa pembukaan.
"rasa terima kasih saya ucapkan pada semua teman yang telah selalu support saya sampai saat ini, saya juga berterima kasih pada pelatih saya yang selalu sabar membimbing saya. Terima kasih terbesar saya ucapkan pada.. Suami saya yang selalu menemani saya dan selalu mendukung saya bahkan dia meninggalkan pekerjaannya demi menyusul saya disini" ucap Prima
"untuk suami pesilat, dimohon naik keatas podium" ucap MC
Tepuk tangan semakin riuh saat Devan naik keatas podium. Banyak yang terpesona melihat paras Devan di atas podium bersama Prima. Tepuk tangan semakin menjadi saat Devan mencium kening Prima. Setelah selesai mereka turun. Prima mendapat 2 medali dan 1 trophy pesilat terbaik.
Aku bangga padamu, istriku - Batin Devan
Semua orang berfoto-foto di gedung tersebut. Tak terkecuali teman-teman Prima.
"Prim foto yuk" ajak Devan
"foto?" tanya Prima
"biar ada kenangan" ucap Devan
"oke ayo" jawab Prima
"aku ikut.." ucap salah teman Prima
"eits mau kemana, ganggu orang lagi mesra-mesraan aja" ucap Om Pram
Aldo mencari latar belakang yang bagus lalu memfoto Prima dan Devan bersama.
1... 2... 3... Cekrek
*anggep aja itu ya man teman
"cieeee...." sorak teman-teman Prima
"apaan sih.." malu Prima
Mereka semua berfoto sampai puas, setelah selesai baru mereka kembali ke mess untuk membereskan alat-alat mereka dan bersiap pulang.
"kali ini liburannya kita ke Pantai Pulau Tidung" ucap Om Pram
"yeeeee......." teriak anak-anak
"asik ke pantai" ucap Prima
"kamu suka pantai?" tanya Devan
"iya aku suka. Menurutku saat aku di pantai, aku merasa lebih tenang dan damai" ucap Prima
Devan membereskan semua barang-barang Prima walau sudah dilarang Prima. Devan kasihan melihat kaki Prima yang masih bengkak. Perjalanan ke Pantai, Devan mengharuskan Prima naik mobilnya akhirnya Prima menurut.
///***///
Di Pantai
Prima berjalan perlahan sambil melihat suasana di pantai, pastinya didampingi Devan.
"waahh.. Bagus sekali pemandangan disini" ucap Prima
"hmm.. Apa kau menyukainya?" tanya Devan
"ya aku suka" jawab Prima
Devan mengode Om Pram, ia mengajak Prima sedikit menjauh dari keramaian saat sunset. Di pinggir pantai Devan memegang tangan Prima.
"Prim.. Aku mau ngomong serius sama kamu" ucap Devan
"iya apa mas?" tanya Prima
Devan berlutut didepan Prima, ia memegang kedua tanya Prima lembut. Sambil berlutut, ia memandang Prima lembut.
"Prim... Selama ini aku baru menyadari sesuatu" ujar Devan