My Sexy Wife

My Sexy Wife
Berat



Mereka berdua di susul Adit pergi ke tempat yang sebelumnya di maksud oleh Joo. Di sana sudah berdiri Joo dan Zalfa.


"Om.. Tante... Evelyn mana?" tanya Wildan


"Evelyn?" tanya Joo


"Iya om, dia di mana?" tanya Wildan


"Emm... Coba kamu lihat ke sana," ujar Joo


"Udah pa," ujar Evelyn yang baru datang


"Lah ini Evelyn, nih... Di cariin Wildan," ucap Joo


"Wildan?" kaget Evelyn


"Velyn..." sapa Wildan


"Kenapa ke sini?" tanya Evelyn bingung


"Itu... Aku mau ngomong sama kamu," pinta Wildan


"Iya, ada apa?" tanya Evelyn


"....."


"Oh ya udah, ayo ke sana dulu," ajak Evelyn sambil menarik tangan Wildan untuk menjauh


Mereka sedikit menjauh dan berbicara secara pribadi, Wildan kebingungan harus mulai dari mana.


"Mau ngomong apa?" tanya Evelyn


"Itu... Anu..." bingung Wildan


"Ya?" tanya Evelyn


"Ka kamu mau ke Prancis?" tanya Wildan


"Hmm..."


"Kamu ngapain ke sana?" tanya Wildan


"Aku ada kontrak di sana, sama mau ikut lanjut sekolah modeling di sana," jelas Evelyn


"Oh... Lama nggak?" tanya Wildan


"Hmm... Kalo cepet ya 1 tahun," jawab Evelyn


"1 tahun?" kaget Wildan


"Iya kenapa?" tanya Evelyn


"Nggak papa, kamu... Kenapa baru kasih tau?" tanya Wildan


"Sebelumnya aku mau ngomong, tapi terus kelupaan," bohong Evelyn


"Oh gitu..."


"Mau ngomong apa lagi?" tanya Evelyn


"Umm.... Itu aja sih," jawab Wildan


"Oh.."


Tampak sebuah raut kekecewaan di wajah cantik Evelyn. Wildan masih gugup harus berkata apa.


"Ya udah... Balik yuk, aku mau siap-siap naik pesawat," ajak Evelyn


"Iya..." jawab Wildan


"Yuk,"


"Iya,"


Evelyn berjalan lebih dahulu, Wildan masih diam di tempat. Ia masih bertengkar dengan dirinya sendiri.


"Lyn..." panggil Wildan


"Ya?" tanya Evelyn yang berhenti berjalan dan menengok


"Aku suka kamu...."


Deg...


Hati Evelyn seperti sedang dijatuhi seribu anak panah secara tiba-tiba. Evelyn masih diam dan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Sorry karena baru bisa ngomong sekarang," ujar Wildan


Evelyn membalikkan seluruh tubuhnya, ia memandang Wildan tak percaya.


Perasaanku terbalas? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Ugh... Otakku kosong tiba-tiba! - Batin Evelyn


"Buat jawaban, aku nggak maksa! Aku bisa kasih kamu waktu sampai kapanpun," ujar Wildan


Evelyn berjalan mendekat ke arah Wildan, ia berjalan maju namun masih bengong tak sadar.


"K ka kamu serius?" tanya Evelyn


"Iya, aku serius!" jawab Wildan


"Eh itu... Kamu... Suka aku karena aku temen kamu kan?" tanya Evelyn


"Nggak! Aku suka kamu sebagai Evelyn, aku menyukaimu sebagai seorang wanita. Bukan sekedar teman," jelas Wildan


"I ini bukan prank kan?" tanya Evelyn memastikan


"Bukan Velyn! Aku serius!" jawab Wildan


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus apa? Harus apa sih? - Batin Evelyn kebingungan


"Perasaan kamu... Gimana?" tanya Wildan


"Aku? Aku...."


Aku apa woy? Ini mulut kenapa tiba-tiba kaku sih? - Batin Evelyn kesal


Ya Tuhan... Setelah ini aku tidak akan menyesal meski di tolak! - Batin Wildan


"Aku... Aku butuh berpikir," jawab Evelyn


"Oh baiklah," jawab Wildan


Ah jawaban apa ini? Bodoh... Bodoh... Bodoh... - Batin Evelyn yang merutuki dirinya sendiri


Kenapa rasanya menjadi canggung tiba-tiba ya? Ini terlalu kaku - Batin Wildan


"Ah ayo kembali, nanti kau bisa ketinggalan pesawat," ujar Wildan


"Oh iya, jawab Evelyn


Wildan berjalan lebih dahulu untuk menutupi raut wajahnya yang sudah hitam putih karena mendapat jawaban yang abu-abu.


Wildan berada beberapa langkah di depan Evelyn. Setelah berpikir keras, Evelyn tau apa yang harusnya ia lakukan.


Sett...


"Jangan pergi... Aku juga suka kamu,"


Degg....


Evelyn berlari menyusul Wildan dan memeluk Wildan dari belakang. Sedangkan Wildan sedang mematung saat di peluk oleh Evelyn.


Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? Aku terlalu senang sampai tak bisa berpikir! - Batin Wildan


Wildan mengendurkan pelukan Evelyn, ia berbalik dan gantian memeluk Evelyn erat.


"Terima kasih sudah memberikan aku jawaban," ujar Wildan


"Hmm...."


Setelah puas berpelukan mereka melepaskan pelukannya dan saling menatap canggung. Evelyn tidak tau harus apa, sedangkan Wildan masih kaku karena ini pertama kalinya ia berpacaran.


"Jadi.... Kita udah pacaran?" tanya Wildan


"Menurut kamu?" tanya Evelyn


"Mmm... Udah," jawab Wildan


.


.


.


"Iya kan, apa aku bilang?"


"Dia emang cocok banget jadi menantu,"


"So sweet deh,"


"Kaki banget! Cium atau apain kek!"


"Ish gereget akutu!"


"Lama banget deh, jangan-jangan nggak jadi pergi?"


"Oh iya, abis ini LDR dong?"


"Yah kasihan,"


Ya, ada Adit, Devina, Zalfa, dan Prima yang sedang mengintip. Sedang Joo dan Devan hanya melihat dengan seperlunya, tidak seperti mereka yang sampai bersembunyi di sela kursi tunggu.


"Udah belum? Velyn suruh buruan berangkat!" sela Joo


"Sabar lah Pa," jawab Zalfa


"Ini pesawatnya 20 menit lagi berangkat!" ujar Joo


"Lah, kok nggak bilang sih? Ah papa!" kesal Zalfa


"Haih... Salah aku lagi," ujar Joo


"Suami emang tempatnya salah, itu pandangan istri," sela Devan


"Udah, ini gimana? Cuma nonton gini doang?" tanya Prima


"Dev... Dit... Samperin sana," ujar Joo


"Siap om!"


Dengan patuh, Adit dan Devina pergi menghampiri Wildan dan Evelyn.


"Lyn.... Katanya suruh siap-siap, bentar lagi pesawat kamu mau berangkat," ujar Devina


"Wah iya! 20 menit lagi lepas landas," kaget Evelyn saat melihat jam di tangannya


"Ya udah sana buruan masuk pesawat," ujar Wildan


Evelyn melihat Wildan dengan ekspresi wajah seperti tidak rela pergi. Sedangkan Wildan hanya cuek sambil bermain hp.


Wildan


Nggak usah khawatir! Setelah ini kita masih bisa video call an kan?


Ow... Romantisnya, ku kira cuek karena tidak perduli. Ternyata... - Batin Evelyn


Evelyn


Tapi kalo kangen gimana? Setelah ini aku nggak bisa balik Indo lagi sampai kontrakku habis


Wildan


Semangat! Inget aja aku masih nunggu, nanti juga cepet kok di sana :)


Evelyn


Tapi nggak rela


Wildan


Udah, demi karir! Kami berjuang di sana, aku berjuang di sini!


Evelyn


Ahhh... Nggak pengen pergi â˜šī¸


Wildan


Semangat sayang 💖


Evelyn senyam-senyum sendiri, Adit dan Devina yang ada di sampingnya pun merasa aneh.


"Kenapa senyam-senyum? Kesambet?" tanya Adit


"No ikut-ikutan!" jawab Evelyn


"Lah, nge-gas dianya," ujar Adit


"Udah yuk buruan ke sana," ajak Devina


"Yuk," jawab Evelyn


Semuanya pun kembali, Evelyn berpamitan dengan semuanya. Ia memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang dan merasa tidak rela meninggalkan tanah kelahirannya.


Dulunya alasan Evelyn mau meniti karier di negeri orang karena Zalfa dan Joo yang selalu di luar negeri untuk tugas, merasa kesepian, akhirnya Evelyn mencoba keberuntungan di Prancis. Namun sekarang beda, sudah banyak hal yang benar-benar bisa membuatnya tidak mau kembali ke Prancis.


Haruskah aku kembali ke Prancis? Hatiku benar-benar berat untuk pergi! - Batin Evelyn


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE 🙏