It Beats For You

It Beats For You
I believe in you



Langkah kami terhenti, Nevan yang berada dihadapanku sedang menatapku sambil menaruh tangannya di pipiku.


"Jovita sayang.. sebanyak-banyaknya godaan nanti yang ada dihadapan aku, tidak akan membuat aku lupa diri, selesai sudah petualangan aku yang dulu pernah aku jalani. Sekarang tinggal menjalani keseriusan aku untuk mengarungi hidup bersama kamu.


Jadi kamu gak perlu cemburu atau apapun itu, kamu percaya sama aku. Itu sudah cukup membuat hubungan kita berjalan baik" Nevan menjelaskan.


"Iya sayang, maafin aku. Mungkin aku terbawa suasana, aku akan belajar lagi lebih sabar" kataku mencoba mengerti.


"Kita belajar sama-sama ya" senyum Nevan.


Aku mengangguk padanya.


"Besok kita ke stadion Anfield Liverpool yah, jadi kita bisa packing barang malam ini, karena kita akan pindah hotel yah" ujar Nevan sambil berjalan menelusuri indahnya malam ini.


"Ow oke.. jadi gak sabar untuk besok.." aku sambil memandangnya.


"Inget yah, biarpun sekarang aku mulai belajar percaya sama kamu. Kita gak perlu ke Paris dan New York, mungkin next time kita bisa kesana. Aku gak mau kamu bertemu atau menghubungi wanita itu lagi" seperti masih memendam kekesalan.


"Tuh kan.. masih aja, terus kita hanya disini aja nih?"


"Iya.. lagipula rencana awal memang kesini, jadi kamu harus kasih tahu seluruh tempat yang harus kita datangi selama disini" aku mendekapnya.


"Baiklah tuan putri, sesuai keinginan kamu" Nevan mengelus rambutku sambil mencium keningku.


Lalu kami kembali kehotel, sesampainya Nevan kembali ke kamarnya dan aku ke kamarku. Ada sedikit pekerjaan yang harus dikerjakan, Nevan yang tak ingin membuatku terganggu.


Selesai aku membersihkan diri, duduk diatas kasur sambil melihat handphone.


Begitu banyak orang yang mengirim pesan padaku, masih tentang diketahui hubungan kami dan segala ucapan selamat untukku juga Nevan.


Aku masih belum membuka semua pesan itu, hanya melihatnya dari pesan yang tampil.


"Aku tak menyangka respon mereka begitu dahsyat seperti ini, kalau ku balas akan tambah panjang keingintahuan mereka, lebih baik aku tidak membukanya sama sekali" gumamku.


Masih memandangin cincin pemberian Nevan yang telah menghiasi jari manis ditangan kiriku.


Entahlah, mengapa aku bisa banyak berbohong pada Nevan yang telah memberikan semua hatinya untukku.


Aku hanya tak menduga akan secepat ini Nevan melamarku, haruskah aku menutup rapat semua yang aku coba tutupi, dan menjadi kebohongan abadiku pada Nevan.


Sambil memainkan handphone yang juga tak tahu sedang melakukan apa, aku tertidur begitu saja.


Jam 6.05 pagi aku terbangun dan teringat akan pindah hotel hari ini. Terburu-buru ku kemas semua barang dan segala oleh-oleh yang sudah kubeli kemarin.


Tok.. tok..


"Itu pasti Nevan" aku segera membukakan pintu.


"Hay.." sapa Nevan dengan barang yang sudah dikemas dikopernya.


"Hay.." cengirku karena belum selesai berkemas.


"Maaf sebentar lagi aku selesai" kataku sambil memasukkan semua barang kekoperku.


"Iya gak apa sayang, santai saja.. baru jam 7 pagi.


Apa mau sarapan dulu" Nevan menarik tangan dan mendekapku.


"Sayang.. aku belum mandi tahu" aku minder.


"Gak masalah buatku, nanti juga kita sama-sama tahu gimana kalau bangun tidur" canda Nevan.


"Ih kamu ya.." aku yang sok memanja.


"Mau aku bantu?" Nevan melihat kebeberapa koper milikku.


"Gak usah sayang, sedikit lagi.."


"Kamu mandi aja dulu, biar ini aku yang bantu"


"Yaampun baik banget sih sayangku ini" aku memujinya.


"Iya dong" Nevan menyenggol hidungku dengan hidungnya.


"Baiklah, tinggal sedikit lagi ya.. aku mandi dulu ya sayang" aku berlari ke toilet dengan terburu-buru.


"Yaampun sayang.." pelan-pelan Nevan membantuku berkemas.


Saat berkemas barang Jovita, Nevan melihat sekotak perhiasan bermerk, tapi tak pernah Nevan melihatnya.