
Aku tiba dikantor dengan membawa koper, karena aku terlalu pagi datang, jadi tidak terlalu menjadi perhatian orang sekitar, lalu ku menaruh koper tepat dibelakang meja kerjaku.
Saat diruangan, aku membereskan beberapa file di meja dan laci ku, agar saat cuti berkas itu tidak berceceran karena semua berkas bisa saja penting semua.
Mengecek beberapa email dan membacanya.
Tak memperhatikan, ternyata kantor ini sudah berdatangan orang yang datang untuk bekerja. Masih bimbang dengan permasalahan sendiri, tapi mencoba menepikan dahulu selama bekerja, karena ini hari terakhir dan aku akan bersenang-senang disana, semoga saja bisa.
Entah aku terlalu fokus ke laptop atau apa, ternyata ada surprise kecil dari semua rekan kerjaku dikantor.
"Happy Birthday to you...
Happy Birthday to you...
Happy Birthday
Happy Birthday
Happy Birthday to you..." Hampir penuh ruangan kerjaku dengan mereka yang mendatangiku dengan beberapa kue ulang tahun sambil menyanyian lagu ulangtahun.
Aww aku tersentuh dan tersanjung dengan hal manis seperti ini, kali ini aku berbahagia menerimanya.
"Thankyou guys... Yaampun kalian ini bikin kaget ajah.." ucapku tersenyum bahagia.
"Happy birthday mbak Jovita, panjang umur.. sehat selalu.. sukses dalam karir dan cintanya yah.." ujar Hifza yang membawakan kue untukku beserta lilin yang
menyala.
"Amin.." ujarku tersenyum.
"Happy birthday mbak Jovita, semoga nanti cepet dilamar ya" ujar Chessy.
"Haha amin.." sambik tersenyum, entah kapan itu akan kejadian padaku.
"Happy birthday mbak Jovita.. tambah cantik dan tambah baik, juga tambah bijaksana ya.. Sesuai umurnya sekarang.. hihi.." ucap adminku Kayla.
"Amin.. makasih ya.. ini kuenya banyak banget sih guys.. lilinnya juga" candaku.
"Haha iya dong.. tiup tiup sebelumnya make a wish ya.." ucap Hifza.
"Oke" aku mencoba make a wish dalam hatiku.
Aku berharap aku bisa lebih baik lagi dalam pekerjaan, kalau bisa dipromosiin naik jabatan.. amin.. hehe.. lalu semoga Nevan bisa memaafkanku jika dia berkenan, tapi kalau bisa harus memaafkanku. Kembali lagi seperti semula, dan aku takkan berbohong lagi padanya dan apapun.
Panjang umur dan sehat selalu.
Amin..
Aku selesai berdoa dan meniup ketiga lilin diatas kue ulang tahun itu, seruangan berseru setelah nya.
"Thankyou.. thankyou ya guys.." ucapku dan memberi cipika cipiki dengan rekan kerja wanita dan bersalaman dengan rekan kerja pria.
kami beberapa kali berfoto dengan beberapa handphone yang ingin mengabadikan moment ini, tidak lupa dengan handphoneku juga.
"Mbak hari ini sudah mulai cuti yah.." ujar Chessy.
"Iya.. jadi kalau ada kerjaan.. mending pending, gue lagi gak mood, gue mau cepet-cepet pulang. Jam lima sore teng pokoknya" jelasku.
"Oke.." ujar Chessy.
Hifza mendorong Chessy.
"Mbak.. aku mau minta maaf" ucap Chessy ragu.
"Minta maaf kenapa?" Tanyaku heran.
"Aku gak tau kalau mbak sama pak Nevan lagi menjalin hubungan.." kata Chessy
Aku sedikit tau arah pembicaraan ini dan menghela nafas.
"Aku.. kemarin pak Nevan bertemu aku dan Hifza dikantin.. nah dia menanyakan sesuatu yang aku jawab dengan tidak memikirkannya" ekspresi Chessy terlihat bersalah.
"Terus.." aku mulai jutek dan Chessy tau soal itu.
"Dia nanya soal pesta itu"
"Gimana coba diulang dia nanya gimana?" Ketusku padanya.
Hifza sudah menduga.
"Dia pas ketemu kita langsung nanya, kita yang datang ke pesta topeng itu bersama mbak.. apa benar mbak bersama dengan seorang pria.. gitu. Lalu langsung kujawab iya..
maaf mbak, abis pesona pak Nevan bikin aku jujur gitu aja.. asli aku benar-benar tidak tahu saat itu, baru sesudahnya Hifza kasih tau aku.
Kalian baik-baik saja kan?" ungkap Chessy.
"Sayangnya kita tidak baik-baik saja Chess.." ujarku bersedih.
"Maaaaaffff ya mbak.. maaf.." sesal Chessy.
"Iya gak apa, lo juga gak salah. Lo jujur, memang itu yang terjadi. Ada yang dia tanyain lagi?"
"Ga.. itu aja. Abis itu dia pergi"
"Owwh.. yaudah gak apa, makasih sudah kasih tau gue"
"Maaf ya mbak, semoga kalian bisa balikan ya"
"Iya gak apa.. sekarang bisa balik kemeja kalian.." ujarku sambil memainkan mouse laptop.
Chessy yang bersalah pergi meninggalkan ruangan, hanya Hifza yang berdiam diri di depanku.
"Lo bisa balik ketempat za, gak apa. Gue baik-baik aja" ujarku tanpa melihatnya.
Aku gak baik-baik saja, aku sedang bersedih, sakit dan menangis.