It Beats For You

It Beats For You
Really need food



Jam 18.30 sore, Alvaro sudah menyiapkan makanan untuk Jovita. Sudah tersedia Nasi, Soto, ayam goreng, Air putih, teh, buah pisang dan apel.


"Ya cukup untuk makan malam ini" setelah mencuci tangan Alvaro mengetuk pintu kamar Jovita.


Tok.. tok..


Alvaro mengintip, melirik apakah Jovita sudah bangun.


"Jovita.. apa kamu sudah bangun?" memanggil pelan sambil berjalan kesisi Jovita.


Ternyata Jovita masih terlelap, sambil menatap Jovita dan membelai rambutnya.


"Aku tahu. mungkin, aku bukan seseorang yang bisa mengambil hatimu. Tapi.. aku tak akan bisa meninggalkanmu disaat kamu membutuhkan seseorang" unar Alvaro lembut sambil menata Jovita yang tertidur.


Jovita bergerak, merubah sedikit posisi tidurnya.


"Jovita.. Jovita.." Alvaro membangunkan Jovita dengan lembut.


Akhirnya Jovita terbangun.


"Iya.." dengan perlahan membuka mata sembabku.


"Makan malam dulu yuk, aku tak ingin kamu tidur dalam keadaan lemas karena belum makan" ajak Alvaro.


"Baiklah" aku mencoba membangkitkan badanku dan Alvaro membantuku.


"Terimakasih"


Kami keluar kamar dan aku melihat beberapa makanan yang sudah disiapkan untukku.


"Ini kamu masak sendiri?" Aku terkejut melihat makanan yang sudah tertata rapi dimeja makan.


"Iya, tadi aku keluar sebentar untuk membeli beberapa bahan makanan dan buah.. yasudah makan yuk" ajak Alvaro.


"Makasih ya, aku jadi gak enak kamu menyiapkan makanan sebanyak ini.." sambil melirik Alvaro dan meminum air putih.


"Dengan menghabiskannya aku sudah senang" dan tersenyum manis padaku.


"Kamu makan juga dong, masa aku makan sendirian" ajak Jovita.


"Kamu makan duluan, aku gampang" Alvaro mempersilahkan.


"Kalau gak mau makan bareng, aku gak mau makan nih" paksaku.


"Yaampun, baiklah.. aku ambil piring dulu" seraya mengambil piring dan gelas berisi air putih.


"Mari makan.. kamu tuh jago masak juga ya?" Ujarku antusias.


"Gak jago sih, cuma beberapa masakan yang mudah saja" Alvaro tersipu malu dipuji Jovita.


"Tapi ini enak loh, wah.. aku terkejut" dan mulai memakan makanan yang lezat ini.


"Baru tahu ya, hehe" candanya.


"Hem.. memang aku sudah lapar, sepertinya aku akan nambah..


Sudah belakangan ini aku tidak makan seperti ini, diet ketat. Aku merasa gendutan.. tenyata aku hamil" aku menggeleng-gelengkan kepala.


"Astaga, untung kamu cepat mengetahui kehamilan ini, kalau gak anakmu makan apa..


Makan yang banyak, janinmu pun juga banyak" ledek Alvaro.


"Aku pasti akan gendut nantinya ya"


"Aku tak tahu kamu akan sebesar apa nanti saat hamil tua"


Kami tertawa saat membayangkannya, suasana makan malam ini membuatku nyaman.


Aku yang belakangan ini menghindari makan nasi, sekarang sudah beberap sendokan nasi yang sudah ada dipiringku karena aku merasakan lapar yang amat sangat. Mungkin efek aku baru mengetahui kehamilan anak kembarku.


"Makan banyak, tapi pelan-pelan saja.. nanti keselek" canda Alvaro.


"Iya, aku merasa makanan ini enak sekali, membuatku ingin cepat menghabiskannya" kataku yang bersemangat.


"Untunglah, Jovita sudah merasa baikan dari sebelumnya" batin Alvaro yang melihat Jovita makan dengan lahapnya.


"Kamu juga makan ya, jangan aku saja" sahutku.


"Aku sudah habis makannya sebelum kamu menambah nasi beberapa kali" ledek Alvaro.


"Haha baiklah, aku sungguh kelaparan sekarang.." seakan tak mengenal jaim aku terus saja menikmati makanan ini.


"Jangan lupa minum dulu, astaga aku benar-benar baru melihat ibu hamil makan banyak dan begitu bersemangat seperti ini" Alvaro tersenyum.


Aku tertawa pelan. Selesai makan, aku mengambil buah pisang dan memakannya. Lalu duduk disofa depan televisi.


"Aku mau apel.." pinta Jovita dengan manja, padahal baru saja menghabiskan satu buah pisang.


"Iya.." Alvaro yang duduk disebelahnya mengambil apel yang ada dimeja makan, lalu memberikannya pada Jovita.


"Tapi maunya dikupas.." sambil mengedipkan mata.


"Baiklah, bumil.." Alvaro mencuci tangan dan mengambil pisau yang ada dirak dapur, lalu duduk disamping Jovita sambil memotong buah.


"Besok Jumat, kamu masuk kerja?" tanya Alvaro.


"Masuk.."


"Izin ajalah dulu, kamu belum kuat betul beraktifitas" saran Alvaro yang masih mengupas apel.


"Kamu ya, sehari izin kerja saja tidak mau" ujar Alvaro sedikit jutek.


"Ya mau gimana lagi, sudah tanggung jawabku"


"Tapi sekarang kan kamu hamil, dijaga ya jangan sampai kelelahan. Aku gak mau kamu dan anakmu kenapa-napa" Alvaro sedikit tegas dalam mengatakannya.


"Iya.." aku terus menghabiskan apel yang baru saja dikupas Alvaro.


"Astaga, belum selesai potong apel sudah abis aja dipiring.. mau lagi?"


"Hu'um.." pinta Jovita bermanja.


Alvaro mengambil 3 apel dimeja dan mengupasnya untuk Jovita.


"Lalu bagaimana saat kehamilanmu terlihat membesar, dan pekerjaanmu?


Apa kamu mau menjadi single parent saja tanpa memberitahu mantan tunanganmu?" selidik Alvaro.


"Pikiranku belum sampai kesana, nanti kupikirkan pelan-pelan"


"Apa kamu mau.." Alvaro tidak melanjutkan perkataannya.


"Mau apa?"


"Ah tidak.." Alvaro menggurungkan perkataannya.


Tak menghiraukan maksud Alvaro, Jovita mulai menghabiskan apel dengan perlahan.


"Sudah, aku kekeyangan sekarang" kataku sambil meminum air putih.


"Hampir satu setengah jam kamu makan Jovita, ya kekenyangan dong" ledek Alvaro.


"Biarin" sahutku balas bercanda dengan Alvaro.


"Aku begah banget rasanya" dan menyenderkan kepalaku disofa.


Alvaro mengambil bantal dikamar Jovita dan menaruhnya dibelakang kepalanya.


"Pakai ini biar nyaman" Alvaro masih saja perhatian padaku.


"Makasih yah, hem terasa nyaman sekali"


Kami menonton televisi bersama dan sesekali Alvaro melihat handphone nya.


"Sudah jam 10 malam, kamu tidak pulang?"


"Aku akan menginap disini, malam ini"


"Aku tidak apa-apa, kamu gak perlu khawatir. Aku juga gak mau kamu kelelahan, kamu besok bekerja kan?"


"Iya" masih menatap handphone nya.


"Ada apa, apa ada masalah?"


"Tidak, tidak ada.. hanya mengecek WA saja" ujar Alvaro lalu menutup handphone.


"Kamu mau tidur? sudah malam sekarang"


"20 menit lagi, biar makanan diperutku turun dulu, kamu mau tidur dimana jika menginap disini.. lagipula aku sudah baik-baik saja"


"Sudah, aku tidak akan macam-macam, jadi gak perlu khawatir"


"Macam-macam bagaimana lagi maksudnya" aku melirik tajam kearah Alvaro.


"Nah itu melirik aku maksudnya bagaimana coba"


Aku melemparkan bantal sofa dengannya hanya untuk bercanda, membuat suasana hatiku sedikit terhibur.


"Mulai besok aku akan antar jemput kamu kekantor, hanya untuk tidak membuatmu kelelahan" Alvaro beralasan.


"Kekhawatiran kamu menjadi berlebihan, kalau lelah aku bisa naik transportasi online" sahutku.


"La.. la.. la.. la" Alvaro bersenandung untuk meledek Jovita karena tidak mendengarkannya.


"Astaga, kenapa seketika dia berubah menjadi penyanyi" heran Jovita lalu kekamarnya.


"Yasudah, aku tidur dulu yah.. ini bantal dan selimut, untuk kamu tidur" aku menaruhnya disofa.


"Oke"


"Hari ini saja kamu menginap, besok jangan" kataku memperingatkan.


"La.. la.. la.. la.." Alvaro meledek Jovita lagi.


"Yaampun" aku menggeleng-gelengkan kepala.


Aku memakai selimut, bersiap tidur.


"Makasih yah Alvaro" aku menutup mata karena sudah mengantuk.


🌼


"Jahat banget sih Alvaro, membalas WA ku saja tidak.. sudah berapa minggu dia mendiamkan aku, apa aku harus menemuinya dirumah sakit" ujar Risma sambil menatap handphone menunggi balasan dari Alvaro.


Bersambung..... ✨✨✨