It Beats For You

It Beats For You
You're the only thing I wanna touch



Aku terjaga dari mimpi buruk akibat kegelisahanku pada Alvaro, menjadikan seisi pikiranku penuh gundah tentang Alvaro.


Ini sudah jam 5 subuh dini hari, aku membangunkan Nevan dari tidur lelapnya.


"Maaf sayang, aku jadi menggangu tidurmu" ucapku pada Nevan dan aku sudah terduduk diatas kasur karena mimpi buruk ku tadi.


"Tidak apa sayang, itu hanya nightmare saja" Nevan ikut bangun dan memeluk, mencoba untuk menenangkanku.


"Iya, aku juga tidak tahu karena aku jarang bermimpi buruk seperti ini" ucapku yang masih terbata-bata.


"Apa kamu sedang banyak pikiran" tanya Nevan.


"Entahlah, sepertinya tidak" jawabku berbohong.


"Sudahlah, itu hanya bunga mimpi saja, tak usah dihiraukan. Kamu bermimpi tentang apa jika aku boleh tahu" kata Nevan.


"Aku.. aku kehilangan kucingku" alasan-alasanku yang tak masuk akal lainnya.


"Kamu punya peliharaan?" tanya Nevan lagi.


"Dulu, sebelum aku tinggal diapartemen. Karena tidak mudah bagiku untuk merawatnya disaat aku tinggal sendiri dan bekerja" jawabku kali ini jujur.


"Lalu dimana sekarang kucingmu" dengan cepat Nevan menjilati pipiku layaknya kucing yang sedang ingin dimanja.


"Haha.. kamu bukan kucing sayang" ujarku sambil tertawa geli dengan tingkah Nevan yang baru ini padaku.


"Untunglah, aku bukan kamu anggap kucing, lalu apa?"


"Pacarku dong.." ujarku yang masih tertawa pelan.


"Hah masih pacar?, Aku saja sudah menganggap mu tunangan ku" ucap Nevan.


"Haha iya sayang, tapi kan kita belum bertunangan"


"Tinggal tunggu waktu saja sayang"


Aku sudah terbaring dibawah Nevan yang telah berada diatasku.


"Sayang, aku baru bangun dan belum mandi" ujarku pada Nevan, karena kutahu apa yang akan Nevan lakukan.


"Aku gak sengaja sayang" aku masih tertawa dengan jilatan Nevan di wajahku yang membuat tergelitik.


Benar saja, Nevan langsung menciumku dengan bergairah, padahal kami baru saja membuka mata.


Astaga ini pertama kalinya aku melakukan ini dengan orang lain selain Alvaro, sekian lama dari beberapa tahun belakangan ini, aku baru menyentuh dan disentuh pria lain, yang kini sudah mantap untukku jalani dengan Nevan selamanya.


Disela Nevan menciumku, aku mengambil nafas sambil berkata.


"Sayang, nanti kita keterusan" ujarku mengingatkan.


"Its okay, aku akan terima apapun kamu, mulai dari sekarang kamulah masa depanku" ungkap Nevan dengan tulus.


"Kita belum resmi menikah, nanti jika aku hamil bagaimana" ujarku sedikit resah.


"Ya aku bahagia, kita percepat juga tidak masalah bagiku" kata Nevan.


"Kamu sungguh menginginkannya?" tanyaku.


"Hu'um" ujar Nevan dengan tatapan manja.


"Bagaimana kalau kita hanya bermesraan dulu saja, itu lebih baik untuk sekarang" aku bernegosiasi.


"Gak mau ah" Nevan tetap saja mencium dan meraba tubuhku dengan sentuhan lembutnya.


Tangan Nevan melaju perlahan dari arah kaki hingga pahaku, astaga ini lebih memancing hasratku ketimbang bersama Alvaro.


Benarkah? Mengapa aku terus membanding-bandingkan mereka, baiklah tetap fokus pada Nevan ya Jovita.


Aku ikut meraba tubuh dan punggung Nevan hingga menyingkap piyama yang ia pakai. Tak lama Nevan melepaskan piyamanya dan kini bertelanjang dada.


Ku menggigit bibirku, saat melihat tubuh Nevan yang tak memakai baju.


Omg.. tubuhnya begitu terawat sekali mirip dengan Alvaro, tapi hanya saja kulitnya yang lebih putih, membuatku makin terpesona dan mengundang gairahku.


Nevan terus menghujaniku dengan ciuman yang begitu bergairah, membuatku ingin menyatu dengannya. Yaampun begitu goyahnya aku didepan Nevan, hingga tak mampu menolak, berbeda saat dengan Alvaro. Aku begitu berprinsip untuk tidak melakukannya, atau karena saat itu aku sedang dalam situasi mendua, mungkin jika tidak ada Nevan. Aku bisa saja melakukannya bersama Alvaro.