
Seketika hening mendengar ucapan dari mantan Bos ku yang baru saja bertemu setelah hampir 2 tahun lost contact.
"Maaf Jovita, apakah aku lancang? Apa ada perkataanku yang menyinggungmu?" Kulihat dari raut wajahnya dia khawatir melihat reaksiku yang terdiam.
"Ya apa bapak bercanda?"
"Kenapa kamu berpikir ini bercanda, aku pikir kita sudah tidak muda lagi. Aku sudah mengenalmu, walaupun waktu itu sebatas teman kerja. Kamupun begitu. Kebetulan aku mencari istri untuk mendampingiku selamanya"
Tawaran yang sangat mengejutkan tertuju untukku, hatiku bergetar mendengarnya. Apakah ini mimpi atau khayalanku saja. Tapi ini tidak mungkin, beliau dengan jelas mengatakannya padaku.
"Keluargaku mengajakku untuk Ta'aruf dengan wanita yang belum aku jumpa maupun aku kenal. Aku belum bersedia untuk itu, aku lebih prioritaskan pada orang yang mengenalku. Keinginanku serius, tapi tidak perlu khawatir, kamu tidak perlu menjawab sekarang.
Beri aku waktu untuk kita saling mengenal kembali. Jika kamu mengizinkan"
"Hmm a..a..aku mengijinkan bapak" jawabku menyetujuinya.
Duaaar!!
Hatiku meledak-ledak saat ini, apa yang ada dipikiranku. Aku baru saja balikan dengan Alvaro. Sekarang malah mengijinkan mantan Bos ku untuk saling mengenal kearah sebagai istrinya.
Apa yang akan kukatakan pada Alvaro. Belum lagi aku akan keluar negeri bersama Alvaro.
Rumit!
Seperti tidak berbasa-basi pak Nevan memberitahu soal dirinya. Bagaimana sifatnya, bagaimana ia bekerja, bagaimana dia bersosialisasi, bagaimana dia mandiri dengan semua yang ia lakukan hingga saat ini.
Ku mendengarkan baik-baik. Seakan aku sangat tertarik untuk mengetahuinya. Dia dari keluarga yang harmonis, berperilaku santun mungkin sesuai dengan orangtuanya ajarkan.
Seakan tak ada yang menarik dalam diriku masih menjadi wanita biasa saja maka dari itu aku tidak menceritakan apa-apa. Hanya fokus dalam pembicaraan tentang dirinya.
"Jika kamu mengizinkan, beri aku satu minggu untuk kita saling kenal. Jika kamu bersedia aku bisa mengajakmu menikah"
What???
Satu minggu saling kenal, lalu ngajak menikah. Astaga ini terlalu mepet bagiku untuk memilih siapa yang akan menjadi pendampingku. Dua pria yang seakan secepat kilat bertemu dan mengajakku kearah yang serius. Sedangkan aku seakan mempermainkan mereka.
"Apakah tidak terlalu cepat"
"Apakah ada yang menjadi kendala bagi kamu?" Tanyanya pelan.
"Ah tidak, maksud saya. Hem bagaimana dengan keluarga bapak nantinya"
"Oh ya, semoga aku terbiasa memanggil nama itu"
"Iya, aku lebih senang mendengar kamu memanggilku seperti itu.
Untuk keluargaku, mereka memberikan sepenuhnya pilihan padaku. Aku tidak pernah bicara seperti ini pada wanita lain. Baru sama kamu"
Nyesss
Hati ini meleleh mendengarnya.
"Aku gak masalah untuk keinginan kamu mengenalku lebih jauh. Tapi minggu depan aku akan ke Inggris. Karena sudah ku rencanakan dari sebulan lalu.
Apakah tidak apa-apa?"
"Oh ya. Baiklah karena kitapun bertemu dalam kebetulan. Aku akan memberikan kamu waktu lagi.
Berapa lama kamu disana?"
"Kita-kira dua minggu"
"Dengan siapa" tanyanya lagi
"Temanku" jawabku sengaja berbohong. Astaga. Aku goyah dihadapkan dengan pria yang menawan seperti ini.
"Baiklah jika itu keadaanya. Boleh aku minta nomor pribadimu"
"Kamu masih memakai nomor yang sama?" tanyaku.
"Sudah tidak, aku menggantinya dengan nomor yang baru" jawab Nevan
"Oh baiklah" aku memberikan nomor ponselku padanya.
Kami benar-benar membicarakan kearah yang serius. Bagaimana ini.
Rasanya aku melakukan hal yang salah, sangat salah.
Apa yang harus aku katakan pada keduanya.
Aku baru saja memulai menjalin hubungan setelah bertahun-tahun menyendiri, langsung dihadapkan dengan hal yang rumit. Sangat rumit bagiku.