
kami sudah didalam pesawat, menunggu penumpang lain yang sedang berjalan beraturan menuju tempat duduk mereka.
Aku dan Nevan sudah dikursi masing-masing dan masih mengobrol romantis dengan Nevan.
Tak berselang lama muncul Alvaro dan Bella yang ternyata duduk sejajar diseberang kami.
Nevan tentu menyapa mereka dengan hangat begitu pula sebaliknya.
Aku hanya berpikir, mengapa kita dipertemukan lagi seperti ini, disaat aku menginginkan kebersamaanku hanya bersama Nevan, tidak terganggu dengan hal lain, karena yang ada dibenakku adalah semua kesalahanku pada dua orang yang menyayangiku.
Nevan masih seperti biasa, hanya sikapku yang sedikit berbeda dan canggung.
Alvaro berusaha bersikap biasa tanpa mempenggaruhi mood karena ada Jovita yang bersama Nevan, disaat mereka sedang perjalanan bulan madu, Alvaro dan Bella yang kebetulan berangkat bersamaan dengan perjalanan mereka.
"Apa kamu baik-baik saja?" Bisik Bella karena Alvaro duduk didekat lorong dan Bella disamping jendela.
"Iya aku baik-baik saja" sambil tersenyum.
"Kuharap perjalanan bersamaku ini menyenangkan" lanjut Bella berbisik.
"Tentu, karena aku yang menginginkan untuk menemanimu.
Maaf ya kalau kamu merasa tidak nyaman" sambil mengelus tangan Bella.
"Aku tidak berpikir seperti itu, by the way hidungmu ada..." Bella mencoba menjahili Alvaro, bermaksud mencairkan suasana.
"Ada apa?" dengan spontan Alvaro memegang hidungnya.
"Apa ada sesuatu?" Sambil membersihkan bagian dihidungnya.
Bella tersenyum jahil.
"Kamu mengerjai aku ya?" Sambil tertawa tipis.
"Wajah kamu tadi terlihat lucu" sambil menahan tawa.
Alvaro pun ikut tertawa dengan tingkah jahil Bella.
Tawa pelan mereka samar-samar terdengar olehku, walaupun tidak menoleh kearah mereka untuk menjaga perasaan Nevan.
"Sayang kamu melamun?" Tanya Nevan.
"Ah tidak, hanya melihat keluar jendela saja" kataku sedikit terbata-bata.
Nevan mengenggam hangat tanganku.
"Entah mengapa hari ini benar-benar berbeda bagiku, merasa lebih bahagia dari sebelumnya.." ujar Nevan sambil mencium tanganku.
Aku bersandar dibahunya.
"Setiap hari bersamamu selalu membuatku bahagia" harum tubuh Nevan selalu menenangkan pikiranku.
š¼
Perjalanan menuju Singapore berjalan lancar, Nevan banyak cerita mengenai pekerjaannya kedepan, tak lupa rencana masa depan kita selanjutnya.
Alvaro menikmati perjalanannya bersama Bella tanpa memikirkan Jovita yang berada diseberang tempat duduknya bersama dengan suami.
Sesampai di Singapore Changi Airport.
Nevan yang bertemu sapa dengan Alvaro dan Bella layaknya seperti teman.
Aku hanya bersikap seolah baik-baik saja dihadapan mereka. Karena kupikir ini seperti tak lazim, bukan seharusnya seperti ini. Tapi kenyataannya kami memang bertemu dengan mereka.
Kami berjalan beberapa langkah didepan Alvaro dan Bella. Semua tampak biasa saja bagi kami yang sudah memiliki pasangan masing-masing.
Tapi tidak dengan Alvaro, walaupun seakan sudah move on, sesekali mata Alvaro mencuri pandang pada Jovita saat Bella tak memperhatikan sikap Alvaro, karena Bella sudah merasa Alvaro kedapatan menatap Jovita saat di pesawat tadi.
Nevan yang berjalan disisiku sambil menggenggam tanganku, baru saja kami selesai di imigrasi. Tak sengaja aku melihat Alvaro yang tertawa pada Bella, tentu aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka tertawa dan terlihat bahagia.
Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Alvaro, tapi aku turut bahagia jika kehadiran Bella membuat Alvaro dapat menghilangkan perasaannya padaku.
Setelah keluar dari bandara kita berpisah, Nevan sudah menyiapkan seseorang untuk menjemput kami menuju hotel.
Sekali lagi Nevan sangat tahu apa yang dibutuhkan, bahkan yang tak terpikirkan olehku.
Kami sampai di Marina Bay Sand Singapore, salah satu Hotel terbaik di Singapore.
Semua tampak baik saat kami Cek-in dan mengambil kunci kamar hotel. Hingga datang seorang wanita cantik yang menghampiri kami.
"Selamat datang..." Sapa wanita itu dengan salam namaste.
"Terimakasih..." Balas dariku dan Nevan secara bersamaan.
"Apa kabar, perkenalkan saya Evelyn"
"Oke"
"Saya akan mengantarkan ke kamar hotel kalian, mari" dengan didampingi oleh bell boy yang membawa koper kami.
"Lama tidak bertemu dan sekarang sudah mempunyai istri" Evelyn membuka obrolan dengan Nevan.
Aku yang mendengarnya menjadi terkejut, siapa dia.. ada hubungan apa dengan Nevan hingga dia bilang lama tidak bertemu. Pikiranku langsung dipenuhi pertanyaan.
"Ah iya, kami disini untuk memulai honeymoon" singkat Nevan tanpa menatap wanita yang ada disisi kirinya, dan aku disisi kanan Nevan yang masih menggenggam tanganku.
"Tentu, tempat ini sangat cocok bagi pengantin baru.. semoga kalian nyaman selama berada disini" ujar Wanita itu yang berhenti didepan kamar kami.
"Ini kuncinya, jika ada sesuatu hubungi saya" dan memberikan kunci pada Nevan.
Tatapannya begitu berbeda saat menatap Nevan, penuh arti dan berbeda saat menatapku.
Setelah menutup pintu Nevan merangkulku dan mencium bibirku.
"Kamu tahu berapa lama aku menahan untuk tidak menciummu dari tadi" ujarnya yang mulai menggodaku.
"Oyah.. tunggu aku mau bertanya?" aku menahan tubuhnya yang sudah didepanku.
Nevan menghentikan ciumannya.
"Apa itu?" heran Nevan.
"Siapa dia?" dengan kening mengernyit, aku bertanya karena sudah tidak sabar mendengar jawaban Nevan.
"Kenalanku" jawab Nevan singkat.
"Dia tahu kita akan kesini?" selidikku.
"Awalnya tidak, setelah aku memberikan undangan pernikahan kita, apa itu membuatmu tidak nyaman?" Nevan kembali bertanya padaku.
Kami masih berdiri didepan pintu.
"Tenang saja siapapun wanita yang mungkin kita akan temui nanti selama perjalanan ini, aku harap kamu jangan berpikir macam-macam ya" ungkap Nevan.
"Apa..? Hm maksud kamu?" keningku masih mengernyit, seakan ada hal yang belum dikatakan Nevan.
Nevan hanya tersenyum.
"Oke.. aku tahu, jujur saja siapa dia?" Memang perasaan wanita tidak bisa dibohongi jika ada sesuatu yang mengganjal.
"Baiklah.. dia mantan teman dekatku" penyataan mengambang dari Nevan.
"Lebih tepatnya mantan pacar?" Selidikku.
"Hem.. ya...aa" dengan terbata-bata.
"Baiklah, aku tahu kamu punya banyak wanita dimasa lalu kamu.. tapi cobalah jujur agar aku tidak berprasangka aneh-aneh" aku mencoba menetralkan perasaanku saat Nevan mengakui hal itu.
"Jangan sampai ya sayang, itu kan masa lalu dan kamu masa depanku.. maksud aku hanya ingin menjaga perasaanmu saja tadi, kalau begini kamu pasti akan cemburu" sambil memasang wajah lugu yang baru saja kulihat dari Nevan.
"Astaga.. aku tidak cemburu" dengan gayaku yang tak mau ketahuan.
"Iya pasti ada perasaan cemburu.." goda Nevan lagi.
"Gak kok.." aku masih mengelak.
"Iya juga gak apa.. itu tandanya kamu cinta aku" Nevan makin menggoda perasaanku.
"Enggak bener" sambil menaruh tas diatas meja dan mencoba menjauh dari pandangan Nevan.
"Jujur aja sih sayang, kalau ada perasaan cemburu" Nevan benar-benar sedang ingin meledekku.
"Ih kamu ya, beneran gak.." aku memalingkan mataku dari pandangannya.
"Serius..?"
"Iya.."
"Kalau nanti dia nyamperin kita, kamu jangan marah ya" sahut Nevan.
"Memangnya untuk apa dia nyamperin kita?"
"Mungkin.."
"Jadi kamu ingin disamperin sama dia?" Lalu aku menyipitkan mataku.
"Haha.. gak gak" Nevan merangkulku dari belakang.
"Yasudah, aku mau mandi dulu ya.." aku berusaha menjauh dari Nevan untuk menutupi perasaanku yang ia ketahui.
"Ikut...." Nevan mengikutiku.
"Karena kamu sudah meledekku, kamu gak boleh ikut" aku menahan Nevan untuk tidak masuk kedalam kamar mandi.
"Ya sayang, kok gitu.. aku kan bercanda" dengan wajah memelas.
"Tetap saja kamu gak boleh ikut.." sebenarnya aku sudah ingin tertawa melihat sikap Nevan seperti itu, tapi aku mencoba bersikap dingin.
"Yah sayang, masa ngambek sih"
"Biarin.."
"Yasudah aku tetap ikut, biar gak ngambek lagi" Nevan menerobos masuk kedalam kamar mandi.
Aku hanya tertawa melihat sikapnya yang tidak seperti biasanya.
Bersambung..... āØāØāØ
**Pengumuman
Maaf atas update episode yang terlalu lama, karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk tetap konsisten dalam membuat episode terbaru.
Tapi penulis masih bersemangat untuk melanjutkan setiap episodenya agar pembaca dapat terhibur.
Untuk itu, penulis berharap pembaca dapat meninggalkan komentar untuk selalu menyemangati penulis dalam membuat episode terbaru.
Itu sangat berarti bagi penulis.
Terimakasih untuk pembaca yang masih setia dalam menanti episode terbaru.
Salam
š„°**