
Kami tak berhenti untuk jalan-jalan selama di Batam. Nevan banyak membelikanku barang-barang bagus tanpa kuminta, rasanya aku tak biasa untuk shopping dengan uang dari kekasihku.
Tapi Nevan memaksa karena dia adalah calon suamiku, jadi aku tak perlu sungkan, karena nantinya Nevan akan menafkahiku sebagai istrinya.
Nevan mengajakku ketempat yang menakjubkan, kami makan malam di kapal pesiar, astaga suasananya begitu romantis dan terlihat indah pemandangan dari sini.
"Sayang, aku sudah menyiapkan siapa saja yang akan menjadi vendor pernikahan kita.." sambung Nevan disela-sela perbincangan ringan sebelumnya.
"Oh yah.. kamu mencarinya sendiri?" Aku terkesan.
"Aku minta tolong sekretarisku memilih yang terbaik dari beberapa pilihan itu.. mungkin minggu depan akan sibuk bagi kita dalam memilih semuanya..." tambah Nevan menjelaskan.
"Hem sayang, apa orangtuamu sudah tau?" selidikku.
"Tentu, aku selalu mengatakan kepada orangtuaku bagaimana hubungan kita, nah bulan depan acara tunangan kita, bulan depannya lagi kita menikah..
Bagaimana?"
Aku makin terkesan, alangkah bahagianya aku dipertemukan seseorang yang mencintaiku seperti Nevan, keseriusannya padaku membuat hati ini berdebar.
"Aku menyukainya.. aku tidak pernah terbayangkan dipertemukan jodoh secepat ini.." aku memeluk Nevan yang berada disampingku.
"Aku yang beruntung mendapatkan kamu untuk jadi istriku.." Nevan mencium keningku.
Suasana ini makin membuat kami terhanyut dalam kebahagiaan yang akan kami arungi bersama.
Kami menikmati makan malam ini dengan nuansa hati yang sedang berbunga-bunga.
Kami selesai makan.
"Sayang, aku ke toilet sebentar yah.." ujarku.
"Oke, aku menelepon rekan kerjaku disini ya.." dan mengambil handphone dimeja.
"Oke.." aku berjalan menuju toilet.
Semua berjalan seperti biasa, setelah selesai, aku mencuci tangan. Tiba-tiba ada seseorang yang mendekatiku.
Dari kaca kumelihat dia adalah Tamara.
"Aku ingin bicara.." katanya sambil berjalan mendekatiku.
Aku hanya menatapnya dari cermin.
"Aku tak heran jika Nevan mempunyai mainan baru.." ketus Tamara yang langsung menyakitiku.
"Maksud kamu..?" tentu aku perlu penjelasan dari kata-katanya itu.
"Mungkin kamu belum tahu, seperti apa pribadi Nevan.. dia sering berganti pasangan, walaupun itu bukan kekasihnya.. pasti kamu belum tahu mengenai ini kan.." ujar Tamara untuk membangkitkan ketidak percayaanku pada Nevan.
"Aku percaya pada Nevan, dia tidak seperti itu.." balasku.
"Coba tanyakan saja kalau tidak percaya, atau... kamu sudah tidur dengannya?
Aku tidak kaget, karena aku juga sudah sering tidur dengannya.. mungkin kamu berpikir kali ini kamu bagai hal terpenting yang begitu diinginkan Nevan, jangan salah.. dia bisa begitu cepat berubah pikiran.." Tamara menatapku dengan tajam.
"Itu hanya omong kosong.." aku tidak percaya apa yang dikatakan Tamara.
"Entahlah, coba saja kamu cari tahu sendiri.. benar aku menginginkan Nevan kembali padaku, mungkin karena saat ini ada mainan baru, dia menjadi tidak tertarik padaku.
Tapi kamu tau, aku memiliki segalanya dari kamu.. yang hanya karyawan biasa..
Orangtuanya menyukaiku lebih dari yang kamu tahu, besok jika kamu datang pada pesta ulang tahun pernikahan mereka.. kamu bisa lihat bagaimana mereka menerimaku begitu hangat..
Kamu bisa lihat, bagaimana masa depan Nevan lebih berarti jika bersamaku.
Walaupun kami pernah putus, tapi kuyakin Nevan akan kembali padaku.." Tamara begitu percaya diri dengan kesombonngannya.
"Maaf, aku benar-benar tidak mengerti..
lihat mungkin kamu juga tahu.. ini cincin tunangan aku dengan Nevan, dan kami sedang membicarakan pernikahan dalam waktu dekat.
Benar kamu mempunyai segalanya dibanding aku, tapi Nevan tak pernah menginginkan kamu lagi dihidupnya, apalagi membicarakan kamu didepanku, sebelum kamu menampakkan diri kemarin..
Kamu begitu percaya diri untuk memiliki Nevan, tapi maaf... Nevan lebih mencintaiku dari apa yang kamu bilang hanya mainan baru..
Mungkin orangtuanya menyukaimu, tapi tidak dengan Nevan.." aku mencoba membalas Tamara sebisaku.
"Kamu pikir, kamu akan bahagia dengan Nevan.. sedangkan orangtuanya lebih memilih menantu sukses dengan banyak bisnis yang kupunya.."
"Bisnis dengan bantuan orangtua lalu menghambur-hamburkannya begitu saja.. mertua mana yang akan bangga?"
Suasana menjadi begitu sengit, saat Tamara dan aku sama-sama gigih dalam memiliki Nevan.
"Aku tak kan mundur, walaupun kamu tunangannya.. aku hanya ingin kamu bersiap-siap untuk ditinggalkan olehnya.." dan tersenyum licik padaku.
"Jangan mimpi terlalu jauh, hanya untuk ambisi yang tak mungkin kamu dapatkan, ternyata.. walaupun kamu mantannya, kamu tidak mengetahui banyak bagaimana karakter Nevan sebenarnya..
atau kamu tidak bisa bagimu memilih lelaki selain Nevan, padahal dengan apa yang kamu punya, pria manapun akan bertekuk lutut padamu, tapi tidak dengan Nevan..
Jadi lebih baik kamu kubur dalam-dalam anganmu untuk menyingkirkan aku dari hidupnya.."
"Cih... Asal kamu tahu kekayaan memiliki banyak kekuatan untuk menang..."
"Mungkin untuk pria lain.." aku tak ingin berdebat yang membuang waktuku disini, aku berjalan pergi meninggalkan Tamara dengan kesombongannya.
"Kamu lihat nanti.. jika orangtuanya lebih memilihku dibanding denganmu.. lebih baik kamu mundur..
Percuma jika kamu menikah dengannya, tapi mereka tentu lebih memilihku.. kamu akan merasa tersisihkan jika ada kehadiranku"
Malas untuk memperpanjang, aku buru-buru melangkahkan kakiku menuju Nevan.
Astaga, Tamara benar-benar menghancurkan mood yang sebelumnya baik-baik saja.
Hati ini ingin marah, menangis dan ingin tahu apakah ada yang benar dari apa yang dikatakan Tamara mengenai Nevan.
Tapi setau aku pernah bekerja dengan Nevan, dia tidak seperti yang Tamara katakan.
Perlahan aku mencoba memperbaiki perasaanku yang sempat terkoyak oleh kata-kata Tamara yang begitu menyakitkan.
"Sayang, sudah malam bagaimana kita pulang ke hotel.." ajak Nevan.
"Baiklah.." kataku sambil tersenyum dan menyimpan apa yang baru saja terjadi.
Setelah membayar kita langsung menuju hotel.
š¼
Alvaro baru saja sampai dirumah dan duduk disofa lalu melihat handphone.
"Begitu banyak Missed call dan WhatsApp dari Risma, aku tidak menyadari ini akan masalah padaku, baiklah.. maafkan aku jika harus melakukan ini.." Alvaro memblokir nomor Risma dan menghapus semua isi WhatsApp darinya.
"Haruskah aku mencari pengganti Jovita sekarang.. lagipula dia merasa sudah bahagia dengan pilihannya, entahlah tiba-tiba aku merasa bodoh saat ini.." dan merebahkan disofa sambil menutup kepalanya dengan bantal sofa.
Bersambung..... āØāØāØ