
Sinar mentari masuk kesela-sela gordyn. Aku terbangun dan kulihat jam sudah pukul 7.05 pagi. Aku melepaskan tangan Nevan perlahan yang merangkul tubuhku, lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dan berpakaian, Nevan belum juga bangun. Aku duduk disofa sambil melihat handphone untuk mengisi waktu.
Tak lama Nevan menggerakkan badannya.
"Kamu sudah bangun sayang.." Nevan melihatku duduk disofa.
"Pagi sayang.." aku menghampiri Nevan dan mencium pipinya.
"Pagi.. kamu sudah mandi.. cepet banget sih sayang.." Nevan menggapai tanganku dan menempatkan aku disisinya.
"Kamu nyenyak sekali tidurnya, aku tak mau kamu terbangun" sambil membelai pipi Nevan.
"Iya mungkin karena kita begadang semalam" dan Nevan menjahili hidungku sambil menyentuh pahaku.
"Hu'um..
Sayang, aku lapar.." ujarku dengan wajah memelas dan memanja.
"Ow baiklah, sayangku.. aku mandi dulu yah..
i love you.." mencium pipiku dan berlalu ke kamar mandi.
Aku bersiap dan berdandan natural, lalu menunggu Nevan selesai.
Nevan baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk hanya dibagian bawah, menampakkan tubuhnya yang atletis membuat hatiku berdebar.
Hanya dengan memakai baju putih polos dan celana jeans, penampilan Nevan begitu memukau.
Kami menuju restoran dihotel ini, tak lupa Nevan selalu menggandengku.
Kami duduk diteras, sambil melihat pemandangan yang indah dari atas sini.
Nevan mengambilkan beberapa makanan untuk kami dan mulai memakannya, aku benar-benar merasakan lapar, tapi tetap makan dengan sedikit jaim hehe..
"Jam berapa kita berangkat ke Batam?" Tanyaku pada Nevan.
"Sekitar 11 siang.." jawab Nevan sambil menikmati makanan.
"Owh.. apa ada pekerjaan kamu disana?"
"Hanya memantau lahan yang akan dibuat mall, ini akan menjadi mall terbesar di Batam.." ungkap Nevan.
"Wow.. itu luar biasa.." aku terkesan.
Tak lama ada seseorang yang datang dari arah belakangku.
"Nevan.." sapa suara wanita.
Seketika kami menoleh kearah wanita tersebut.
"Tamara.." balas Nevan.
"Kamu menginap disini juga..?" Dengan suara yang terdengar terkejut sambil membawa makanan juga jus orange ditangannya
"Iya bersama Jovita.." ujar Nevan.
"Owh iya.. hay.." sapa Tamara padaku dan aku hanya tersenyum.
"Bolehkah aku duduk disini mungkin kita akan mengobrol sebentar.. karena sudah lama tidak bertemu..
Semalam kita tak bisa mengobrol karena terlalu banyak orang" tanpa dipersilahkan Tamara berusaha duduk ditengah kami dan menaruh makanan juga minuman yang ia bawa.
Tanpa terduga, minuman itu tumpah dan mengenai bajuku.
Aku dan Nevan tentu saja terkejut.
"Astaga.. maafkan aku, aku ceroboh.." Tamara terlihat panik karena kelakuannya dan mencoba mencari sesuatu untuk membersihkan bajuku yang kebasahan.
"Tak apa aku bisa sendiri.. aku akan ke toilet untuk membersihkannya.." aku berdiri sambil mengibas-ngibas bajuku.
"Aku antar.." Nevan langsung sigap berdiri.
"Tidak apa, aku bisa sendiri.."
"Iya aku akan antar.." Nevan tetap ingin bersamaku.
"Aduh.. maafkan aku, aku tidak sengaja.." ujar Tamara.
Aku dan Nevan berlalu tanpa menoleh kearah Tamara sambil merangkul pinggangku.
"Nevan..." ujar Tamara pelan.
"Kita kekamar saja, kamu berganti pakaian.." ujar Nevan dengan santai dan menggandengku.
Aku hanya mengikutinya, sesampainya di kamar, aku langsung berganti pakaian. Baju ini begitu basah membuat tidak nyaman ditubuhku.
Kulihat Nevan duduk dikasur sambil menonton televisi.
Aku duduk disofa sambil memperhatikan Nevan yang menatap televisi, entah dia menonton atau sedang berpikir.
"Apa aku boleh bertanya sesuatu tentang Tamara..?" Pintaku.
"Ya.." kata Nevan singkat tanpa menoleh padaku.
"Kalian putus karena apa..?" Selidikku.
"Kami hanya sama-sama egois, tak ada yang mau mengalah.." ungkap Nevan.
"Mengenai apa..?"
"Dia terlalu suka pesta, dan teman lelakinya begitu banyak.. tidak sebanyak teman wanitanya yang hanya beberapa..
Awal memiliki hubungan dengannya, aku masih bisa bersabar.. tapi lama kelamaan aku menyerah..
Dia bilang aku terlalu protektif dan posesif" ungkap Nevan.
"Kamu mengenalnya dari mana?" tanyaku lagi.
"Orangtuaku.. perjodohan yang dilandasi bisnis memang selalu ada sampai kapanpun.." Nevan memberitahu.
"Itu uang orangtuanya..
she wants it she got it.." singkat Nevan.
"Oww.. lalu apakah dia yang menjalani bisnisnya?"
"Dia punya banyak asisten kompeten untuk membantunya dalam menjalankan bisnis.. jadi tidak membuatnya berhenti untuk berpesta hampir setiap hari.."
"Oww.. lalu saat kalian putus dia menerimanya?"
"Tanpa perdulikan apa yang kukatakan, dia hanya bilang oke dan lalu pergi"
"Dan orangtuamu?"
"Awalnya aku diminta bersabar, pernah kulakukan.. tapi aku tidak bisa melanjutkannya lagi apalagi hingga menjadi istriku.. itu akan membuatku dalam masalah.."
"Apa mereka menyetujuinya?"
"Perlu butuh lama untuk menyakinkan keluargaku.. hingga akhirnya mereka menyetujuinya.."
"Hal apa yang membuat mereka menyetujuinya..?" aku terus saja bertanya, kebetulan ini adalah saat yang tepat.
"Aku akan pergi dan meninggalkan semua yang diberikan orangtuaku,
karena aku penerus bisnis keluarga.. akhirnya orangtuaku menyerah dan menyetujui keputusanku.." Nevan masih saja membeku diatas kasur dan menjawab pertanyaanku dengan jelas.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?"
"Dua tahun lebih.. dan itu jarang sekali bertemu, sekalinya bertemu dia mengajakku untuk shopping dan ikut dengannya berpesta..
Aku tak begitu suka keramaian, apalagi pesta dengan teman-temannya dalam pergaulan yang tidak membuatku nyaman.."
"Pasti sulit untukmu bertahan dengannya selama itu.." aku cukup prihatin.
Nevan beranjak dari kasur dan mendekatiku lalu duduk disofa dan mengarahkan tubuhku untuk duduk dipangkuannya.
"Untunglah ada malaikat cantik yang dikirimkan padaku.. yaitu kamu" Nevan memeluk pinggangku.
"Aku tahu pilihanku benar"
"Tapi aku pernah menyakitimu.."
"Setiap manusia akan punya kesalahan, dan aku memaafkannya.. asal kamu jangan mengulanginya lagi"
"Tidak akan.. i love you" kataku.
"I love you Jovita.." sahut Nevan.
Nevan menciumku dan aku tak menolak ciumannya yang selalu aku inginkan.
š¼
Alvaro dan Risma menonton film Terminator: Dark fate, terlihat kaku dan sedikit canggung.
Sesekali Risma menoleh ke Alvaro yang serius dalam menonton. Risma punya rencana untuk menarik perhatian Alvaro.
Risma bersikap kedinginan dan akhirnya Alvaro menoleh pada Risma.
"Kamu kenapa.. apa baik-baik saja?" tanya Alvaro.
"Iya aku tak apa.." sambil mengusap tanganku.
Alvaro memegang tangan Risma.
"Tanganmu dingin.. kamu kedinginan, pakailah jaketku agar hangat" Alvaro memberikan jaket pada Risma.
"Kamu bagaimana..?"
"Aku tidak apa-apa.." dan memakaikan Risma jaket milik Alvaro.
"Terimakasih.." ujar Risma sambil menahan senyum.
Alvaro kembali menonton dan Risma memikirkan sesuatu.
Risma menggenggam tangan Alvaro.
"Ini terasa nyaman.." ujar Risma sambil bersender dibahu Alvaro.
Ternyata Alvaro membelai rambut Risma dan tangannya melingkar didepan Risma.
Kini Risma tersenyum karena keinginanya tercapai.
"Aku selalu ingin seperti ini" ujar Risma berbisik.
Alvaro hanya diam, tak menanggapi. Alvaro hanya bersikap biasa untuk tidak membuat Risma merasa malu jika Alvaro tidak mengindahkannya.
"Apa kamu suka filmnya?" tanya Risma berbisik ditelinga Alvaro.
"Iya" balas singkat Alvaro.
"Tapi aku lebih suka denganmu.." Risma mendekati wajah Alvaro dan memegangnya seperti mengunci Alvaro untuk menatap Risma.
"Risma ini berlebihan.. tolong untuk mengontrol dirimu.." Alvaro mengerti apa yang ingin Risma lakukan.
"Seandainya aku bisa.." Risma mencium bibir Alvaro.
Alvaro terpaksa mengikuti keinginan Risma walau hanya sekejap lalu menghentikan ciuman itu.
"Aku tak nyaman untuk melakukan itu disini.. maafkan aku.." Alvaro menahan tangan Risma yang berada diwajahnya.
Risma kembali duduk dengan posisi yang baik dibangkunya, dan meratapi penolakan Alvaro terhadap Risma.
Alvaro menggenggam tangan kiri Risma.
"Aku lebih suka hanya seperti ini ditempat umum" ujar Alvaro berbisik.
Setidaknya Alvaro masih mau menggenggam tangan Risma dan tidak membuat Risma minder karena hal yang baru saja terjadi.
Bersambung..... āØāØāØ