It Beats For You

It Beats For You
I know that I disappoint you



Aku sampai apartemenku, menjatuhkan badanku disofa, tangisan ini tak dapat berhenti begitu saja. Karena semua bukan salah Nevan sepenuhnya, ini juga kesalahanku.. dan aku menyerah begitu saja tanpa perlawanan ataupun berjuang untuk cinta ini, tidak seperti Nevan yang sebelumnya masih berjuang untukku.


Aku berpikir lebih baik berkorban, agar Nevan bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku, aku mengecewakannya. Aku tahu itu.


Selesai membersihkan diri, aku langsung rebahan dikasur dengan selimut menutupi seluruh tubuhku.


"Baru sebentar saja, aku sudah merindukanmu.." aku menangis tak berkesudahan.


Penyesalan pasti ada, tapi apa boleh buat. Aku berpikir ini jalan yang terbaik untuk kita.


🌼


Alvaro melihat Jovita berjalan ke sisi rumah sakit yang terdapat danau, lalu mengikutinya diam-diam.


"Mau apa Jovita kesana, lalu apa yang dia lakukan dirumah sakit ini.." gumam Alvaro yang masih mengintai Jovita.


Jovita jalan perlahan sambil memandangi danau yang berada didepannya.


"Apa yang sebenarnya dia lakukan.." Alvaro masih menebak-nebak dipikirannya.


Jovita terhenti dipagar, pinggir danau.


"Mungkin dia hanya ingin berdiri disana, baiklah lebih baik aku mendekatinya.." batin Alvaro.


Baru dua langkah, Jovita menjatuhkan diri ke danau dan menenggelamkan tubuhnya disana.


Betapa terkejut Alvaro melihat Jovita menenggelamkan dirinya didepan mata. Dengan sigap Alvaro berlari untuk menyelamatkan Jovita.


Jantung Alvaro berdetak begitu cepat karena khawatir apa yang akan terjadi dengan Jovita saat ini.


Alvaro berenang masuk kedalam danau untuk mengangkat Jovita, tapi karena airnya keruh mata Alvaro tidak dapat langsung melihat keberadaan Jovita. Sesekali Alvaro kepermukaan untuk bernafas dan melihat apakah Jovita ada dipermukaan.


Karena tetap tidak ada, Alvaro mencoba kembali kedalam danau dan terus mencari Jovita.


Gelagapan Alvaro untuk menemukan Jovita, butuh waktu bagi Alvaro berenang dan terus mencari sosok Jovita hingga hampir kedasar danau.


Setelah pencarian 10 menit, akhirnya Alvaro menemukan Jovita dalam keadaan lemas.


Segera Alvaro mengangkat tubuh Jovita kepermukaan dengan hati kacau karena keadaan Jovita yang kritis.


Alvaro merebahkan tubuh Jovita ditanah dan melakukan pertolongan pertama agar dapat menyadarkan Jovita yang tengah tak sadarkan diri.


"Bangun Jovita.. bangun.." sambil melakukan pertolongan pertama yaitu CPR.


Tidak menyerah begitu saja, Alvaro terus mencoba menolong Jovita untuk sadarkan diri.


"Please.. Jovita, apa yang kamu lakukan ini.." Alvaro tak tahan untuk menahan air matanya.


"Aku akan menyelamatkanmu, aku tidak akan membiarkanmu seperti ini..


Kumohon kembalilah Jovita..." Alvaro terus memompa jantung dan memberi nafas buatan berulang kali untuk membuat Jovita tersadar.


Tidak ada perubahan, Alvaro membawa Jovita ke rumah sakit dan berlari sambil menggendong Jovita ke IGD yang tak jauh dari danau.


Jovita langsung ditangani di IGD, Alvaro terlihat gugup karena mengetahui Jovita mencoba bunuh diri di danau itu.


"Apa yang kamu lakukan Jovita, apa yang kamu lakukan..." air mata masih menetes membasahi pipi.


Tiba-tiba Alvaro terbangun dari tidurnya, dengan berurai air mata.


"Apa yang terjadi, mengapa aku tiba-tiba memimpikan Jovita.. Jovita yang ingin bunuh diri..


Pertanda apa dari semua ini?" Merasa ragu, Alvaro mengambil handphone untuk memastikan keadaan Jovita.


Tak berpikir panjang, Alvaro menelepon Jovita. Teringat, Jovita memblokir semua nomor Alvaro yang memang tidak tersambung ke nomor telepon Jovita.


"Jam 11 malam.. aku harus bagaimana, aku merasa khawatir dengannya.." sambil menghapus air mata sisa dari mimpi buruknya.


🌼


Pagi ini aku mencoba tidak cengeng dengan situasi yang sudah aku pilih untuk kehidupanku, berusaha tegar dalam menjalani hari, tanpa berpikir tentang dia.


Semua berjalan lancar, aku bisa menutupi semua yang terjadi. Bahkan saat Hifza dan Chessy bertanya mengenai hubungan aku dan dia, jawabanku hanya tersenyum tanpa kata.


Sesekali ku merasa Risma seperti memperhatikan dan melihat kearahku saat berjalan melewatiku atau didepan ruanganku. Tak seperti biasanya, aku tak mengerti, tapi tak kupikirkan, mungkin hanya perasaanku saja.


Aku tetap bekerja seperti biasanya, sibuk dan tanpa mengenal waktu. Sebelum aku mengorbankan pekerjaan yang terkuras oleh kisah cinta.


Siang hari aku menerima telepon dari Event Organizer yang disebutkan dia sebelum cinta ini kupaksa mati begitu saja.


"Maaf mbak, jangan telepon kesini lagi. Karena hal itu tidak akan terjadi.." aku menutup telepon lalu kembali bekerja tanpa memikirkan lagi mengapa EO itu tetap menghubungiku disaat aku telah berpisah.


🌼


Nevan bermalam dirumah orangtuanya, karena malam itu begitu banyak minum membuat Nevan tak sadarkan diri dikamar.


Tok.. tok..


Suara ketukan pintu yang sedari tadi terdengar untuk membangunkan Nevan.


Dengan tubuh yang terasa berat dan berantakan, Nevan membukakan pintu.


"Astaga.. sayang, kamu kenapa berantakan begini, belum ganti baju dari semalam.." ibu nya terkejut melihat Nevan masih berpakaian kemeja yang sudah terbuka 2 kancingnya dan celana panjang dengan kaos kaki yang masih dipakai dari semalam.


Nevan berbaring lagi dikasur.


"Kamu mabuk, tumben.. sudah lama kamu gak minum alkohol.." ucap ibunya.


"Mama diberitahu kamu disini, sudah lama kamu tidak menginap dirumah.. bagaimana jika kita sarapan dahulu, kamu bekerja agak siangan saja. Karena hari ini kamu terlihat tidak biasanya.." ibu Nevan terus mengoceh mengomentari Nevan.


Tak bergeming, Nevan masih terbaring lemas dikasurnya.


"Kamu mau dibawakan kesini makanannya?" tanya Ibu Nevan.


"Iya.." dengan suara yang masih berat untuk diucapkan.


"Oke.. mama akan kembali membawa sarapan untuk kamu.. lebih baik kamu cuci muka, biar sedikit segaran" lalu meninggalkan kamar Nevan.


Tak lama, mamanya datang dengan beberapa pelayan yang membawa banyak makanan, minuman dan buah.


"Tolong taruh dimeja ya.." pinta ibunya.


"Baik bu.." ujar ketiga pelayan tersebut.


"Sayang, kamu masih tertidur, ayo bangun, mau mama bantu cuci mukanya?" sambil merapikan selimut yang terjatuh dilantai.


"Tidak ma, aku bisa sendiri.."


"Baiklah, nanti mama kembali lagi.. melihat kamu makan"


Selagi ibunya pergi dari kamar, Nevan berusaha bangun dan mandi. Kepalanya masih begitu berat, karena mabuk.


Perlahan kondisi Nevan sudah mulai tersadar dan sedikit demi sedikit mau sarapan.


Ibunya kembali kekamar Nevan.


"Iya" jawab Nevan singkag.


"Kamu tumben mabuk semalam, mama pikir kamu sudah pulang dengan tunanganmu.." ujar ibunya yang belum tahu mengenai hubungan Nevan dan Jovita.


Nevan tak bersuara, masih berusaha mencerna makanan dimulutnya.


"Malam tadi begitu ramai yang datang, mama sampai tak memperhatikan kalian. Ngomong-ngomong Tamara datang, kamu lihat?" Dengan sedikit antusias mengatakannya, dan tak dihiraukan Nevan.


"Sekarang dia sudah punya banyak bisnis, untuk seorang wanita yang masih muda dia cukup sukses yah.."


Nevan membeku saat mendengar ibunya memuji Tamara.


"Dia masih ingat dengan ulang tahun pernikahan mama dan papa, oh.. begitu perhatiannya.." dengan nada suara begitu senang.


"Kamu bertemu dengan Tamara semalam?" sambung Ibu Nevan.


"Iya.."


"Dia makin cantik yah, tapi dia memang selalu cantik dari dulu.." memuji Tamara lagi.


"Mama yang mengundangnya?" Selidik Nevan.


"Ah.. tidak, mama juga terkejut Tamara datang.. tapi mama suka dia datang, begitu banyak hadiah dia bawa malam tadi.." sambil tertawa pelan.


Nevan menggelengkan kepala dan sedikit kesal.


"Hari ini papa kamu ada dikantor, besok dia akan ke Amerika, jadi cepat makannya dan temui papa kamu dikantor yah.." pinta ibunya.


"Memangnya ada apa?" Heran Nevan tak biasanya ibu Nevan berkata seperti itu.


"Tidak.. mama hanya memberitahu saja.. kalau kondisi kamu sudah membaik kamu bisa pergi kekantor, driver kamu sudah menunggu.."


Nevan hanya mengangguk.


"Baiklah, makannya perlahan dan dihabiskan yah.. mama juga ada acara siang ini.. sampai ketemu lagi" mencium kening Nevan lalu keluar dari kamar.


Nevan tak terlalu banyak bicara karena kondisi yang belum stabil.


🌼


Jam 11 siang Nevan baru tiba dikantor dan langsung menemui ayahnya diruang kerja.


"Siang pa.. " sapa Nevan dan duduk disofa.


Ayahnya sedang duduk didekat meja kerja.


"Kamu baru datang?" Tanya ayahnya.


"Iya, semalam aku menginap dirumah.."


"Mama kamu juga sudah kabari papa tadi" mendekati Nevan yang duduk disofa, dan duduk berhadapan.


"Papa mau bahas pekerjaan dengan kamu, papa dengar Tamara mempercayakan kita untuk membangun mall di Batam?" Tanya ayahnya.


"Papa sudah dengar dari dia?" Selidik Nevan.


"Ya.. semalam dia yang katakan itu, dan kamu menolak untuk terjun langsung dalam proyek itu, kenapa?" tanya Ayah Nevan.


"Tidak apa-apa.. Nevan pikir itu dapat di handle oleh Bpk Rahmad" jawab Nevan.


"Dia bilang, karena dia percaya dengan kamu. Makanya dia ingin kamu yang memimpin proyek itu.."


"Sama saja jika dilakukan oleh Bpk. Rahmad" tetap mengelak dengan suara pelan.


"Dia akan membatalkan jika kamu menolak.. ya papa tidak memaksa kamu untuk mengambil pekerjaan ini.


Tapi proyek ini akan menguntungkan hingga 500 milyar" ungkap ayahnya.


Nevan hanya diam.


"Apa karena dia mantan tunangan kamu?" selidik Ayahnya sambil menatap Nevan.


"Entahlah.."


"Hm.. Lalu bagaimana sikap kamu tentang pekerjaan ini, dia akan menunggu jawaban dari pihak kita dalam seminggu. Jika tidak dia akan menunjuk perusahaan lain.."


"Kenapa papa begitu ingin mendapatkan proyek ini?"


"Nevan.. ini bukan seberapa ingin atau tidak nya, tapi semua tetap bisnis.. bisnis yang menguntungkan, siapa yang akan menolak.


Mengapa kamu tidak memandangnya sebagai sesama rekan bisnis?"


"Bukan soal itu pa, aku tahu bagaimana Tamara dan apa yang dia inginkan dibalik proyek ini.."


"Lalu?"


"Pa, aku dan Jovita berniat menikah. Papa juga sudah mengetahuinya kan?"


"Lalu?"


"Tamara mencoba untuk kembali padaku dan merusak hubungan kami"


"Apa yang kamu takutkan, semua ada ditangan kamu, siapa yang akan kamu pilih.. jika kamu memilih Jovita mengapa kamu takutkan mengenai Tamara..?"


"Entahlah pa, ini sulit untuk dijelaskan.." Nevan tak mampu menjelaskan semua dengan rinci apa yang sebenarnya terjadi.


"Baiklah, kita pinggirkan hal pribadi kamu dengan dia, saat ini kamu bisa ambil proyek ini atau tidak?" Ayahnya ingin Nevan mengambil keputusan.


Nevan bingung akan keputusan yang harus dia pilih, sedangkan saat ini Nevan berbicara dengan ayahnya yang Nevan hormati.


"Nevan pikirkan dulu, saat ini belum bisa beri jawaban.."


"Dalam bisnis, keputusan itu hanya dua.. ya atau tidak.." tegas ayah Nevan.


"Jika papa bertanya, tentu jawaban Nevan tidak.. tapi Nevan tahu itu akan jadi masalah karena ini menyangkut keuntungan yang didapat perusahaan.."


"Lalu, jika iya..?"


"Hem.. aku harus mengorbankan perasaan ku dengan Jovita.."


Ayahnya menggelengkan kepala dan menghela nafas.


"Baiklah, jika jawabanmu memang tidak, papa tidak akan memaksa" dan kembali ke kursi kerjanya.


"Pa.." merasa tak enak dengan apa reaksi dari ayahnya.


"Baiklah, Nevan yang menghandle proyek ini" dengan berat hati akhirnya Nevan menyanggupi.


"Jika itu keputusanmu, bersikaplah sebagai profesional" ujar Ayahnya mengingatkan.


"Baik pa.." walau dalam hati tak sesuai dengan ucapan, tapi Nevan memilih menghormati ayahnya.


Bersambung.....✨✨✨