
Keesokan hari, Nevan sudah harus bekerja dengan baik, mencoba merelakan apa yang sudah hilang dan fokus pada pekerjaan karena tidak ingin mengecewakan ayah dan perusahaannya.
Nevan sedang mengerjakan proyek mall milik Tamara di Batam, tentu Tamara berada disana saat Nevan sedang melakukan tahap awal dari pekerjaan ini.
Berbagai cara Tamara untuk mengambil perhatian Nevan.
"Bagaimana jika kita makan siang bersama?" Ajak Tamara dengan godaannya.
"Tentu.." jawab Nevan dengan santai.
"Teman-teman, hari ini kita akan makan siang bersama bu Tamara yah.." teriak Nevan ke beberapa rekan kerja yang bersamanya saat ini.
"Horee.." mereka terlihat begitu senang.
"He.. hee iya, mari kita makan bersama.." ujar Tamara sedikit linglung melihat respon Nevan yang tak diduga.
đź
Aku masih bekerja seperti biasa dan menjalani hari-hariku, mencoba tegar dalam kesakitan dan kebodohanku ini. Jumat malam, aku membereskan ruang kamar tidur yang sudah berantakan karena banyak beberapa barang baru tak tertata dengan rapi.
Kebanyakan barang dari Nevan saat kami berkunjung ke Inggris, dari gaun, pakaian, tas pesta, sepatu, aksesoris, kacamata dan perhiasan.
"Gelang dan anting ini begitu cantik, tapi aku tak sanggup untuk memakainya, dan kalung ini... Hadiah ulangtahunku dari Alvaro.." sejenak aku memandangi kalung itu
"Kuharap dua pria ini akan dimiliki oleh orang yang tepat" seakan aku bukanlah pilihan yang baik untuk mereka.
đź
Sesekali aku mengajak Hifza dan Chessy makan malam bersama, agar aku bisa sedikit merenggangkan kepahitan yang kurasakan.
Walaupun aku mulai mengisi waktu bersama teman, sosok Nevan masih terlintas dibenakku.
Saat santai dirumah, aku meminum jus mangga dan biskuit sambil menonton televisi, channel mengenai berita.
"Oknum perwira militer yang membunuh komandannya dan 20 warga sipil lainnya ditembak mati oleh pihak Kepolisian Thailand..
Pelaku diketahui bernama Sersan Jakkrapanth Thomma. Oknum perwira ini mencuri senjata kelas militer dari markasnya di Nakhon Ratchasima"
Seketika aku mengingat dimana aku dan Nevan pernah terjebak dalam situasi seperti diberita.
"Astaga, ini mengingatkanku tentangnya.." aku mengganti channel lain.
"Penyanyi Agnez Mo akan diabadikan lewat patung lilin di Museum Madame Tussauds Singapura. Agnez Mo mengunggah kabar tersebut lewat akun Instagram miliknya.
Pada postingan video tersebut, Agnez Mo berpose tengah memegang bola mata palsu yang akan dijadikan replika dirinya.."
"Ini juga..." aku mengingat saat aku dan Nevan ke Museum Madame Tussauds di Inggris. Jenuh menonton acara yang membawa kenangan itu kembali kuingat, aku memutuskan untuk tidur.
Merebahkan tubuhku senyaman mungkin, memejamkan mata tapi pikiranku berkecamuk, tiba-tiba aku menangis.
Aku sudah tidak heran jika tiba-tiba aku mengeluarkan air mata, ini sering terjadi jika aku sedang sendiri dan mengingat semua kenangan dengan Nevan.
đź
Hari berganti hari, kesibukan ini cukup membantu diriku melewati hari. Hingga tak terasa hampir dua minggu, semenjak aku dan Nevan berpisah. Syukurlah akhirnya aku cukup kuat hidup tanpa dia.
Hingga pada siang hari saat aku, Hifza dan Chessy makan siang diluar kantor, beberapa kali aku ke toilet, aku merasa sedang tidak enak badan.
"Mbak kamu kenapa, sakit?" Tanya Hifza saat aku kembali ketempat kami duduk direstoran.
"Ah gak, hanya kurang tidur aja semalam.. jadi kayaknya kurang istirahat.." jawabku sambil meminum minumanku.
"Tapi kayaknya muka mbak sedikit pucat loh.. mau ke dokter dulu aja?" Saran Chessy.
"Ah gak apa, aku cuman kurang istirahat sama lagi diet, jadi kelihatan pucat.." ungkapku menenangkan kekhawatiran mereka.
"Baiklah, kita kembali saja kekantor, biar mbak Jovita bisa rehat diruangannya.." ajak Hifza.
"Yaudah yuk, udah selesai juga makannya.." sahut Chessy.
"Baiklah.." aku menyetujuinya.
Kami menuju parkiran basement, baru saja mau membuka pintu mobilku. Aku sedikit mual hingga mengeluarkan suara seperti ingin muntah.
"Mbak.. mbak lo serius gak apa, duh kayaknya gue khawatir deh sama lo.. apa kita antar pulang aja biar lo bisa istirahat diapartemen.. biar sini gue yang nyetir.." Hifza melihatku dengan panik.
Chessy membantuku berdiri, karena aku sedikit sempoyongan.
"Gak apa, karena basement ini begitu pengap, rasanya gak nyaman aja.." aku berpikiran seperti itu.
Hifza dan Chessy saling bertatapan.
"Yaudah mbak, biar mbak Hifza yang nyetir, mbak duduk aja didepan bangku penumpang.. asli mbak makin pucet loh.." Chessy menjadi ikutan panik.
"Oke.. oke, gue terlalu diet ketat belakangan ini" ungkapku.
"Iya.. yaudah mbak duduk dibangku penumpang dulu ya.." Chessy memapahku.
Aku masuk kemobil dan Hifza yang menyetir, Chessy duduk dibangku tengah. Makin lama aku makin merasa mual.
"Duh kayaknya asam lambung deh gue, semenjak diet memang badan gue agak kurang fit.." aku merasakan sedikit lemas.
"Memang udah diet berapa lama mbak?" Tanya Chessy.
"Baru seminggu sih, memang makan gue sedikit gak kekontrol" sahutku.
"Yaudah kita antar ke rumah sakit aja yah.. gue khawatir sumpah mbak.." ujar Hifza yang benar-benar panik.
Aku masih mual, sesekali ingin mengeluarkan muntah didalam mobil.
Hifza dan Chessy makin panik melihat kondisiku.
"Tahan ya mbak, sedikit macet.. maklum jam pulang makan siang.. kita cari rumah sakit terdekat aja yah" Hifza sedikit mengebut.
"Oke, santai aja gue masih bisa nahan.. uuuekk" ini makin membuatku mual.
"Jangan terlalu kencang bawa mobilnya, rasanya jadi eneg banget" kataku.
"Oke.. oke, ini agak gue pelanin, sabar ya mbak gue berusaha cepat sampai" Hifza berusaha tidak membawa mobil dengan ugal-ugalan, karena terbawa panik.
Kami sampai dirumah sakit Jakarta General Hospital.
"Za, Chess kalian balik aja.. hari ini kan ada meeting sama marketing lainnya. Gue gak enak kalau kalian ga datang karena nungguin gue" kataku.
"Tapi bener nih gak apa, gue takut lo pingsan aja mbak.." ujar Hifza.
"Gak apa, kan disini juga ada suster.."
"Oke deh, maaf ya mbak.. kita gak bisa nemenin"
"Iya gak apa, bawa aja mobilnya. Nanti gue naik transportasi online aja.." sambungku.
"Mobil ditinggal dikantor aja mbak?" Tanya Hifza.
"Iya gak apa, besok kan bisa gue bawa. Takut nanti masih mual, gak bisa bawa mobil" ujarku menjelaskan.
"Oh.. oke, kabar-kabari ya kalau ada apa-apa" ujar Chessy dan Hifza.
"Oke, hati-hati dijalan" ucap Hifza.
"Mbak juga yah"
"Oke"
Mereka kembali kekantor dan aku menunggu panggilan setelah tadi sudah mendaftar.
Aku masih sedikit mual, tapi tak separah saat dimobil.
"Cuacanya lagi gak stabil nih, panasnya sampe bikin eneg begini.." gumamku.
Akhirnya giliranku masuk ke ruang dokter penyakit dalam.
"Halo dok.." sapaku dan duduk dikursi berhadapan dengan dokter Halimah.
"Aku gak enak badan, kayaknya asam lambung mungkin ya dok.. belakangan ini juga lagi diet ketat soalnya, apalagi juga kurang istirahat.." ujarku menjelaskan.
"Apa punya penyakit ini sebelumnya?"
"Belum sampai seperti ini sih dok, paling maag tapi gak sering. Hanya sesekali aja.."
"Oke, coba berbaring dulu yah.."
suster mengarahkan ke tempat tidur pemeriksaan.
"Coba kita lihat dari USG ya.." sambil melakukan prosedur biasanya untuk USG perut.
"Oke.. semua normal, gak seperti yang kamu bilang.. apa kamu pernah berhubungan intim sebelumnya?" Tanya dokter itu sambil melihat monitor USG.
Deg!!!
Betapa terkejutnya aku saat dokter mengatakan hal itu.
"I..iiya dok.. maksudnya bagaimana ya?" Kataku heran.
"Saya belum bisa pastikan, tapi mungkin kamu harus ke dokter obgyn dulu, jadi biar lebih jelas memastikan, nanti aku kasih rujukannya ya" dokter menyelesaikan pemeriksaanku.
Aku merapikan pakaian dan duduk lagi didepan dokter Halimah.
"Kalau dilihat tadi, bukan asam lambung yah.." dan memberi surat padaku.
Ini mungkin yang dikatakan, seperti tersambar petir disiang bolong, tentu aku begitu panik jika perkiraan dokter ini benar.
"Baik dok, makasih yah.." ujarku gugup saat menerima surat rujukan ini.
"Sama-sama.."
Lalu aku pergi dari ruangan dokter dan menuju tempat pendaftaran.
Aku terduduk tak percaya, apakah benar ini terjadi. Aku melamun memikirkan apa yang harus aku lakukan saat ini.
Namaku dipanggil dan aku mendaftarkan diri ke Dokter SpOG, kupilih yang perempuan juga, agar aku tidak canggung nantinya.
Saat menunggu, hatiku kalut, aku harus bagaimana jika memang aku hamil. Ini diluar dugaanku, mengapa semua ini terjadi saat aku sudah putus dengannya.
Aku masuk kedalam ruang dokter.
"Halo selamat siang, apa kabar" sapa ramah dokter Bella.
"Ba..baik dok.." sahutku ragu.
"Baiklah, ada keluhan apa?, Ini saya baca dari dokter penyakit dalam yah.. dokter tersebut belum yakin, baiklah coba kita periksa yah" ucap dokter Bella, lalu suster mengarahkan ke tempat tidur pemeriksaan.
"Oke, kita lihat dari luar ya.. sudah berapa lama merasa perbedaan dari sebelumnya?" sambil menggeserkan alat USG diperutku.
"Tidak tau juga dok, saya berpikir hanya asam lambung saja, tapi hari ini lebih terasa dari biasanya" ungkapku.
"Belum begitu jelas yah dari luar, kita coba dari dalam" dokter mempersiapkan alat USG lainnya.
"Apa... Maksudnya dok?" tanyaku heran, karena ini pertama kalinya padaku.
"Iya kita cek dari dalam, karena tidak jelas terlihat, lebih yakin lagi USG lewat ******" dokter sudah mempersiapkan alatnya.
"Oke.. tarik nafas.. buang perlahan, rileks aja yah" dokter memantau layar USG.
"Wah sudah kelihatan nih, ini kamu bisa lihat dilayar" dokter menunjukkan layar televisi USG yang ada diatasku.
Aku melihatnya tapi masih belum paham.
"Nah ini masih berbentuk seperti biji kecil, itu janin namanya, tapi..." Dokter sedikit menggerakkan alat itu kesisi lain.
"Aaww.." aku merasakan ketidaknyamanan alat ini.
"Ini luar biasa..." Dokter terkejut.
"Kenapa dok?" aku mengernyitkan kening.
"Kamu punya janin kembar tiga.." ujar dokter.
"Apa....?!!" aku sunggu terkejut.
Mendengar aku hamil saja, aku sudah sangat panik dan khawatir dan ini dokter bilang kembar tiga.
Ya Tuhan, apa yang sedang kamu anugerahkan padaku. Aku harus bersyukur atau sebaliknya.
Dokter tersebut memberi rincian disetiap pemeriksaan USG tersebut padaku.
"Baiklah, USG nya sudah selesai" dokter mencetak hasil USG tersebut.
Aku merapikan tubuhku, dan duduk didepan dokter secara perlahan.
"Jadi selamat yah, kamu akan menjadi seorang ibu dengan anak kembar tiga, wow itu sangat menakjubkan, kembar dua saja sudah membahagiakan.. ini kembar tiga" dokter Bella sungguh antusias.
Aku tersenyum tak menyangka, bahagia tentu.. tapi aku masih bingung.
"Saya resepkan obat untuk janin yah, kamu tolong jaga diri baik-baik, jangan kelelahan. Karena anak kembar dua, capeknya luar biasa.. bagaimana yang kembar tiga" sambil menuliskan resep.
"Dok.."
"Iya.. ada yang perlu ditanyakan?"
"Hem.. apakah akan sulit untuk hamil, apalagi ini anak kembar tiga?" Tanyaku dengan ragu-ragu.
"Nah di awal kehamilan baiknya kamu menjaga asupan makanan dengan memperbanyak vitamin, mineral hingga kalium.
Juga tekanan darah tinggi bisa terjadi karena meningkatnya tekanan pada plasenta, apalagi untuk bayi kembar.
Bahkan kondisi ini dapat meningkatkan placental abruption sebagai proses pelepasan plasenta dari dinding rahim lebih awal sebelum si calon bayi dilahirkan.Â
Tekanan darah tinggi secara umum bisa terjadi pada ibu hamil, namun hipertensi gestasional risikonya dua kali lebih tinggi terjadi dibandingkan kehamilan tunggal.Â
Jadi baiknya dihindari makanan dengan tinggi garam, gula dan lemak jenuh.
Ibu hamil perlu membutuhkan zat besi atau vitamin B12. Kandungan zat besi bisa dari misalnya brokoli, bayam, buah-buahan hingga daging unggas.Â
Kamu juga perlu perhatikan kalau ibu hamil beresiko Diabetes jadi harus dikontrol juga gula darah yah..
Nah ini kartu nama saya, jika ada apa-apa bisa tanyakan di WA atau telepon jika urgent.
Yang pasti jangan terlalu banyak pikiran, ibu hamil harus happy biar janinnya ikut happy juga.
Jaga kesehatan, istirahat yang cukup, makan dan minum air putih yang teratur.
Jika mengalami tanda-tanda kram, kontraksi, sakit di bagian ****** atau sakit pada bagian pelvic segera ke dokter yah" dokter Bella menjelaskan begitu rinci padaku.
"Jangan takut, hingga nanti anak kamu lahir, kamu akan merasa kebahagiaan tak terhingga" melihat kepanikan diwajahku, dokter Bella mencoba menghibur.
"Iya dok.. makasih banyak ya dok"
"Hati-hati yah, karena sekarang ada 3 calon bayi ditubuhmu"
"Iya dok" aku berdiri perlahan dan keluar pelan-pelan dari ruangan dokter.
Tiba-tiba kakiku lemas, mengetahui aku hamil, aku sempoyongan dan kepalaku menjadi pusing, aku menjadi tak seimbang dan tubuhku roboh.
Seketika seseorang menggapaiku agar tidak terjatuh, aku menengok kearah orang itu.
"Alvaro.." kataku sedikit terkejut.
"Kamu baik-baik saja?, Mari duduk dulu kamu terlihat sedang tidak sehat" Alvaro membantuku duduk di depan ruang dokter.
Ini suatu kebetulan yang sangat dramatis menurutku, bertemu dengan Alvaro dalam kondisi, baru mengetahui kehamilanku.
Bersambung..... â¨â¨â¨