
Sehari sebelum bertemu dengan Jovita.
Alvaro turun kelantai bawah untuk makan malam bersama orangtua dan adik-adiknya.
Suasana berjalan seperti biasa tidak ada yang berubah, semua terlihat ceria begitupun dengan Alvaro.
Tetapi berubah setelah ibunya membuka pembicaraan.
"Jadi.. bagaimana hubungan kamu dengan Jovita?, Kalian ke Inggris bersama kan?" tanya ibu Alvaro.
Deg..!! Alvaro terkejut mendengar pertanyaan itu dari ibunya.
"Hemm.. baik-baik saja ma, semua berjalan baik" Alvaro memberi jawaban yang tabu.
"Bawa dong kesini, waktu itu kenapa tiba-tiba dibatalin.. padahal mama seneng kamu kembali bersama Jovita. Anaknya baik, pekerja keras dan cantik" ibu memini Jovita terlihat beliau menyukainya.
Batin Alvaro berbisik.
"Ya saking pekerja keras hingga dia rela meninggalkanku hanya untuk fokus dikarirnya, dan kini dia kembali pergi untuk menjalin hubungan dengan mantan bos nya"
"Iya ma, Alvaro sudah bilang.. kalau Jovita minta maaf karena malam itu tidak bisa datang.. ada pekerjaan yang harus dilakukan saat itu" berpura-pura tak terjadi apa-apa.
"Iya mama maklum, tapi bagaimana hubungan kalian.. apa kalian gak capek pacaran terus, mau sampai kapan.. lagipula kalian juga sudah cukup dewasa untuk segera menikah, kalian berdua sangat cocok bersama. Untunglah kalian bisa menjalin hubungan kembali" wajah tersenyum itu makin menyayat kenyataan pahit.
"Ma.. jangan dipaksakan, anak muda zaman sekarang beda sama zaman kita dulu.." sahut sang ayah yang berada disamping istrinya.
"Ya.. pah.. namanya juga usaha, siapa tahu Alvaro belum berani mengajak Jovita menikah lantaran masih sibuk bekerja" ujar ibu.
"Alvaro sudah ada rencana kearah sana ma.. tapi masih dibicarakan lagi. Nanti kalau sudah pasti Alvaro akan beritahu mama" Alvaro mulai mengarang cerita.
"Bener yah.. jangan lama-lama, takut nanti dilirik orang" ledek sang ibu
Deg..!! Hati Alvaro menjadi tak karuan mendengar perkataan dari ibunya, apalagi saat ini Alvaro masih menutupi apa yang sebenarnya terjadi antara Alvaro dan Jovita. Karena kini mereka bukan lagi kekasih, yang saat itu hanya bertahan kembali untuk beberapa hari saja.
Selesai makan malam, Alvaro kembali kekamar, mengecek handphone nya dan melihat semua isi gallery handphone.
"Kenapa aku bisa begitu bodoh, mau melepaskan begitu saja Jovita kepada orang lain, kenapa aku hanya berjuang tanpa ada keseriusan untuk tetap mempertahankannya" sambil melihat foto bersama Jovita saat perjalanan ke Inggris.
"Jika aku harus lebih berjuang lagi untuk mendapatkanmu, akan kulakukan walaupun itu akan menyakitimu, aku masih sangat mencintaimu Jovita.. walaupun kamu telah menghianatiku.
Akan kulupakan apa yang kamu lakukan dan akan kulakukan apa yang harus kuperjuangkan" sepertinya Alvaro serius akan sikapnya malam itu, apalagi orangtuanya menyukai sosok Jovita.
Malam itu Alvaro banyak berpikir tentang apa yang ingin dia lakukan nanti, hingga akhirnya tertidur.
๐ผ๐ผ๐ผ
Besoknya Alvaro datang ke apartemen Jovita, tapi belum lama Alvaro datang, Jovita sedang menuju mobilnya. Terlihat akan pergi keluar dan hanya sediri.
Pikiran Alvaro sudah final, dia ingin merusak hubungan Jovita dan Nevan, lalu membuat Jovita kembali padanya.
Sesudah Jovita mengiyakan ajakan Alvaro untuk menghabiskan waktu bersama hari ini, alih-alih hanya untuk hari ini.
Disaat ada kesempatan, Alvaro melancarkan aksinya. Jovita ke toilet tanpa membawa handphone dan dengan cepat mencari nomor WA Nevan yang tersimpan.
Tanpa berlama-lama Alvaro memberitahukan keberadaan Jovita saat ini dengan kata-kata yang membuat Nevan pasti segera datang.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Malam itu Nevan begitu sibuk, karena sedang ada pertemuan makan malam dengan rekan kerjanya. Tapi tiba-tiba ada WA yang menghubungi nomor pribadi Nevan, dari nomor yang tidak dikenal, yang membicarakan Jovita.
Nevan tak mengerti maksud dari WA misterius itu, tapi hatinya begitu risau karena ada yang tidak beres mengenai Jovita.
"Wanita mu kini bersamaku, datang dan lihat sendiri bagaimana dia nyaman bersamaku" isi dari WA misterius itu.
Tanpa pikir panjang, Nevan menyerahkan acara itu ke rekan kerjanya. Tak bisa ditunda lagi, Nevan langsung pergi ketempat WA itu mengirimkan lokasinya.
Nevan terlalu menganggap ini begitu penting, hingga rela meninggalkan pekerjaan yang sedang dia hadiri.
"Pak Harris, tolong cepat.." Nevan sudah diselimuti kegundahan yang hebat, dibenaknya kini telah dirasuki pikiran negatif tentang Jovita.
Sesampainya di cafe tersebut, Nevan menemukan Jovita sedang berdua dengan lelaki yang dia kenal, yang dia tak sukai untuk Jovita masih menemuinya lagi.
Hancur hati Nevan melihat kenyataan yang diluar dugaan ini, entah apa yang terjadi. Tetapi Jovita telah meruntuhkan kepercayaannya.. dan cintanya..
Sambil melihat sekeliling, ada dua meja yang ditempati pengunjung lain.
Karena Nevan akan menjaga sikap walaupun saat ini hatinya terluka.
Memanggil nama Jovita adalah kata-katanya yang terlontar pertama.
Membuat Nevan, Jovita dan Alvaro terpaku satu sama lain.
Jovita yang salah tingkah setelah melihat Nevan datang dan memergokinya sedang bersama Alvaro.
Entah apa yang mereka lakukan, Nevan tidak bisa mentolerir.
Menghampiri Jovita dan mengetahui apa yang terjadi, lalu menggapai handphone Jovita dan membuat Nevan makin cemburu dan hilang akal.
Foto Jovita dan Alvaro berdua saat di Inggris, apa yang mereka lakukan..
Mereka datang bersama dan berpura-pura didepanku. Apa yang sebenarnya terjadi selama ini, Jovita yang kucintai sepenuh hati ternyata menghianatiku, disaat aku sudah memintanya untuk menjadi pasangan hidupku dalam waktu dekat.
Tak bisa berpikir jernih, setidaknya Nevan tidak ingin banyak menarik perhatian pengunjung lain yang berada disana.
Nevan terlanjur mengatakan sesuatu yang membuat hubungannya dengan Jovita selesai sudah.
Seperti tak memberikan kesempatan bagi Jovita untuk menjelaskan, tapi Nevan sudah cukup melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Pergi meninggalkan Jovita bersama lelaki pilihannya, membuat Nevan terpuruk dalam kesedihan.
Tetapi Nevan masih ada tanggung jawab pada pekerjaannya dan memutuskan kembali ke acara, walaupun dengan kondisi hati yang tidak baik.
Terpaksa menampilkan wajah tersenyum walaupun hati sedang tersakiti.
Jovita beberapa kali menelepon, tapi Nevan tak menggubrisnya. WA pun tak ada respon dari Nevan, membuka WA dari Jovita saja Nevan tak ingin.
Hatinya terlalu sakit untuk menerima pembelaan Jovita nantinya.
Malam itu, Nevan akhirnya mematikan handphone nya, jelas untuk menghindari Jovita yang tak putus untuk menghubungi Nevan.
๐ผ๐ผ๐ผ
Aku sudah sampai di apartemenku dengan sisa kesedihanku yang telah tumpah saat perjalanan pulang.
Beberapa kali aku mencoba menelepon Nevan dan tentu tidak ada respon darinya.
Dia mengacuhkanku, pasti Nevan telah berpikir aku menghianatinya. Tapi kali ini, memang tidak ada yang terjadi antara aku dan Alvaro.
Nevan memang berhak mengambil sikap seperti ini karena situasinya memang menjatuhkanku dalam masalah dan keretakan hubungan kami.
Tapi aku tidak ingin kehilangan Nevan, aku mencintainya dengan segala apa yang sudah kita lalui bersama, aku belum mampu untuk kenyataan ini.
Lalu Alvaro.. dia sedang berusaha berjuang untuk membuatku kembali padanya, sedangkan Nevan telah meninggalkanku begitu saja tanpa mendengarkan penjelasan.
Aku harus bagaimana, aku harus berbuat apa, atau aku memang harus menyerah untuk hubungan yang hampir menuju halal ini.
Aku hanya meratapi kenyataan pahit ini sendirian, kesedihan ini telah menguasaiku.
๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ๐ฎ
Hari minggu, Nevan sudah sama sekali tidak dapat dihubungi, atau nomorku sudah dia blokir.
Aku menyerah, aku lelah, aku mencoba untuk pasrah oleh kenyataan ini.
Aku hanya bisa terkapar dikamar, terus meratapi hidupku yang berantakan oleh keegoisanku sendiri.
Aku menerima batu nya saat ini, terasa sakit sekali hingga menyesakkan dada.
Sesekali hanya bisa menangis dengan mata yang sudah bengkak dari semalam.
Besok aku sudah masuk kerja, semua pasti akan bertanya banyak padaku soal hubunganku dengan Nevan.
Yang ternyata telah putus ditengah jalan.
Nasib memang berkata lain, dan kini aku merasa berada dibawah roda yang mungkin tidak bisa membawaku lagi keatas.