
Waktu tak terasa sudah pukul 9.25 malam, pembicaraan kami sangat melelahkan bagiku. Acarapun sudah berganti dengan pendekatan satu sama lain oleh para pengunjung disini.
Alvaro menarik dan menggenggam tanganku menuju bangku sofa yang tersedia, berwarna merah dengan aksen classic berikut mutiara di tiap lekuk desain sofa panjang itu, yang bisa menampung hingga 4 orang, hanya beberapa sofa yang tersedia kurang lebih ada 25 sofa yang tersekat dengan gordyn berkelambu, dan sisanya sudah penuh dengan pengunjung lain. Kulihat ada tulisan di papan VIP, berdiri di tiang besi dan aku kurang tahu maksud tempat ini.
Alvaro dan aku duduk diatas sofa yang berkelambu merah beludru itu.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi disini, aku sudah pusing dengan berbagai pertanyaan Alvaro yang membuatku mengakui semua kesalahan ini, aku tak tahu apa yang ingin dia lakukan padaku sekarang, dengan semua pertanyaan yang selama ini aku sembunyikan darinya.
"Jovita.." panggil Alvaro.
"Ya.." sahutku pasrah untuk yang terjadi selanjutnya.
"Aku takkan menghakimimu lagi, tapi kali ini aku ingin tahu apa yang kamu pikirkan tentang pertemuan kita kembali" tanya Alvaro saat ini mood nya sudah berganti menjadi lebih baik.
"Maksud kamu?"
"Ceritakan, bagaimana kamu bisa menerimaku lagi saat itu dan mulai kapan dan saat kita sedang apa" begitu rinci.
"Untuk apa?"
"Menenangkan pikiranku, kalau aku bukan pria yang tak mampu memilikimu. Aku ingin tahu dan kan kusimpan menjadi kenangan manis untukku nanti" jelas Alvaro.
Aku dipaksa mengeluarkan isi pikiranku terang-terangan padanya. Padahal aku orang yang tertutup soal ini. Aku berpikir sejenak, mungkin ini salah satu sikapku untuk sedikit meringankan beban pikirannya akibat dari kebodohanku.
Kami duduk bersampingan, Alvaro ada diposisi sebelah kiriku.
Ini seperti tak masuk akal, mood Alvaro berubah-ubah saat ini.
"Dari kamu bertemu denganku" ujar Alvaro.
"Saat itu.. aku terkejut bisa bertemu denganmu, diluar dugaan kamu masih baik sama seperti dulu"
"Tentu"
"Yang aku heran kamu masih mengajakku makan siang, entah maksud mu seperti apa. Tapi.. aku suka" ujarku tersenyum.
"Aku sudah lama menunggu moment itu" Alvaro begitu fokus padaku, menatapku begitu dalam.
"Lalu.. dikantor, beberapa rekan kerja melihat kita saat makan siang. Beberapa juga sedikit heboh melihat kita berdua"
"Oh ya, kenapa?" selidik Alvaro.
"Ya.. mungkin setelah sekian lama aku tidak menjalin hubungan dengan pria, mungkin mereka agak aneh melihatnya"
"Tidak perlu merasa seperti itu, lalu"
"Lalu.. kamu meminta untuk singgah di apartemenku, saat mengantarkan ku pulang. Hatiku gugup saat itu"
"Ya.. sedikit. Tapi aku tak mau geer soal itu. Aku hanya berpikir normal begitu saja"
"Oke.. lalu"
"Ya.. itu saja"
"Itu saja?, Lalu saat kita di apartemen mu, apa yang kamu pikirkan" Alvaro makin mendekatiku ingin tahu apa yang kukatakan selanjutnya.
"Maksud kamu saat menciumku" aku menebak maksud pertanyaannya.
"Ya" Alvaro merubah posisi tubuhnya yang mendekatiku.
"Aku yang lama sudah menanti kamu, rasanya sudah haus akan cumbuanmu, ciumanmu dan sentuhanmu" Alvaro mengodaku dengan desahan nafasnya yang berada dekat dengan telingaku, membuatku merasakan sesuatu.
"Tidakkah kamu merasakannya saat itu?" tanya Alvaro.
"Ya.. jujur aku juga merasakannya, tapi aku begitu malu mengakuinya"
"Aku merasakan ciumanmu, sudah menungguku datang menyambutmu" tangan Alvaro sudah meraba halus lengan dan tangan kananku, aku tak tahu tapi aku menikmati sentuhan dan deru nafasnya.
"Malam itu aku sungguh ingin menghabiskannya malam denganmu, ciumanmu membuatku terbuai begitu saja" tangan Alvaro menyentuh wajahku, sentuhannya membuat aku merinding menikmatinya.
"Aku takkan lupa pertemuan kita malam itu, aku merasakan gairah yang sama malam ini" Alvaro mengarahkan wajahku padanya.
Alvaro mendapatiku, menciumku dengan pesonanya dan akupun terlena oleh rayuan itu. Aku ikut membalas ciumannya, astaga aku masih menginginkan ini darinya. Harusnya ini tak boleh terjadi, tapi Alvaro terus saja memainkan cumbuannya yang begitu manis, setiap sentuhan bibirnya kurasakan, semakin kuingin menikmatinya.
Aahh.. apa yang kulakukan, setidaknya ini akan menjadi ciuman terakhir ku dengan Alvaro. Aku tidak bisa menahan maupun menolak rasa ini, aku akan mengikuti apa yang Alvaro lakukan padaku saat ini.
Di sofa yang hanya berkelambu, entah apa orang lain akan melihat kami atau tidak, sementara kita tidak memikirkan itu.
Ciumannya makin menggila seperti biasa, aku memeluknya, menginginkan lebih dekat denganku. Tubuh Alvaro menutupi kami dari pandangan dibelakang kami, semoga tidak banyak yang memperhatikan apa yang kami lakukan saat ini.
"Aku akan mencintaimu sampai aku tak mampu, kamu boleh pergi. Tapi aku akan tetap disini untukmu" ucap Alvaro disela-sela cumbuannya.
Aku sedikit menelan air liur ini mendengarnya.
Aahh harumnya Alvaro membuat aku semakin terbuai dalam hangat setiap ciuman yang ia lakukan.
Aku makin dalam terperosok dalam gairah yang Alvaro kobarkan.
"Alvaro" tak sempat ku berbicara Alvaro terus melancarkan serangannya padaku.
Aku sudah jelas masih mencintai Alvaro, ciumannya ini membuat goyah akan pilihanku. Ciumannya ini tak bisa dibandingkan oleh Nevan, aku menyukainya. Alvaro sangat pandai membuatku jatuh kepelukannya.
"Tell me you love me, If you dont, then lie to me baby. I don’t wanna lose you" bisik Alvaro.