It Beats For You

It Beats For You
Invitation



Nevan mendatangi kamarku, melihatku menutup kepalaku dengan selimut, dengan hati-hati Nevan mendekatiku.


"Sayang, kamu kenapa.. aku banyak salah sama kamu yah, beritahu aku, karena semua ini baru untuk kita.


Biar kamu juga nyaman ngejalaninnya" sambil mengelus lenganku.


Aku yang tak tega pada Nevan, akhirnya duduk dan menatapnya.


"Aku khawatir sama kamu, aku pikir tadi kamu kenapa-napa" ungkapku dengan nada memanja.


"Iya maaf, tadi kan aku sudah jelasin.. trus kenapa gak dimakan lagi rujaknya?" tanya Nevan dengan pelan, karena takut menyinggung perasaanku yang sedang sensitif.


"Aku sudah kenyang.." sambil mengedipkan mataku dengan manja.


"Haha.. yaudah gak apa, namanya juga lagi ngidam, mungkin si dedek mau rasain aja ya dek.." sambil mengelus perutku.


Aku memeluk Nevan, sedikit merasa bersalah bersikap egois padanya yang susah payah memenuhi keinginanku.


"Apa seperti ini rasanya hamil, rasanya tak menentu" kataku dengan sedikit murung.


"Awalnya pasti berat untuk kamu, tapi aku janji membuat kamu menjalaninya dengan nyaman dan aman" sambil mengelus punggungku dengan lembut.


"Aku pasti akan sering bertingkah aneh, membuat kamu serba salah, maaf yah sayang.. sebenarnya aku tidak ingin membuatmu begitu" dengan sedikit bersalah, karena aku belum bisa mengatasi perasaan ini.


"Iya, aku maklumi kok. Tapi jangan sampai buat kamu bersedih ya, kasian nanti dedeknya ikutan nangis" Nevan membelai rambutku.


"Masa sih sayang?" Aku sedikit terkejut mendengarnya hingga melepaskan pelukanku.


"Maka dari itu, kamu harus tersenyum dan membuat si dedek ikutan tersenyum" Nevan mendekati wajahku.


"Aku punya kesabaran yang tak terbatas untukmu" sambil memegang daguku dan mencium bibirku dengan lembut.


Aku menutup mata sambil menikmati lumatan ciuman Nevan dibibirku lalu menggigit pelan bibirku untuk menarik perhatian lebih dari ciumannya. Akupun menyusupkan lidahku melewati bibirnya yang terasa manis.


Perlahan Nevan turun menciumi telinga hingga keleherku. Hembusan nafasnya membuat aku merinding dan mengeluarkan desahan yang tertahan.


Nevan merebahkanku diatas kasur dengan menahan berat tubuhnya dengan kedua siku agar tidak menyesakkan diriku.


Kami makin terhanyut dalam setiap kecupan dan sentuhan ini.


Tiba-tiba Nevan berhenti dan memandangiku.


"Sebenernya kangen banget sama kamu, tapi.. aku takut melukai kamu dan janin ini, terpaksa cuman bisa cium dan pelukin kamu dulu aja ya" ungkap Nevan dan tersenyum.


Aku tersenyum dan mengangguk, karena harus menahan gairah yang baru saja tersulut.


"Yaudah kita istirahat yuk, kamu besok kerja kan" sambil mencium keningku.


"Iya sayang, i love you" kataku dan mencium pipi Nevan.


"I love you" sahut Nevan.


Tak lama kami pun terlelap.


🌼


Pagi ini Nevan memberitahuku undangan sudah siap diedarkan, Nevan membantuku membawa undangan sampai keruanganku dan tak lupa memberikan langsung ke bu Glory sebagai bentuk menghormati beliau.


"Pak Nevan ini ya, tiba-tiba sudah membuat karyawan saya mengundurkan diri.


Harusnya Jovita masih bisa bekerja disini" ucap bu Glory sambil meledek Nevan.


"Ya saya minta maaf bu, kenyataan berkata lain. Semua ini kita lakukan untuk kesehatan Jovita" ucap Nevan sambil tertawa pelan melihat reaksi bu Glory seperti itu.


"Ya mau gimana lagi, jaga diri kamu ya Jovita. Gak nyangka yah, ternyata kalian bisa jadi pasangan suami istri" bu Glory masih saja bergurau yang membuat kami tersipu malu.


Nevan dan aku tertawa mendengar candaan bu Glory, karena Nevan tak bisa terlalu lama singgah.


Jadi Nevan meninggalkan kantor Jovita bekerja ke kantor Nevan.


Undangan satu gedung perkantoran sudah tersebar, tentu banyak rekan kerja yang memberi ungkapan selamat padaku dan berdoa lancar menuju hari pernikahan ini.


Hifza dan Chessy tentu yang sangat bersemangat tentang kabar gembira ini.


Akupun tak bisa menahan haru bagaimana mereka mendukung keputusanku untuk resign menjelang pernikahan.


"Jangan lupain kita ya mbak" ujar Hifza dan Chessy berbarengan.


"Tentu, kalian kerja yang giat ya.. bantu manager baru kalian, aku yakin siapapun penggantiku pasti lebih baik" kataku menyakinkan mereka.


"Pasti mbak" kami berpelukan seakan aku sudah mau meninggalkan kantor ini saja.


"Yasudah kembali ketempat kalian sana, kerja.." ucapku sedikit tegas, padahal mataku sudah berkaca-kaca.


"Haha dasar, masih aja ada nih sifat workaholic" ledek Cheesy.


Akupun tertawa menatap mereka.


Perlahan aku membereskan beberapa barangku, disaat waktu senggang. Terlalu banyak kenangan indah selama bekerja disini, tentu aku akan merindukannya.


Tapi sekarang aku lebih mencintai Nevan daripada pekerjaan ini dan tak lupa dengan calon anak-anak yang sedang kukandung.


Sesekali Risma hanya menatapku dengan tatapan kosong, setelah aku memberikan undangan pernikahan padanya. Dia tak banyak berkata apa-apa, mungkin karena pemikirannya yang salah mengenai aku yang kembali pada Alvaro.


Nevan bertanya pendapatku tentang mengundang Dokter Bella yang menjadi Dokter kandungan selama aku menjalani kehamilan, tentu aku tidak keberatan untuk mengundangnya.


Juga.. Alvaro, sebenarnya aku lebih menghormati Nevan sebagai calon suamiku untuk tidak mengundang Alvaro pada pesta pernikahan kami.


Aku berpikir, akan menyakiti perasaan Alvaro jika aku mengundangnya juga perasaan Nevan.


Tetapi Nevan tidak keberatan untuk mengundang Alvaro dan aku hanya menuruti keinginan Nevan untuk mengundangnya.


Mungkin ini salah satu bentuk terima kasih Nevan karena Alvaro sempat menjadi menyatukan hubungan kami kembali yang sempat berpisah.


🌼


Akhirnya hari perpisahan aku bekerja dikantor ini datang juga.


Semua karyawan yang berkerja denganku memberikan salam perpisahan dan sedikit kejutan untukku.


Sungguh haru yang kurasakan saat ini, melihat perhatian mereka padaku dan bu Glory, dia memberikanku kenang-kenangan yang sangat bagus. Aku sangat berterimakasih pada bu Glory untuk hadiah yang begitu indah dan kesempatan untum dapat bekerja diperusahaan ini.



Tak lupa aku mengatakan banyak-banyak terimakasih atas kerja sama, pertemanan dan kenangan indah selama bekerja disini.


Hingga akhirnya aku tak bisa menahan air mata saat mengucapkan kata perpisahan.


Aku memberikan pelukan kepada Hifza dan Cheesy, rekan kerja yang seperti sahabat selama aku bekerja disini.


Aku mendoakan yang terbaik untuk mereka.


🌼


H-1 menjelang pernikahanku. Semua sudah terlaksana dengan baik walaupun direncanakan sangat singkat bagiku.


Orangtua dan keluarga besarku datang dari Yogyakarta, Nevan menyewakan hotel untuk mereka menginap selama di Jakarta.


Orangtuaku terlihat sangat bahagia melihatku akan menikah dengan pria pilihanku dan akhirnya aku memikirkan tentang pernikahan yang dimana dahulu tak pernah terpikirkan olehku.


Berbagai wejangan dan nasihat sebelum pernikahan beliau katakan untuk masa depan rumah tanggaku bersama Nevan agar selalu harmonis hingga maut memisahkan.


Mendengar semua itu, aku menangis haru, apalagi suasana menjelang pernikahan memang membuatku menjadi begitu melankolis.


Tak lupa aku berterima kasih pada beliau yang sudah merestui hubungan aku dan Nevan hingga ke pernikahan yang akan dilaksanakan besok hari.


Setidaknya H-1 ini banyak waktukku yang ku lalui bersama kedua orangtuaku. Karena aku dan Nevan sudah tidak boleh bertemu menjelang hari pernikahan besok.


Aku bagai anak kecil kembali, saat bersama mama ku, tentu beliau memang sangat memanjakan ku sejak kecil. Karena saat ini aku sudah dewasa, aku juga sudah jarang bertemu dengan mama, jadi saat punya waktu lebih banyak membuat aku kembali memanja pada mamaku.


Hari-hari yang begitu sibuk sudah terbayarkan, semua berjalan sesuai rencana, hingga akupun berdebar harus mengatakan tentang kehamilanku kepada kedua orang tuaku.


Ini memang kenyataan yang sulit untuk diucapkan kepada mereka. Tapi kupikir mereka harus tahu, apakah aku harus mengatakan sebelum pernikahan atau sesudah pernikahan. Hal itu yang menjadi kendala, kapan aku akan mengatakan kebenaran pada kedua orangtuaku.


🌼


Alvaro terpaku melihat undangan yang diberikan oleh Nevan, karena tak menyangka bahwa Nevan mau mengundangnya ke pernikahan mereka.


Dokter Bella menghampiri Alvaro yang sedang menunggunya.


"Wah kamu di undang juga ya?" Sapa Bella yang melihat Alvaro memegang undangan tersebut.


"Iya, acaranya besok. Apa kamu diundang juga?" Tanya Alvaro.


"Iya, aku tak menyangka sebagai Dokter kandungan turut serta diundang" jawab Bella.


"Kalau begitu, besok aku jemput yah"


"Tentu, baiklah sepertinya aku sudah lapar.. yuk kita cari tempat makan" ujar Bella.


"Oke.." Alvaro melajukan mobilnya ke suatu tempat.


Sebenarnya didalam hati Alvaro ada kegelisahan, apakah dia mampu melihat Jovita menikah dengan Nevan.


Apa benar hatinya sudah move on dan ikhlas hadir di acara bahagia mereka, atau Alvaro hanya cukup berpura-pura bahwa telah melupakan perasaannya pada Jovita.


Bersambung..... ✨✨✨