It Beats For You

It Beats For You
I've stood on the edge of love



Pikiranku sudah buntu untuk memperbaiki kesalahanku, mungkin Nevan sudah membayangkan begitu banyak apa yang telah aku lakukan dibelakangnya bersama Alvaro, membuat Nevan makin tak ingin menerima telepon maupun WA yang tidak dia baca.


Hari ini aku sungguh patah hati, sakit yang kurasakan hingga terasa sesak didada.


Hari telah menjelang sore, Alvaro terus saja menghubungiku, persis yang aku lakukan kepada Nevan.


Begitu banyak panggilan telepon dari Alvaro yang kulewatkan dan pesan teks yang tak ingin kubaca.


"Sudahlah Alvaro, aku sedang tidak ingin diganggu olehmu" hanya itu yang bisa ku kirimkan via WA kepada Alvaro.


Setelah itu dia berhenti menghubungiku.


Hari minggu ini terlalu kelam kulewati, padahal besok hari pertama aku bekerja setelah cuti panjang.


💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮💮


Hari sudah pagi aku turun ke basement menuju parkiran, dengan membawa banyak oleh-oleh yang kubeli di Inggris saat itu.


Disana ada Alvaro yang menungguku.


Aku memandanginya yang sedang berdiri disamping mobilku.


"Kita mulai lagi dari awal.. dan sekarang aku akan mengantarkanmu ke kantor" ujar Alvaro.


"Kamu seharusnya tidak seperti ini, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi" aku menjatuhkan beberapa paper bag berisi oleh-oleh.


"Izinkahlah aku mengulang kembali semua rasa yang pernah hilang" ungkap Alvaro dengan raut wajah serius.


Dadaku begitu sesak mendengarnya, saat ini aku telah kehilangan Nevan karena Alvaro.


Tapi sekarang Alvaro yang berada didepanku, masih menginginkanku disaat aku telah melukai hatinya karena penghianatanku.


"Aku tidak ingin diantar olehmu, aku bisa menyetir sendiri" aku dengan tegas menolak.


"Kamu harus pergi bersamaku, karena mobilmu ban nya kempes" Alvaro menunjuk kearah ban mobilku.


"Jadi beginikah semua rencanamu, beginikah caramu membodohiku kemarin?" aku menuduhnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa soal kemarin" kali ini Alvaro benar berbohong.


Aku menatap matanya, entahlah apa yang harus kulakukan sekarang. Semua telah diatur oleh Alvaro, seakan sesuai dengan semua keinginannya.


Alvaro mengambil semua bawaanku ke bagasi mobil miliknya. Aku hanya bisa pasrah, karena tak ingin telat juga kekantor.


Aku masuk ke mobil yang sudah dibukakan pintu oleh Alvaro.



"Kuharap kamu jangan lakukan hal seperti ini lagi" pintaku.


"Akan terus kulakukan demi memperbaiki hubungan kita" Alvaro masih keras kepala.


Aku duduk didepan, sambil menggigit jari kelingkingku. Aku memang kalut saat ini, walaupun aku membenci sikap Alvaro yang telah membodohiku hingga aku kehilangan Nevan, tapi aku tidak bisa berbohong, bahwa kehadiran Alvaro sedikit menenangkanku.


Aku sampai di kantor, kami tidak banyak bicara di mobil, Alvaro mungkin memaklumi.


"Aku akan menjemputmu lagi nanti" ujar Alvaro saat mobil terhenti didepan lobby kantor.


"Tidak usah repot-repot, aku bisa pulang sendiri. Sungguh aku tidak ingin kamu terus menemuiku" aku masih saja jutek terhadapnya.


"Simpan saja kata-kata itu, karena aku tidak akan menurutinya" Alvaro menurunkan paper bag dan memberinya padaku.


"Sampai nanti saat pulang kerja sayang.." Alvaro masih bisa memberikan senyumannya, disaat aku begitu jutek padanya.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, dan berjalan menuju lift dengan suasana hati yang sedang ku atur untuk tidak mempengaruhi hari-hariku dikantor.


"Hay mbak Jovita" sapa Hifza yang begitu ceria menyapaku saat bertemu didepan lift.


"Ciye.. yang dilamar.. sombong yah ga balas WA gue deh.." Hifza meledekku sambil menyenggol lenganku.


"Baru ketemu tanyain kabar gitu kek" ujarku sok jutek.


"Yaampun segitunya, masih pagi dah manyun.. iya apa kabar, gue tuh dah penasaran banget sama lo mbak, WA gak dibalas.. status ganti-ganti terus foto bareng sama pak Nevan..


Jadi lo beneran dah dilamar mbak, gue lihat lo pernah pamer foto cincin tunangan.. ngaku hayo..?" selidik Hifza.


"Sstt.. nanyanya banyak banget, mendingan bantuin nih kasih oleh-oleh kesemua orang" kataku sambil memberikan semua padanya.


"Wah.. banyak banget, mantap deh liburan bareng tunangan mapan" ledek Hifza lagi.


Duh hatiku mau berteriak, tapi hanya bisa kutahan.


Kami sudah sampai diruangan kerjaku.


"Bu Glory ada?" Tanyaku pada Hifza.


"Senin dan selasa ini, beliau lagi ada meeting di Singapore.." jawab Hifza.


"Singapore, kantor pusat?" heranku.


"Iiiyah.." sahut Hifza.


"Yang gue tahu sih ada meeting urgent gitu, dari sekretarisnya bilang akan ada mutasi beberapa karyawan yang disana, untuk cabang baru"


"Oh yah.." aku cukup terkejut mendengar penjelasan Hifza.


"Yaudahlah gak usah dibahas, gak mungkin juga kan lo mengajukan diri kesana.. secara dah mau nikah juga kan.." celetuk Hifza.


Aku terdiam, belum terlintas dipikiranku tentang hal itu sebelumnya. Setelah Hifza berkata seperti itu baru aku berpikir.


"Mbak.. mbak.. bengong lagi, mana aja nih yang mau dikasih terus siapa aja?" Hifza membuyarkan lamunanku.


"Eh iya, ini semua tolong distribusikan yah kesemua rekan kerja kebagian.." kataku.


"Bu Glory oleh-olehnya..?" tanya Hifza.


"Biar itu gue yang kasih kalau beliau sudah datang" jawabku singkat.


"Oke.. yaampun lucu-lucu banget sih, jadi mau semuanya buat gue" celetuk Hifza sambil membawa oleh-oleh untuk segera dibagikan dan keluar dari ruanganku.


"Cabang baru di Singapore?" Aku berpikir, apakah aku harus menyerah dengan keadaan dan lari dari kenyataan ini.


Aku pesimis Nevan akan memaafkanku, tapi mengapa aku tidak membuka hati untuk Alvaro yang sedang menyakinkanku untuk kembali padanya.


Entahlah, aku merasa buruk untuk mendapatkan maaf dari mereka yang sudah kuhianati.


Mungkin menghindar dari kenyataan akan membuatku lebih baik dan membuka lembaran baru disana.


Aku berinisiatif untuk mengirimkan SMS ke Nevan, hanya untuk minta maaf, setelah apa yang terjadi.


"Selamat pagi.. Hay.. apa kabar.


Hem.. aku tahu apa yang terjadi semua salahku, aku tahu bagaimana marahnya kamu mengetahui apa yang belum sempat aku jelaskan.


Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Alvaro, hari itu aku memang kebetulan kami bertemu.


Salahku karena aku mau diajak makan malam olehnya, tanpa memberitahu kamu lebih dulu.


Aku takkan menganggumu lagi dari sekarang, aku minta maaf atas semua kesalahanku padamu.


Semoga kamu baik-baik saja disana"


Aku mengetiknya dengan berurai air mata, hanya menulis kata-kata itu membuat hatiku tersiksa.


Mungkin ini menjadi akhir dari kisahku dengan Nevan.


Aku tahu mungkin dia tidak akan membalas atau merespon SMS dariku. Setidaknya aku sudah meminta maaf padanya.


Aku yang sedang duduk menempelkan keningku dimeja untuk menutupi wajahku yang sedang menangisi karena usai sudah hubunganku dengan Nevan.


"Mbak si orang marketing.." Hifza yang tiba-tiba datang mengagetkanku yang sedang meratapi diri.


"Mbak.. kamu kenapa, apa ada masalah?" Hifza terkejut melihatku yang sedang menaruh kepala dimeja dengan suara tangisku.


Aku menyeka air mata yang terlanjur membasahi pipi.


Hifza memberikan aku tissu.


"Gak.. gak ada apa-apa, tadi kamu mau bilang apa?" aku mencoba tegarkan diri.


"Gue tahu lo pasti ada masalah, ceritain ke gue mungkin bisa mengurangi beban, walaupun sedikit" Hifza memang menjadi teman bicaraku dikantor.


Aku tak kuasa menahan permasalahan ini dan membuatku menceritakan beberapa part untuk Hifza ketahui.


"Astaga... Ini memang jarang sekali terjadi dan ini menjadi lebih rumit dari yang dibayangkan.." Hifza cukup prihatin dengan kondisiku.


"Sekarang.. gue hanya menunggu bu Glory datang untuk menyelamatkan gue" kataku yang menyudahi kesedihan ini.


"Jangan bilang lo mau ngajuin diri ke Singapore mbak.." Hifza menebak


"Itu yang kupikirkan, aku ingin lari dari masalah ini.." aku merapikan rambutku yang sempat sedikit berantakan.


"Buat apa mbak lari.. memangnya kenapa gak disini saja dan menerima Alvaro yang jelas menginginkan mbak lagi" Hifza mencoba memberi saran.


"Sudah keburu malu Za, setelah semua yang gue lakukan.. semua yang telah menyakiti dia. Gue gak bisa kembali padanya dengan semua yang telah kulakukan, aku ingin lembar hidup yang baru" sesekali aku membenarkan nafasku yabg sempat terisak.


"Gue memang gak sependapat soal ini sama lo mbak, gak masalah kalau lo mencoba menerima Alvaro lagi dalam hidup lo.. karena pak Nevan pun sudah terlanjur pergi gitu aja"


"Entahlah Za, Alvaro memang tidak ada kurangnya bagiku, tapi rasanya aku tidak pantas bersamanya" aku sungguh pesimis saat ini.


"Lebih baik lo pikirin matang-matang soal Mutasi ini, kan gak semuanya diselesaikan hanya dengan lari begitu saja" Hifza masih menahan keinginanku.


"Lo gak diposisi gue sih Za, lari dari semua ini menjadi hal yang terbaik untuk gue sekarang" kataku memperjelas.


"Semua memang ditangan lo sih ya mbak, kalau itu memang akan menjadi jalan terbaik"


Sosok Hifza sedikit membantu meringankan apa yang telah memenuhi benakku saat ini. Aku memang perlu teman bicara untuk membuatku lebih rileks dalam menjalankan hari-hariku lagi.


Bersambung..... ✨✨✨