It Beats For You

It Beats For You
Into nightfall



Suasana hatiku sedang tidak baik karena Alvaro, lalu aku bergegas masuk kedalam mobil.


"Maaf ya pak tadi sedikit ada masalah.." ujarku ke pak Harris driver Nevan.


"Tidak apa mbak, pak Nevan sudah menelepon saya dan akan membawa mbak ke Fairmont Lux Hotel" lalu pak Harris mengendarai mobil.


Kini hanya lamunan yang membayangiku mengenai Alvaro dengan perkataan bodohnya. Untuk apa dia mengatakan hal itu, tidak akan mungkin juga terjadi.


Dia terlalu banyak mengada-ada.


Tiba-tiba Nevan menelepon.


"Halo sayang.." sahutku menjawab telepon dari Nevan.


"Iya sayang.. kamu sudah pulang?" Tanya Nevan.


"Iya sedang diperjalanan.." aku berusaha menyesuaikan nada suaraku agar terdengar tenang.


"Oke, nanti akan ada Lena yang akan membantumu dan semoga kamu nyaman selama perjalanan ya sayang.." ujar Nevan.


"Iya.. makasih sayang" balasku singkat.


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti.. take care sayang.."


"Oke bye.." kami menutup telepon.


Karena tak lama kami sudah tiba di Fairmont Lux Hotel. Aku langsung disambut oleh beberapa karyawan hotel dilobby.


Seperti mereka sudah mengenaliku walaupun aku baru saja tiba.


Ini membuatku begitu takjub dengan pelayanan mereka yang begitu ramah.


"Selamat sore, mbak Jovita saya Lena yang akan membantu mbak" ujar wanita yang dimaksud Nevan.


"Sore.." aku menjadi begitu canggung.


Lena dan beberapa orang mengarahkan aku ke kamar hotel yang mungkin sudah Nevan sediakan untukku.


Saat membuka pintu, suasana yang menakjubkan untukku karena banyaknya barang yang tersedia dan juga ada beberapa wanita yang sudah menungguku.


"OMG.. seriously?" Aku masih terheran.


"Mari masuk mbak, kita ada waktu 20 menit untuk bersiap" ujar Lena yang menunjukkan beberapa gaun, sepatu dan tas pesta.


Tentu aku kebingungan saat memilihnya, tapi Lena membantuku begitu gesit. Memastikan gaun yang cocok untuk aku kenakan, lalu sepatu dan tas yang menyempurnakan penampilanku.


Ada juga makeup artist dan hairdo yang telah bersiap merubah penampilan polosku ini.


Semua terasa begitu cepat dilakukan, karena tidak banyaknya waktu yang kupunya.


"OMG this is not me.. terlihat begitu cantik dan glamour.." batinku.


"Mbak apakah pak Nevan menitipkan sesuatu?" Tanya Lena seakan tahu aku membawa bingkisan yang Nevan berikan tadi pagi.


"Oh iya.. ini" aku sampai lupa untuk mencari tahu apa isi dari paperbag itu.


Lena membuka isi dari kotak kecil yang berisikan gelang dan anting berlian cantik. Aku begitu terkejut Nevan memberiku perhiasan seperti ini.


Aku memakai perhiasan anting ditelingaku dan gelang ditangan kananku, tentu membuat penampilanku begitu-terlalu-amat-sangat menakjubkan.


"Baik.. sudah selesai, dan sebelumnya mbak kenakan blazer ini agar tidak kedinginan.." Lena memakaikannya dibahuku.


Taraaa.... Aku sudah siap, persis 20 menit seperti yang Lena katakan.


Lalu aku menuju lantai paling atas tempat helikopter itu berada.


Aku ditemani dengan Lena selama dihelikopter.


Ini pengalaman pertamaku menaiki helikopter, apalagi untuk menghadiri pesta pernikahan lebih tepatnya menemani Nevan di pesta pernikahan temannya.


Tentu aku begitu gugup selama berada dihelikopter ini, tapi perlahan hilang saat melihat indahnya pemandangan kota menjelang malam hari.


Aku menikmati selama perjalanan menuju Surabaya, walaupun tanpa Nevan, tapi aku harus puaskan diriku dengan pemandangan yang sangat menawan dari atas sini.



Kini mood ku sudah kembali baik seperti sebelumnya. Aku hanya ingin bertemu Nevan dan selalu berada didekatnya.


🌼


Alvaro menghampiri Risma yang sudah menunggu dikantin.


"Hai.. maaf tadi aku ketoilet dulu.." alasan Alvaro menutupi kejadian yang sebenarnya.


"Tidak apa.. aku masih menunggumu disini" Risma tetap tersenyum pada Alvaro walaupun Risma tahu Alvaro bertemu dengan Jovita.


"Baiklah.. bagaimana jika kita berangkat sekarang.."


"Oke.." kami berjalan beriringan.


Alvaro membawaku ke restoran yang pernah Risma datangi, walaupun Alvaro tidak menanyakannya.


Alvaro berjalan begitu saja didepan Risma, seperti seorang yang sedang banyak pikiran.


Kami dipilihkan tempat oleh pelayan disana, dan duduk berhadapan di meja untuk 4 orang lalu mulai memesan makanan.


"Aku pernah kesini sebelumnya.." ujar Risma membuka percakapan.


"Oyah, sebenarnya aku baru pertama kali kesini.. apa kamu menyukainya..?" respon Alvaro masih terasa dingin.


"Suka.. saat itu ada rekan kerjaku yang merayakan ulang tahunnya disini.." makanannya enak dan tempatnya begitu modern dan nyaman.


" Oh begitukah.." Alvaro masih belum merespon Risma dengan baik.


Risma menyadari itu, tapi Risma tetap membuat Alvaro mengobrol dengannya.


"Apa ada masalah?" Tanya Risma sambil menatap ke wajah Alvaro yang sedang tak fokus dengannya.


"Ee..hm.. maksudnya?" Alvaro baru menatap Risma.


"Tidak aku hanya ingin dengar apa yang kamu lakukan hari ini.. apa kamu sedang mengalami hari yang berat?" selidiknya.


"Ah tidak, semua berjalan seperti biasa.. memangnya ada apa?" tanya Alvaro heran.


"Entahlah, aku merasakan ada yang menganjal dihatimu.. katakanlah aku bisa jadi oendengar yang baik.." ucap Risma dengan tenang.


"Tidak, ah mungkin aku hanya gugup saja, karena baru mengajak wanita cantik untuk makan malam hari ini.."


"Apa aku benar cantik menurutmu?" Risma masih menatap Alvaro.


Mengetahui sikap Risma yang memperhatikan kerisauan hati Alvaro dan berinisiatif untuk berpindah duduk kesamping Risma.


"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?" Sambil menatap Risma dengan senyuman, hanya untuk menutupi perasaan Alvaro.


"Entahlah, aku hanya merasakan ada yang berbeda dari kamu" ungkap Risma.


"Oyah, kalau begitu katakan berbeda seperti apa?"


"Hem.. tidak, mungkin hanya perasaanku saja..." Risma menahan apa yang harus dikatakan.


"Aku suka kalau kamu berada disampingku seperti ini.."


"Baiklah, aku akan duduk disini seperti katamu.." Alvaro menuruti keinginan Risma.


Risma tersenyum, malam ini Risma mampu mengubah rasa kecewa dan cemburu menjadi hal yang menyenangkan. Selama bersama Alvaro, Risma tak ingin membuat makan malam ini akan menjadi gagal.


Alvaro tidak terlalu banyak bicara, hanya menyahut kata-kata Risma dengan singkat, tak apa.. karena Risma tetap merasa nyaman disamping Alvaro.


Setelah makan malam, Alvaro mengantar Risma pulang. Selama perjalanan pun Alvaro hanya diam sesekali ikut bernyayi bersama musik yang diputar diradio.


"Pernah aku jatuh hati


Padamu sepenuh hati


Hidup pun akan ku beri


Apapun kan ku lakui


Tapi tak pernah ku bermimpi


Kau tinggalkan aku pergi


Tanpa tahu rasa ini


Ingin rasa ku membenci


Tiba-tiba kamu datang


Saat kau telah dengan dia


Semakin hancur


Hatiku


Jangan datang lagi cinta


Bagaimana aku bisa lupa


Padahal kau tahu keadaannya


Kau bukanlah untukku" Alvaro menyanyikan sesuai dengan lirik lagunya.


"Suaramu bagus juga.. apa kamu suka lagu ini?" Risma memberanikan diri untuk bertanya.


"Oh... Ah gak kok, ini lagu sering diputar diradio.. tak terasa jadi ikut hapal liriknya.." Alvaro mengelak dan berhenti mengikuti lagu yang belum selesai itu.


Risma makin mengerti perasaan Alvaro malam ini, terlalu cepat untuk Risma mengetahui apa yang sedang terjadi.


Walaupun begitu Risma belum berpikir untuk mundur dari semua ini.


Bersambung..... ✨✨✨