It Beats For You

It Beats For You
I don't know what I'm supposed to do



Kami baru sampai apartemen milik Nevan, mulai hari ini aku akan tinggal bersamanya. Mengingat Alvaro yang mungkin saja akan menerorku lagi dan lagi.


"Sayang aku mandi duluan yah" kataku dengan tidak bersemangat.


"Iya, aku buatkan minuman hangat yah.." ujar Nevan yang pergi kedapur.


"Iya.." sahut ku sambil menuju kamar mandi.



Aku memikirkan yang Alvaro lakukan padaku. Seakan tak ada habisnya dia terus menggangguku, dan hari ini adalah yang terburuk, mencoba untuk melakukan hal bodoh padaku.


Hatiku tak bisa berhenti gelisah karena kelakuan Alvaro sudah diluar batas.


Aku terpaksa tak mengatakan apa yang terjadi, aku tak ingin Nevan akan bertindak gegabah dan membuat pekerjaan Alvaro terancam.


Aku tak ingin, karena aku telah menyakiti Alvaro terlalu dalam dan aku akan makin bersalah jika dia kehilangan izin prakteknya nanti karena diriku, hal itu bisa saja dilakukan oleh Nevan.


Mungkin aku akan lebih waspada, menghindari yang akan Alvaro lakukan nanti.


Aku selesai mandi dan berpakaian lalu aku mencari Nevan dikamarnya tapi tak ada, ternyata berada dikamarku.


"Hay sayang kamu sedang apa?" Tanyaku kini berdiri didepan pintu, melihat Nevan yang tengah sibuk.


"Aku membersihkan kasur kamu agar nyaman untuk kamu tempati, karena kamar ini sudah beberapa minggu tidak dibersihkan" baru saja selesai merapikan sprei kasur untukku.


"Kamu gak perlu repot-repot sayang..


tapi makasih yah, kamu sangat perhatian padaku" jujurku.


"Itu karena aku mencintaimu.. baiklah aku juga akan mandi, aku sudah siapkan minuman jahe hangat untukmu, semoga rasa lelahmu berkurang setelah minum itu.." Nevan berlalu dan pergi ke kamar mandi.


"Oke.." aku menuju dapur, meminum jahe hangat yang sudah disiapkan oleh Nevan.


Tak lama Nevan sudah selesai, hanya ditutupi handuk bagian setengah badan kebawah lalu memelukku dari belakang.


"Rasanya tempat ini tak lagi sepi karena ada kamu disini" bisik Nevan ditelingaku.


"Benarkah.." aku membalikkan badanku dan memberikan minuman jahe hangat di cangkir milik Nevan yang dia juga telah siapkan.


Nevan meminumnya.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang, sudah enakan?" tanya Nevan.


"Iya, sepertinya mandi membuat diriku lebih segar.. kamu seperti ini sengaja yah untuk menggodaku" sambil meraba dadanya yang bidang.


"Haha tidak, aku kan baru saja mandi" tawa renyah Nevan.


"Harusnya kamu berpakaian dulu baru datangi aku.." sambil menyipitkan mataku dan menggigit bibirku.


"Sayang, aku tidak ingin membuat kamu tambah kelelahan.." Nevan sepertinya mengerti maksud godaanku.


"Kamu tuh memang pria idaman banget sih, kamu mengerti wanita, perhatian, baik nya minta ampun, tampan dan menawan.." ujarku dengan pujian selangit.


"Ini maksudnya apa memujiku terlalu tinggi" Nevan memeluk pinggangku.


"Itu kenyataan sayang, i love you.." aku takkan bosan untuk mengatakannya


"I love you.. i love you.. i love you.." sambil menciumi semua wajahku.


Aku tersenyum dengan sikap manis Nevan.


Yasudah aku berpakaian dulu ya, kamu kalau mau langsung istirahat silahkan.


Nevan masuk kekamarnya tanpa menutup pintu.


"Hem... Tumben dia tak menciumku" aku merajuk, tapi baiklah aku juga lelah karena sudah jam 10 malam. Aku masuk kekamarku.


Aku mencoba tidur dan memejamkan mata, tapi otakku masih berpikir dan berputar mengenai hal yang membuatku resah.


"Kenapa Nevan terkesan dingin sama aku yah.. atau dia tahu alasan aku tadi tidak benar.. inilah yang terjadi jika kebohongan demi kebohongan selalu dilakukan" pikirku dan memilih tidur karena jika dilanjutkan aku bisa saja stress.


Aku tak mendengar Nevan datang kekamarku, mungkin dia sudah tertidur dan akupun juga tak tahan lagi untuk beristirahat.


Sepuluh menit kemudian Nevan menghampiri Jovita dan melihat Jovita yang sudah tertidur.


Nevan duduk disamping Jovita sambil menatap wajahnya yang memikat.


"Tidur aja cantik banget sih kamu sayang, maaf ya aku tadi ada sedikit kerjaan ditelepon.. padahal aku masih mau ngobrol sama kamu.


Aku lihat kamu lelah sekali malam ini, tapi.. aku masih penasaran apa yang kamu lakukan hingga begitu lama berada di toilet tadi dihotel.


Aku maunya mempercayaimu, tapi rasanya ada sesuatu yang tidak kamu katakan dengan jujur..


Tapi biarlah, aku ingin hubungan kita baik-baik saja mulai sekarang.. mungkin ada waktu dimana kamu akan mengatakan apa yang terjadi" Nevan membelai rambut Jovita perlahan sambil menatapnya.


"Aku gak tahan melihat kamu tertidur begitu manisnya seperti ini, aku akan mengabadikannya"


Nevan membawa ponsel karena baru saja selesai komunikasi lewat telepon dengan rekan kerja.


Mulai memfoto dirinya dan Jovita, foto tertidur Jovita yang dipeluk Nevan, bersampingan dengan Nevan dan mencium bibir Jovita hanya dengan menyentuhnya saja.


"Ini akan menjadi obat kangenku jika kita sedang tak bertemu, baiklah.. mimpi indah ya sayang.. i love you.." Nevan mencium kening Jovita lalu pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan perlahan.


🌼


Malam ini aku janji bertemu dengan Alvaro di Hotel White Hilton, dia sudah menungguku di kamar 653.


Dia berjanji akan berhenti mengangguku jika aku datang menemuinya malam ini, dan Alvaro sudah berada dikamar tersebut.


Aku yang berdiri di depan kamar 653, sejenak terdiam. Entah yang kulakukan ini benar atau salah, tapi.. aku hanya ingin dia benar-benar menempati janjinya untuk tidak menemui dan menggangguku lagi.


Aku mengetuk pintu. Tok.. tok.. tok..


Astaga Alvaro terlihat begitu memikat dimataku saat ini, dia selalu berhasil membuat aku terpesona dengan mata indahnya. Seketika aku menjadi gugup karena mengagumi lagi paras tampannya.


"Silahkan masuk.." ujar Alvaro.


Aku menengok kanan dan kiri, melihat situasi apakah ada yang mengikutiku dan tidak ada orang sama sekali dilantai 6 ini.


Aku melangkah masuk tanpa ragu.


Alvaro duduk disofa berwarna putih sambil memegang gelas kecil berisikan minuman beralkohol.



"Mari duduk disampingku dan menikmati minuman ini bersamaku" Alvaro menuangkan minuman ke gelas untukku.


"Tidak, aku tidak ingin minum apapun saat ini.." aku menolaknya.


"Hanya segelas kecil tidak akan berarti apa-apa.." Alvaro menyodorkan gelas kecil dimeja kearahku.


Walaupun ragu aku meminumnya juga hingga habis.


"Aku to the point saja maksud aku datang kemari.." belum selesai aku mengatakan Alvaro telah memotong perkataanku.


"Bolehkah kita menikmati waktu yang sebentar ini dengan kenyamanan.. aku akan menepati janjiku seperti saat menghubungimu tadi.." sambil meneguk minuman.


Ternyata Alvaro menaruh sesuatu diminumanku dan ku tak tahu akan berakibat seperti apa.


Aku tak bereaksi apa-apa.


Alvaro mulai bercerita tentang bagaimana aku, dia dan kenangan yang membuat aku kembali teringat.


Bagaimana Alvaro yang setia mengantar dan jemput saat kuliah dulu. Kami beda jurusan, Alvaro kedokteran dan aku Ekonomi.


Pertemuan yang tidak sengaja bermula dari aku yang iritasi mata karena lensa kontak minus yang ku pakai.


Saat itu Alvaro kebetulan sedang berjalan didekatku, dengan sigap dia membantu padahal dia tidak mengenalku. Disitulah aku kenal dengannya dan dia mulai mendekatiku.


Hari-hari kami selalu dipenuhi tawa dan canda, karena Alvaro punya sifat yang humoris dan romantis. Alvaro juga sering memberikan hadiah walaupun aku tak meminta apa-apa darinya, dia juga tak banyak tingkah saat menjalin hubungan bersamaku.


Setiap moment yang Alvaro kembali ingatkan membuat hatiku tiba-tiba rindu masa itu. Masa dimana kita saling mencintai satu sama lain.


Alvaro menggenggam tanganku, menatapku dalam-dalam, sikapku menjadi agak canggung saat Alvaro berubah bersikap serius padaku.


"Aku takkan menyalahkan situasi yang sekarang terjadi.. aku akan menerima agar kamu bahagia.." ujarnya perlahan.


Tiba-tiba aku merasakan hal aneh ditubuhku, seakan tubuhku menjadi panas dengan sendirinya, melihat Alvaro membuat aku begitu tertarik dan ketampanannya membuatku bergairah.


"Alvaro, apa yang kamu berikan.. aku merasa ingin sesuatu yang tidak ingin kulakukan.." aku kebingungan dengan reaksi tubuhku ini.


"Aku mencintaimu Jovita, lebih dari apapun, jika kamu bertanya kenapa aku tidak bisa melupakanmu..


akupun tidak mengerti mengapa.. ini semua karena hatiku yang telah memilihmu..


Lepaskanlah apa yang sedang kamu rasakan, karena itu adalah hal yang indah.. aku berjanji aku akan mencintaimu selamanya.. " Alvaro perlahan menyentuh wajahku dengan tangannya, kurasakan begitu lembut membelaiku.


Harum tubuh Alvaro membuat pikiranku makin terpacu. Aku tidak bisa menolaknya ataupun menahan keinginan ini. Entah mengapa aku malah menikmatinya, dimana Alvaro makin menyentuh tubuhku yang makin membuatku terlena.


"Sayang.. rasakan ini, rasakan bagaimana jika kita saling mencintai.." Alvaro mencium wajahku dan berakhir dibibir ini.


Aku menginginkannya aku merindukannya, ciuman ini membuatku hilang akal. Tak ingat hal lain lagi selain Alvaro seorang. Aku tersandar disofa dan Alvaro dihadapanku.


Gairahku memuncak saat Alvaro makin liar menciumku, desahan ini membuat tanganku membuka kemeja putih yang Alvaro kenakan. Astaga aku tidak tahan untuk merasakannya.


"Alvaro.. aku.. aku mencintaimu.." aku berhasil membuat baju yang ia kenakan terlepas dan aku memeluknya.


Alvaro menciumi leherku, merasakan getaran mengebu-gebu dihatiku. Hingga kami hilang kendali, aku menginginkannya dan Alvaro menjatuhkanku diatas kasur.



Semua terjadi begitu saja, kami telah merasakan kenikmatan ini. Apa yang aku lakukan ini tidaklah benar, tapi aku seperti tidak mengerti diriku sendiri saat berada dihadapan Alvaro.


Detik berganti menit berganti jam.


Perlahan aku mencoba bangun dari pelukan Alvaro yang tertidur selepas kita melakukannya.


"Alvaro..." Terasa sesak saat mengetahui kebodohanku kali ini.


Seketika aku terbangun, terkejut dengan apa yang kumimpikan barusan. Aku terduduk dengan keringat ditubuhku, padahal AC sudah membuat ruangan ini terasa dingin.


Nafasku seperti habis berlari keliling apartemen, begitu cepat dan berkeringat.


Jam 5.45 pagi, masih terlalu dini untuk bersiap ke kantor.


Aku merasa bingung, hingga membuat diriku dehidrasi.


Aku akan ke dapur untuk mengambil minum, Nevan masih belum bangun, ku intip dari pintu yang terbuka sedikit, sepertinya Nevan memang tidak ingin menutup rapat pintu ini.


Aku membiarkannya tertidur, tak ingin membuat Nevan terbangun dan aku berjalan perlahan sambil mengisi minumanku.


Aku kembali kekamar dan meminum minumanku dikamar tanpa menutup pintu.


"Astaga.. apa yang kupikirkan, aku bercinta dengan Alvaro.. ini mustahil.


Hah apa yang Alvaro lakukan semalam terbawa hingga ke pikiranku. Tidak mungkin aku masih memikirkannya, tidak mungkin juga aku menginginkan hal itu dengannya.."


Aah aku tak ingin memikirkannya lagi, aku ingin dia pergi dari pikiranku, aku tak ingin dia ada dimimpiku lagi.." batinku berteriak, karena tak akan kuhianati Nevan lagi.


Aku mencoba mengatasi rasa gelisah yang telah menghantui mimpiku, mengatur nafas dan mencoba berpikir jernih tanpa mengingat kejadian apapun mengenai Alvaro.


Bersambung..... ✨✨✨