It Beats For You

It Beats For You
Your heart is all I own



Selesai mandi aku memakai kimono handuk dan rambut yang dililit handuk karena habis keramas


"Sini sayang" ujar Nevan memintaku duduk disampingnya.


"Iya, kamu gak tidur?" tanyaku.


"Gak, aku mau nungguin kamu" jawab Nevan.


"Oyah, kamu gak capek" tanyaku lagi.


"Gak kok, dari tadi juga tidur aja, sambil nungguin kabar dari kamu. Tapi.. kamu baru kabarinnya saat mau pulang" jujur Nevan.


"Yaampun, maaf ya sayang.. kenapa aku bisa lupa ngabarin kamu" ungkapku sedikit bersalah.


"Iya gak apa, gak perlu dipikirkan, by the way kamu mandi malam gak apa?" tanya Nevan.


"Gak apa-apa, abis gimana lagi udah lengket dan lepek dari pagi aktifitas diluar kan" jawabku.


"Iya, eh tapi aku suka loh lihat kamu natural begini, cantik banget"


"Oyah.. kenapa, padahal kulitku gak glowing" sambil memegang wajahku yang tanpa make up.


"Kan cantik gak perlu glowing, aku suka apa adanya gini" kata Nevan.


"Serius.. jangan nanti ada wanita cantik, make up nya cantik nanti kamu malah melirik" ledek aku.


"Haha masa sih aku gitu" tawa Nevan.


"Tuh kan, uuuhh" ujarku memanja.


"Haha gak kok sayang, masa aku jahat banget udah ada kamu, buat apa aku cari yang lain, semua yang aku inginkan ada dikamu" ungkap Nevan jujur.


Degggggg!!!!!


Aku terpaku, membisu mendengarnya, karena bertolak belakang denganku saat ini.


"Oyah, cerita dong tadi disana ngapain aja, kok tiba-tiba kamu baru kabarin aku ada pesta hari ini?" selidik Nevan.


"Iya, aku juga baru tau, dapat kabar dari Hifza dan Chessy. Aku jadi ikutnya mendadak, kamu gak marah kan?" ujarku.


"Hehe iya maaf ya sayang, aku takut kamu gak suka acara seperti ini, next time aku gak gitu lagi deh"


"Iya.." sahut Nevan singkat.


"Yaudah tidur yuk, sudah malam" ujarku sambil beranjak dari sofa.


"Tunggu dulu" Nevan menarik tanganku dan membuatku jatuh dipangkuannya.


Aku sedikit mengerti apa yang diinginkan Nevan saat ini, ku duduk diatas pahanya sambil menatap kedua matanya yang berwarna cokelat terang, dan kumulai mencium bibirnya. Aku yang memulai dan memainkannya dengan perlahan dan begitu lembut, begitupun dengan Nevan.


"Besok kerja, nanti kamu lelah. Yuk tidur" ujarku sesaat setelah menciumnya kurang dari tiga menit.


"Maksud aku, aku mau memperlihatkan sesuatu sama kamu" ujar Alvaro, sepertinya aku salah menduga soal ciuman tadi.


"Maksud kamu, ohh jadi bukan mau cium aku gitu" ledekku padanya, sambil menahan malu.


"Haha itu juga manis kok sayang" Nevan kembali membalas ciumanku, mungkin dia tahu aku sudah salah paham sebelumnya, jadi untuk membuatku tidak merasa malu didepannya, dan Nevan menciumku lagi.


"I love you sayang" ujar Nevan.


"I love you too" balasku, setidaknya chemistry kami semakin kuat.


"Ayo kita ke kamarmu" ajak Nevan.


"aw.. ada apa nih sayang ajak kekamar?" tanyaku heran. Belum dijawab tapi aku sudah menemukan jawabannya sendiri didepan mataku.


"Wow.. kamu belanja lagi sayang?" Aku terkejut.


"Gak banyak kok, beberapa saja.. kamu suka?" tanya Nevan.


Kamarku sudah dipenuhi dengan beberapa baju tidur, alat make up dan skin care mahal. Juga sendal bulu putih yang menggemaskan dilantai, lalu ada juga underwear wanita.


"Astaga, underwear sayang.. memangnya kamu tahu size aku"


"Haha asli aku gak tau, cuma aku minta tolong orang yang dari butik bantu aku mengira-ngira size yang kamu pakai. Semoga bener ya sayang" wajah Nevan memerah.