It Beats For You

It Beats For You
I never meant to break your heart



Pulang kantor, aku segera menghampiri Nevan yang menungguku tak jauh dari lift, dengan wajah sumringah aku menghampiri dia dan Nevan mengulurkan tangan untuk mengandengku dan aku menggapainya.


"Hay sayang.." sapaku begitu bahagia karena aku bertemu dengannya sekarang.


"Hay.. kamu tuh cantik banget sih udah ready yah" ujar Nevan yang terpesona melihatku.


Entahlah apa yang terjadi karena rekan kerja yang berjalan dibelakangku melihat Nevan dan aku sedang jalan berdua.


Kami langsung menuju mobil Nevan dan sekilas aku melihat beberapa rekan kantor yang melihat kearah kami dan aku hanya tersenyum.


"Kamu meminta tolong Hifza dan Chessy untuk membelikan hadiah untuk bu Glory" kataku sambil memberitahukan hadiah untuk bu Glory.


"Yah sayang aku belum ada bawa hadiah untuk dia, mungkin kita bisa berhenti sebentar di toko bunga.. masih ada waktu" sambil melihat ke jam tangan milik Nevan.


"Gak apa sayang, aku juga dadakan kabarinnya.. tidak masalah kamu tidak perlu membawa hadiah.."


"Tentu aku harus memberikan hadiah pada bu Glory.. karena dia, hubungan kita kembali bersama.." Nevan perlahan makin mendekatiku.


"Kamu tahu, hari ini aku sangat merindukanmu" dan mulai menciumku dan tangannya yang mengusap pipiku.


"Akupun begitu" sambil menatap mata Nevan yang begitu kecoklatan.


"I love you.." Nevan menciumku dan aku juga tak bisa menahan kerinduan ini.


"I love you.." hingga aku tak merasa malu jika dilihat oleh driver Nevan.


"Aku akan melanjutkannya malam ini, kamu membuat aku makin terpesona olehmu" sambil merapikan rambutku dan menyelesaikan ciuman yang terasa begitu manis.


Aku hanya tersenyum manja.


Kami berhenti di toko bunga yang masih buka dan membeli rangkaian bunga cantik yang ada, terlihat segar dan sangat indah.


Lalu kami menuju hotel.


Kami hampir tiba dan aku sedikit merapikan make up ku dan penampilanku di mobil.


Aku menghapus lipstik ku yang sedikit menempel dibibir Nevan dengan tisu.


"Kenapa dihapus, biar saja itu menempel disana" canda Nevan.


"Jangan sayang, itu terlihat kamu seperti memakai lipstik" kataku.


"Mereka pasti tahu bukan karena itu" makin meledekku.


"Kamu yah.." aku tertawa mendengar kata nakalnya.


Kami turun di lobby Hotel dan beberapa penerima tamu mengarahkan kami ke dalam Ballroom acara.


Aku menggandeng lengan Nevan, tiba-tiba mata tertuju kepada kami karena aku merasakan saat berjalan berdua bergandengan dengan Nevan.


"Sepertinya kita menjadi pusat perhatian.. " bisikku sedikit malu.


"Itu karena kamu begitu mengagumkan sayang.." puji Nevan yang menenangkanku.


Acara belum dimulai, masih iringan musik indah, kami menghampiri bu Glory dan memberikan hadiah ulang tahun.


"Hay.. Nevan, Jovita.. Thankyou for coming.." sambut bu Glory, kami bersalaman dan saling cipika-cipiki.


"Selamat ulang tahun ya bu.. panjang umur, sehat, sukses dan ditambah rejekinya.." kataku sambil mendoakan bu Glory dan memberikan hadiah.


"Wow.. thankyou doa dan hadiahnya, jadi.. kalian terlihat baik-baik saja yah.." sambil berbisik pada kami.


"Berkat campur tangan bu Glory, yang sebelumnya kami sedang bertengkar kecil.." ungkap Nevan.


Aku mengedipkan mataku 3x saat mendengar Nevan mengatakan itu.


"Hahaha.. itu akan selalu terjadi disetiap pasangan, yang harus kalian hadapi. Bagaimana cara kalian saling memaafkan.."


Mendengar itu kami saling menatap satu sama lain.


"Kalian itu cocok, sayang sekali jika karena salah paham kecil akhirnya kalian malah menjauh..


Baiklah.. saya juga doakan kalian cepat segera menikah.." Ujar bu Glory mendoakan kami.


"Amin.." kami bersahutan.


"Baiklah.. silahkan nikmati hidangan tersedia ya" ucap bu Glory yang sedang berbahagia di hari ulang tahun yang ke 40 tahun.


Setelah percakapan hangat tadi kami menuju hidangan yang membuat aku sungguh merasa kelaparan.


Nevan membantuku mengambil yang kuinginkan, sikap manisnya membuat aku begitu tersentuh.


Tak lama rekan kerja Nevan perlahan mendatangi kami dan memulai percakapan yang menyenangkan. Apalagi beberapa bos dan direksi yang baru mengetahui hubungan kami begitu terkejut mendengar Nevan mengatakan, aku sudah menjadi tunangannya dan sedang berencana untuk pernikahan kami.


Untaian kata selamat yang kami dengar dari banyak rekan kerja yang mengetahui kabar ini langsung dari Nevan dan tak sedikit yang mengodaku karena diam-diam membuat Nevan jatuh cinta padaku.


Tapi terdengar seperti pujian bagiku.


Tak berhenti rekan kerja yang mendatangi kami dan tak sungkan untuk mengajak kami berbicara. Karena Nevan memang terkenal baik dan sangat ramah saat bekerja, hingga saat ini.


Ada juga yang mengatakan aku beruntung bisa memiliki Nevan yang menjadi pria idaman semua wanita.


Lagi-lagi aku tersenyum mendengarnya.


Acara dimulai, semua mata tertuju pada bu Glory yang sudah berdiri di depan para undangan beserta keluarganya. Pembawa acaranya cukup apik membuat suasana begitu meriah dengan diselingi doorprise yang membuat semangat tamu yang hadir dan permainan yang membuat tertawa para undangan.



Disisi lain Alvaro datang dengan Risma, tak kalah dengan Jovita. Risma cukup membuat Alvaro terpesona dengan kilau cantik yang dimiliki Risma.



"Kamu sangat cantik malam ini.. Terimakasih telah memberi kesempatan untukku bisa menghabiskan waktu bersamamu" puji Alvaro yang tatapan membuat Risma salah tingkah.



"Terimakasih.. ya.. setidaknya ada seorang pria yang menemaniku malam ini" dengan malu-malu.


"Kita bisa melakukannya lagi dilain waktu jika kamu mengizinkan.." mulai mendekati Risma dengan ajakan Alvaro.


"Tentu jika dokter Alvaro tidak sibuk.." senyum manis saat menyetujui ajakan itu.


"Baiklah.. tapi cukup panggil namaku saja agar terdengar lebih nyaman" Senyuman Alvaro makin membuat hati Risma meletup-letup.


Diwaktu yang sama ternyata Alvaro mencari sosok Jovita berada, entah kali ini apa yang ingin Alvaro lakukan. Seakan sosoknya yang posesif masih tak membiarkan Jovita pergi dari Alvaro.


Acara makin meriah hingga diujung waktu dan Alvaro baru melihat Jovita yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri setelah beberapa orang yang menghalangi tadi berpindah tempat.


Dilihatnya Jovita dengan Nevan berdua, membuat hati Alvaro begitu cemburu.


Kali ini Alvaro punya pikiran sedikit jahat untuk membuat Jovita dan Nevan benar-benar berpisah.


Risma yang masih terlihat jaga image tak terlalu banyak bicara agar membuat Alvaro nyaman.


"Sayang.. sepertinya aku mau ke toilet" bisikku karena suara musik ini sangat kencang dan ruangan begitu riuh.


"Biar aku temani.." ujar Nevan.


"Tak apa, dekat kok tempatnya disudut sana.. kamu tunggu aku disini ya.." kataku dan melepaskan tangan Nevan yang menggandengku.


"Oke sayang" sahut Nevan dan berjalan menuju rekan kerja untuk kembali mengobrol santai.


Ternyata benar saja Jovita berjalan menjauh dari Nevan. Mata Alvaro tak membiarkan Jovita lari dari penglihatan.


"Aku ke toilet dulu yah.." alasan Alvaro untuk mengejar Jovita.


Alvaro berjalan perlahan mengikuti Jovita agar tak mencurigakan.


Membiarkan Jovita didalam toilet wanita terlebih dahulu dan menunggu didepan toilet wanita.


Setelah selesai di toilet Jovita berjalan keluar tanpa rasa ragu.


Dengan sigap Alvaro membungkan Jovita dan membawa paksa jauh dari toilet wanita.


Tentu aku begitu kaget melihat Alvaro yang berada dihadapanku dan berusaha memaksaku pergi dan masuk ke ruangan peralatan lalu menutup pintu.


"Aku akan melepaskan ini jika kamu tidak teriak, dan bila kamu berusaha lari dariku aku akan melakukan sesuatu yang kamu tidak inginkan" lagi-lagi Alvaro mengancamku.


Wajah ketakutan sudah menguasaiku dan aku hanya bisa mengangguk lalu Alvaro melepaskan tangannya yang menutupi mulutku.


"Sedang apa kamu disini" heranku dengan begitu panik.


"Tentu untuk bertemu dirimu, aku akan bisa menemukanmu.. setelah apa yang kamu lakukan kemarin malam"


"Alvaro.. aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.." aku menjelaskan dengan tegas.


"Gila yah.. kemarin kamu telah berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku lagi dan kamu jelas mengatakan kamu mencintaiku dan sekarang seketika itu berubah.." Alvaro mencurahkan kekecewaan.


"Aku mengatakannya karena dibawah tekanan darimu.." ungkapku.


Alvaro terdiam.


Kulihat Alvaro tidak membahayakanku dan aku mencoba untuk dapat menyelesaikan ini secara baik-baik.


Tiba-tiba dia memelukku.


"Sayang.. aku tahu mungkin bagimu aku sudah tegeser karena pria kaya itu..


tapi sungguh entah kenapa aku tak bisa melepaskanmu begitu saja..


Kamu tidak merasakan betapa aku terlalu mencintaimu, hingga aku tak bisa melepaskanmu kali ini.


Aku sudah mencoba untuk merelakanmu tapi sungguh aku tak bisa..


Kembalilah padaku.. dan aku akan menjanjikan kebahagian yang lebih dari dia tawarkan padamu.." Alvaro memelukku erat dengan tangis yang terdengar tulus.


Aku mendorongnya jauh dariku, kali ini aku tak mau terhanyut dan takkan menuruti Alvaro lagi.


"Alvaro.. kamu tidak mengerti.."


"Kamu yang tidak mengerti apa itu artinya cinta.."


"Aku mencintai Nevan.. hanya Nevan.. dan sudah sering kukatakan padamu"


"Cintamu tidak pantas untuk dimilikinya.. hanya aku yang pantas untukku sayang.." Alvaro masih bersikap baik tanpa ada amarah yang pernah dia tunjukkan.


"Kamu tidak mengerti.. aku tidak bisa dan tidak akan pernah meninggalkan Nevan lagi..


Begitu juga dengannya.." aku masih menahan apa yang harus kukatakan.


"Kenapa.. apa yang telah kamu lakukan. Ini belum terlambat, kita bisa mengulang semua dari awal.." Alvaro masih menawarkan cinta padaku.


"Jangan mencoba untuk membujukku lagi Alvaro.."


"Kenapa.. kenapa..


Kamu begitu jahat padaku, padahal aku sama sekali tidak pernah menyakitimu sekalipun.."


"Sekarang yang kamu lakukan adalah move on dariku, akan ada wanita lain yang akan lebih baik dariku untuk mencintaimu"


"Akan kulakukan jika aku sanggup.. tapi aku sungguh tidak bisa.. aku tidak mampu berpaling darimu.


Tidak aku tidak bisa dan tidak ingin kamu bersamanya..


Aku berusaha berubah untuk kamu bisa kembali padaku, aku akan memperbaiki apa yang mungkin kamu tidak sukai dariku.. akan kulakukan apapun..


Kamu tinggal katakan saja padaku sayang.." Alvaro menyentuh wajahku.


"Alvaro, cintamu begitu indah jika kamu berikan bukan untukku..


"Sudah kukatakan.. aku tidak bisa Jovita.


Kita pergi dari sini dan memulai semua dengan baik-baik saja oke sayang.."


"Alvaro tidak.. aku tidak bisa.."


"Kamu belum menikah dengannya, aku masih ada waktu untuk membuatmu berubah pikiran.."


"Alvaro sungguh aku tidak bisa"


"Kita hanya lakukan saja dan pergi dari sini.."


Tak bisa kutahan lagi, akhirnya aku mengatakan yang terjadi.


"Aku telah memberikan semuanya pada Nevan.." kataku dengan tegas.


"Aa.. apa maksudmu..?" Heran Alvaro.


"Aku dan Nevan telah melakukannya pagi ini.."


"Melakukan apa.. apa yang kamu bicarakan..?" Alvaro tidak mengerti maksudku.


"Aku telah bercinta dengan Nevan.." kataku dengan begitu takut untuk melihat reaksi Alvaro.


Tanpa diduga Jovita wanita yang mempunyai prinsip ternyata telah dia lepaskan begitu saja.


"Apaa.. apa yang kamu lakukan. Ini tak seperti Jovita yang kukenal..


Tidak itu tidak mungkin.." Alvaro tidak percaya.


"Itu benar adanya.. kumohon lebih baik kamu pergi dari hidupku hanya itu yang bisa membuatmu melupakanku Alvaro" aku mencoba membuat Alvaro rela melepaskanku.


"Bagaimana bisa.. selama ini kamu selalu menolak bercinta denganku dan sekarang kamu telah berikan begitu saja?


Apa kamu yakin dia akan bertanggup jawab dengan apa yang sudah kamu berikan?" Seketika Alvaro emosi dengan kenyataan ini.


"Aku yakin.. dan kami yakin dengan cinta ini" ujarku.


"Jovita, kamu tidak harus melakukan itu, begitu mudah kamu memberikan keperawanan mu padanya..


Bayangkan jika dia hanya mempermainkan mu..


Bagaimana jika nanti dia akan meninggalkanmu begitu saja..


Jovita.. kenapa kamu bisa begitu bodohnya.." sesal Alvaro masih belum bisa percaya.


"Kami akan menikah.. dan apa yang kamu katakan itu tidak mungkin terjadi.."


"Jovita.. dengar berapa banyak wanita yang menjadi korban kata-kata pria yang hanya menginginkan **** diluar nikah..


Aku tidak habis pikir kenapa kamu bisa berbuat itu.." sesal Alvaro.


"Nevan bukan pria seperti itu.."


"Lalu bagaimana jika dia lelaki brengsek?"


"Itu tidak mungkin.."


"Jovita dengar, aku pernah diposisi menjadi pria brengsek seperti itu. Aku telah membuat wanita percaya dengan perkataanku hanya untuk mendapatkan keuntungan dari wanita.


Aku tahu pasti bagaimana pria brengsek beraksi"


"Mungkin itu kamu, tapi tidak dengan Nevan.."


"Kamu tahu dari mana, apa kamu pernah mencari tahu tentang kehidupannya apa kamu pernah berbicara tentang masa lalunya dengan kekasih yang pernah dia miliki?"


"Alvaro cukup.. berbicara denganmu hanya membuang waktuku.." aku mencoba lari dari ruangan yang pengap ini.


"Tunggu.." Alvaro menarik tanganku dan mendekap tubuhku.


"Kamu tahu, kamu begitu cantik malam ini..


Dan aku jadi berpikir, apa yang sudah kamu katakan tadi tidak membuat cintaku berkurang..


Malah membuat gairahku memuncak..


Aku akan melepaskanmu setelah aku menikmatimu sekarang..


ini tidak akan lama, aku begitu penasaran padamu.. sayang..


Lagi pula kamu sudah pernah melakukannya, kuyakin dia tidak akan curiga jika kita pernah melakukannya, dan aku akan melepaskanmu begitu saja..


Hanya sekali dan aku akan pergi,


karena.. aku juga ingin menikmatimu.. sama seperti Nevan menikmati tubuh mantan kekasihku.." Alvaro membisikkan hal itu padaku sambil mencium leherku.


"Alvaro lepaskan, kamu sudah gila.. lepaskan.. ********.." aku berusaha keluar dari jeratannya yang telah menyandera ku disini.


Alvaro makin kuat memelukku dan mencoba menaikkan gaunku.


"Ini tidak akan sakit lagi seperti yang kamu lakukan pertama kali" bisik Alvaro yang hampir mendapatkan apa yang dia inginkan.


Aku menangis sejadi-jadinya.


"Alvaro kumohon jangan lakukan itu, kumohon.."


"Kenapa kamu baru memintanya sekarang, aku telah memintamu dari awal tapi tak kamu dengarkan..


Kuharap kamu diam, dan nikmati kebersamaan kita walaupun ditempat jelek seperti ini" Alvaro menyentuh paha kananku untuk menggeserkan gaun yang kukenakan.


"Tidak, Alvaro lepaskan aku.. kumohon" aku memintanya dengan tangisanku.


Alvaro sudah menurunkan resleting celananya dengan tetap mengunci diriku.


"Tunggulah sebentar, aku hanya ingin merasakan apa yang dia rasakan juga..


Setidaknya kamu telah memberikan hal yang terindah untuk perpisahan kita.


Itukan yang kamu inginkan" Alvaro terlihat begitu sangat licik saat ini.


"Aku tidak ingin seperti ini.. kumohon lepaskan aku.." aku tak berhenti memohon dan menangis.


"Harusnya kamu mendengarkan aku sebelum semua ini yang terjadi.." bisik Alvaro lagi.


Aku terlalu larut akan ketakutan hanya dengan memohon.. hingga kulupa harus membela diriku.


Aku memukul "miliknya" Alvaro sekuat tenagaku, agar aku bisa keluar dari tempat menjijikkan ini.


Benar saja Alvaro menjerit kesakitan setelah aku meninju dan tepat mengenainya.


Dengan cepat aku meninggalkan Alvaro dan berlari secepat mungkin menjauh dari kegilaannya padaku.


Hingga heels sepatu kananku patah saat berlari.


Aku menengok kebelakang dan sudah jauh dari Alvaro yang tak kulihat lagi.


Entah apa yang kupikirkan, aku akan menutupi apa yang baru saja terjadi padaku dan Alvaro.


Ini menyangkut harga diriku, aku tak ingin Nevan berpikir yang tidak-tidak.


Kali ini aku harus berbohong lagi.


Aku menghapus air mataku, merapikan rambut dan gaunku. Mencoba menenangkan lagi wajahku agar tak membuat Nevan curiga.


Aku berjalan perlahan seperti tidak terjadi apa-apa.


Seperti aku benar-benar baru saja keluar dari toilet.


Aku menghampiri Nevan dengan sedikit terpapah karena sepatu high heels ku patah.


"Sayang kamu baik-baik saja?, Kamu begitu lama ditoilet, aku khawatir..


Aku baru saja akan menyusulmu.." Nevan yang melihatku dari jauh dan segera mendekatiku karena melihatku berjalan seperti kesulitan.


"Aku tidak apa-apa, tadi ditoilet mungkin aku terburu-buru jadi high heels ku patah.." kataku sedikit manja agar terlihat seperti yang kukatakan.


"Jadi kamu lama ditoilet karena sepatumu patah?" tanya Nevan heran.


"Iya.. aku mencoba menyatukannya, mungkin saja bisa.. ternyata sulit dan sia-sia..


Aku mau keluar tapi aku begitu malu.. hingga aku menangis..


Aku takut membuat kamu malu.." alasanku, semoga Nevan tidak curiga.


"Astaga sayang, kamu kenaoa berpikir begitu. Gak mungkin aku malu.. itukan kecelakaan, kamu bisa saja keluar dan beritahu aku..


kita bisa pulang lebih awal..


Tapi benar kamu tak apa?" Kekhawatiran terlihat dari wajah Nevan.


"Iya aku baik-baik saja, tapi aku malu sepatuku patah begini.. jalanku jadi terlihat aneh.." aku mengeluh.


"Kamu mau aku gendong atau biar aku patahin satu lagi agar kamu bisa nyaman saat berjalan?"


"Masa gendong sih sayang, aku tambah malu nanti.


Kamu bisa patahin heels satu lagi?" tanyaku.


"Bisa dong hanya sepatu ini, kalau hati kamu aku gak mampu untuk patahkan" Nevan mencoba menghiburku.


Aku tersenyum dan memberikan sepatu yang satunya lagi untuk dipatahkan oleh Nevan, biarlah terlihat seperti flat shoes.


Daripada terlihat aneh saat berjalan, ataupun malah digendong Nevan.


"Ini.. coba kamu pakai.." Nevan telah meratakan salah satu sepatu milikku.


"Ini lebih baik" kataku sambil melihat kearah sepatu ini.


"Apa terasa nyaman?" tanya Nevan.


"Iya, agak sedikit aneh.. tapi masih bisa untuk berjalan" jawabku.


"Ya sudah bagaimana kita pulang, acara juga sepertinya sudah hampir selesai.."


"Baiklah.." aku menggandeng lengan Nevan.


Ya Tuhan, apalagi yang harus kuhadapi. Ada saja yang membuatku tidak tenang menjalani hidup.


Hal yang telah kubuat dan kini aku merasakan akibatnya.


Alvaro baru saja mencoba melakukan hal yang tidak kuinginkan.


Untung saja aku masih bisa menghindari Alvaro, tapi aku menjadi trauma.


Aku takut dia akan datang lagi padaku dan membuat hal yang tidak diinginkan padaku lagi.


Aku tidak ingin berbohong lagi pada Nevan, tapi aku tak bisa jujur padanya soal apa yang baru saja kualami.


Banyak pemikiranku tentang bagaimana reaksi Nevan jika mengetahui apa yang terjadi.


Alvaro telah dibutakan oleh cinta yang tak bisa dia miliki.


Hingga nekat membuat aku dirugikan seperti ini.


Bersambung.....✨✨✨